
Dinda mengikuti langkah Vino dari belakang nya, seperti anak sapi yang mengikuti induknya.
Sementara Arka digendong Vino, anak kecil imut itu menyandarkan kepalanya di bahu Vino, matanya masih malas untuk dibuka, karena baru saja bangun dari tidurnya, dan rasa nyaman berada di gendongan si Om tampan.
Namun begitu masuk ke dalam rumah megah itu, matanya langsung melek. Mulut mungilnya terbuka lebar.
"Wah, ini rumahnya nenek ya Om?"
"Iya, ini rumah nenek" jawab Vino sambil tertawa melihat ekspresi imut Arka yang membuka mulutnya lebar-lebar, dan terus berjalan menuju ke ruang keluarga.
Sementara Dinda semakin risih berada dalam rumah yang serasa hotel. Para pelayannya aja banyak sekali, semuanya memakai seragam rapi. Mereka menundukkan kepalanya saat melihat Vino masuk.
Vino menarik tangan Dinda dengan sebelah tangannya agar berjalan disampingnya. Ia menggenggam lembut tangan Dinda untuk memberikan nya keberanian.
Begitu sampai di ruangan yang terlihat lebih besar dari ruang sebelum nya, Dinda melihat dua orang Ibu-ibu yang sudah lanjut usia terlihat sedang bercakap-cakap.
"Assalamualaikum Mah" salam Vino.
Dia menghampiri salah seorang dari Ibu-ibu itu, wanita yang berumur lima puluh tahun lebih itu masih terlihat cantik dengan kulit yang putih bersih dan terawat, dialah Ny.Aditya.
Ekspresi wajah nya tampak sedikit bingung melihat Vino datang dengan seorang perempuan dan menggendong anak kecil pula. Namun ia tetap membalas salam anaknya dengan senyuman.
"Waalaikumussalam, wah anak siapa ini imut sekali" ujarnya dengan bibir tersenyum lebar, sambil menatap Arka.
"Ini anaknya Dinda Mah, ini dia Dinda" Kata Vino sambil melihat ke arah Dinda.
Tampak wajah Dinda semakin tegang saat Ny.Aditya memandang nya.
"Assalamualaikum Bu, saya Dinda" ujarnya terbata sambil menunduk.
"Ooh, pantas saja anak nya imut, ibunya cantik gini" puji Ny.Aditya.
Dinda berusaha tersenyum mendengar pujian itu, tapi hatinya terlalu takut untuk merasa tersanjung.
"Ini baru awalnya, tapi bagaimana nanti kalau ibunya tau aku adalah wanita yang dekat dengan anaknya? Dengan status ku yang masih istri orang dan punya anak pula, apa yang akan dia katakan nanti?" batinnya.
"Ayo, duduk dulu" ajak Ny, Aditya
Vino tersenyum senang melihat sikap Mamanya sejauh ini.
Ia memberi kode pada Dinda untuk duduk.
"Kamu gak sapa Bibi Rika dulu Vin?" tegur Ny.Aditya sambil melirik teman ngobrol nya tadi.
"Bibi Rika, udah lama datang?" sapa Vino.
__ADS_1
"Iya, Bibi sekali-kali rindu sama Mama kamu. Bibi juga takut dia kesepian karena keseringan kalian tinggal" jawab Rika, sahabatnya Ny.Aditya sejak muda.
Sementara Dinda masih menunduk sambil mempermainkan ujung bajunya untuk menghilangkan rasa tegangnya.
"Anakku sudah dewasa keduanya. Bahkan si bungsu ku sudah menemukan tambatan hatinya. Rika, wanita cantik ini adalah calon menantu ku, dan anak imut ini adalah cucuku" Kata Ny.Aditya yang membuat Dinda langsung mengangkat kepalanya menatap Ny.Aditya tak percaya.
Begitu juga dengan Vino, ia tak menyangka tanggapan ibunya terhadap Dinda begitu baik.
Ny.Aditya melayangkan senyuman lembut pada Arka.
"Sini sayang, sama Nenek." Panggilnya dengan merentangkan kedua tangannya.
Bibi Rika tersenyum melihat ekspresi senang sahabatnya itu.
Sementara Arka seperti terbius dengan senyuman hangat Ny.Aditya, dan langsung mendekatinya.
Ny.Aditya mendudukkan nya di pangkuan.
"Akhirnya kamu punya cucu juga. Sekian lama kamu menunggu nya" ujar sahabat nya itu.
"Iya, kupikir aku gak akan sempat melihat cucuku, padahal kamu udah punya cicit lagi. Dua-duanya anak ku selalu memberikan alasan saat ditanya masalah wanita, akhirnya si bungsu yang duluan" ujar Ny.Aditya.
Dinda sekarang malah terlihat bengong. Rasa tak percaya dengan penerimaan Ny.Aditya membuatnya takut untuk merasa senang. Padahal dari pertama masuk ia sudah merasa akan diusir mentah-mentah.
"Nggak Bu"
"Kamu jangan panggil Ibu dong, panggil Mama aja" ujarnya.
"Iya Ma" jawab Dinda kikuk.
*****
Akhirnya mereka baru diizinkan pulang setelah selesai makan malam bersama.
Vino tersenyum terus saat mengemudikan mobilnya, karena rencananya memperkenalkan Dinda pada Mamanya berjalan sangat lancar.
Sementara di sampingnya Dinda pun sedang senyum-senyum sendiri saat mengingat kata-kata Mamanya Vino ketika mereka pamit pulang.
"Kamu sering-sering datang ke sini ya. Soalnya Mama selalu kesepian. Mama juga kepingin main sama Arka lebih lama"
"Iya Ma"
Lalu Ny.Aditya menggapai tangan Dinda, ia menggenggam nya lembut.
"Kamu tolong bahagiain anak Mama ya. Jangan pedulikan omongan orang tentang status mu. Karena bagi Mama, yang penting kamu adalah orang yang baik" katanya sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
"Kamu udah gak tegang lagi kan?" tanya Vino sambil melirik Dinda. Sementara Arka sudah tertidur kembali dipangkuan Ibunya.
"Nggak lagi, aku senang banget mendapat respon yang sangat baik dari Ibumu" jawab Dinda sambil tersenyum manis.
"Waduh, jangan senyum kek gitu dong, nanti malah aku yang jadi tegang"
Dinda langsung berhenti tersenyum.
"Memangnya senyum ku barusan aneh ya?" pikirnya.
"Senyum kamu itu terlalu manis, sampai bagian tubuhku yang ini jadi tegang" goda Vino sambil menunjuk dengan matanya ke arah bawah.
Seketika wajah Dinda merona.
"Kamu mesum ah" katanya malu.
"He he he, abisnya kamu diam aja dari tadi. Buat mencairkan suasana aja." jawab Vino terkekeh.
Setelah sampai ke rumah Yanti, Vino langsung pulang karena sudah malam.
Dinda pun masuk sambil menggendong Arka.
Dinda menidurkan anaknya dengan hati-hati.
Lalu ia beranjak ke kamar mandi, sudah seharian bepergian tubuhnya terasa gerah.
Drrrrrttt
Suara getaran ponselnya Dinda. Ia meraih ponselnya, ternyata pesan dari Vino.
"Baru aja pulang udah ngirim pesan" gumam Dinda dan tersenyum sambil membaca pesannya.
"Besok pagi aku jemput kamu, kita berangkat sama-sama"
Pikirannya langsung kalut kembali, saat mengingat esok hari yang melelahkan, yang harus dia hadapi.
Ia takut, setelah perceraian diputuskan, Ardi akan menuntut hak asuh Arka.
Ia menatap wajah tanpa dosa yang tertidur di depannya, tanpa terasa air matanya meleleh. Ia sangat merasa bersalah kepada anaknya, karena tidak bisa memberikan keluarga utuh untuknya.
Dinda merasa tidak akan bisa meneruskan hidupnya jika harus terpisah dari Arka, dan Ardi yang akan membawanya. Dia sama sekali tak bisa membayangkan jika Bella nanti yang akan mengasuhnya. Sepasang orang yang hanya mementingkan kesenangannya sendiri, bagaimana bisa merawat Arka?
Ia langsung mendekati anaknya. Ia hanya ingin memeluk Arka sekarang dan selamanya . Akhirnya ia terlelap sambil mendekap anaknya dengan pipi yang basah bersimbah air mata.
Dan esoknya ketakutan Dinda pun terjadi.
__ADS_1