Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Menjemput Cinta


__ADS_3

Rio menoleh ke asal suara. Di sana ada Lara yang sedang berdiri di depan pintu masuk dengan wajah panik. Lalu wanita itu berlari dengan cepat ke arah Vino yang tergeletak di lantai.


Ia mengangkat kepala Vino dan meletakkan di atas pangkuannya.


"Apa yang Mas lakuin? Kenapa Mas mukulin Vino sampai kayak gini?!" teriak Lara sambil menatap Rio marah.


"Lara? kenapa kamu ada di sini?" tanya Rio heran, karena yang dia tau Lara ada di luar negeri.


"Aku ingin menjengukmu karena aku nggak sempat bertemu denganmu tadi di pesta. Tapi aku nggak nyangka bakal ngeliat hal yang seperti ini. Kenapa kalian jadi kayak gini?" tanya Lara dengan mata yang berkaca-kaca.


Rio melepaskan tongkat Golf nya ke lantai.


"Sudahlah, jangan bertanya lagi. Tolong bawa dia pergi dari sini. Maaf aku nggak bisa menerima kamu dengan baik di rumahku hari ini. Lain kali aku yang akan menemui kamu," kata Rio sambil berlalu pergi.


Lara menatap Vino dengan mata yang mulai basah. Ia mengalungkan tangan Vino ke lehernya, dan berusaha memapahnya bangun.


Vino yang sudah setengah sadar melangkahkan kakinya dengan lemah dalam papahan Lara.


Bibirnya bergerak perlahan menggumamkan sesuatu.


"Dinda..." gumamnya tak jelas.


"Ya Vin? Jangan bicara dulu, aku akan membawa mu ke rumah sakit," kata Lara sambil membawa Vino keluar.


Sementara Rio yang mendengar pintu kamar Dinda digedor-gedor terus, langsung membuka pintunya yang memang sengaja ia kunci dari luar. Ia masuk dengan wajah marah dan menutup pintunya kembali.


"Kenapa Mas mengunci aku dari dalam?" tanya Dinda.


"Kenapa tanya mu? Tentu saja biar kamu nggak keluar," jawab Rio sinis.


"Tapi Mas bilang, Mas nggak menyekap aku"


Rio terlihat menyeringai sinis


"Itu dulu, sebelum kamu menghubungi Vino dan menyuruhnya menjemput mu" katanya.


"Jadi benar tadi Vino yang berteriak? Sekarang Vino di mana Mas? Kamu apakan dia?" tanya Dinda.


"Dia itu adik angkat yang nggak tau berterimakasih, jadi aku cuma memberinya pelajaran aja," jawabnya dengan seringai jahat, dan maju melangkah mendekati Dinda.


"Mas, kamu bukan orang yang seperti itu," kata Dinda menggelengkan kepalanya sambil melangkah mundur.


"Oh ya? Apa aku berubah jahat sekarang? Lalu menurut kamu siapa yang membuat aku jadi seperti ini?" tanya Rio dengan nada sinis.


"Aku nggak mau kamu menjadi seperti ini Mas Rio".


"Tapi kamulah yang merubah aku jadi seperti ini," sahut Rio sambil terus mendekat, sampai Dinda terdesak ke dinding.


"Kamu orang baik Mas, jangan berbuat begini. Kamu begitu sempurna, jangan merugikan diri hanya karena aku," kata Dinda memelas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kalau aku memang sesempurna itu di matamu, kenapa kamu nggak mau bersamaku?" tanya Rio, lalu ia menarik tangan Dinda dengan kuat dan mendorong ke tempat tidur.


"Aakkhh!" teriak Dinda saat tubuhnya terhempas kuat di atas tempat tidur.


Rio mulai menaiki tempat tidur dengan seringaiannya.


"Kamu nggak bisa begini Mas" kata Dinda mulai menangis dan mendorong tubuh Rio. Namun tubuh kekar itu tak bergeming sedikitpun.


"Jangan buang-buang tenaga mu sa... aaakkhhh" tiba-tiba Rio berteriak sambil mendongakkan kepalanya, lalu ia terjatuh di atas tubuh Dinda dengan mata yang terpejam.


Dinda yang terkejut langsung mendorong tubuh Rio ke samping dari atas tubuhnya.


Dan dia melihat di depannya berdiri Vino dengan wajah dan tubuh yang babak belur dengan memegang tongkat golf.


Sesaat Dinda terpaku diam.


Vino mengulurkan tangannya pada Dinda.


"Ayo kita pergi dari sini!" ajaknya.


Seketika Dinda menghambur ke dalam pelukan laki-laki yang selalu jadi pahlawan untuknya itu sambil menangis.


Vino membalas pelukan Dinda dan membelai rambutnya lembut.


"Kamu nggak kenapa-napa kan? tanya Vino.


"Bukan salah kamu kok, walaupun kamu nggak minta, aku juga pasti akan membawamu kembali" jawab Vino sambil berusaha tersenyum, walaupun ujung bibirnya terasa perih karena luka.


Sementara di pintu kamar berdiri Lara dengan raut wajah terluka. Sekarang ia mengerti apa yang terjadi antara Vino dan Rio. Ia pun berbalik dan pergi dari sana.


"Ayo Din, kita pulang!" ajak Vino sambil melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Dinda erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.


****


Lara membawa mobilnya perlahan meninggalkan rumah Vino. Pikirannya masih memikirkan kejadian antara Vino dan Rio.


Siapa wanita itu sebenarnya? Kenapa sampai Vino dan Rio memperebutkannya mati-matian?, batin Lara.


Lara begitu penasaran kepada Dinda.


Ia harus mencari tau tentang Dinda. Lalu ia menelepon seseorang.


"Kak Imran, tolong bantu aku mencari tau tentang seorang wanita. Namanya Dinda. Dia sekarang sedang berada di rumahnya Vino, tapi aku nggak tau informasi lain mengenai dia. Tolong kamu usahain ya" katanya, lalu mematikan teleponnya.


*B*agaimanapun aku harus memberi tahu Mamanya mereka. Ini nggak bisa dibiarin. Siapapun wanita itu, dia telah menghancurkan hubungan Vino dengan Rio, pikirnya.


Lara terus mengemudikan mobilnya menuju ke rumah keluarga Aditya.


*****

__ADS_1


"Kita harus ke rumah sakit Vin" kata Dinda dan melirik Vino sambil mengemudikan mobil Vino.


Dinda memang tidak memiliki mobil sekarang, tapi dulu ia pernah memilikinya, karena keluarganya termasuk berada, sehingga ia masih ahli mengemudikan mobil.


Vino menyandarkan tubuhnya di kursi mobil nya sambil memejamkan matanya.


"Tidak perlu. Kita pulang aja, aku hanya butuh istirahat dan perawatan dari kamu," sahutnya masih sambil memejamkan mata.


Dinda tersenyum tipis mendengarnya.


Sesampainya di rumah Vino, Dinda memapah Vino masuk ke rumahnya.


"Rasanya aku mau sakit terus nih, biar bisa di peluk sama kamu" gombalnya.


Dinda tersenyum lagi. Wajahnya sedikit merona.


"Ah kamu lagi sakit masih sempat gombal" kata Dinda malu.


Sementara Vino terkekeh senang.


Ia memang merasa bahagia. Entah kenapa, bersama Dinda ia bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Sesampainya di dalam kamar Vino, Dinda merebahkan tubuh laki-laki itu di atas tempat tidurnya. Lalu ia beranjak untuk mengambil kotak persediaan obat.


Sesaat kemudian, Dinda mengompres lengan Vino yang lebam dengan es batu.


"Hss ..." desis Vino kesakitan.


"Sakit ya, Vin?" tanya Dinda cemas.


"Nggak apa-apa, kamu terusin aja," sahut Vino lembut.


Kemudian Dinda mengoleskan obat di bibir Vino yang terluka, ia terlihat sedikit canggung.


Vino yang menyadari kecanggungan nya langsung berniat menggoda.


Ia pun menangkap tangan Dinda sampai obatnya terjatuh, lalu ia menempelkan tangan Dinda ke pipinya.


"Dielus aja juga bisa sembuh kok Din," katanya sambil tersenyum nakal.


Namun tiba-tiba suara ponsel Vino membuyarkan adegan romantis mereka.


"Ckk... siapa sih, gangguin orang aja!" seru Vino kesal.


"Angkat aja dulu Vin" kata Dinda dengan wajah bersemu merah.


Vino mengambil ponselnya dari saku, lalu melihat layar ponselnya.


"Mama?" bisik Vino.

__ADS_1


__ADS_2