
Dinda memang sangat mengenal tempat itu, karena itu memang kamarnya sendiri dan di rumah nya sendiri.
Tok...tok...
Suara ketukan di pintu. Lalu pintu nya terbuka dari luar dan muncullah sesosok mungil yang begitu ia rindukan selama ini.
"Mama...." panggil Arka sambil berlari ke arah ibunya.
Dinda pun langsung turun dari tempat tidurnya dan menyambut malaikat kecilnya itu dalam pelukannya.
Ia memeluk dengan sangat erat, seperti tidak ingin melepasnya lagi.
Jika mengingat semua kejadian yang telah dialami nya, ingin rasanya ia pergi jauh hanya berdua dengan Arka.
"Mama nggak akan pergi lagi, kan?" tanya Arka sambil menempelkan pipi gembul nya di bahu sang ibu.
Dinda membelai rambut anaknya lembut.
"Nggak sayang, Mama nggak akan ninggalin Arka lagi" sahutnya.
Sementara Ardi berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
****
Seharian itu Dinda menghabiskan waktunya bersama Arka. Sampai Arka tidur siang, Dinda pun ikut tidur sambil terus memeluk Arka.
Setelah Arka tidur, Ardi baru masuk ke kamar. Ia memang sengaja membiarkan Dinda menghabiskan waktunya hanya bersama anaknya.
"Din..." panggil nya perlahan. Namun yang dipanggil tidak menjawabnya bahkan tak menoleh sama sekali.
"Aku mau minta maaf, untuk semua kesalahanku padamu selama ini. Bisakah kita melupakan yang telah berlalu? Setidaknya demi Arka" kata Ardi memohon sambil menatap punggung istrinya yang tak bergeming.
"Tolong bicaralah" katanya mulai tak sabar.
Perlahan Dinda melepaskan pelukan pada Arka yang telah terlelap. Ia bangun dan duduk di pinggir ranjang nya dengan ekspresi datar.
"Baiklah, ayo kita bicara di luar" katanya perlahan sambil berdiri dan berjalan keluar.
Ardi mengikuti langkah istrinya sambil tersenyum lega.
Dinda duduk di sofa ruang tamu mereka.
"Satu Minggu lagi kita akan dipanggil kembali ke pengadilan untuk menyerahkan keputusan. Dan aku tetap gak akan menarik kembali surat gugatan nya" kata Dinda dingin.
Ardi tampak kesal dengan jawaban Dinda.
"Kamu itu egois Din, kamu nggak memikirkan Arka" seru Ardi.
Dinda mendongak dan menatap marah.
"Lalu apa kamu peduli selama ini sama Arka? Dari dulu hanya aku yang merawat Arka. Aku dulu memakluminya, karena aku pikir kamu sibuk bekerja. Tapi kamu sebenarnya sibuk berselingkuh" jawab Dinda.
"Bukankah aku udah bilang untuk melupakan masa lalu?" seru Ardi lagi.
"Aku akan berusaha untuk memaafkan mu, tapi untuk kembali aku tak bisa", kata Dinda tegas.
Ardi menggeram marah, dan berjalan keluar sambil menutup pintunya dengan keras.
__ADS_1
Dinda menyeka air matanya yang tak terasa telah merembes di pipinya.
"Seandainya kamu tidak hadir dalam hidupku hanya untuk memperalat ku, mungkin hidupku tidak akan se kacau ini" kata Dinda lirih.
*****
Vino yang telah mendapatkan rekaman CCTV nya, melihat sebuah mobil biru yang memasuki komplek nya setelah mobilnya keluar.
Dan tak lama kemudian mobil Rio juga datang. Tampak wajah Vino berubah marah.
"Ternyata kamu lagi Mas, aku gak akan membiarkan kamu kali ini" pikirnya sambil menutup kembali laptopnya.
Lalu ia menaiki mobilnya dan melaju kencang menuju ke rumah Rio.
Setibanya di sana, Vino menggedor-gedor pintu rumah Rio.
"Buka Mas, jangan bersembunyi. Atau aku akan menelfon Polisi" teriaknya.
Tak lama kemudian, Rio muncul membukakan pintu. Tampak wajah nya memar dan menatap adiknya itu dengan kesal.
"Ada apa?" tanya Rio ketus.
"Kalau kamu mau mencari Dinda, dia nggak ada di sini" sambungnya.
"Aku nggak percaya sama kamu. Minggir lah, aku akan memeriksa nya sendiri" jawab Vino sambil menerobos ke dalam.
"Aku yakin kamu udah periksa CCTV komplek. Mobil berwarna biru itulah yang berhasil membawa Dinda" kata Rio dan membiarkan adiknya menerobos ke dalam.
Vino berhenti melangkah dan menatap Rio.
"Siapa pemilik mobil itu?" tanya Vino.
"Apa itu Ardi?"
Rio tidak menjawab nya dan terus berjalan menuju lantai atas rumah nya.
Vino mengambil ponselnya dan menelfon Rangga.
"Ga, tolong kamu periksa, apa Dinda bersama Ardi?" perintah nya.
"Oke" jawab suara di seberang.
Lalu Vino berjalan keluar dan meninggalkan rumah kakaknya itu.
Sementara Rio juga menelfon orang suruhan nya.
"Kapan kalian akan membawa laki-laki busuk itu ke hadapan ku?" tanya Rio.
"Segera Bos, nanti malam kami akan menyergapnya" jawab orang suruhannya.
Rio mematikan ponselnya sambil menyeringai.
"Aku udah memperingatkan mu, agar tidak berkhianat" desisnya.
Sesampainya di rumah, Vino mendapat telfon dari Rangga.
"Benar Vin, ternyata mobil biru yang terekam CCTV itu milik Ardi, aku udah periksa plat nomer nya"
__ADS_1
"Jadi sekarang Dinda ada di mana?"
"Dia di bawa pulang oleh Ardi ke rumahnya sendiri" jawab Rangga.
"Oke, makasih Ga", kata Vino sambil mematikan telfonnya.
"Aku akan menjemputmu kembali Dinda. Karena tempat mu bukan lagi di sana. Kamu harus kembali padaku, hanya padaku" batinnya.
******
Malam hari nya Dinda sedang menulis novel nya di ruang keluarga setelah menidurkan Arka. Ia memakai piyama seperti biasanya.
Lalu Ardi pun pulang, ia menatap istrinya lama. Gairah nya tiba-tiba muncul, apa lagi ia sudah begitu lama tidak bersama Dinda.
Perlahan ia berjalan mendekat.
Dinda yang baru menyadari kepulangan Ardi langsung berdiri saat melihat Ardi mendekatinya.
"Kamu mau ngapain Mas?
"Tentu saja aku ingin bersama istriku"
Dinda menatap Ardi dengan marah, ia sama sekali tidak mengingin kan. Bagaimana dia bisa bersama orang yang di bencinya.
"Mas, kalo kamu memang merasa bersalah padaku, seharusnya kamu lepaskan aku" teriak Dinda sambil menangis.
Ia makin membenci Ardi yang mementingkan nafsunya tanpa memikirkan perasaan nya.
"Apa karena kamu udah mencintai Vino Aditya?" tanya Ardi marah.
"Tanpa adanya laki-laki lain pun aku tetap akan membenci kamu Mas"
"Aku gak percaya, pasti kamu menolak ku gara-gara laki-laki itu".
Dinda tersenyum sinis. Senyum yang keluar karena tidak tau harus bagaimana saking kesalnya.
"Apa kamu merasa kalau perbuatan mu padaku selama ini tidak pantas untuk dibenci? Apa perasaan bersalah mu itu benar-benar ada? Kenapa kamu merasa aku yang bersalah karena tak mau kembali padamu? Kenapaaa????!!" teriak Dinda.
Ceklek...
Pintu kamar Arka terbuka. Anak kecil imut itu pun keluar sambil mengucek matanya.
"Ada apa Ma?" tanya Arka.
"Kenapa Mama teriak-teriak dan nangis?"
"Oh... Arka udah bangun? Maaf ya, suara Mama gangguin tidur Arka" kata Dinda sambil berjongkok dan meraih Arka ke dalam pelukannya.
"Mama kenapa nangis?" tanya Arka lagi sambil mengusap air mata ibunya.
"
"Nggak ada apa-apa sayang. Tadi mama baru dapat telfon, ada teman Mama yang sakit, Mama jadi panik dan sedih" jawab Dinda memberi alasan.
Ting Tong...
Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi.
__ADS_1
Ardi berjalan untuk membuka kan pintu.
Namun ia tampak terkejut melihat siapa yang datang.