
Ardi membaca isi kertas di tangannya itu dengan mata terbelalak. Ia tak menyangka akan menerima surat panggilan dari Polisi.
"Pak Ardi, kami dari kepolisian ingin membawa anda ke kantor untuk penyelidikan terkait kasus pemalsuan surat tagihan hutang dan penipuan terhadap tanah warisan milik Dinda Kirana" kata Pak Polisi.
Dengan gemetar Ardi menggenggam kertas surat panggilan di tangannya.
Lalu dengan cepat ia menutup pintu rumahnya dan menguncinya dari dalam.
Bagaimana bisa ketahuan dan sampai ke Polisi? Apa Dinda selama ini menghilang untuk menyelidikinya? pikirnya.
Kedua Polisi itu terkejut saat Ardi menutup pintunya dengan kuat.
Mereka pun menggedor-gedor pintunya.
"Pak Ardi, kami mohon kerjasamanya. Anda juga tidak bisa kabur dari sini", gertak salah seorang Polisi.
Sementara Polisi yang satunya lagi mengeluarkan pistolnya dan berlari ke pintu belakang rumah.
Ardi semakin ketakutan dan berlari ke kamarnya. Namun setelah beberapa saat, ia tidak mendengar lagi suara polisi itu memanggil nya.
Apa mereka udah masuk ke dalam? pikirnya kalut.
BBRAKKK!!!
Tiba-tiba ia mendengar suara pintu depan rumahnya didobrak.
Oh tidak! Habislah aku, pikirnya dengan ketakutan.
Namun ia lebih kaget lagi melihat dua orang laki-laki bertubuh besar dan kekar memakai setelan jas serba hitam memasuki kamarnya.
Mereka bukan polisi itu, siapa mereka? pikirnya bingung.
"Siapa kalian?" tanya Ardi dengan suara bergetar.
Kedua orang itu tidak menjawab pertanyaan Ardi, mereka terus berjalan kearahnya dan langsung menarik dan mengunci kedua tangan Ardi ke belakang.
Ardi berusaha melawan, namun satu orangnya lagi telah menutup wajahnya dengan sapu tangan yang mengandung obat bius, dan tak lama kemudian Ardi pun pingsan.
Kedua orang itu mengangkat tubuh Ardi keluar dari rumahnya, dan melangkahi tubuh Polisi yang tadi telah mereka lumpuhkan dan tergeletak di depan pintu, begitu juga dengan Polisi yang berjaga di pintu belakang.
Beberapa jam kemudian Ardi membuka matanya dan ia mendapati dirinya sedang berada di dalam sebuah ruangan yang sedikit gelap.
Ia juga merasakan tangan nya terikat kebelakang kursi yang sedang didudukinya.
__ADS_1
Di mana aku sekarang? Siapa yang telah menyekap ku? Pikirnya.
Tiba-tiba saja lampu yang berada tepat di atas kepalanya menyala.
Ardi memicingkan matanya yang terasa silau.
Ia melihat seseorang berdiri di depan pintu dan berjalan ke arahnya.
Orang itu adalah seorang laki-laki yang masih muda dengan tubuh yang tinggi.
Semakin dekat orang itu dengannya, semakin jelas ia melihat wajah orang di depannya itu yang terlihat sangat tampan. Tapi ia merasa tidak pernah mengenalnya.
Laki-laki tampan itu tersenyum sinis kepadanya.
"Jadi ini laki-laki busuk yang udah menyia-nyiakan seorang wanita yang begitu baik?" kata laki-laki itu dengan seringaian yang mengerikan.
Wanita? Jadi ini berkaitan juga dengan Dinda? Huh! Semua hal yang berkaitan dengannya membuat ku sial, pikir Ardi.
"Oh! Jadi kamu selingkuhannya Dinda? Jadi dia dalang penculikanku?" tanya Ardi dengan suara keras.
"Ya, aku kekasih Dinda. Kenapa? Apa sekarang kamu merasa rendah diri? Dinda memang nggak pantas untuk pecundang sepertimu," jawab Rio sinis.
"Cih...! Apa hebatnya dirimu? Paling kau hanya modal tampang doang!" seru Ardi tak kalah sinis.
Rio mengepalkan tangannya mendengar ejekan Ardi. Ia lalu mengambil tongkat baseball yang terletak di sudut ruangan, dan melayangkan nya ke perut Ardi.
Ia meringkuk menahan rasa sakit.
Kemudian Rio mendorong kepala Ardi yang tertunduk dengan ujung tongkat baseball sampai wajah Ardi terangkat dan menatapnya.
"Kau lihat baik-baik siapa yang ada dihadapanmu. Aku adalah Rio Bramasta Aditya. Pemilik perusahaan di mana kau bekerja," kata Rio dengan nada sombong.
Ardi tampak terkejut mengetahui siapa yang menculiknya.
Bagaimana bisa Dinda mengenal pemilik perusahaan tempatku bekerja? pikirnya.
Ardi menelan ludahnya dan berkata perlahan dengan suara serak
"Jadi apa mau mu menculikku? Apa kau mau membunuhku?"
"Untuk sekarang aku tidak akan membunuhmu, tapi kalau kau berusaha kabur, aku tak akan mengampuni mu," ancam Rio.
Lalu ia melemparkan tongkat baseball ke lantai dan langsung keluar dari ruangan pengap itu.
__ADS_1
Sementara Ardi masih memikirkan alasan kenapa ia disekap.
*Kal*au memang dia tidak ingin membunuhku, kenapa ia harus repot-repot menculikku, bukankah ia bisa membiarkan ku di penjara, agar dia tak usah mengotori tangannya dengan tindak kriminal karena menyekap ku? Pasti dia punya alasan lain, pikirnya.
Sementara Rio telah melaju dengan mobilnya ke arah rumahnya. Dia akan menemui Dinda dan menjalankan rencana selanjutnya yang telah ia rancang matang-matang.
****
Dinda langsung bangun dari tempat tidurnya begitu melihat Rio memasuki kamarnya. Ia akan meminta Rio untuk mengantarnya kembali ke tempat tinggal nya seperti yang sudah di janjikan Rio kemarin.
Namun ia menunda niatnya saat melihat wajah Rio yang terlihat panik.
"Ada apa Mas? Apa ada masalah?" tanya Dinda.
"Iya Din, Ardi kabur saat Polisi melakukan penangkapan," jawab Rio berbohong sambil membuat wajahnya terlihat panik.
"Apa? Bagaimana bisa? Setahuku Mas Ardi bukan orang yang senekat itu" kata Dinda bingung sekaligus panik.
"Aku juga tidak tau persis kejadiannya seperti apa, tadi aku menyuruh anak buahku untuk mengecek hasil penangkapannya ke kantor Polisi di tempat tinggalmu, dan Polisi mengatakan kalau Ardi udah kabur," kata Rio bersandiwara seperti yang telah direncanakannya.
"Duh... kenapa jadi begini ya?" Dinda mendesah gelisah.
" Jadi aku mohon kamu untuk tetap tinggal dulu di sini. Sampai Ardi tertangkap," kata Rio.
"Baiklah," desah Dinda.
Rio tersenyum senang melihat rencananya berhasil. Ia memang sengaja menculik Ardi agar Dinda tetap tinggal bersamanya.
"Bagaimana dengan Vino Mas? Apa Mas udah ngasih tau dia kalau aku di sini?" tanya Dinda, membuat raut wajah Rio yang tadinya sedang senang berubah menjadi kesal.
"Ya, aku sudah memberitahunya," jawabnya singkat.
"Makasih Mas, tapi apa aku gak boleh keluar dari kamar ini?" tanya Dinda.
"Tentu aja boleh, bukankah aku udah bilang, kalo aku gak menyekap kamu. Kamu bebas untuk keluar dan masuk ke ruangan mana aja," kata Rio sambil tersenyum lembut.
"Terimakasih Mas, dan maaf karena telah merepotkan mu," kata Dinda sambil membalas senyuman Rio.
"Tapi untuk keluar dari rumah ini aku rasa jangan dulu, karena sepertinya Ardi itu orang yang nekat. Dia pasti akan terus mencarimu untuk menyuruhmu mencabut tuntutannya, apa lagi dia punya pacar kaya yang mendukungnya".
"Iya mas, aku gak akan keluar dulu"
"Ya udah, aku keluar sebentar ya, aku harus kembali ke kantor sebentar" kata Rio.
__ADS_1
Dinda mengangguk, dan Rio pun keluar dari kamarnya.
Bagaimana keadaan Arka sekarang ya, semoga anakku baik-baik saja. Dan bagaimana mana dengan Vino? Apa dia akan menemui ku lagi? Rasanya ada yang kurang semenjak jauh darinya, mungkin aku telah terbiasa bersamanya selama ini, desahnya.