
Dinda mengawasi kepergian Vino dengan mengintip lewat jendela kamarnya. Setelah benar- benar melihat mobil hitam itu pergi, Dinda baru bisa bernafas lega.
Setelah menunggu selama lima belas menit di dalam kamarnya untuk memastikan Vino sudah benar-benar jauh dari rumahnya, agar dia bisa dengan leluasa memeriksa rumah itu.
Dia takut Vino tiba-tiba kembali karena melupakan sesuatu saat ia sedang memeriksa rumah itu.
Kemudian Dinda keluar menuju kamarnya Vino. Baru saja Dinda memegang gagang pintu, ia mendengar suara langkah kaki dari bawah.
"Nah kan dia kembali lagi, untung aku belum masuk ke kamarnya" batin Dinda. Dia langsung mengurungkan niatnya dan masuk kembali ke kamarnya.
Dinda menempelkan telinganya di pintu untuk mendengarkan suara langkah Vino. Terdengar suara langkah itu menaiki tangga perlahan sampai ke atas, tapi suara langkah itu seperti terus menuju ke arahnya.
Dinda langsung berlari melompat ke atas tempat tidurnya, dia tidak ingin Vino tau bahwa dia baru saja ingin masuk ke dalam kamar Vino.
Cklek!!
Suara gagang pintu yang ditarik, dan seseorang muncul di balik pintunya, dia bukan Vino.
Seorang laki-laki tampan bertubuh jangkung, berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah bingung.
Begitu juga dengan Dinda, dia terkejut melihat orang yang datang itu ternyata bukan Vino.
"Siapa kamu?" tanya keduanya serentak.
"Aku adalah pemilik rumah ini, kamu yang siapa?" jawab laki-laki itu
Dinda bingung mendengar jawaban laki-laki itu.
Dia pemilik rumah ini? Terus ini bukan rumahnya Vino? Pikirnya.
"Siapa kamu sebenarnya? kenapa bisa berada di kamar ini?" laki-laki itu mengulang pertanyaannya melihat Dinda yang diam saja.
"Jadi anda pemilik rumah ini?" tanya Dinda.
"Iya, jawab dulu pertanyaanku, siapa kamu? kenapa ada disini? jangan-jangan kamu pencuri" jawab laki-laki itu.
Dinda langsung bersyukur ada orang lain yang menemukannya.
Terus kenapa Vino menyekapku di sini? Apa mungkin karena dia tahu pemiliknya tidak ada di rumah untuk beberapa hari, sehingga dia membobol rumah ini dan menyekapku disini? Dasar penjahat, untung pemilik rumah ini cepat pulang. Akhirnya aku bisa bebas pulang ketemu anakku, pikirnya.
__ADS_1
Dinda langsung melompat turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat.
"Mas, tolong saya. Saya sedang diculik orang, dan saya disekap di rumah Mas, saya bahkan tidak tahu ini ada di mana, dan sudah empat hari saya berada di sini". jawab Dinda memelas.
"Diculik? Kamu jangan mencoba menipuku, aku harus menelpon Polisi," kata laki-laki itu sambil mengambil ponselnya.
"Saya tidak berbohong Mas, Mas boleh menelfon Polisi, tapi saya memang bukan pencuri. Mungkin Polisi sekarang juga sedang mencari saya, karena saya menghilang". Laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk menelpon Polisi, dia menatap Dinda dengan tatapan menyelidik.
"Orang yang menculik saya bernama Vino Mas, dia teman sekolahku dulu. Aku juga tidak tau alasannya menculikku" kata Dinda.
"Vino? " tanya laki-laki itu.
"Vino menculikmu? ulangnya.
"Mas kenal dengan Vino?" tanya Dinda was-was, jangan-jangan orang ini komplotan Vino.
"Iya, saya saudaranya Vino. Tapi masa sih Vino menculik orang?" tanya laki-laki itu. Dia melihat Dinda terkejut mendengar bahwa ia saudaranya Vino. Dan tampak wajah wanita itu tegang kembali.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya ke Dinda.
"Perkenalkan namaku Rio, aku Saudara angkatnya Vino, tapi aku tidak ada sangkut pautnya dengan penculikanmu ini", katanya.
Ragu-ragu dia menyambut uluran tangannya Rio.
Rio menghela nafasnya.
"Baiklah, untuk mengurangi keteganganmu, aku akan membuatkan teh hangat untukmu. Ayo kita turun", ajak Vino sambil tersenyum ramah.
Perlahan Dinda mengikuti Rio turun ke bawah. Sesampainya di bawah Rio menarik kursi di meja makan dan mempersilahkan Dinda untuk duduk.
Sambil menyeduh teh Rio melirik Dinda, wanita itu masih terlihat tegang.
Rio meletakkan teh buatannya di depan Dinda.
"Minumlah dulu" katanya sambil tersenyum lembut.
Dinda mengambil cangkirnya dan menyeruput teh sediki demi sedikit.
"Hhm... kalau kamu udah tenang, bolehkah aku tau ceritanya, bagaimana Vino bisa menculikmu?" tanya Rio pelan.
__ADS_1
Dinda memandang Rio untuk sesaat.
Sepertinya laki-laki ini baik dan tidak ada sangkut pautnya dengan penculikan ku, pikirnya.
Perlahan Dinda menceritakan kepada Rio kronologi penculikan nya.
Setelah itu dia bertanya
"Sebenarnya ini ada di mana Mas?" tanya Dinda.
"Rumah ini berada di komplek perumahan milik keluarga kami, Vino memilih rumah ini untuk tempatnya beristirahat selain rumah keluarga kami. Perumahan ini baru selesai di bangun, jadi unit di samping-samping rumah ini belum ada penghuninya" kata Rio menjelaskan.
"Oo... pantas saja suara teriakanku tidak ada yang mendengar" pikir Dinda.
"Sebenarnya aku sangat terkejut mengetahui bahwa kamu diculik Vino. karena sebelumnya dia tidak pernah melakukan tindak kriminal apa pun"
kata Rio
"Vino adalah saudara angkatku. Ayahku mengangkatnya menjadi anak ketika dia beusia 14 tahun. Jadi aku tau kalau dia tidak pernah melakukan sesuatu yang fatal seperti ini" lanjutnya menjelaskan.
Dinda terdiam mendengar cerita Rio.
"Apakah kamu dulu pernah menyakiti hatinya atau berbuat sesuatu yang membuat Vino menyimpan dendam?" tanya Rio kemudian.
"Aku juga tidak tahu Mas tapi memang dulu aku pernah berbuat salah kepadanya. Aku pernah mengiranya sebagai pencopet. Padahal dia yang telah menolong aku dari seorang pencopet. Tapi menurutku hanya karena masalah itu tidak mungkin seseorang akan menyimpan dendam yang sangat besar" cerita Dinda.
"Dari dulu Vino memang membenci wanita, tapi setahu aku dia tidak pernah menyakiti wanita" kata Rio.
"Memangnya kenapa Vino membenci wanita Mas?" tanya Dinda
"Ada kisah yang sangat panjang dan pahit dibaliknya" jawab Rio.
Namun tiba-tiba saja suara ponsel Rio berdering. Rio mengambil ponselnya, dan melihat layarnya sebentar.
"Oke Dinda, sepertinya aku harus kembali ke kantor dulu. Aku akan kembali lagi ke sini besok" kata Rio sambil bangkit dari duduknya.
"Aku tidak bisa membawamu keluar hari ini. Kamu tidak usah takut sama Vino, dia tidak akan menyakitimu, dan aku akan mencari cara untuk menolongmu, tanpa membuat Vino marah kepadaku. Jadi aku mohon kamu untuk menunggu ya. Aku berjanji akan menolong mu". kata Rio sebelum pergi.
Dinda hanya diam melihat Rio keluar, ingin rasanya ia menerobos keluar saat pintu keluar itu terbuka, tapi ia mengurungkan niatnya, mengingat ia tidak tahu sedang berada di daerah mana, uangpun ia tak punya sepeserpun.
__ADS_1
Lagipula komplek perumahan ini belum ada yang huni, jadi tidak akan ada yang menolongnya. Rio juga tidak akan membiarkan dia pergi sekarang.
Dinda hanya bisa menunggu janji Rio yang akan menolongnya.