Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Persaingan


__ADS_3

Dinda mengusap air matanya dan berpaling ke arah Vino. Dilihatnya sekilas Vino sedang menarik kembali tangan dengan cepat dari arah wajahnya.


 


"Apa yang barusan dia pengen lakuin?" pikirnya. Dinda melirik Vino dan terlihat laki-laki itu salah tingkah.


Dinda ber dehem.


"Terus kenapa waktu pertama kali kamu culik aku sikap kamu kasar banget?" tanyanya.


Vino kembali tersenyum salah tingkah.


"Namanya aja penculik, masa harus lembut? Nanti kamu kabur lagi," jawab Vino.


Dinda tersenyum tipis. Dulu dia sampai berfikir kalau Vino adalah Psikopat.


"Jadi sekarang gimana? Apa kamu bakalan nuntut Ardi?" tanya Vino.


"Ya, tapi untuk sekarang aku mau fokus sama kesehatan Arka dulu," jawabnya.


"Mengenai rumah tangga kamu, apa kamu akan mempertahankannya?" tanya Vino ragu-ragu.


"Maaf, kalo aku lancang. Kalo kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa, ini masalah pribadi kamu," sambungnya cepat.


Seketika wajah Dinda menjadi muram dengan pandangan kosong.


"Untuk apa aku mempertahankan sesuatu yang sudah hancur, dibenahi pun tidak mungkin, karena sejak awal niat Mas Ardi tidak tulus menikahi ku," jawabnya hampa.


"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku, kamu cepat istirahat ya, kalau ada apa-apa kamu telepon aku," kata Vino beranjak bangun.


"Ya," jawab Dinda lemah.


Esoknya setelah Arka sadar, Dinda terpaksa berbohong kepada anaknya, bahwa dia selama ini sedang bekerja dan tidak ada yang boleh mengetahui keberadaan nya.


Sehingga Arka diminta untuk ikut menyembunyikan ibunya bahkan dari ayahnya.


Arka yang masih polos dan tidak tahu apa-apa, langsung mengiyakan. Yang penting baginya sekarang ibunya sudah pulang.


Setelah Arka diperbolehkan untuk pulang, Yanti membawa pulang Arka ke rumahnya.


Ardi pun tidak keberatan sama sekali anaknya dibawa pulang ke rumah kakak iparnya, bahkan seperti terlepas dari sebuah beban.


Berhubung selama ini hanya Dinda yang merawat Arka karena dia selalu sibuk bekerja dan pulang saat larut malam.


Sementara Dinda kembali ke rumah Vino.


Sungguh tak terduga, ia malah kembali sendiri ke rumah penculiknya.

__ADS_1


Begitu mereka masuk, di dalam ternyata ada Rio yang langsung terkejut melihat mereka datang, pandangannya langsung tertuju pada Dinda.


Tiba-tiba saja Rio berlari ke arah Dinda dan memeluknya.


"Aku takut banget kamu kenapa-napa, ternyata kamu baik-baik saja," seru Rio sambil memeluk Dinda erat.


Vino terbelalak melihat kakaknya yang memeluk Dinda.


Dengan cepat dia memisahkan mereka dengan mendorong kuat tubuh kakaknya.


Sedangkan Dinda tampak terkejut saat dipeluk tiba-tiba oleh Rio.


"Apa-apaan sih Yo, ngapain kamu memeluk Dinda seenaknya!" seru Vino marah.


"Ah... maaf. Aku cuman lega ngeliat Dinda baik-baik aja. Aku pikir dia udah kamu apa-apain, karena aku gak nemuin dia di rumah ini", jawab Rio merasa bersalah saat melihat Dinda yang terkejut karena pelukannya.


"Gak mungkinlah aku nyakitin Dinda," jawab Vino kesal.


"Jadi kamu dari mana aja Din?" tanya Rio tanpa memedulikan kekesalan adiknya.


"Aku dari kota tempat tinggal ku, kemarin anak ku sakit jadi aku menemaninya sampai sembuh," jawab Dinda.


"Terus ngapain kamu kembali lagi ke sini?" tanya Rio heran.


"Karena aku harus menyelesaikan sesuatu," jawab Dinda lesu sambil menghempaskan tubuhnya yang lelah di atas sofa ruang tamu.


"Ya udah kamu pulang aja sekarang, Dinda mau istirahat dulu," katanya ketus.


Rio tidak memperdulikan Vino yang seolah mengusirnya. Ia malah ikut duduk di samping Dinda.


"Gimana sih sebenarnya kalian? Kenapa Vino menculik kamu? Dan kenapa kamu sekarang malah kembali ke sini? Aku benar-benar nggak ngerti," ujar Rio dengan wajah kebingungan.


Tampak Vino tidak suka melihat Rio duduk di samping Dinda dan mengajaknya bicara. Dia langsung menjawab pertanyaan kakaknya.


"Ceritanya panjang, yang jelas aku nggak menyakiti Dinda, dan ini bukanlah tindak kriminal seperti yang kamu bayangkan"


Rio terus menatap Dinda, seperti mencari kebenarannya dari wajah wanita yang membuat hatinya terpikat itu. Dia takut Dinda diancam Vino untuk diam.


Dinda memang hanya duduk diam dengan wajah kuyu dan mata terpejam. Didalam benaknya saat ini hanya ada Arka.


"Ya udah Din, kamu naik ke atas gih, istirahat," kata Vino lembut. Ia tau saat ini Dinda pasti sedang memikirkan anaknya yang harus ia tinggalkan untuk sementara.


Dinda membuka matanya dan dengan tubuh yang lemah perlahan ia bangkit.


"Maaf ya Mas Rio, aku istirahat dulu sebentar," katanya datar.


Dengan cepat Rio ikut bangun.

__ADS_1


"Biar aku bantu kamu Din, kamu bisa pegangan di lenganku".


"Gak usah Mas, aku bisa sendiri," tolak Dinda halus.


Vino semakin gusar melihat perhatian kakaknya terhadap Dinda.


Rio yang menyadari tatapan tajam adiknya duduk kembali di sofa.


Ia tau sepertinya Vino tidak begitu suka melihatnya mendekati Dinda. Namun ia tidak yakin dengan apa yang dirasakan Vino sebenarnya, karena selama ini Vino tidak pernah ada perasaan yang spesial terhadap wanita manapun.


Setelah Dinda sampai di lantai atas, Rio berjalan mendekati adiknya.


"Aku mau tau, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa kamu menculik Dinda?" tanya Rio.


"Udah aku bilang, ceritanya panjang," jawab Vino.


"Walaupun butuh waktu seharian aku akan mendengarkannya. Aku ingin berterus-terang padamu, kalo aku menyukai Dinda, aku tertarik padanya sejak pertama kali aku liat dia di rumah ini," kata Rio menegaskan.


Dia juga ingin melihat reaksi Vino saat mendengar pengakuannya.


Wajah Vino tampak memerah dan tangannya mengepal kuat.


"Tidak boleh, dia itu milikku!" tegasnya.


"Aku akan membebaskan dia darimu, aku tidak akan membiarkan kamu menyekapnya seperti ini. Hidup Dinda bukan mainan kamu Vin. Aku tau selama ini kamu gak pernah menghargai wanita , tapi gak akan aku biarkan kamu mempermainkan wanita yang aku sukai".


Vino tampak sedikit terkejut melihat kakaknya begitu serius terhadap Dinda, bahkan dia sampai mengancam adiknya sendiri.


Setelah berkata seperti itu, Rio langsung keluar sambil mendengus marah.


Vino sangat tidak menyangka kakaknya akan menyukai wanita yang dia cintai. Selama ini dia memang sangat berterimakasih kepada keluarga angkatnya. Dia bahkan rela seluruh harta dan perusahaan yang diberikan ayah angkatnya untuk dikelola olehnya dia berikan kepada Rio.


Tapi tidak dengan cinta, dia tidak bisa membiarkan Dinda menjadi milik Rio.


Wanita itu telah tertanam dalam di hatinya. Bahkan selama Dinda berada di dekatnya, ia tidak pernah lagi bermimpi buruk di tengah malam.


Tiba-tiba saja suara ponselnya berdering.


"Ya, ada apa?" tanya Vino setelah mengangkat teleponnya.


Sesaat setelah mendengar perkataan orang yang meneleponnya Wajah Vino tampak berubah.


" Kamu yakin kalo data perusahaan kita baru saja dicuri anak buahnya Rio?"


"Ya boss", jawab suara di seberang.


Vino menutup teleponnya, dan menghela nafas berat.

__ADS_1


"Ternyata Rio benar-benar ingin memulai persaingan dan merebut Dinda dariku," pikirnya sambil mengepalkan tangannya.


__ADS_2