
"Ada apa ini? Apa yang terjadi, kenapa Vino ditangkap polisi?"gumam Dinda.
Dia langsung berjalan cepat kearah Vino dan Yanti.
"Ada apa Vin, kamu kenapa?" tanya Dinda bingung.
Vino hanya diam dan tersenyum. Ia tidak tahu harus menjawab apa, agar Dinda tidak menyalahkan dirinya sendiri nanti.
"Kamu kok diam aja sih Vin?" Tanya Dinda semakin panik. Lalu ia menoleh ke arah Yanti.
"Kak, ini ada apa kak?"
"Kakak juga gak tau Din" jawab Yanti dengan wajah bingung.
Vino menghela nafasnya setelah tangannya diborgol.
"Kamu yang tenang ya Din, aku akan baik-baik saja" jawab Vino sambil tersenyum.
"Iya, tapi kenapa kamu ditangkap polisi?"
Vino kembali hanya tersenyum dan mengikuti langkah polisi yang membawanya.
karena tidak mendapat jawaban dari Vino, Dinda menghadang langkah Polisi.
"Maaf Pak, kenapa Anda menangkap Vino? Apa kesalahannya Pak?"
"Pak Vino ini adalah orang yang telah menculik anda Bu Dinda. Disk yang telah diberikan kepada hakim tadi, adalah video bukti dari rekaman CCTV saat Pak Vino menculik anda"
Dinda terkejut mendengar penjelasan polisi itu, ternyata ia mendapatkan hak asuh Arka karena pengorbanan Vino. Sementara Yanti juga terkejut, dia tidak menyangka Vino akan berkorban demi adiknya.
"Tapi Vino tidak berniat jahat saat menculik saya Pak. Saya adalah orang yang diculik, saya tidak menuntut nya, jadi Bapak tidak bisa menangkapnya." kata Dinda dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi Bu Dinda, kebenaran tetap harus ditegakkan. Pak Vino telah terbukti melakukan tindak kriminal, jadi Pak Vino harus dihukum berdasarkan tindakannya" Kata Polisi itu tegas. Lalu kembali meggiring Vino keluar dari ruangan itu.
Dinda menggapai tangan Vino yang terborgol. Lalu ia mengikutinya sambil menangis.
"Kenapa kamu ngelakuin ini Vin? Kamu pikir aku bisa berbahagia diatas penderitaan mu?" kata Dinda terisak. Ia sungguh tidak bisa melihat Vino ditangkap dan menderita karenanya.
"Aku melakukan ini karena aku telah berjanji untuk melindungimu dan aku tidak akan membiarkan Arka dibawa oleh Ardi. Aku tidak ingin melihatmu menangis dan aku ingin kamu bahagia. Jadi berhentilah menangis, agar usaha ku tidak sia-sia" Ujar Vino. Hatinya begitu perih, melihat air mata mengalir dari pipi wanita yang dicintainya.
Polisi yang membawa Vino akhirnya merasa jengah, karena Dinda terus mengikuti mereka sambil menangis. Dan mereka pun menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Bu Dinda, tolong bekerja sama. Anda bisa menemui Pak Vino nanti di kantor. Untuk sekarang, biarkan kami membawa Pak Vino untuk diselidiki" Kata Pak Polisi.
Yanti yang sedari tadi mengikuti mereka menarik tangan Dinda perlahan.
"Sabar Din, lebih baik kita turuti anjuran Pak Polisi, kamu bersikap begini juga tidak akan menghasilkan apa-apa untuk Vino" nasehat Yanti karena melihat adiknya yang tidak bisa lagi mengendalikan diri.
"Pak, boleh saya minta waktu sebentar?" tanya Vino kepada Polisi.
Polisi itu diam sesaat, lalu menganggukkan kepalanya dan melepaskan Vino.
Vino mendekati Dinda sambil tersenyum, ia mengusap air mata Dinda dengan punggung tangannya yang terborgol.
Ia menatap wanita yang dicintainya itu dalam-dalam. Perlahan wajahnya mendekat dan mengecup kening Dinda lembut.
"Pulanglah Dinda, jemputlah Arka. Aku akan baik-baik saja". ujarnya sambil berusaha terus tersenyum, walau ia merasa sedih melihat Dinda menangisinya. Namun dia benar-benar bahagia karena telah berhasil membantu Dinda.
Lalu ia langsung membalikkan badannya, karena tidak sanggup melihat air mata Dinda.
Dinda menatap nanar punggung Vino yang terus berjalan dengan kawalan Polisi. Ia kemudian memeluk Yanti dan menumpahkan tangisnya.
"Bagaimana ini kak? Apa yang harus kita lakukan untuk menolong Vino?"
"Kakak juga tidak tau, tapi nanti kita akan menemuinya di kantor Polisi. Vino pasti sudah mempersiapkan segalanya. Dan pasti telah memikirkan solusinya" kata Yanti menghiburnya.
Setelah sampai di mobil, Yanti pun membawa mobilnya perlahan. Sekilas ia melirik Dinda yang sedang terpaku bisu.
Matanya menatap kosong ke jalanan.
Namun tiba-tiba ia menoleh kepada Yanti.
"Kak, bagaimana nanti kalau Mamanya Vino marah sama aku?" tanya Dinda cemas.
"Yah, kamu harus ekstra sabar, itu sudah menjadi resiko. Yang penting sekarang Arka bersamamu" ujar Yanti.
Sesampainya di rumah keluarga Aditya, Dinda pun turun bersama Yanti dari mobil. Lututnya terasa lemas, ia cemas dengan apa yang akan dihadapinya. Karena seorang ibu pasti tidak akan bisa menerima anaknya masuk penjara gara-gara orang lain.
Dinda memasuki rumah besar itu, ujung tangan dan kakinya sudah mulai terasa dingin, karena hatinya merasa takut.
Di ruang keluarga yang luas itu terlihat Ny.Aditya sedang bermain dengan Arka.
"Bagaimana cara nya aku memberi tau padanya bahwa Vino telah ditangkap Polisi?" Batin Dinda.
__ADS_1
Begitu melihat ibunya datang, Arka langsung berlarian untuk memeluknya.
Ny.Aditya menoleh ke arah Dinda, tampak sesaat raut wajahnya berubah sedih. Kemudian perlahan ia berjalan mendekati Dinda.
"Apa Mamanya Vino udah tau ya, masalah Vino?" pikirnya.
Dinda merasa tegang, namun ia telah siap dengan apa yang harus diterima nya, sekalipun itu cacian dan tamparan. Dinda menyerahkan Arka kepada Yanti yang berdiri di sampingnya, agar anaknya tidak melihat nya saat di tampar.
Namun ternyata Ny.Aditya malah memeluknya. Dan ia mendengar isak tangis Ny.Aditya.
"Maaf Mama harus menangis di hari bahagia mu nak" Desahnya lirih.
"Selamat ya, kamu sudah mendapatkan hak asuh Arka, Mama turut senang" Ujar Ny.Aditya sambil melepaskan pelukannya dan berusaha tersenyum.
"Ternyata Mama tidak tau. Aku harus memberitahukan sekarang" Batin Dinda.
"Ma, ada yang harus Dinda kasih tau mengenai Vino" katanya pelan.
"Kamu tidak usah memberitahu, karena Mama sudah tahu. Vino sudah memberitahu Mama sebelum dia melakukan nya, dan Mama pun sudah mengizinkannya" Jawab Ny.Aditya lembut.
Seketika itu pula air mata Dinda jatuh berderai. Sungguh ia tidak tau harus bagaimana. Ia belum pernah bertemu dengan orang yang berhati emas seperti wanita yang ada di depannya itu.
"Bagaiman bisa Mama mengizinkannya?" tanya Dinda terenyuh.
Ny.Aditya tersenyum lembut.
"Lalu buat apa Mama melarangnya? Anak Mama ingin meraih kebahagiaan dengan caranya sendiri. Dia sudah dewasa dan punya kehidupan nya sendiri. Biarlah dia mengatur dan menjalani sesuai keinginannya sendiri pula" Ujar Ny.Aditya lirih.
"Mama gak benci kan sama Dinda?"
Ny.Aditya menatap Dinda sambil tersenyum lembut.
"Tentu saja tidak, kamu adalah wanita yang telah memberi anak Mama cinta. Mungkin kebahagiaan kalian sekarang belum sempurna, tapi kamu akan tetap setia kan sama anak Mama?"
Dinda terharu mendengar nya, ia tidak tau harus bagaimana lagi, karena diperlakukan sebaik ini oleh Mamanya Vino. Ia merasa tidak layak menerimanya.
"Tapi apa saya pantas Ma?" tanya Dinda lirih.
"Tentu saja pantas nak. Kualitas seseorang itu tidak dinilai dari status sosialnya. Melainkan dari hati dan ketulusannya" Jawab Ny.
Aditya bijaksana.
__ADS_1
Sementara di kantor polisi, Vino kedatangan seseorang yang tak diduga akan menjenguk nya.