Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Pernikahan dan Kamar Pengantin


__ADS_3

Dengan jantung yang terus berdegup kencang, Dinda berjalan perlahan menyongsong Vino yang sedang menunggunya.


Ia membalas senyuman Vino.


Yanti yang menggandeng tangan Dinda melirik adiknya itu, terlihat wajah Dinda merona merah sambil tertunduk malu setelah menatap Vino.


Ternyata adikku sudah benar-benar jatuh cinta pada laki-laki ini, batin Yanti sambil tersenyum bahagia.


Begitu Dinda sudah mulai mendekatinya, Vino mengulurkan tangan kepada Dinda, dan Yanti pun melepaskan gandengan tangannya. Perlahan dengan wajah yang merona Dinda meraih tangan pangeran tampan itu.


Vino kembali tersenyum manis menatap Dinda. Ia merasa sangat bahagia, sehingga bibirnya tak bisa berhenti tersenyum. Vino begitu terpesona melihat kecantikan calon istrinya itu, ingin rasanya ia terus menatapnya.


Vino menggandeng tangan Dinda, lalu membawanya menuju ke sebuah meja kecil yang telah dikelilingi oleh beberapa laki-laki dewasa yang memakai setelan jas dan peci.


Mereka menatap kedua mempelai itu, benar-benar pasangan yang sempurna.


Vino menarik kursi untuk calon istrinya itu, dan Dinda duduk disana dengan jantung terus berdetak kencang. Lalu Vino duduk di kursi di samping Dinda.


"Sudah siap?" tanya Pak penghulu


"Sudah Pak" jawab Vino mantap.


"Baiklah, kita akan mulai sekarang," kata Pak penghulu sambil menjabat tangan Vino.


Setelah Pak penghulu mengucapkan ijab nya, sekarang giliran Vino yang akan menjawabnya. Ia tampak tegang sesaat, lidahnya terasa kelu.


Kemudian bibirnya mulai bergerak.


"Saya terima nikahnya Dinda Kirana binti Darwanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" jawab Fino lugas.


"Sah?" tanya Pak penghulu pada saksinya.


"Sah" jawab para saksi dan beberapa orang tamu yang terbawa suasana sehingga ikut menjawab.


Seketika sebuah senyuman merekah di bibirnya Dinda, dan setetes air mata mengalir di pipinya.


Ia menyalami tangan Vino dan mencium punggung tangan laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.


Vino menatap Dinda dalam-dalam, lalu mengecup kening nya. Rasanya benar-benar luar biasa. Sentuhan pertama yang telah sah ia lakukan benar-benar berbeda rasanya dengan kecupan yang dilakukan nya saat Dinda menangis di pengadilan.

__ADS_1


Bibirnya tersenyum lebar, senyuman yang spontan merekah karena rasa bahagia yang luar biasa dihatinya.


Rasanya di dunianya sekarang hanya ada Dinda.


"Mas,Mas..." panggil Pak penghulu.


Vino kaget dan menoleh pada Pak penghulu yang membuat nya sadar, ternyata di dunia ini masih ada Pak penghulu dan para tamu.


"Iya Pak" hawab Vino gelagapan.


"Dipasangin cincin dulu atuh, liatin nya bisa nanti lagi, toh udah jadi miliknya Mas Vino" goda Pak penghulu. Semua orang ikut tersenyum, yang membuat wajah Vino merah karena malu.


"Iya Pak" jawabnya sambil tersenyum.


Vino mengambil cincin yang telah disediakan untuk Dinda, dan memasangkannya di jari manis istrinya.


Setelah itu giliran Dinda yang memasangkan cincin di jarinya Vino.


Kemudian dilanjutkan dengan proses penandatanganan buku nikah.


Setelah semuanya selesai, sempurna lah pernikahan mereka hari ini. lalu Vino menggandeng tangan Dinda menuju ke pelaminan.


Sepasang mempelai itu terlihat bak pangeran dan sang putri saat duduk di kursi kebesaran mereka.


Sampai sore hari tiba, akhirnya acaranya pun selesai. Kedua mempelai masuk ke dalam kamar pengantinnya untuk beristirahat dan mengganti baju.


Sementara Yanti dan suaminya duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya Vino sambil berbincang-bincang.


Begitu juga dengan Arka yang asik bermain dengan mainan yang begitu banyak, yang telah dipersiapkan oleh Vino untuk anaknya itu.


Dan di kamar pengantin, Vino duduk di pinggir tempat tidurnya sambil menatap istrinya yang sedang melepaskan riasan rambutnya. Ia tampak kesulitan melepaskan mahkota yang terbuat dari emas putih asli itu, karena terus tersangkut di rambutnya.


Vino langsung bangkit mendekati Dinda.


Ia meraih tangan halus itu, sehingga membuat Dinda kaget dan menghentikan kesibukannya.


Lalu laki-laki tampan itu mendekatkan tangan Dinda ke bibirnya dan mengecupnya lembut, membuat wajah Dinda seketika merona merah.


Vino tersenyum senang melihat raut wajah istrinya yang terlihat malu karena kecupan nya.

__ADS_1


Perlahan Vino mendekatkan wajahnya. Dinda langsung merasakan degup jantungnya yang berdetak kencang. Ia menutup matanya untuk meredakan rasa gugupnya.


"Mahkotanya nyangkut di mana?" tanya Vino. Dinda langsung membuka matanya. Dan seketika wajah nya semakin memerah karena malu. Ia tadinya berpikir kalau Vino hendak menciumnya.


"Nggak tau," jawab Dinda gelagapan.


"Biar aku coba buka ya," kata Vino sambil mencoba melepaskan mahkota itu. Ia terlihat sangat berhati-hati, agar rambut Dinda tidak ikut tertarik.


Setelah beberapa saat, akhirnya mahkota itu terlepaskan juga.


"Udah terlepas nih," kata Vino sambil meletakkan mahkotanya di meja rias.


"Makasih ya," kata Dinda.


"Kok makasih aja? Imbalan nya mana?" tanya Vino.


Dinda kembali merona, karena ia mengerti tujuan Vino.


"Imbalan apa?"


"Kamu bisanya ngasih apa?" tanya Vino sambil tersenyum nakal.


"Aku nggak punya apa-apa. Tapi aku bisa buatin kamu kue kapan-kapan" jawab Dinda mencari alasan.


"Ah, itu terlalu lama. Aku mau imbalan nya sekarang" kata Vino dengan ekspresi semakin nakal.


Dinda langsung membalikkan badannya karena malu.


"Aku mau ganti baju dulu" Jawabnya gugup.


Vino berjalan mendekat, dan berbisik di telinga Dinda dari belakang nya.


"Aku gak bisa membiarkan istriku kelelahan, biar aku bantu bukain juga ya. Biar imbalan nya makin banyak"


Vino mulai meraih resleting gaun pengantin Dinda.


"A..aku bisa sendiri Vino" sanggah Lara gugup.


"Jangan, biar aku saja," jawab Vino sedikit memaksa, dan membuat Dinda akhirnya pasrah. Ia semakin merasa deg-degan.

__ADS_1


Namun suara gaduh dari luar pintu kamar mereka, membuat mereka terkejut.


Bersambung...


__ADS_2