Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Paket Misterius


__ADS_3

Hati Rio tak bisa berbohong, bahwa ia masih mencintai Dinda. Ia menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Aku memang masih mencintai Dinda," ucap Rio dengan suara getir sambil berjalan keluar dari rumahnya.


Meninggalkan Dinda dan Nyonya Aditya yang melongo mendengar ucapannya.


Nyonya Aditya menatap anaknya dengan mata nanar berkaca-kaca, ia merasa sedih karena tidak menyangka anak sulungnya itu benar-benar telah jatuh cinta kepada Dinda. Awalnya ia berpikir bahwa Rio hanya ingin merebut segala sesuatu yang dimiliki oleh Vino. Tapi ternyata tidak dengan perasaan nya kepada Dinda, ia melihat ketulusan dalam sikap Rio.


Sementara Dinda masih terpaku di tempatnya berdiri, matanya menatap sedih ke arah pintu keluar, dimana Rio baru saja keluar dari sana. Raut wajahnya tampak menunjukkan rasa bersalah, ia menghela nafasnya yang terasa berat.


"Apa kamu baik-baik saja Dinda?" tanya Nyonya Aditya.


"Dinda baik-baik saja Ma," jawab Dinda sambil tersenyum canggung. Bagaimanapun ia merasa malu karena Rio menyatakan cintanya di depan Nyonya Aditya.


"Jangan terlalu kamu pikirkan ya Nak, baik itu perkataan Jeslyn ataupun perasaan Rio. Kamu harus fokus pada kesehatan janin mu," ujar Nyonya menasehati.


"Iya Ma, Dinda akan berusaha untuk tidak memikirkan nya," jawab Dinda.


"Mama merasa bersalah padamu, gara-gara Mama bersikeras kamu tinggal di sini, berbagai masalah malah berdatangan padamu," ujar Nyonya Aditya dengan rasa bersalah.


"Nggak apa-apa kok Ma. Dimana aja Dinda berada, kalau memang udah takdirnya, masalah itu tetap akan datang," ujar Dinda sambil tersenyum untuk menenangkan mertuanya itu.


"Ya sudah, kita lupakan saja kejadian tadi. Ayo Mama temenin kamu istirahat. Kita santai-santai di sofa aja ya," ajak Nyonya Aditya sambil membalas senyum Dinda.


Dinda mengikuti ajakan mertuanya untuk duduk di sofa ruang keluarga mereka.


"Ma, Dinda boleh nanya nggak?" tanya Dinda saat mereka telah duduk di sofa.


"Boleh dong, kamu mau nanya apa?"


"Keluarga Lara kok begitu sih Ma? Kayaknya mereka ingin sekali menjadi bagian dari keluarga ini. Padahal kalau Dinda lihat, Mama sepertinya kurang suka sama mereka," tanya Dinda dengan sedikit keraguan, karena ia takut yang dikatakannya salah.


"Iya, sikap mereka memang terlihat jelas selalu ingin mengakrabkan diri dengan keluarga kita, namun ambisinya itu yang membuat Mama kurang suka. Untuk memenuhi ambisinya, mereka menghalalkan cara apa saja," ujar Nyonya Aditya.


"Apa ibunya Lara sudah meninggal?" tanya Dinda.


"Ibunya masih ada dan berada di luar negeri. Mereka bercerai ketika Lara dan adiknya masih kecil. Ibunya pergi ke luar negeri dengan membawa adiknya yang bernama Jeslyn itu, sementara Lara tinggal bersama papanya. Ibunya ingin bercerai karena kondisi keuangan papanya Lara saat itu sedang bangkrut.


Sejak saat itu papanya Lara selalu berambisi untuk menjadi kaya kembali. Kedua anaknya tumbuh dalam prahara rumah tangga yang hancur, sehingga mempengaruhi karakter mereka juga," cerita Nyonya Aditya panjang lebar.


*****


"Apa?"


Terdengar suara teriakan dari rumah keluarga Farhad.


Di ruang tamu mereka, baru saja Jeslyn menceritakan dari mana ia mendapatkan bekas tamparan itu.


Namun tentu saja ia tidak menceritakan yang sebenarnya, karena ia tidak mau ayahnya akan marah jika mengetahui tamparan itu berasal dari Rio, ladang duitnya yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

__ADS_1


"Berani sekali janda murahan itu menampar kamu. Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Kita akan membalasnya. Anak yang dikandungnya akan menjadi penghambat untuk kakakmu Lara. Seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air. Kamu bisa membalas kan sakit hatimu dan sekaligus membantu melancarkan jalannya kakakmu. Kamu tahu kan maksudnya Papa?" tanya Farhad sambil menyeringai.


"Iya Pa," jawab Jeslyn sambil tersenyum licik.


Sementara di sofa yang berada di belakang mereka, duduk Lara dengan perasaan serba salah. Hati kecilnya tidak menyetujui rencana Papa dan adiknya itu. Ia merasa mereka telah terlalu menyimpang.


Sejak dulu ia sering menghabiskan waktunya di rumah Vino dan sering pula ia di didik oleh Nyonya Aditya, sehingga hatinya tidak penuh ambisi kotor. Ia hanya ingin mengejar cinta Vino, laki-laki yang pertama kali mengisi kehampaan hati nya sejak berpisah dengan Ibu dan adiknya.


Hidupnya sepi karena hanya menjadi patung bagi papanya, dan hanya bisa menonton kesibukan papanya yang penuh ambisi terhadap harta, tanpa bisa mengeluh apa-apa. Hingga akhirnya datang seorang anak yang juga dibuang oleh keluarganya, dan menjadi anak adopsi nya keluarga Aditya.


Ia merasa memiliki nasib yang sama dengan anak yang bernama Vino itu. Rasa senasib itu lama-lama berubah menjadi rasa keterikatan dan ia ingin memiliki serta melindungi nya. Ketika ia tau Vino tidak menyukai wanita, ia merubah dirinya menjadi seperti laki-laki dan menjauhkannya dari semua wanita. Bahkan ketika papanya yang selalu memfitnah Vino di depan Pak Aditya, ia selalu membelanya, walaupun ia sendiri takut pada papanya.


Namun karakter ambisius yang diturunkan dari papanya pun membuat nya berambisi untuk memiliki Vino.


"Aku pikir tidak perlu se ekstrim itu Pa.


Toh belum tentu juga aku bisa nikah sama Rio," kata Lara yang membuat Farhad langsung naik darah.


"Kamu ini gimana sih, cepat sekali menyerah. Kamu sudah berjanji mau menikah dengan Rio, kamu harus bisa menepati nya. Papa nggak mau menerima kegagalan," serunya dengan mata melotot.


Lara hanya bisa melengos mendengar tanggapan papanya. Ia tidak ingin membantah lagi, karena ia tau papanya itu tak akan mendengarkan nya.


*****


Dua hari berlalu, kondisi Dinda pun sudah pulih kembali. Ia dan Vino memutuskan untuk kembali ke rumah mereka sendiri.


"Kita pamit pulang hari ini aja ya Vin, kita harus mendaftarkan Arka ke Sekolah SD. Rasanya baru kemarin aku mendaftarkan Arka Sekolah di TK, tak terasa sekarang anakku sudah besar," ujar Dinda sambil menatap Arka yang sedang bermain dengan Nyonya Aditya.


Dinda tersenyum mendengar protes Vino.


"Iya Sayang, anak kamu juga," jawab Dinda dengan nada seperti menenangkan anak kecil yang sedang ngambek.


Vino akhirnya tertawa mendengarnya.


Dinda lega karena selama dua hari ini bisa menenangkan moodnya karena perhatian dari Vino yang selalu berusaha membuatnya senang.


Sehingga ia bisa melupakan kejadian tempo hari dengan Jeslyn dan Rio.


Dinda tidak menceritakan sama sekali tentang kejadian dua hari lalu kepada Vino, karena ia tidak ingin Vino khawatir dan malah mengajak nya langsung pulang, sehingga membuat Nyonya Aditya merasa sedih dan merasa bersalah.


Lagipula setelah kejadian tempo hari, Jeslyn tidak pernah menampakan lagi batang hidungnya ke rumah keluarga Aditya.


Namun ia merasa sedikit was-was kalau saja Rio pulang. Karena ia tidak tau harus bersikap bagaimana, dan ia takut Vino tau tentang perasaan Rio yang masih mencintainya. Ia takut kedua Kakak beradik itu akan kembali berseteru.


Namun nasib baik kini berpihak padanya, karena Rio tidak pulang sama sekali.


Dan akhirnya mereka pun pamit kepada Nyonya Aditya. Sementara Pak Aditya sudah sejak pagi berangkat ke perusahaan nya. Ia harus bekerja ekstra hari itu, karena kedua putranya yang absen.


Arka yang sudah merasa dekat dengan neneknya, merasa enggan untuk pulang. Namun karena tak lama lagi dia akan masuk ke sekolah SD, jadi ia harus kembali pulang bersama ibunya untuk bersiap-siap masuk Sekolah.

__ADS_1


"Nanti di akhir pekan Arka datang lagi ya, jenguk Nenek. Sekarang Arka pulang dulu, biar bisa siap-siap untuk masuk Sekolah," kata Nyonya Aditya sambil memeluk Arka saat mereka pamit pulang.


"Kami pulang dulu ya Ma," pamit Dinda sambil menyalami mertuanya.


Nyonya Aditya menyambut tangan Dinda sambil tersenyum, ia merasa beruntung memiliki menantu yang baik hati dan berpikiran dewasa seperti Dinda.


Ia tahu Dinda tidak memberitahu Vino tentang kejadian tempo hari, karena menantunya itu tidak ingin membuat suasana semakin kacau. Tidak seperti wanita lain yang sedikit-sedikit melapor kepada suaminya tanpa mempertimbangkan baik dan buruk akibatnya.


Begitu sampai di rumah, Dinda dan keluarga kecilnya bersantai di ruang keluarga sambil menonton TV, namun tiba-tiba terdengar suara bel pintu rumah mereka.


"Biar aku yang lihat siapa yang datang ya Sayang, kamu duduk aja," kata Vino sambil bangkit berdiri, lalu berjalan menuju ke ruang depan.


Tak lama kemudian Vino kembali sambil membawa sebuah paket yang berupa kotak kardus berukuran sedang.


"Ada kiriman paket ini Sayang. Kamu yang mesan ya?" tanya Vino.


"Nggak kok, aku nggak mesen apa-apa," jawab Dinda sambil mengerutkan keningnya.


"Ditulis di kotaknya sih buat aku, makanya aku pikir kamu yang pesan," kata Vino sambil duduk di samping Dinda.


"Kalau nama pengirimnya?" tanya Dinda.


"Nggak ada nama pengirimnya," jawab Vino sambil memeriksa kotaknya dengan raut wajah bingung.


"Coba kamu buka aja Sayang, mungkin ada keterangan di dalam kotaknya," ujar Dinda.


Vino pun membuka kotak itu dan mereka tambah heran melihat isinya yang berupa mainan anak-anak.


Lalu Vino menemukan secarik kertas di dalam kotak itu, mereka pun membacanya bersamaan.


Untuk cucuku dan juga untuk calon cucuku.


Dinda dan Vino saling berpandangan setelah membacanya.


"Ah dari Mama rupanya, baru aja kita pulang dari sana, Mama udah pakai ngirim hadiah buat anak kita," ujar Vino sambil tersenyum.


"Mama sepertinya benar-benar merindukan Arka," kata Dinda sambil ikut tersenyum. Kemudian ia mengambil ponselnya.


Vino yang melihat Dinda mengambil ponselnya pun bertanya,


"Kamu mau nelpon siapa?"


"Mau nelpon Mama buat ngucapin terima kasih," kata Dinda sambil menempelkan ponsel di telinganya.


"Halo," terdengar suara dari ponselnya.


"Halo Ma. Kami mau ngucapin terima kasih Ma, atas mainan yang Mama kirimkan," ucap Dinda.


Untuk sesaat tidak terdengar jawaban apa-apa dari seberang, lalu...

__ADS_1


"Mainan apa maksud kamu Nak?" tanya Nyonya Aditya kemudian.


Bersambung...


__ADS_2