Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Ada Kisah Dibalik Sikap yang Dingin


__ADS_3

Setelah kepergian Rio Dinda memutuskan untuk tetap memeriksa setiap ruangan di rumah Vino.


 


Setelah berkeliling, Dinda tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ruangan di rumah ini semua terbuka. Perabotannya juga masih sedikit, mungkin karena rumah nya masih baru dihuni.


Akhirnya Dinda kembali ke dapur untuk membuat makan malamnya, berhubung matahari mulai terbenam.


Setelah memasak Dinda baru ingat kalau dia belum memeriksa kamar Vino, Di dalam pikirannya masih melekat ingatan tentang perkataan Vino malam itu, bahwa dia meminum darah seorang wanita.


Walaupun Rio mengatakan Vino tidak pernah melakukan tindakan kriminal, namun bisa saja dia tidak tahu segalanya tentang adiknya itu.


"Sebelum dia pulang, aku harus memeriksa kamar nya" gumam Dinda.


Dengan cepat dia menaiki tangga. Sampai di depan pintu kamar Vino, Dinda membuka pintunya, namun ternyata pintu itu dikunci. "Nah... kan. Pasti dia menyembunyikan sesuatu di kamar nya, makanya dia mengunci pintu nya" pikirnya.


"Kamu sedang apa?" Dinda tersentak mendengar bisikan ditelinganya. Dia merasakan ada seseorang di belakangnya.


Cepat-cepat dia melihat ke belakang, ternyata Vino berada tepat di belakangnya. Dengan cepat ia membalikkan badannya.


"Kamu mau masuk ke kamarku hah...?" tanya Vino dengan wajah dingin.


Dinda sangat ketakutan melihat ekspresi wajah Vino, tangan nya mulai gemetaran. Dia ingin kabur dari situ, tapi dengan cepat Vino menghalangi nya dengan tangan nya yang ditempelkan di pintu, sehingga Dinda terjepit ditengah nya.


Vino mendekatkan wajahnya kearah Dinda.


Dinda langsung memalingkan wajahnya.


Apa yang mau dilakukan orang ini? Pikirnya.


"Kamu belum jawab, mau apa kamu ke kamarku. Apa kamu mau tidur denganku?" bisik Vino. Kini senyum nakal menghiasi bibirnya.


Dinda semakin ketakutan, dia terus memalingkan wajah sambil memejamkan matanya.


Vino tersenyum geli melihat reaksi Dinda.


"Atau kamu masih bermain detektif-detektifan?" tanya nya menggoda.


Vino menarik kembali tangannya yang mengurung Dinda.

__ADS_1


"Oke kalau gitu, aku tidak bisa menghalangi detektif yang sedang melakukan tugasnya bukan?" katanya sambil merogoh sakunya untuk mengambil kunci kamar nya.


"Ayo kita periksa sama-sama". katanya setelah membuka pintu.


Dinda ragu-ragu masuk kedalam kamar, begitu masuk dia melihat kamar yang begitu rapi dan semuanya tertata dengan baik. Warna abu-abu mendominasi kamar itu.


Dinda berkeliling memeriksa seluruh kamar, dia bahkan mengintip ke dalam kamar mandi, tapi dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.


Lalu dia melihat ke arah meja di samping tempat tidur, ada sesuatu yang kontras dengan keadaan kamar yang begitu rapi.


Di atas meja itu berserakan botol-botol obat. Dinda mendekat mendekat dan melihat obat itu.


"Ini obat penenang" gumamnya.


Vino berjalan mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Inilah alasan ku mengapa mengunci pintu. Aku terpaksa harus mengonsumsi obat ini setiap malam. jadi aku tidak mau Rio kakak ku tau" jelas nya.


"Bukankah kamu udah ketemu sama Rio? Dia tadi menelepon, dan memarahiku. Dia menyuruh ku untuk melepaskan mu. Oh ya, dia pasti juga mengatakan bahwa aku ini orang yang baik dan tidak berbahaya kan? Lalu kenapa kamu masih takut kepada ku?" tanya Vino.


"Itu karena kamu malam itu mengatakan kalau kamu akan meminum darah seorang wanita sampai habis. Penampilan mu juga sangat mengerikan, dengan tangan dan mulutmu yang berdarah".


"Aku memiliki masa kecil yang begitu pahit. Aku dibuang oleh ibuku demi seorang laki-laki. Setelah meracuni ayah yang sedang sakit di depanku, dia memaksaku naik ke mobil kekasih nya dan membuang ku begitu jauh dari rumah, agar aku tidak bisa kembali pulang. Saat itu aku masih berumur 7 tahun, apa yang bisa dilakukan anak umur segitu begitu dibuang ibunya begitu jauh dari rumah? aku bahkan tidak tau ada dimana. Berhari-hari aku luntang-lantung di jalanan, sampai akhirnya ditangkap satpol PP dan dibawa ke panti asuhan. Dari panti asuhan itulah aku di adopsi oleh Papa waktu aku berusia 14 tahun" cerita Vino dengan getir.


"Setelah hari itu aku selalu bermimpi tentang kejadian itu dan begitu bangun aku selalu menjadi panik sehingga butuh obat penenang.


Kadang-kadang aku menjadi muntah darah karena mengonsumsi obat penenang dalam jangka waktu yang sangat lama". kata Vino mengakhiri ceritanya.


Lalu dia mengangkat kepalanya dan menatap Dinda.


"Jadi itu darah ku" katanya sambil tersenyum tipis.


"Aku hanya mengutuknya, karena dia telah membuat ku begitu menderita, dan memintanya bertanggung jawab atas darah yang ku muntahkan" jelas Vino.


Mata Dinda berkaca-kaca mendengar cerita laki-laki itu. Ternyata di balik sikapnya yang dingin terhadap orang lain, dia menyimpan alasan yang begitu pahit.


Namun Dinda menjadi lega, ternyata Vino bukan psikopat.


"Jadi sekarang kau tidak pernah bertemu lagi dengan ibumu? tanya Dinda perlahan karena ia takut akan menyinggung perasaan Vino.

__ADS_1


"Tidak! Dan aku berharap tidak akan pernah bertemu dengannya lagi!" jawab Vino dengan raut wajah penuh kebencian.


Namun selang beberapa saat, ia tersenyum lirih.


"Apa aku terlihat begitu menyedihkan?" tanya Vino saat melihat Dinda yang menatapnya dengan tatapan iba.


"Tidak, hanya saja aku aku baru tahu tentang kisahmu, dan aku merasa bersalah telah menilai kamu begitu buruk sebelum mengetahui penyebab nya"


"Jadi sekarang aku sudah tidak terlihat buruk lagi di matamu?" tanya Vino.


"Hanya sedikit, dimataku kamu tetap jahat karena telah menculik ku dan menjauhkan aku dari anakku," kata Dinda dengan nada suara yang kembali terdengar marah.


Vino tampak sedih mendengar perkataan Dinda yang terlihat masih membencinya.


"Apa kau tahu? Terkadang yang terlihat itu bukanlah hal yang sebenarnya. Kamu ingat waktu aku dulu menolongmu dari pencopetan saat itu? Kamu juga menyalahkanku karena dimatamu aku terlihat seperti pencopet. Tapi setelah itu, kau baru tahu kalau akulah yang menolongmu dari pencopetan itu bukan?" tanya Vino.


Dinda tampak mengernyitkan keningnya saat mencerna maksud dari perkataan Vino.


"Jadi maksudmu, kamu menculik ku dengan maksud yang baik?" tanya Dinda


"Ya begitulah kira-kira" kata Vino sambil tersenyum penuh rahasia "Ngomong-ngomong, kamu belum minta maaf kepada ku, karena telah menuduhku pencopet" sambungnya.


"Aku sudah mengejarmu waktu itu karena aku ingin meminta maaf padamu, tapi kau berjalan terlalu cepat" kata Dinda membela diri.


"Terus kenapa kamu tidak minta maaf waktu di sekolah?"


"Karena kamu itu orangnya sombong dan dingin, jadi aku malas mendekat"


Vino tersenyum mendengar perkataan Dinda.


"Ya udah kalau gitu, kamu minta maaf nya sekarang aja" Vino menengadah menatap Dinda yang berdiri didepan nya itu dan menanti permintaan maaf Dinda.


"Maaf" kata Dinda perlahan dan menundukkan kepalanya.


Namun hatinya masih bertanya-tanya, untuk apa Vino menculiknya.


Jadi apa motif nya menculikku? Pikirnya, dan itu masih menjadi pertanyaan bagi Dinda.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2