
Nyonya Aditya keluar dari kamar Vino setelah menenangkan anaknya itu. Sementara Dinda masih menahan dirinya agar tidak masuk untuk melihat Vino.
Ia masih terbayang dengan sikap Vino yang seolah menjauhinya saat pulang dari restoran tadi.
Namun setelah dua jam menunggu, Dinda tidak sanggup lagi menahan rasa khawatir nya kepada Vino.
Dinda pun naik ke lantai atas menuju kamarnya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya sedikit dan mengintip ke dalam. Namun Dinda melihat tempat tidur mereka kosong.
Dinda pun langsung masuk ke dalam dan melihat ke arah kamar mandi.
Apa mungkin Vino lagi di kamar mandi ya? Pikirnya.
"Ada apa celingak-celinguk?"
Dinda tersentak mendengar suara Vino di belakangnya, perlahan ia menoleh ke belakang. Namun yang di lihatnya adalah sosok yang mirip seperti mumi dengan kepala yang dibalut kain putih.
"Aaaaaaakh!!!" teriak Dinda kaget dan refleks melangkah mundur. Namun kakinya terpeleset karena gerakannya tak terkontrol.
Sosok yang seperti mumi itu langsung menangkap tubuh nya dengan memeluk pinggangnya.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya sosok itu.
"Vino?" tanya Dinda heran.
"Ya Sayang, kamu nggak kenapa-napa kan?"
"Nggak, aku baik-baik saja," jawab Dinda sambil berdiri tegak.
Vino menarik nafas lega, masih dengan wajah yang ditutupi kain.
"Kamu yang kenapa? Kenapa balut muka kayak begitu?" tanya Dinda.
Vino meraba wajahnya yang tertutup kain sambil menunduk.
"Aku malu," jawabnya dengan suara yang sangat pelan.
"Malu sama siapa? Dan kenapa malu?"
"Malu sama kamu, karena tadi aku nangis," jawab Vino sambil berbalik dan berjalan ke arah sofa. Lalu ia tidur di sana sambil menutup lagi wajahnya dengan bantal.
Dinda mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan tingkah Vino. Namun kemudian ia tersenyum geli melihat sikap suaminya yang seperti anak kecil itu.
Oh ternyata dia tadi menjauhi aku karena malu, pikir Dinda.
Kemudian Dinda berjalan mendekati Vino dan duduk disamping suaminya itu.
"Jadi kamu malu karena tadi nangis?"
Vino tidak menjawab, ia masih menutup wajahnya.
"Buka wajah kamu Vin, atau kalau nggak nanti aku klitikin nih," kata Dinda mencoba bercanda.
__ADS_1
Namun tak ada respon dari Vino.
Akhirnya Dinda mengulurkan tangannya untuk menarik bantal yang menutupi wajah Vino. Awalnya Vino mempertahankan bantal itu dengan memegang nya kuat. Namun karena Dinda bersikeras menariknya, ia pun menyerah.
Kemudian Dinda juga membuka kain penutup wajah Vino, dan kini tidak ada penolakan lagi dari Vino, karena ia tau Dinda tetap akan memaksa.
Perlahan terlihat wajah tampan itu sedang menutup matanya, membuat Dinda tersenyum menatapnya.
"Kenapa harus malu hanya karena menangis?" tanya Dinda.
"Karena nggak keren," jawab Vino masih dengan mata tertutup.
Perlahan Dinda mendekati wajah Vino dan mengecup keningnya lembut. Mata Vino langsung terbelalak, ia jarang sekali merasakan Dinda yang duluan bersikap romantis padanya. Dengan cepat tangannya menahan tengkuk Dinda agar wajah mereka tetap berdekatan.
"Kenapa hanya di kening saja?" tanya Vino sambil menatap mata Dinda.
Dinda tersenyum.
"Ih, kamu. Tadi malu, sekarang kok genit?"
"Karena ini pertama kalinya kamu yang bersikap romantis padaku," jawab Vino.
"Benarkah?" tanya Dinda sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Dan kamu nggak pernah manggil aku dengan panggilan sayang, kamu juga belum pernah menyatakan cinta secara jelas kepada ku. Aku jadi ragu sebenarnya kamu menikah dengan ku karena cinta atau balas budi?"
"Masa aku menikah karena balasbudi? Memangnya ini zamannya Siti Nurbaya apa?" kata Dinda sambil berusaha menarik kembali kepalanya.
Namun orang yang dipancingnya itu tak kunjung mengejar. Dinda pun berhenti dan menoleh ke belakang. Laki-laki tampan itu sekarang malah menutup wajahnya kembali dengan bantal.
Dinda terpaksa menelan kembali tawanya.
Sepertinya sekarang ini Vino sedang tidak ingin bercanda, lebih baik aku membiarkan dia sendiri dulu, pikirnya.
Lalu Dinda membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
Sementara Vino langsung membuka wajahnya saat mendengar suara pintu dibuka.
Aku pikir dia akan kembali dan merayuku. Apa Dinda sebenarnya tidak mencintaiku? Kenapa dia harus menghindar seperti itu? Pikirnya.
*****
Setelah keluar dari kamar tadi siang, Dinda sama sekali tidak masuk lagi, karena ia memang berniat memberi waktu untuk Vino sendiri. Begitu juga dengan Vino, ia sama sekali tidak keluar dari kamarnya.
Dinda menyibukkan dirinya dengan bermain bersama Arka dan mengobrol dengan Nyonya Aditya. Sesekali matanya menatap ke tangga, berharap Vino akan turun. Namun sampai sore hari Vino tak kunjung terlihat.
Dinda merasa hatinya tidak bisa membiarkan Vino terus larut dalam kesedihan seperti itu.
Ia juga menyesal tidak langsung menjawab, saat Vino mempertanyakan perasaannya.
Jangan-jangan sekarang dia beneran mikir kalau aku tidak mencintainya. Batin Dinda.
__ADS_1
Sesaat kemudian Dinda terlihat diam sambil berpikir, bagaimana caranya untuk menghibur Vino. Lalu dia mengambil ponselnya dan membuka situs jual online, Dinda memilih beberapa barang yang ingin di belinya.
Setelah itu, ia naik ke lantai atas untuk melihat Vino.
Begitu sampai di kamar, Dinda melihat Vino masih di sofa dengan posisi yang sama sejak ia tinggalkan tadi.
Sepertinya Vino ketiduran, mungkin karena kelelahan yang diakibatkan oleh emosi nya yang terkuras saat ia trauma. Aku akan membangunkannya saat makan malam nanti, batin Dinda.
Dan saat makan malam tiba, Dinda kembali untuk membangunkan Vino. Namun suaminya itu sudah tidak terlihat lagi di sofa. Lalu Dinda mendengar suara guyuran air dari kamar mandi.
Dinda berjalan ke kamar mandi dan mengetuk pintunya perlahan.
"Vin, habis mandi kita makan malam dulu ya, aku tunggu kamu di bawah," kata Dinda.
"Ya," terdengar jawaban singkat dari dalam kamar mandi.
Setelah mereka berada di meja makan, Dinda melirik sedikit ke arah Vino, laki-laki tampan itu masih dengan raut wajah merungut. Ia bahkan tidak melirik Dinda sedikit pun.
Sepertinya Vino benar-benar marah dan salah paham padaku, pikir Dinda.
Setelah Dinda menghabiskan makanan nya, seorang asisten berjalan mendekat sambil membawa dua buah kotak besar.
"Maaf Pak, Nyonya. Ada kiriman paket untuk Mbak Dinda. Saya harus taruh di mana paketnya?" tanya si Asisten.
Nyonya Aditya dan suaminya serempak melihat ke arah Dinda.
Dinda langsung bangkit sambil tersenyum.
"Kamu taruh di depan pintu kamar saya aja,"
Asisten itu pun mengangguk dan membawa kotak itu ke lantai atas.
"Maaf Ma, Pa. Dinda selesai duluan, soalnya Dinda mau ke atas dulu, mau periksa paketnya," ucap Dinda sambil bangkit berdiri.
"Iya, nggak apa-apa Din. Kami juga sudah selesai makan kok," jawab Nyonya Aditya sambil tersenyum.
"Arka sayang, Mama naik ke atas sebentar ya. Nanti Mama turun lagi," kata Dinda pada Arka sambil mengecup puncak kepala putranya itu.
"Iya Ma," jawab Arka mengangguk.
Dinda pun beranjak pergi naik ke lantai atas.
Sementara cowok idaman setiap wanita yang tampannya ngangenin itu melirik Dinda yang telah berjalan pergi dengan ekor matanya.
Lihatlah! Dia bahkan tidak menyadari sikap ku yang aku sengaja buat seperti sedang marah. Dan dia juga tidak meminta izin padaku, batin Vino.
Bersambung....
Oke Guys... Kita main tebak-tebakan lagi yuk!
Kira-kira apa ya yang direncanakan oleh Dinda untuk menghibur Vino? Tulis tebakannya di komentar ya...
__ADS_1