Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Ternyata...


__ADS_3

Mata Dinda terbelalak mendengar pengakuan Jeslyn yang ingin merebut suaminya. Dinda benar-benar merasa marah. Ingin rasanya ia menampar wajah yang terus tersenyum merendahkan nya itu.


Namun belum sempat ia melakukan nya, tiba-tiba tangan Jeslyn tampak di tarik kasar oleh seseorang dari belakangnya, sehingga membuat tubuhnya berbalik dengan cepat dan...


PLAKK!!!


Suara tamparan yang keras terdengar di dalam dapur itu.


Dinda benar-benar kaget mendengar suara tamparan itu, lebih kaget lagi ketika ia melihat Rio yang menampar Jeslyn. Laki-laki tampan yang kini telah menjadi kakak iparnya itu terlihat begitu marah menatap Jeslyn.


Sementara Jeslyn pun sangat terkejut, dengan mata terbelalak ia memegang sebelah pipinya yang terasa panas dan perih, terlihat pipi putihnya itu membekas merah.


"Siapa kamu?! Berani sekali kamu menampar saya!" bentak Jeslyn keras tanpa rasa takut, gadis itu memang bukan wanita yang lemah.


"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Siapa kamu berani-beraninya menghina Dinda?" tanya Rio marah.


"Aku adalah calon menantu pemilik rumah ini. Apa Kamu saudaranya janda murahan itu? Berani sekali gembel seperti kalian masuk ke dalam rumah orang sesuka hati," seru Jeslyn sambil berkacak pinggang.


Kini amarah Rio semakin membara, ia menatap Jeslyn penuh amarah dan rasa jijik.


Dengan kasar ia menarik tangan Jeslyn dan menyeretnya sampai ke pintu keluar, sementara Jeslyn terus memberontak sambil berteriak-teriak dan mengumpat Rio.


"Wah berani sekali tangan kotormu menyentuhku. Dasar gembel! Lepaskan aku!" teriak gadis itu.


Begitu sampai di luar, Rio pun melepaskan tangan Jeslyn dan menghempaskan nya dengan kasar.


"Kamu tidak tahu siapa aku? Aku adalah Rio Aditya pemilik rumah ini. Kamu boleh pergi dari sini sekarang dan jangan pernah kembali lagi," seru Rio dengan suara keras.


Kini Jeslyn tampak melongo seperti orang bodoh, ia tak menyangka laki-laki tampan di depannya itu adalah Rio Aditya, yang ingin dijadikan menantu sekaligus ladang duit oleh papanya.


Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Jeslyn pun berbalik dan berlari pulang ke rumahnya.


Sementara Nyonya Aditya yang melihat kejadian antara Rio dan Jeslyn dengan tergopoh-gopoh berjalan mendekat.


Ia sangat heran melihat Jeslyn yang berlari pelan sambil memegang pipinya.


"Jeslyn! Tunggu dulu!" panggil Nyonya Aditya.

__ADS_1


Jeslyn pun berhenti berlari. Nyonya Aditya menghampiri gadis itu dan ia sangat terkejut melihat pipi Jeslyn yang merah saat Jeslyn menurunkan tangan dari pipinya. Gadis itu memang sengaja memperlihatkan bekas tamparan Rio kepada Nyonya Aditya.


"Pipi kamu kenapa Jeslyn?"


Otak licik Jeslyn langsung berputar mencari alasan yang tepat untuk membela diri. Dengan berpura-pura menangis, ia mengusap pipinya sambil meringis kesakitan.


"Aku ditampar sama Mas Rio Tante," jawab Jeslyn sambil menangis.


"Apa? Kenapa Rio menampar kamu?" tanya Nyonya Aditya terkejut.


"Sebenarnya aku yang salah Tante, aku telah lancang dalam berbicara. Tapi aku bicara atas kebenaran, Tante."


"Apa maksudmu Jeslyn? Kamu memang nya bicara apa?" tanya Nyonya Aditya bingung.


"Aku nggak bisa mengatakannya Tante, aku nggak mau mengacaukan keluarga Tante," kata Jeslyn sambil mengusap air mata palsu nya.


"Tante benar-benar tidak mengerti Jes, kamu nggak usah takut. Kamu terus terang saja sama Tante."


Jeslyn memasang tampang sedih dan teraniaya, padahal hatinya sedang tersenyum karena Nyonya Aditya mulai terpancing, dan inilah kesempatannya untuk menghasut wanita separuh baya itu.


"Tadi tanpa sengaja waktu aku pergi ke toilet, aku melihat Mas Rio sama Dinda di dapur. Dan aku melihat Dinda sedang merayu Mas Rio. Jadi aku berpikir, aku tidak bisa membiarkan tindakan serendah itu dilakukan di rumah Tante, jadi aku menegur Dinda, tapi Mas Rio malah marah dan menampar aku," kata Jeslyn berbohong.


Jeslyn meringis kesakitan sambil mengusap pipinya yang masih merah berbentuk telapak tangan.


"Jeslyn pulang dulu ya Tante, pipi Jeslyn perih banget," kata Jeslyn sambil membalikkan badannya.


Namun Nyonya Aditya segera menahannya.


"Tunggu dulu Jeslyn! Biar Tante kompres dulu pipimu. Ayo ikut Tante!" ujar Nyonya Aditya sambil mengajak Jeslyn masuk. Sementara Jeslyn langsung mengikuti langkah Nyonya Aditya sambil tersenyum senang, karena telah berhasil mempengaruhi wanita separuh baya itu.


Namun di dalam hati Nyonya Aditya tidak ada kecurigaan sama sekali untuk Dinda. Karena ia tau sejak dulu Rio yang menyukai Dinda, sehingga ia berpikir bahwa sebenarnya Rio lah yang merayu Dinda. Dan Jeslyn salah memahami kejadian yang dilihat nya.


Begitu mereka sampai di dalam, Rio langsung mencegat langkah mamanya dan Jeslyn.


"Ma, untuk apa Mama membawa masuk wanita ini lagi ke rumah kita?" tanya Rio. Raut wajahnya tampak marah saat melihat Jeslyn yang langsung bersembunyi dibelakang Nyonya Aditya.


"Memangnya kenapa? Apa kamu takut kelakuan kamu akan Mama ketahui?" tanya Nyonya Aditya marah. Ia benar-benar kecewa dengan sikap anak sulungnya itu.

__ADS_1


"Apa maksud Mama? Memangnya Rio ngelakuin apa?"


"Kamu baru saja merayu Dinda kan? Dinda itu sekarang sudah jadi adik ipar kamu Rio! Mama nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan yang tidak bermoral seperti itu," kata Nyonya Aditya dengan suara keras.


Rio tampak heran mendengar tuduhan Mamanya. Begitu juga dengan Jeslyn, ia merasa heran karena Nyonya Aditya malah menuduh Rio yang bersalah, bukan Dinda seperti yang ia laporkan tadi.


Rio menatap curiga pada Jeslyn yang langsung memasang wajah tak berdosa.


"Apa wanita itu yang mengatakannya pada Mama?" tanya Rio sambil menunjuk Jeslyn.


"Iya, Jeslyn melihat sendiri saat dia pergi ke toilet, dan kamu sedang merayu Dinda."


Dari arah dapur muncul lah Dinda. Ia memang sejak tadi tidak beranjak dari dapur, karena tubuh nya terasa semakin lemah setelah emosi nya terlanjur meluap akibat ulah Jeslyn. Sehingga ia memutuskan untuk menenangkan dirinya dulu sambil meminum teh hangat.


Begitu mendengar suara ribut-ribut di ruang depan, ia langsung keluar. Namun Dinda sangat terkejut saat mendengar apa yang dikatakan Nyonya Aditya.


Kenapa Mama jadi salah paham sama Mas Rio? Aku harus meluruskan masalah ini, batin Dinda.


Lalu ia segera menghampiri mereka.


"Maaf Ma, tapi Mas Rio nggak pernah merayu Dinda kok. Tadi Jeslyn datang dan menghina Dinda. Terus Mas Rio mendengar hinaan Jeslyn dan menamparnya. Itulah yang sebenarnya terjadi Ma, Dinda nggak bohong," kata Dinda sambil menatap Mama mertuanya.


"Kalaupun Mama tetap tidak percaya, kita bisa memeriksa CCTV yang ada di dapur," kata Rio sambil melirik Jeslyn dengan sinis.


Jeslyn yang merasa terpojok, tidak tau harus berdalih apa lagi. Otaknya yang selalu bisa berpikir licik, kini benar-benar telah buntu.


"Pipi Jeslyn semakin sakit Tante. Jeslyn pamit pulang dulu," kata Jeslyn sambil membalikkan badannya dengan cepat, dan langsung berlari pulang.


Rio tersenyum sinis melihat Jeslyn yang kabur ketakutan itu. Sementara Nyonya Aditya pun langsung paham, siapa yang bersalah dalam hal itu.


"Apa Rio ambil rekaman CCTV nya sekarang Ma?" tanya Rio.


"Tidak usah Nak, Mama sudah tau siapa yang bersalah. Mama tadinya sempat berpikir bahwa Jeslyn itu berbeda dari Kakak dan ayahnya. Maafkan Mama yang telah salah paham padamu ya. Mama pikir kamu masih mencintai Dinda," kata Nyonya Aditya dengan rasa bersalah.


Rio tampak terkejut mendengar perkataan mamanya. Namun hatinya tak bisa berbohong, bahwa ia masih mencintai Dinda. Ia menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Aku memang masih mencintainya," sahut Rio dengan suara pelan sambil berjalan keluar dari rumahnya.

__ADS_1


Meninggalkan Dinda dan Nyonya Aditya yang melongo mendengar jawabannya.


Bersambung...


__ADS_2