
Vino bergegas masuk ke ruangannya di perusahaan yang dipimpinnya.
Di sana telah menunggu sekretaris dan orang kepercayaannya.
"Bagaimana? Sudah ada kejelasan tentang datanya?" tanya Vino sambil duduk di kursinya.
"Belum Pak, sepertinya datanya masih disimpan Pak Rio," jawab orang kepercayaannya itu.
"Sepertinya Rio ingin bernegosiasi denganku langsung," katanya.
"Baiklah, kalian boleh keluar, masalah ini biar aku yang urus sendiri," lanjutnya.
Setelah sekretaris dan orang kepercayaannya itu keluar, Vino mengambil ponselnya untuk menelfon Rio.
"Ya halo" jawab Rio di seberang.
"Apa maksudmu mencuri data perusahaanku?" tanya Vino.
"Perusahaanmu? Wah... hebat kamu sekarang ya. Kamu hanya mengelolanya Vin, seharusnya perusahaan itu aku yang pimpin," jawab Rio marah.
"Aku tau dari dulu kau tidakk pernah menerima kalo aku yang mengelola perusahaan ini, padahal kau tau aku gak pernah memintanya sama Papa," sahut Vino.
"Terserah apa katamu, aku memang menerimamu sebagai adikku, aku juga tidak akan mengambil alih perusahaan itu. Aku akan menyerahkan data ini, asal kau melepaskan Dinda," kata Rio.
"Aku tidak menyekapnya lagi, kau lihat sendiri kalo Dinda yang kembali sendiri ke rumahku, tapi untuk merelakannya untukmu aku tidak bisa, karena aku yang lebih dulu menyukainya," kata Vino dan langsung mematikan ponselnya.
Dengan kesal Vino keluar dari kantornya. Ia tidak peduli lagi dengan data perusahaan yang sekarang berada di tangan Rio. Ia masuk ke mobilnya dan langsung melaju menuju ke rumahnya untuk menemui Dinda.
Ia tidak bisa membiarkan Dinda menjadi milik orang lain. Tapi ia juga tidak bisa mengungkapkan perasaannya sekarang, karena status Dinda yang masih sebagai istri orang lain.
"Aku harus cepat membantu Dinda menyelesaikan masalahnya dengan Ardi", pikirnya.
Sesampainya di rumah, ia tidak melihat Dinda ada diruang keluarga seperti biasanya. Vino langsung naik ke lantai atas untuk memanggil Dinda di kamarnya.
Namun berkali-kali Vino memanggil Dinda sambil mengetuk pintunya, Dinda tidak menjawab dan membuka pintunya.
Vino menjadi gelisah.
__ADS_1
"Apa Dinda kenapa-napa? Atau mungkin Dinda sudah pergi dari rumah ini?" pikirnya kalut. Tak bisa menahan kegelisahannya Vino memutuskan untuk membuka langsung pintunya.
Namun betapa terkejutnya ia melihat Dinda juga baru saja keluar dari kamar mandinya hanya dengan memakai handuk. Sesaat ia terpana.
Dinda juga sangat terkejut melihat Vino yang tiba-tiba berada di kamarnya. Ia langsung masuk kembali ke kamar mandinya.
Vino yang baru menyadari keterpanaan nya dengan cepat memalingkan wajahnya yang memerah dan langsung menuju pintu keluar.
"Aku menunggumu di luar" katanya sambil menggenggam gagang pintu nya dengan erat untuk melawan getaran yang tiba-tiba menguasai tangan kekarnya.
Setelah menutup pintu dari luar, ia menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Dinda yang berada di kamar mandi meremas kuat handuk nya, entah kenapa jantungnya juga berdetak tidak normal. Namun hatinya menolak, seharusnya ia tidak boleh merasa seperti ini.
Setelah memakai bajunya Dinda langsung keluar, dari atas ia melihat Vino yang sedang duduk menunggunya di sofa ruang keluarga. Ia pun turun dan duduk di hadapan Vino.
"Ada perlu apa Vin?" tanya Dinda.
Vino mengangkat kepalanya memandang Dinda, namun bayangannya tentang Dinda yang memakai handuk kembali melintas dipikirannya. Cepat-cepat ia membuang bayangan nya itu dan berusaha fokus pada tujuan nya menemui Dinda.
"Apa kamu udah siap untuk menuntut dan berpisah dengan Ardi?" tanyanya.
"Ya, aku udah siap," jawabnya singkat.
"Baiklah, kalo begitu siapkan mentalmu dari sekarang. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Besok kita akan ke kantor polisi dulu untuk melaporkan penipuan yang dia lakukan terhadap warisanmu, agar kasus ini juga bisa kita jadikan alasan mu bercerai," kata Vino.
"Baiklah," jawab Dinda.
"Nanti malam aku akan menemui pengacaraku," kata Vino.
Malam nya setelah Vino berangkat. Rio datang menemui Dinda.
"Silahkan masuk Mas," kata Dinda sambil membuka pintu.
Tampak Rio kurang senang melihat Dinda yang seperti sudah menganggap rumah ini tempat tinggalnya.
Rio masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Aku tau Vino gak ada di rumah, jadi aku akan berterus terang kepadamu. Aku nggak mau kamu menjadi tawanan Vino lagi. Apa sebenarnya yang kamu takutkan sampai kamu kembali ke rumah ini? Ceritakan lah padaku, aku berjanji akan melindungi mu," kata Rio.
"Aku udah bukan tawanannya Vino lagi Mas. Sebenarnya Vino menculikku untuk menolong ku. Aku mempunyai masalah dengan rumah tanggaku, jadi Vino ingin membantuku menyelesaikannya".
"Tapi apa kamu nggak tau bahwa Vino menolong mu bukannya nggak mengharapkan apa-apa? Dia melakukannya karena dia menyukaimu," kata Rio.
"Itu urusan pribadinya Vino. Aku juga nggak bisa melarangnya untuk menyukaiku," kata Dinda.
Lalu bagaimana dengan ku? Aku juga menyukai mu Din, berikanlah aku kesempatan untuk menjadi pahlawan bagimu, biarkan aku membantumu. Aku benar-benar tulus Din," kata Rio berharap.
"Maaf Mas, untuk sekarang aku nggak bisa memikirkan hal yang seperti itu. Aku baru aja tau bahwa suami ku telah menipuku selama enam tahun. Jadi tentang ketulusan, aku tidak bisa mempercayai lagi," kata Dinda.
Rio menghela nafas kecewa.
"Ya udah kalo gitu, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?" tanya Rio.
Dinda menatap Rio dengan rasa bersalah, tapi untuk sekarang dia memang tidak ingin memikirkan tentang cinta sama sekali.
"Besok aku dan Vino akan ke kantor polisi untuk melaporkan penipuan yang dilakukan oleh suamiku. Baru aja Vino pergi menemui pengacaranya," jelas Dinda.
Rio mengepalkan tangannya, ia merasa selalu selangkah di belakang Vino.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantumu," pamit Rio sambil bangun dan beranjak pergi.
Sesampainya di mobil, Rio memukul setir mobilnya kuat-kuat.
Dia tidak akan merelakan Dinda untuk Vino.
Semakin Vino mencintai Dinda, semakin ia ingin menjadikan Dinda sebagai miliknya.
Dari dulu Vino selalu lebih unggul dari nya, dan merebut segala sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
Bahkan perhatian dan kepercayaan Papa terhadap Vino melebihi kepercayaan terhadap dirinya.
Vino memang pintar dan sangat handal dalam memimpin perusahaan. Sampai-sampai perusahaan induk dipercayakan kepada Vino oleh Papanya.
"Kali ini aku tidak akan mengalah Vin, kamu gak bisa mendapatkan segala sesuatu yang kamu mau, Dinda akan menjadi milikku," gumam Rio sambil menggenggam kuat setir mobilnya.
__ADS_1
Ia menghidupkan mesin mobilnya, dan membawanya melaju secepat mungkin untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.
Terimakasih buat pembaca setiaku udah mau mampir di novel ku. Aku selalu menunggu kritik dan saran dari kalian. Jangan lupa like, komentar, dan rate 5 ya. Difavoritkan juga ya...