
Vino berdiri di depan pintu dengan wajah dingin sambil menatap Ardi marah. Tanpa aba-aba dia meninju wajah Ardi sampai laki-laki itu terjatuh.
"**** kamu!! Datang ke rumah orang dan memukul sembarangan" Ardi menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Di mana Dinda?"
"Dasar ****** tak tahu malu!! Sekarang kamu mencari istri orang!"
Dinda yang mendengar suara ribut-ribut di ruang tamu menggendong Arka dan masuk ke dalam kamar, lalu menidurkan Arka di tempat tidurnya.
"Arka tidur dulu ya, Mama keluar sebentar, abis itu mama akan temenin Arka tidur"
Arka mengangguk patuh.
Dinda pun keluar menuju ruang tamu, dia melihat Vino disana. Hatinya kembali perih mengingat penghianatan yang dilakukan Vino bersama Lara.
Vino yang melihat Dinda langsung mendekat dan meraihnya ke dalam pelukan, sehari saja tidak melihat wanita itu, hatinya merasa sangat rindu.
Ardi berang melihat Vino memeluk istrinya, baru saja dia ingin mendekat untuk memisahkan, namun ternyata Dinda telah mendorong tubuh Vino dan menjauh.
Vino menatap Dinda dengan pandangan bertanya dan kecewa. dan ia merasa tatapan Dinda begitu dingin.
"Kenapa Din?"
"Kenapa? Karena aku bukan wanita murahan yang bisa kamu peluk sembarangan".
Vino terkejut mendengar kata-kata Dinda yang diucapkannya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu Din? Kamu tau aku juga bukan orang yang akan memeluk sembarang orang"
"Aku nggak tau, aku tidak mengenalmu sedalam itu. Dan aku juga nggak mau tau kamu mau peluk siapa pun"
Vino tak habis pikir melihat sikap Dinda. Ia terpaku di tempatnya berdiri. Hingga Ardi datang dan mendorong nya ke pintu.
"Keluar kamu!" bentaknya.
Vino tidak mempedulikannya, ia masih menatap Dinda dalam-dalam, sementara yang ditatap membuang mukanya ke arah lain.
"Jadi, sekarang kamu ingin kembali ke sini?"
"Ya karena di sinilah tempat ku"
Ardi tersenyum senang mendengar perkataan Dinda. Dia merasa Dinda telah memilih nya.
"Dan bagaimana dengan harapan yang kau berikan padaku?"
"Aku nggak pernah menjanjikan apapun"
__ADS_1
"Kamu pernah!" Kamu mengatakan aku lah tujuan hidup mu di masa depan". kata Vino lirih, ia merasa kerongkongan nya begitu kering, dan sesak di dada.
Dinda tidak bisa menahan air matanya lagi, dia membalikkan badan untuk menyembunyikan tangisnya.
"Pergilah, kita nggak punya hubungan apa-apa. Aku sudah lelah dengan semua hubungan yang palsu" . Lalu Dinda berlari ke kamar nya.
"Hubungan palsu...? Dinda..." Vino berniat mengejar Dinda, tapi ia dihalangi Ardi.
"Hey! Istriku udah menyuruh mu pergi! Aku nggak menyangka, orang terpandang seperti kamu nggak punya malu, memaksakan kehendak pada istri orang"
Vino menggeram marah saat tubuhnya di dorong Ardi lagi.
Ia menarik baju Ardi kencang.
"Kau sampah nggak berhak bicara seperti itu padaku" kata Vino.
"Sekali saja kau menyakiti Dinda, aku nggak akan membiarkan kamu!" gertak Vino dengan mata memerah dan menghempaskan tubuh Ardi ke lantai.
Lalu ia keluar dengan hati yang resah dan kepala yang penuh dengan pertanyaan.
Sementara di balik pohon mangga di pekarangan Dinda berdiri seseorang mengintai mereka.
Begitu Vino pergi, orang itu mengambil ponselnya untuk menelfon.
"Halo Bos, baru saja pak Vino keluar dari rumahnya target"
"Kebetulan sekali, kalo gitu kalian kembali besok aja. Dan katakan kalau kalian adalah suruhan Vino. Pastikan Dinda mendengarnya!" sahut suara di seberang.
******
Vino menggebrak meja cafe tempat sekarang dia berada.
Hatinya begitu galau.
"Ada apa dengan Dinda? Apa yang telah aku lakukan sehingga membuat nya marah? Atau dia diancam Ardi?"
"Aaakh..." Vino menjambak rambutnya frustasi, karena sama sekali tidak tau apa sebabnya.
"Vino? Kamu nggak apa-apa?" Tanya Lara yang baru datang dengan wajah panik.
"Kamu telepon aku dan bilang lagi frustasi, aku langsung buru-buru ke sini".
Vino mendesah.
"Aku nggak tau kenapa dia begitu"
"Dia siapa?" tanya Lara.
__ADS_1
"Dinda".
Ekspresi wajah Lara langsung berubah. Tidak menyangka Vino akan se frustasi itu karena wanita, yang padahal dulunya dia begitu benci.
Kenapa harus wanita itu Vin? Padahal aku telah menunggu mu begitu lama, batinnya.
Namun ia sedikit senang, karena rencananya untuk menjauhkan Vino dari Dinda telah berhasil.
"Aku nggak tau kenapa dia sekarang ingin kembali ke kehidupan yang jelas akan membuat nya menderita?"
"Mungkin demi anaknya Vin"
"Tapi dia mengatakan kalau aku adalah tujuan hidupnya?"
"Hati manusia bisa aja berubah, kamu seharusnya bersyukur, telah mengetahui lebih awal, bagaimana sifat nya yang sebenarnya" kata Lara sambil menyimpan senyum, ia merasa inilah kesempatannya untuk mempengaruhi Vino.
"Justru karena aku tau sifatnya makanya aku nggak habis pikir"
"Bagaimana kamu tau Vin, kamu baru aja mengenal nya kan?" tanya Lara.
"Aku telah lama mengenalnya, dan aku sangat tau bagaimana sifat nya. Apa kamu tau? Aku adalah penguntit nya selama ini" kata Vino tersenyum miring.
"Maksud kamu?"
"Aku selalu mengikuti dan memantau kehidupan nya dari jauh. Awalnya aku pikir aku penasaran karena cuma dia cewek yang gak suka sama aku. Dan semakin aku mengikuti nya semakin aku mengagumi nya. Bahkan setelah dia menikah".
Lara terdiam mendengar penjelasan Vino. Ia tak menyangka laki-laki yang dingin terhadap semua wanita itu ternyata telah lama memperhatikan seorang wanita.
"Aku juga tidak menyukai mu, tapi kenapa kamu nggak penasaran padaku?" tanya Lara.
Vino menatapnya tajam untuk sesaat. Namun ia kembali tersenyum tipis.
"Karena kamu temanku"
Lara merasa tidak puas dengan jawaban Vino, ia tidak ingin selamanya hanya menjadi sahabat karena Vino tidak tau perasaan nya yang sesungguhnya.
"Tapi aku nggak mau hanya sebagai teman lagi. Kamu harus tau perasaan ku terhadap kamu yang sebenarnya Vin”
Vino kembali menatapnya tajam, kali ini tampak mengerikan dan membuat Lara bergidik takut.
"Jangan mencoba membahas perasaan mu padaku. Aku udah berusaha untuk tidak mempedulikan nya. Dulu aku hanya memanfaatkan mu yang bisa mengusir perempuan-perempuan yang mendekati ku. Tapi lama-lama aku jadi menyukai mu sebagai teman dan berusaha mengabaikan perasaan mu. Jadi, kalau kau tidak ingin ku benci, jangan pernah membahas perasaan mu lagi" kata Vino dengan ekspresi dingin dan pandangan yang mematikan.
Kemudian Vino bangkit dari duduknya dan beranjak menuju kasir. Setelah membayar minuman nya dan minuman Lara, ia pun langsung beranjak pergi tanpa menoleh lagi kepada Lara.
Sementara Lara terpaku di tempat duduknya. Ia sama sekali tidak menyangka Vino mengetahui perasaan nya. Dan ia juga tidak menyangka akan mendapatkan tanggapan seperti itu dari Vino.
Harapan yang tersimpan dalam hatinya selama ini langsung sirna, dan ia merasa hatinya sangat sakit mengetahui Vino dulu hanya memanfaatkan nya, dan berpura-pura tidak tahu tentang perasaan nya.
__ADS_1
"Aku lebih baik kamu benci dari dulu. Dari pada kamu memperlakukan ku seperti orang bodoh. Aku gak akan memaafkan mu Vin" desis Lara.
Air mata mengalir di pipinya. Dan kebencian perlahan-lahan menyusup kedalam hatinya yang terluka.