
Flash back:
Siang itu Rio menelepon Lara.
"Halo Ra, kamu lagi sibuk nggak?" tanya nya.
"Sibuk dikit sih, ada apa Mas?" tanya Lara.
"Kalau bisa nanti malam aku mau minta tolong sama kamu," kata Rio.
"Minta tolong apa Mas?" tanya Lara lagi.
"Aku mau kamu ngajak Vino keluar, kemana aja terserah kamu. Soalnya aku ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Dinda," kata Rio.
"Oh gitu, oke aku bisa," terdengar suara Lara menjawab dengan begitu bersemangat.
"Kebetulan aku lagi beres-beres rumah baru, jadi aku akan minta Vino buat bantuin aku nanti malam," sambung Lara.
Rio tersenyum miring mendengar jawaban Lara yang bersemangat.
"Ya udah, aku tunggu kerjasama kamu nanti malam," jawab Rio sambil menutup teleponnya.
Rio menatap ke arah sofa, terlihat Ardi sedang duduk di sana mendengarkan percakapannya.
"Nanti malam kamu ke rumah Vino dan buat Dinda ketakutan. Ancam dia untuk menarik kembali kasus kamu," kata Rio.
"Baiklah, asal kau membuat surat perjanjian untuk mengurus kasusku" jawab Ardi sambil tersenyum miring.
"Lagi pula, aku sangat merindukan istriku, jadi dengan senang hati aku akan menemui nya," sambungnya.
Rio terlihat marah mendengar perkataan Ardi. Ia mendekat sambil menarik kerah baju Ardi dengan kasar.
"Aku nggak menyuruh kamu ke sana untuk merayunya. Jangan pernah berharap untuk bisa memilikinya lagi, karena kamu udah nggak punya kesempatan," kata Rio dengan merapatkan giginya.
Ardi tersenyum sinis.
"Oke bos, tenang. Aku bukan orang bodoh yang akan memperjuangkan wanita, sementara kondisi ku saja masih tidak menentu," katanya sambil menghempaskan tangan Rio dari kerah bajunya.
Rio menghela nafasnya.
"Sekali aja kamu berkhianat, aku nggak akan segan-segan untuk membunuhmu," ancamnya.
Ardi hanya bisa menahan amarahnya dalam diam.
****
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Vino tiba di rumah barunya Lara.
Lara telah menunggu laki-laki idamannya itu di dalam rumahnya.
__ADS_1
"Hai Vin, aku nggak nyangka kamu langsung datang," kata Lara sambil mengumbar senyumannya.
"Ya, soalnya aku harus makan malam di rumah, terus kalo malam nanti aku baru datang, takutnya jadi pulang kemalaman," jawab Vino.
"Terus kenapa? Kamu sungkan sama aku gitu?" tanya Lara.
"Yah.. nggak enak aja sama tetangga kamu. Lagian aku nggak bisa ninggalin Dinda sendirian di rumah sampai larut malam," jawab Vino.
Wajah Lara tampak tak senang mendengar perkataan Vino yang tampak begitu perhatian terhadap Dinda.
"Kalian kenapa tinggal bersama? Padahal kalian belum menikah," kata Lara.
"Karena ada beberapa hal yang membuat aku harus melindunginya, jadi dia harus selalu dekat denganku," jawab Vino sambil tersenyum.
Sementara Dinda sedang membaca list menu yang ditulis oleh Vino sambil tersenyum pula.
Di sana tertera lima jenis makanan.
Aku akan memasak melebihi permintaanmu, karena kamu udah berjanji mau makan yang banyak, batin Dinda dan tersenyum geli.
Setelah selesai memasak, Dinda melihat jam dindingnya.
Udah jam tujuh malam, kenapa Vino belum pulang ya? Mungkin dia akan pulang sebentar lagi, aku akan menunggunya di ruang depan, pikirnya.
****
"Kotak mana lagi yang harus aku angkat nih?" tanya Vino. Jidatnya sudah mulai berkeringat, karena sedari tadi mengangkat-angkat barang.
Ini memang salah satu strateginya Lara, ia sengaja membuat Vino masuk ke kamar. Dari tadi strateginya tidak ada yang berhasil, ia sengaja bertingkahlaku yang bisa mengundang perhatian laki-laki, namun Vino sama sekali tidak meliriknya.
Begitu sampai di kamar, Dinda langsung membuka koper yang ternyata berisikan pakaian dalam dan pakaian seksinya. Lalu ia sengaja memiringkan kopernya sehingga isi kopernya berserakan di lantai.
"Aduh! Aku nggak sengaja mengangkat kopernya, eh malah kebalik. Jadi berantakan deh, bantuin dong Vin". kata Lara memohon.
"Ah...masa aku harus ngerapiin pakaian dalam kamu sih?" tolak Vino.
"Tolong dong Vin, aku akan ambil jus dulu buat kamu, kamu dari tadi belum minum," jawab Lara memohon lagi. Kemudian tanpa menunggu jawaban Vino ia langsung keluar dari kamarnya.
Setelah Lara keluar, karena terpaksa akhirnya Vino mendorong pakaian dalam itu dengan kayu gantungan ke dalam kopernya itu. Lalu ia menunduk untuk menutup kopernya kembali.
Saat itulah Lara masuk dan sengaja menabrak Vino dari belakang, sehingga jus di tangannya tumpah ke baju Vino.
"Aduh,,, maaf Vin aku nggak sengaja," kata Lara sambil memasang tampang merasa bersalah.
"Ah nggak apa-apa," kata Vino sambil mengibaskan bagian bajunya yang basah.
"Ya udah, kamu ganti baju gih. Aku ada sweater berukuran besar buat kamu ganti," kata Lara.
"Kamu ke kamar mandi ku aja buat nyuci punggung kamu yang kena jus, biar gak lengket, "kata Lara lagi sambil mengambil sweater yang memang sudah dipersiapkan sesuai rencananya.
__ADS_1
Vino mengeluarkan ponsel dan dompetnya agar tidak ikut kebasahan dan meletakkannya di meja rias Lara.
Lalu ia pun masuk ke kamar mandi.
Lara tersenyum senang melihat rencananya berhasil.
Namun tiba-tiba ponsel Vino bergetar di atas mejanya. Lara mendekat dan melihat layar ponsel yang tertera nama Dinda.
Ia tersenyum sinis.
Kebetulan sekali, gumamnya.
Lara mengambil ponsel Vino dan mengangkat teleponnya.
"Ya halo," kata Lara.
Namun untuk sesaat tak ada jawaban. Lalu perlahan terdengar suara Dinda di seberang.
"Halo... Vino nya di mana? Boleh saya bicara dengannya sebentar?"
"Oh Vino lagi mandi, jadi nggak bisa ngangkat telepon. Ada perlu apa? Bisa titip pesan sama saya aja," jawab Lara dengan senyum liciknya.
Dinda kembali terdiam.
"Halo?" tanya Lara lagi saat tidak mendapat jawaban.
"Oh tidak usah. Nanti akan saya telepon kembali," jawab Dinda.
Lara sengaja tidak mematikan ponsel nya, dan ia langsung berteriak dengan suara manja.
"Viiin... pakaian dalam aku kamu taruh di mana? Aku mau pakai nih!" teriaknya sambil tersenyum lebar dan langsung mematikan teleponnya.
Sementara Dinda yang baru saja mendengar teriakan Lara meremas ponselnya dengan kuat. Hatinya merasa cemburu dan curiga.
Apa yang dilakukan Vino di sana? Kenapa ia sedang mandi? Dan kenapa Lara menanyakan pakaian dalamnya pada Vino?
Dinda menekankan tangan di dadanya, dia merasakan dadanya sungguh tidak nyaman. Ada sesak dan perih.
"Tidak perlu di pertanyakan lagi, orang bodoh juga tau apa yang telah terjadi di antara mereka," katanya lirih.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu depan. Dinda tersadar dari pikiran buruknya tentang Vino.
Siapa yang datang? Tidak mungkin Vino yang pulang, kan? Apa mungkin salah satu anggota keluarga Aditya?
Dinda tak beranjak dari tempat duduknya, ia tampak ragu sejenak.
Namun bel pintu terus berbunyi, membuat Dinda terpaksa bangun dan melangkah ke pintu depan dengan perasaan gamang.
Perlahan ia membuka pintunya.
__ADS_1
Dan refleks kakinya melangkah mundur.
Bersambung...