
Tiba-tiba ada rasa eneg yang menghinggapi kerongkongan Dinda. Ia kembali membuka matanya sambil mengerutkan keningnya.
Vino yang melihat perubahan ekspresi Dinda pun langsung bertanya.
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Nggak tau nih Sayang, tiba-tiba merasa mual," jawab Dinda.
Vino yang menelungkup di atas tubuh Dinda dengan bertumpu pada kedua tangannya pun bangkit duduk.
Dengan rasa bersalah Dinda ikut duduk di samping Vino. Tangannya menutup mulutnya yang serasa mau muntah.
"Kamu masuk angin mungkin sayang, sejak di restoran tadi siang kamu udah merasa mual kan?" tanya Vino dengan wajah khawatir.
Dinda teringat dengan kebohongannya saat mengatakan ia merasa mual. Padahal ia cuma mencari alasan untuk mengajak Vino pulang dari restoran itu.
Jangan-jangan ini karma, karena tadi siang aku berbohong.
"Ya udah, biar aku buatkan teh jahe untukmu ya biar enakan dikit," kata Vino sambil beranjak bangun.
Dinda menatap tubuh Vino yang jangkung namun berotot itu dari belakang. Vino saat itu memakai kaos putih dan celana santainya. Ia terlihat begitu menawan di mata Dinda, begitu keren dan maskulin.
Ingin rasanya ia berada di dalam pelukan cowok tampan bertubuh atletis itu. Apalagi ketika Vino beranjak bangun wangi tubuhnya yang di bawa angin terhirup oleh Dinda rasanya begitu menggoda hasratnya.
Dengan cepat ia bangkit dan menarik tangan Vino.
__ADS_1
Vino yang baru saja melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, menoleh kembali ke belakangnya
"Ada apa Sayang?" tanya Vino.
"Kamu jangan pergi Vin, jangan kemana-mana," rengek Dinda dengan suara manja.
Vino berbalik menatap istrinya heran.
"Tapi aku mau ngambil air jahe nya dulu Sayang."
"Tapi aku nggak mau kamu pergi."
"Kamu kenapa? Apa kamu takut aku tinggal sendirian?" tanya Vino.
"Nggak kok, aku nggak takut. Aku cuma nggak mau kamu pergi," jawab Dinda sambil memonyongkan bibirnya dengan manja. Vino kini bingung dengan sikap Dinda
Dinda mengangguk sambil tersenyum manis.
Vino beranjak mengambil minyak kayu putih di lemari dengan hati yang bingung.
Dinda kenapa ya? Apa karena aku terlalu menuntut nya untuk bersikap romantis, sehingga kini ia memaksakan diri? Pikir Vino.
Setelah mengambil minyak kayu putih, Vino pun menyerahkan nya kepada Dinda. Sementara Dinda terus menatap Vino, ia merasa Vino begitu tampan dan menarik perhatiannya seperti magnet, ingin rasanya ia menempel terus.
Vino yang menyadari tatapan Dinda pun menjadi salah tingkah.
__ADS_1
Dinda mengusap minyak kayu putih itu di tangan dan menghirup aromanya untuk menghilangkan rasa mual nya.
"Vin, tolong usapkan di tengkuk aku dong," kata Dinda sambil menyibak rambut panjangnya ke samping.
Vino terpaku sesaat melihat tingkah Dinda. Namun kemudian ia mendekat dan mengambil minyak kayu putih dari tangan Dinda..
"Sudah Sayang, sekarang kamu tidur ya. Aku akan mematikan lilinnya dulu," kata Vino sambil mendorong bahu Dinda perlahan, agar Dinda merebahkan tubuhnya. Kemudian Vino menyelimuti istrinya itu. Dinda tersenyum senang mendapat perhatian dari suaminya
Vino melirik ke arah Dinda dan melihat istrinya itu sudah memejamkan matanya.
Vino pun ikut memejamkan matanya dengan bibir tersenyum.
*****
Pukul sembilan pagi Dinda baru sanggup membuka matanya, tubuh nya terasa sangat lemah. Ia menoleh ke samping nya, Vino pun masih tertidur di sana. Namun tiba-tiba ia merasakan mual kembali, ia langsung berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan semua isi perut nya di sana.
Sementara Vino yang mendengar suara berisik di kamar mandi pun ikut terbangun dan tak menemukan Dinda di samping nya. Namun sesaat kemudian ia langsung berlari ke kamar mandi begitu mendengar suara Dinda yang sedang muntah di sana.
Dengan sigap ia mengusap-usap punggung Dinda.
Setelah memuntahkan semuanya, barulah Dinda merasa mual nya telah hilang. Ia keluar dari kamar mandi dengan di papah Vino. Lalu Vino mendudukkan Dinda dengan perlahan di pinggir tempat tidur nya.
"Aku akan mengambil teh hangat untuk mu ya, Sayang," ujar Vino.
Dinda mengangguk lemah. Dan Vino pun segera turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Namun betapa terkejutnya ia melihat di bawah sana ada Lara bersama Papanya dan juga seorang gadis yang tidak dikenalnya, mereka sedang bercakap-cakap dengan orang tuanya.
Bersambung....