
"Aku sudah memeriksa identitas wanita yang menjadi korban kecelakaan itu, dia bernama Tah," ujar Rangga.
"Apakah dia masih hidup?" tanya Vino dengan suara bergetar.
"Sayangnya, dia tak bisa diselamatkan," jawab Rangga.
Vino terdiam sesaat, ada rasa sedih yang tiba-tiba saja hadir dalam hatinya.
"Apa kamu sudah memeriksa dimana alamat korban itu? Dan apakah sudah ada yang menghubungi keluarganya?" tanya Vino.
"Aku sudah menemukan alamatnya. Namun ternyata dia hanya sebatang kara, tidak memiliki saudara satu orangpun," jelas Rangga.
Vino kembali terhenyak mendengar penjelasan Rangga tentang korban kecelakaan yang ternyata adalah ibu kandungnya itu. Selama ini ia tidak tahu bahwa ibunya hanya tinggal sendirian.
Apa mungkin setelah berpisah dari Ayah Dinda, dia tidak mempunyai hubungan dengan siapa-siapa lagi? Batin Vino.
"Satu lagi Vin, wanita itu ternyata bekerja sebagai cleaning servis di Sekolah SD yang berada di dekat tempat kejadian. Dan ia adalah pekerja baru di sana," ujar Rangga.
"Baiklah, coba kamu kirimkan alamat korban itu kepadaku," perintah Vino.
"Oke, aku kirimkan sekarang," jawab Rangga.
Setelah mendapatkan alamat yang dikirimkan oleh Rangga, Vino menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku dan berjalan kembali menuju ruangan tempat Dinda dirawat.
Dan begitu ia sampai di sana, ia melihat papanya sedang keluar sambil menggendong Arka.
"Papa mau kemana?" tanya Vino.
"Papa mau ngajak Arka jalan-jalan keluar sebentar, biar Arka nggak tegang lagi," jawab Pak Aditya.
"Baiklah, Pa. Arka main dulu sama Kakek ya, Papa mau jenguk Mama dulu," ujar Vino sambil mengusap kepala Arka.
"Iya Pa," jawab Arka dengan wajah lesu.
Kemudian dengan perlahan Vino membuka pintunya, dan ia melihat Dinda ternyata sudah sadar dari obat bius yang tadinya membuatnya tidak sadarkan diri.
Wanita yang sangat dicintainya itu sedang berbincang dengan suara lemah dengan mamanya.
"Kamu udah sadar, Sayang?" tanya Vino sambil menutup kembali pintunya.
Dinda menoleh ke arahnya dan mengembangkan senyum.
"Iya, Alhamdulillah aku udah sadar," jawab Dinda sumringah walaupun terlihat lemah.
Vino menatap senyuman istrinya itu dengan hati yang perih, dia tidak dapat membayangkan senyuman itu akan hilang setelah ia memberitahukan kenyataan tentang kondisi tubuh istrinya itu sekarang.
Vino berjalan perlahan mendekati istrinya, ia duduk di samping Dinda sambil mengembangkan senyum. Perlahan tangannya meraih tangan Dinda dan menggenggamnya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Sayang? Apa masih ada yang sakit?" tanya Vino lembut.
"Aku baik-baik saja kok Vin, cuman bagian bawah perutku sepertinya terasa perih. Apa mungkin aku terluka saat kecelakaan?" tanya Dinda.
Vino melirik ke arah ibunya. Dinda yang melihat lirikan suaminya berfikir kalau Vino ingin ibunya yang memberikan jawaban.
"Aku udah nanya sama Mama, dan Mama juga nggak tahu bagaimana keadaanku sebenarnya. Kan kamu baru saja nemuin Dokter. Apa yang dibilang sama dokter Vin?" Dinda kembali bertanya dengan wajah penasaran.
Vino menghela nafasnya yang terasa berat, ia menggenggam tangan istrinya lebih kuat.
Otaknya mencari cara untuk menjelaskannya dengan cara yang tidak akan membuat istrinya syok.
Karena bagaimanapun ia harus mengatakan keadaan yang sebenarnya kepada Dinda.
"Perut kamu perih karena jahitan Sayang, tapi jahitan itu bukan karena kecelakaan. Tapi karena kamu baru saja menjalani operasi pengangkatan salah satu indung telur mu," jelas Vino perlahan.
Dinda tampak mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Vino.
"Pengangkatan indung telur? Bagaimana bisa? Aku kan sedang mengandung Vin."
Vino menundukkan kepalanya mendengar perkataan Dinda, rasanya ia tidak sanggup lagi untuk mengatakan yang sebenarnya kepada istrinya itu. Tapi ia harus tetap tegar untuk menjadi penyokong buat istrinya.
__ADS_1
"Calon anak kita tidak bisa diselamatkan Sayang. Karena benturan yang kamu alami sangat keras, membuat kandunganmu tidak bisa bertahan. Bahkan sampai melukai rahimmu, sehingga kamu harus menjalani operasi," jelas Vino lagi sambil menatap mata istrinya dalam-dalam.
Dinda terkesiap mendengar penjelasan Vino, ia menutup mulutnya dengan tangan. Dan matanya melotot tak percaya.
Ia benar-benar tidak menyangka, janin yang sedang dikandungnya tidak dapat ia pertahankan. Bahkan sekarang, rahimnya sudah tidak sempurna lagi.
Perlahan air mata menetes di pipinya. Ia begitu kecewa, dan tak dapat menahan lagi tangisnya.
Kenapa ini harus terjadi? Seandainya saja aku tidak menyebrang saat itu. Seandainya saja aku lebih hati-hati, batin Dinda menyesali semua yang terjadi.
Tubuhnya berguncang saat tangisnya pecah. Namun perut bagian bawahnya yang baru saja dioperasi kembali terasa perih saat ia menangis.
"Aauukh... " teriak Dinda disela tangisnya.
"Kamu kenapa Din?" tanya Vino dan Nyonya serentak.
"Perutku perih," ucap Dinda sambil meringis kesakitan
Vino menarik kembali tangan Dinda dan menggenggamnya.
"Jangan menangis Sayang, masih belum rezeki kita untuk memiliki anak," ujar Vino lembut.
"Tapi ini kesalahan ku Vin. Seandainya aku lebih hati-hati saat menyebrang," kata Dinda masih tak dapat menghentikan tangisnya.
"Nggak Sayang, ini bukan kesalahan siapa-siapa. Mungkin memang takdir kita belum saatnya memiliki anak," hibur Vino.
"Iya Nak, Vino benar. Kalian masih muda, masih banyak kesempatan untuk memiliki anak," timpal Nyonya Aditya.
"Tapi rahim Dinda udah nggak sempurna Ma," jawab Dinda sambil mengusap air matanya.
"Tapi bukan berarti kamu nggak bisa hamil lagi Sayang. Dokter bilang, ada orang yang indung telurnya tinggal satu namun masih bisa mengandung, semua tergantung pada yang Maha Kuasa, kita hanya bisa berdoa padanya," ujar Vino sambil menatap mata istrinya untuk memberinya keyakinan.
Dinda membalas tatapan Vino. Ia melihat kesedihan di mata itu.
Ya, kalo masalah kecewa, Vino juga pasti merasa kecewa dan sedih. Namun dia masih berusaha untuk terlihat tegar di depanku. Alangkah egois nya aku jika meratap terus, sedangkan Vino harus menahan kesedihanya, batin Dinda.
Ia menatap Vino dengan mata nanar.
Vino merasa terenyuh mendengar perkataan istrinya.
"Kamu selalu memberikan aku kebahagiaan Dinda. Aku selamanya akan bahagia selama kamu ada disisiku," ujar Vino.
Nyonya Aditya tersenyum lirih menatap sepasang insan yang saling mencintai dihadapannya itu.
*****
Vino menatap kembali layar ponselnya. Membaca lagi pesan Rangga yang bertuliskan alamat rumah usang yang berada di pemukiman kumuh. Dan kini ia sedang berdiri di depan rumah itu dengan tatapan ragu.
Sebelah tangan yang lainnya menggenggam sebuah kunci. Ia baru saja menerima kunci itu dari pihak
Rumah Sakit.
"Apakah anda keluarganya?" tanya seorang perawat saat Vino menanyakan di mana jasad ibu kandungnya itu.
Sesaat lamanya Vino tampak tertegun, dan tak bisa menjawab.
"Bukan... saya bukan keluarganya," jawab Vino dengan terbata-bata, "saya adalah suami dari orang yang ditolongnya, sampai dirinya sendiri yang tertabrak. Jadi saya yang akan menangani proses pemakaman nya," jelas Vino kemudian.
"Oh baiklah. Karena sampai sekarang keluarga nya tidak ada yang datang, jadi barang-barang milik korban akan saya serahkan kepada anda," kata si perawat. Lalu ia menyerahkan barang-barang yang berupa dompet kecil usang, dan sebuah kunci rumah yang digantung pada dompetnya.
"Terimakasih," jawab Vino perlahan sambil mengambil dompet dan kunci itu dengan perasaan gamang.
Dan kini ia telah berada di depan rumah ibu kandungnya itu dan menatap kunci di tangannya.
Perlahan ia melangkah ragu menuju ke pintu dan memasang kuncinya.
Begitu dibuka, terlihat sebuah ruangan kecil yang tampak bersih. Namun terlihat sedikit luas karena hanya ada beberapa perabotan yang mengisinya.
Vino melangkah masuk ke dalam. Ia bermaksud hanya untuk sekedar memeriksa, mungkin ada sesuatu yang berupa keinginan atau wasiat, sebelum ibu kandungnya itu dimakamkan.
__ADS_1
Ruangan kecil itu tergabung dengan dapurnya, dan di tengah ruangan itu terdapat meja makan yang dilengkapi dengan dua buah kursi.
Vino hampir saja terkejut melihat disalah satu kursinya terletak boneka yang berbentuk anak laki-laki kecil dan imut. Ia mengerutkan keningnya, karena merasa heran.
Apa dia menggunakan boneka sebagai teman hidupnya? Batin Vino.
Perlahan ia memutari meja, dan ia melihat sebuah bingkai foto yang memajang foto anak laki-laki kecil yang memakai baju kuning dan memegang bola.
Vino kali ini benar-benar kaget. Karena ia mengenal foto itu. Karena itu adalah foto dirinya saat ia kecil. Dan ternyata boneka yang duduk di kursi itu memakai baju yang sama dengan yang ia kenakan seperti dalam foto.
Kembali terputar memori yang ia lupakan selama ini.
"Vino, ayo kita berfoto!" ajak ibunya sambil tersenyum lembut.
"Ayo Ma," sambut Vino kecil sambil meraih uluran tangan ibunya.
"Tapi kalo kita foto berdua nanti nggak ada yang fotoin dong, soalnya kamera kita nggak bisa foto otomatis," ujar Ibunya dengan wajah kecewa.
"Nggak apa-apa deh, biar Mama foto Vino aja. Nih, pegang bola barunya," ujar Mamanya kemudian sambil memberikan bola.
Ckrekk
Foto pun berhasil di ambil.
Lalu terdengar suara pintu rumah terbuka, dan masuklah ayahnya dengan tubuh terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Wajah ibunya langsung pucat pasi. Dengan cepat ibunya menarik tangan Vino dan mendorongnya menjauh. Karena saat itu ayahnya sedang menggenggam sebuah tonkat kayu dan berjalan mendekati ibunya.
Wajah ibunya begitu ketakutan, dan Vino kecil hanya bisa meringkuk di samping meja. Ia melihat ayahnya kemudian menjambak rambut ibunya dengan kencang sampai ibunya terjatuh.
"Tutup mata kamu Vino!" teriak Ibunya sambil menangis kesakitan.
Vino kecil menuruti perintah ibunya dan menutup matanya dengan tangan yang bergetar.
Ingatan suram itu membuat air mata Vino mengalir tanpa ia sadari.
Selama ini ia telah melupakan semua kenangan nya bersama ibunya, karena bayangan buruk saat ia dibuang ibunya dulu telah mengubur semua kenangan itu.
Ia baru mengingat kembali semua kenangan manis nya bersama ibunya. Dan kini ia baru mengetahui ternyata itulah penyebab nya ibunya selalu marah jika ia menyebut ayahnya. Karena ibunya selalu di siksa.
Tapi kenapa Ibu harus membuang ku? Kenapa Ibu tidak membawa aku bersama Ibu? Batin Vino lirih. Air matanya mengalir kembali.
Ia juga teringat kembali, setahun sebelum ibunya membuangnya, sikap ibunya memang berubah terhadap nya. Ibunya jadi membencinya seperti membenci ayah. Ia bahkan selalu menjauh dari Vino.
Setahun itu Vino kecil hidup dalam kesepian dan ketakutan, karena ibunya selalu berubah bengis ketika melihatnya, dan ayahnya setiap hari hanya mabuk-mabukan.
Vino berjalan lagi dengan kaki yang lemah menuju sebuah pintu yang sepertinya itu pintu kamar. Ia membuka nya perlahan. Di dalam kamar itu hanya ada sebuah tempat tidur kecil dengan kasur dan sprei yang sudah kusam. Dan di sudut kamar terdapat sebuah kardus berisi pakaian yang terlipat rapi.
Vino melangkah kan kakinya masuk ke dalam kamar itu. Di bantal kecil di tempat tidur nya terletak sebuah buku yang terlihat seperti sebuah buku catatan. Perlahan Vino duduk di pinggir tempat tidur itu dan mengambil bukunya.
Vino membuka halaman pertama buku itu, terlihat fotonya saat ia kecil juga ada di sana. Ia mengusap foto itu perlahan. Lalu ia melihat sebuah tulisan yang tertulis di halaman pertamanya.
Dear Vino anak Mama.....
Ternyata buku ini tertulis untuk ku, batin Vino.
Dan ia melanjutkan membaca.
Mama tau, kamu pasti akan terus membenci Mama sampai dewasa. Tapi jika boleh Mama ingin mengungkapkan perasaan Mama yang sesungguhnya padamu. Mama sangat mencintai mu. Walaupun awalnya Mama tidak menginginkan mu, karena di dalam tubuh mu juga mengalir darah orang yang sangat Mama benci. Orang yang telah merenggut kebahagiaan Mama dengan paksa, orang yang telah memperkosaku dan memaksa ku menikah dengannya.
Tapi setelah melihat matamu ketika kamu lahir, Mama langsung mencintaimu, dan tak bisa menolak mu.
Sampai lima tahun usiamu, Mama bertahan dengan suami yang selalu menyiksa dan memukuli Mama. Namun akhirnya Mama tidak bisa membendung lagi kebencian itu. Sehingga setiap saat melihat mu Mama jadi trauma dan terbayang wajah Ayah mu.
Hingga malam itu, Mama *nekat membunuhnya dan membuang mu.
Tapi setelah itu Mama langsung kembali Nak. Namun naasnya, Mama mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit. Mungkin itu balasannya karena Mama telah tega meninggalkan mu sendirian dalam kegelapan itu.
Setelah keluar dari rumah sakit, Mama langsung mencarimu, namun belum sempat Mama menemukan mu, Mama telah ditangkap Polisi atas kasus pembunuhan Ayahmu, dan Mama harus mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama**.
Vino tak dapat lagi menahan air matanya, tangannya bergetar memegang buku di tangannya.
__ADS_1
Tubuhnya kini berguncang dan tangisnya pecah. Ia berteriak sekuatnya, meluapkan kesedihan yang tiada tara...
Bersambung...