
"Kenapa kamu menghindari aku, Din?" Tanya Vino sambil mengeratkan pelukannya.
Dinda merasakan kehangatan pelukan Vino begitu nyaman.
Namun egonya mengalahkan perasaannya. Perlahan ia melepaskan pelukan Vino.
"Karena aku udah lelah dengan semua kepalsuan Vin. Kalo kamu memang nggak benar-benar mencintaiku, jangan beri harapan padaku. Tolong berhenti bermain-main dengan hatiku yang sedang terluka," ujar Dinda tegas, namun terlihat getir dan rapuh.
Vino menatap Dinda tak mengerti.
"Siapa yang bermain-main dengan hatimu Din? Kamu kan tau, selama hidupku ini aku membenci wanita, dan hanya padamu aku bisa jatuh cinta. Jadi mana mungkin aku main-main?"
"Lalu kenapa kamu bersama Lara waktu di rumahnya?"
"Lho, aku kan lagi di rumah dia, ya pasti aku bersama dia dong. Apa kamu cemburu? Bukannya kamu udah mengizinkan aku ke rumah Lara waktu itu?" tanya Vino sambil tersenyum lega, rasanya seperti sebongkah batu besar baru saja diangkat dari hatinya, setelah mengetahui penyebab Dinda menjauhinya.
"Maksudku, kenapa kamu berhubungan dengan Lara?"
"Berhubungan? Maksudmu melakukan hubungan 'itu'?"
Wajah Dinda tampak merona karena harus membahas hal seperti itu.
"Iya, kemarin malam itu aku menelepon kamu, karena kamu nggak pulang-pulang. Dan Lara yang ngangkat telepon kamu, terus dia bilang kamu lagi mandi di kamarnya, dia juga nanyain baju dalamnya sama kamu. Orang bodoh juga tau, kalian baru ngelakuin apa" jelas Dinda dengan emosi yang muncul kembali saat mengingat malam itu.
Vino menarik nafasnya dalam-dalam. Ia baru menyadari, ternyata Lara memang sengaja mengatur sandiwaranya malam itu.
"Aku bisa bersumpah padamu, aku tidak melakukan apa-apa dengan Lara, malam itu bajuku ketumpahan jus yang disajikan Lara, sampai aku harus mengganti bajuku dikamar mandinya, karena posisiku memang sedang berada di kamarnya untuk membawa masuk koper yang ternyata berisi baju dalamnya. Tapi aku baru saja tau, kalo Lara sengaja melakukannya, karena kemarin dia baru saja menyatakan cintanya kepadaku" cerita Vino.
Dinda menatap Vino lama, mencari kebenarannya dari mata laki-laki tampan itu. Namun tak bisa disangkal, rasa percaya mulai menyusup ke dalam hatinya.
"Kamu harus percaya Din, kamulah wanita pertama yang hadir dalam hidupku. Aku belum pernah 'melakukannya' bersama siapa pun. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tes sekarang. Biar kamu tau, aku belum ahli dalam 'hal' itu" Ujar Vino dengan nada menggoda.
"Iya, aku percaya" Jawab Dinda sambil memalingkan wajahnya yang memerah.
"Nggak dites dulu? Biar akurat gitu?" goda Vino sambil mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
"Udah ah, aku mau masuk dulu sebentar," jawab Dinda sambil cepat-cepat membalikkan badannya untuk membukakan pintu. Ia
tidak kuat menahan debaran jantungnya saat wajah tampan itu begitu dekat dengan wajahnya.
"Ooh maunya di dalam ya? Kamu nakal ih!" Ujar Vino sambil nyelonong masuk.
Dinda membulatkan matanya mendengar kata-kata Vino.
"Kalau kamu mikir yang tidak-tidak, lebih baik kamu tunggu di luar aja"
"Jangan galak gitu dong. Iya deh, aku nggak mikirin 'itu' lagi. Emangnya kamu pulang mau ngapain?"
"Mau ngambil sertifikat rumah, biar nggak diembat sama Mas Ardi lagi" jawab Dinda menuju kamarnya.
"Wah ternyata kamu udah pinter sekarang. Gitu dong, jangan polos banget," ujar Vino sambil tersenyum. Dia juga ikut masuk ke kamar mengikuti Dinda.
Dinda langsung berbalik menghadang Vino.
"Kamu tunggu di luar aja ya. Walaupun kamu belum berpengalaman, tapi aku juga nggak berani masuk ke kamar berduaan begini" ujarnya.
"Apa maksudmu dengan belum berpengalaman? Kamu mau membuktikan kepiawaian ku sekarang? Aku jamin, aku tidak mengecewakan dan kamu yang pertama kali merasakannya." goda Vino dengan suara yang mulai serak.
Dinda merasa panik saat tiba-tiba ditindih Vino, sepertinya gairah laki-laki itu sudah terlanjur membara.
Namun Dinda tidak mau terhanyut, bagaimanapun statusnya sekarang bukanlah seorang wanita yang bebas.
Perlahan Dinda mendorong tubuh Vino dari atas tubuhnya sambil memalingkan wajah, merasa canggung saat wajah Vino sangat dekat, sampai ia bisa merasakan nafas laki-laki itu yang mulai memburu.
Ia bangun dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Tapi aku tidak bisa memberikanmu saat pertama ku" jawab Dinda lirih.
Vino langsung merasa gairahnya padam saat mendengar suara lirih Dinda. Ia takut telah menyinggung perasaan Dinda. Perlahan Vino ikut bangun dan duduk di sampingnya. Ia menatap wanita yang dicintainya itu dalam-dalam.
"Aku bukanlah laki-laki picik yang mementingkan nafsu, aku ingin menjadikan kamu sebagai pendamping yang akan menemaniku sampai tua nanti. Jadi jangan pernah mencoba menilaiku seperti itu, karena itu akan menodai ketulusanku"
__ADS_1
Dinda terenyuh mendengar perkataan Vino. Ia menatap mata yang berwarna coklat itu lama, ketulusan yang terpancar di sana membuatnya tenang.
Bolehkah aku berharap padamu? Akankah aku terluka lagi? Batin Dinda.
"Ya udah, aku nggak akan berpikir seperti itu lagi. Tapi kita juga nggak boleh melakukannya dulu sebelum menikah," jawab Dinda sambil bangkit berdiri.
"Kapan kamu akan dipanggil ke pengadilan lagi?"
"Dua hari lagi," jawab Dinda.
"Kalo gitu, besok aku akan ngajak kamu sama Arka jalan-jalan. Biar kamu nggak tegang saat ke pengadilan"
"Tapi nanti kamu ketemu Arka dong"
"Iya, terus kenapa? Aku udah pernah ketemu Arka, sayang. Bahkan udah beberapa kali, waktu kamu masih berstatus sebagai tawananku" kata Vino sambil tersenyum.
Dinda jadi tersenyum sendiri mendengar kata tawanan, dulu ia merasa benci sekali dengan Vino. Tidak disangka, benci itu sekarang berubah menjadi cinta.
"Aku bahkan pernah makan es krim sama Arka, dan aku tau Arka itu alergi kacang"
Dinda menaikkan alisnya dengan raut wajah bertanya.
"Anak kamu itu pinter kayak mamanya, dia sendiri yang ngasih tau aku tentang alerginya, biar aku nggak beliin yang rasa kacang buat dia"
Dinda tersenyum mendengar cerita Vino.
"Tapi Arka lupa sama nasehat lku agar menjauhi orang asing" ujar Dinda sambil menekan kata orang asing dan melirik Vino.
"Maksud kamu aku orang asing? Mungkin Arka udah merasakan kalo aku ini akan menjadi ayahnya," jawab Vino menggoda. Tangannya mulai menggapai tangan Dinda.
Dinda langsung menarik tangannya cepat-cepat.
"Udah ah, nanti kamu mulai ngelakuin yang tidak-tidak lagi. Ayo kita keluar," ujar Dinda dan langsung keluar dari kamarnya.
"Aah kamu Din, icip-icip dikit kan nggak apa-apa. Kamu pelit banget sih?!" seru Vino sambil ikut keluar dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Bersambung...