Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Pertemuan yang Tidak Terduga Part 2


__ADS_3

Ia mencoba mengingat kembali sambil terus menatap wanita itu.


Dan seperti tersengat listrik, Dinda tersentak saat ingatannya kembali kepada foto yang ditunjukkan oleh kakaknya Yanti ketika ia berumur tujuh tahun.


Wajah wanita itu ada didalam foto itu bersama dengan ayahnya.


Yang berarti wanita itu adalah ibu kandungnya Vino.


Bagaimana kalau Vino melihatnya? Bagaimana kalau trauma Vino kembali lagi? Pikirnya.


Dinda melirik ke arah Vino dan ia melihat suaminya itu sedang asik dengan ponselnya untuk mengecek file yang baru dikirim oleh sekretarisnya.


Keringat dingin bercucuran di dahi Dinda.


"Arka mau makan apa, Sayang?" tanya Nyonya Aditya.


"Arka mau spaghetti Nek," jawab Arka.


"Arka suka spaghetti ya?"


"Iya Nek, setiap makan di sini, Arka selalu pesan spaghetti," jawabnya lagi.


"Kalau kamu mau makan apa, Dinda?"


Dinda tersentak mendengar pertanyaan Nyonya Aditya, matanya yang dari tadi terus mengawasi Vino menoleh ke arah ibu mertuanya.


"Dinda mau soto Betawi aja Ma," jawab Dinda gelagapan.


Sementara wanita itu terus menatap Vino dengan raut wajah yang sedih.


Apa wanita ini mengenal Vino? Apa dia menginginkan Vino untuk melihat nya? Batin Dinda.


"Kalau kamu mau makan apa, Vino?" tanya Nyonya Aditya sambil melihat


kearah anaknya itu.


"Vino mau soto Betawi juga Ma," sela Dinda cepat agar Vino tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel dan melihat wanita itu.


Dan usaha Dinda pun berhasil, Vino langsung mengangguk tanpa menoleh kearah mereka.


"Iya Ma, Vino soto Betawi juga. Maaf ya, Vino harus periksa email ini sebentar," jawab Vino.


Dinda menghela nafas lega, ia padahal hanya asal menjawab tadi. Tapi beruntung Vino memesan menu yang sama.


Nyonya Aditya memberitahu kan menu pesanan mereka, dan wanita itu mencatat nya, ia terlihat tidak fokus mencatat karena terus melirik ke arah Vino. Setelah mencatat pesanan, dia berbalik perlahan meninggalkan meja mereka.


Dinda terus memperhatikan wanita itu, sampai ia menghilang di balik dinding dan menuju ke dapur restoran.


Wajah Dinda tampak tegang, sehingga menarik perhatian Nyonya Aditya.


"Kamu kenapa Dinda? Apa kamu tidak enak badan?"


Vino yang sejak tadi sangat fokus dengan ponselnya, langsung mengangkat kepalanya dan menatap istrinya cemas.


"Kamu sakit, Din?" tanya Vino.

__ADS_1


Ini adalah kesempatan aku untuk mengajak pulang, pikir Dinda.


"Aku merasa sedikit mual," jawab Dinda memberi alasan.


Vino langsung berdiri.


"Biar aku minta air jahe hangat di dapur, mungkin kamu masuk angin," kata Vino.


Dinda langsung gelagapan, ia takut Vino akan bertemu dengan wanita itu di dapur.


"Jangan kamu ambil sendiri Vin, kamu minta sama pegawai nya aja," ujar Dinda berusaha mencegah.


"Nggak bisa, nanti kalau mereka yang ambil, lama banget di bawanya. Biar aku ambil sendiri langsung ke dapurnya," bantah Vino.


"Nggak usah Vin, lagian aku juga kurang suka minum air jahe. Ini cuma mual sebentar, mungkin karena bau parfum orang-orang lewat," ujar Dinda berusaha mencegah Vino pergi ke dapur.


"Kamu pakai minyak kayu putih aja Din, sama Mama ada," ujar Nyonya Aditya sambil merogoh tasnya, lalu menyerahkan satu botol kecil minyak kayu putih kepada Dinda.


Dinda hanya bisa menerimanya dengan wajah kuyu, karena rencananya mengajak pulang tidak berhasil.


Sekarang Dinda hanya bisa berharap bukan wanita itu lagi yang akan membawa makanannya.


"Baiklah kalau begitu, kalau mual nya semakin terasa, kamu kasih tau aku ya. Aku periksa file ini dulu sedikit lagi," ujar Vino.


Dinda mengangguk dan Vino pun kembali fokus dengan ponselnya.


Tak lama kemudian, wanita itu keluar dari dapur sambil menenteng kantong plastik berisi sebuah bungkusan. Lalu ia terlihat berjalan keluar. Dinda terus mengikuti dengan pandangan nya.


Dinding depan restoran itu terbuat dari kaca, sehingga Dinda bisa melihat wanita itu menghampiri dua bocah kecil berpenampilan lusuh yang berdiri di trotoar, dan memberikan bungkusan itu kepada mereka.


Namun tiba-tiba saja ponsel Vino berbunyi.


"Ini telepon dari sekretaris ku, aku akan menerimanya di luar sebentar ya, di sini terlalu berisik," kata Vino sambil bangkit berdiri.


Dinda langsung panik, melihat Vino beranjak keluar.


Bagaimana kalau Vino bertemu dengannya di luar? Apa yang harus aku lakukan untuk mencegah Vino?


Namun Dinda tak sempat lagi mencegah Vino yang sudah buru-buru keluar untuk mengangkat teleponnya.


"Di sini memang selalu ramai seperti ini ya Pa?" tanya Nyonya Aditya.


"Iya, soalnya makanannya enak. Cuma Papa nggak pernah ngajak Mama ke sini, karena biasanya Mama nggak suka tempat yang berisik," kata Pak Aditya.


Dinda sudah tidak bisa fokus lagi mendengar percakapan mertuanya. Matanya terus menatap keluar.


Ia melihat wanita itu sedang berbalik untuk masuk ke dalam. Sementara Vino sedang menuju pintu keluar.


Dinda sudah tidak sanggup lagi melihatnya, ia hanya bisa menutup mata dan berdoa agar Vino dan ibunya itu tidak bertemu jika itu akan membuat nya trauma.


Perlahan Dinda membuka matanya, dan seketika matanya melotot.


Ibu dan anak itu sedang berdiri berhadapan, Vino di bagian dalam restoran, dan ibunya di bagian luar restoran.


Mereka bertemu di tengah pintu itu.

__ADS_1


Vino tampak berdiri kaku, begitu juga dengan ibunya. Dan perlahan ponsel dari genggaman Vino jatuh ke lantai.


Dinda langsung berdiri tegak, wajahnya terlihat begitu tegang.


Apa yang akan terjadi? Batinnya.


Dan sesaat kemudian Vino berlari keluar melewati ibunya yang masih membatu.


Dinda langsung bergegas mengejar Vino. Dan ia melihat wanita itu tiba-tiba jatuh bersimpuh di lantai dengan air mata yang perlahan turun di pipinya.


Namun Dinda tidak peduli, ia terus berlari keluar untuk mengejar Vino.


Sementara Nyonya Aditya dan suaminya menatap heran Dinda yang berlari keluar. Apalagi saat mereka melihat pramusaji tadi bersimpuh di depan pintu restoran.


Begitu sampai di luar, Dinda melihat Vino berjalan menyusuri trotoar seperti orang mabuk. Dinda langsung berlari mengejar nya.


"Vino!" teriaknya.


Namun Vino tidak menjawabnya, dia terus berjalan sempoyongan.


"Vino, berhenti!" seru Dinda sambil menghadang Vino.


Ia begitu terkejut melihat wajah tampan itu begitu pucat seperti mayat hidup.


Dinda langsung meraih tubuh lunglai Vino ke dalam pelukannya. Ia memeluk tubuh itu erat, sehingga ia dapat merasakan tubuh Vino bergetar.


Dinda melihat sebuah taksi sedang melaju jauh di depannya, ia langsung melambaikan sebelah tangannya ke arah jalanan untuk memanggil taksi itu. Begitu taksinya berhenti, Dinda pun memapah tubuh Vino untuk masuk ke dalamnya.


Vino duduk didalam dekapan Dinda dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya itu.


Sementara Nyonya Aditya dan suaminya pun ikut menyusul keluar sambil menggendong Arka. Saat mereka keluar pun pramusaji itu masih bersimpuh di sana. Pak Aditya melihat ponsel Vino yang tergeletak di lantai, ia langsung memungut nya dan bergegas keluar. Namun Nyonya Aditya merasa kasihan melihat pramusaji yang menangis itu dan ia pun menghampirinya.


Beberapa pelanggan lain juga tampak datang mendekat.


"Ibu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Nyonya Aditya.


Namun wanita itu tidak menjawabnya. Ia mematung dengan air mata yang terus mengalir. Karena tidak mendapat jawaban, Nyonya Aditya pun memutuskan untuk menyusul suaminya yang telah keluar.


Nyonya Aditya melihat suaminya sedang berdiri di samping mobil nya sambil menelepon. Ia pun menghampirinya.


"Kemana mereka pergi Pa?"


"Papa juga nggak tau, ini Papa lagi menelepon Dinda," jawabnya.


"Halo Pa," terdengar suara Dinda menjawab.


"Kalian ada di mana? Sebenarnya ada apa?"


"Kami sudah pulang dengan taksi Pa. Vino sedang syok, karena baru saja bertemu dengan ibu kandungnya," jawab Dinda.


"Ibu kandungnya?!" Pak Aditya kelihatan sangat terkejut.


"Iya Pa, dia adalah pramusaji yang melayani kita tadi," jawab Dinda.


Mulut Pak Aditya seketika terbuka lebar. Perlahan ia menoleh ke arah pramusaji yang bersimpuh di lantai tadi, namun wanita itu sudah tidak ada di sana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2