
Untuk sesaat keduanya tak bisa mengalihkan pandangan. Namun tiba-tiba tangan Dinda di raih Rio dan diletakkan di lengannya, agar Dinda menggandengnya.
Vino mengepalkan tangannya melihat Dinda yang kini bergandengan tangan dengan Rio.
Dinda terkejut mendapati Rio yang menggandeng tangannya, ia mendongakkan wajahnya menatap Rio dengan tatapan bertanya.
Rio tersenyum lembut dan berbisik di dekat telinganya.
"Maaf ya Din, kamu pasanganku malam ini, jadi harus begini," bisiknya lembut, sehingga nafasnya menyapu telinga Dinda yang membuat Dinda merasa geli, dan refleks bibirnya tersenyum.
Vino yang melihat adegan yang sungguh membuat hatinya panas itu merasa dadanya begitu sesak.
"Ternyata kamu menikmatinya Din. Huh! Aku pikir kamu berbeda dengan wanita lain," gumamnya.
Ia mengambil satu gelas minuman yang sedang dibawa pramusaji dan meneguknya sampai habis.
Ia tak peduli bahwa minuman yang baru saja di minumnya itu mengandung alkohol, padahal selama ini dia tak pernah minum minuman beralkohol sekalipun.
Lara yang juga sedang menikmati minumannya melihat kedatangan Rio.
"Vin, itu Mas Rio datang. Dia sama pacarnya ya? Wah pacarnya Mas Rio cantik rupanya," kata Lara.
Vino tidak menanggapi perkataan Lara.
Ia terus menatap mereka dengan tatapan tajam.
Tampak Rio sedang memperkenalkan Dinda pada teman-temannya.
Dinda yang merasa terus ditatap Vino menjadi salah tingkah, dan berusaha melihat ke arah lain. Lalu ia melihat meja makan yang sangat panjang menyajikan begitu banyak cemilan. Dinda memutuskan untuk melarikan dirinya ke sana.
Dinda menyentuh pelan lengan Rio yang sedang berbicara dengan temannya.
"Mas, aku mau mencoba makanannya dulu ya," katanya pelan.
"Iya, nanti aku menyusul ya," kata Vino sambil tersenyum.
Dinda mengangguk dan langsung berjalan menuju meja tempat makanan.
Vino masih mengikuti dengan tatapan tajamnya. Sedangkan Lara sedang asik dengan teman barunya.
Dinda berusaha tidak perduli dengan tatapan Vino.
Kenapa dia harus menatapku begitu? Seolah aku sedang berbuat salah. Dia sendiri tidak merasa bersalah, setelah mengucapkan cinta, sekarang dengan cepatnya dia nggak peduli lagi padaku dan malah bersama wanita lain, batinnya kesal.
Dinda mengambil sepotong kue 🍰 dan meletakkan di piring kecilnya.
Hmm kuenya enak banget, gumamnya sambil memejamkan matanya meresapi nikmatnya kue yang sedang dikunyahnya.
Namun tiba-tiba lengannya dipegang seseorang, Dinda terkejut dan membuka matanya. Vino telah berdiri disampingnya dan menatapnya tajam dengan matanya yang mulai memerah akibat pengaruh alkohol.
__ADS_1
"Ikut aku," kata Vino sambil menarik tangan Dinda.
Dengan cepat Dinda meletakkan kembali piring kuenya di meja, dan terpaksa mengikuti Vino yang menggenggam lengan nya dengan keras dan menariknya ke ruangan belakang yang sepertinya sebuah ruangan penyimpanan.
Dinda meringis menahan rasa sakit di lengannya yang memerah.
"Lepaskan aku Vin, kamu menyakitiku dan membuat aku takut!" teriak Dinda sambil menarik kembali tangannya.
"Oh...! Jadi kamu takut padaku sehingga kamu sekarang berlindung sama Rio?" tanya Vino kasar.
"Ya, aku takut padamu. Kamu selalu bertindak seenaknya. Apa salahku padamu malam ini, sampai kamu memperlakukanku kasar begini?" tanya Dinda ketus.
"Apa salahmu? Salahmu adalah kamu telah menipuku dengan tampang polosmu. Ternyata kamu sama seperti wanita lain," kata Vino sinis.
"Apa maksudmu Vin?" tanya Dinda.
"Apa maksudku? Seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu sekarang beralih kepada Rio?"
"Aku nggak bermaksud apa-apa. Aku..." kata-kata Dinda terpotong saat kedua tangan Vino memegang bahunya dan mendorong tubuh Dinda dengan kuat ke dinding.
"Tidak bermaksud apa-apa? Kau datang bersamanya ke pesta. Dan kau sengaja berdandan seseksi ini buat apa? Kau juga ingin menjerat pria kaya lain?"
Dinda sudah tidak bisa menahan lagi luka di hatinya mendengar cacian Vino. Air matanya pun keluar dengan deras.
"Kamu jahat Vin..." desahnya lirih sambil menggigit bibirnya.
Vino yang sudah setengah sadar tak bisa menahan rasa yang tidak bisa ia artikan, disaat ia melihat wanita yang selalu ia rindukan menangis tanpa daya.
Tanpa sadar ia mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda yang bersimbah air mata.
Dinda merasakan desah nafas hangat menyapu wajahnya. Ingin rasanya ia menutup matanya dan menanti kehangatan yang tanpa sadar telah ia rindukan dari seorang laki-laki tampan yang berada di dekatnya itu.
Namun hinaan yang ia terima dari Vino tadi sungguh membuatnya terluka.
Dinda memalingkan wajahnya dan mendorong tubuh Vino menjauh darinya.
"Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu katakan," desah nya lirih dan langsung berlari keluar.
Ia menghapus air matanya sambil berlari.
Begitu sampai di ruangan pesta, Dinda langsung mencari Rio. Ia ingin pergi dan menghilang dari tempat itu secepatnya, agar tidak usah bertemu lagi dengan Vino.
"Mas, aku sepertinya nggak enak badan nih, gimana kalo kita pulang sekarang?" tanya Dinda setelah menghampiri Rio.
"Kamu kenapa? Sakit apa?" tanya Rio cemas.
"Aku cuma merasa pusing aja, mungkin karena nggak terbiasa dengan suasana pesta sebesar ini," jawab Dinda membuat alasan.
"Oh oke, kita pulang sekarang," sahut Rio cepat, dan langsung membawa Dinda keluar.
__ADS_1
Sementara Vino terduduk dilantai ruang penyimpanan itu dengan tubuh yang lemah dan hati yang hancur.
Hancur karena ia telah menyakiti wanita yang sangat ia cintai, dan membuat wanita itu benci padanya sekarang.
Ia kehilangan akalnya karena pengaruh alkohol itu. Dan juga pengaruh traumanya terhadap wanita. Sedikit saja ia merasa kecewa, namun traumanya membuat rasa kecewa itu berubah menjadi luka.
Ia terluka melihat Dinda bersama Rio.
Namun ia tak menyangka, ia lebih terluka lagi saat melihat air mata Dinda yang jatuh karena perbuatannya.
"Vin... Vino!"
Sebuah suara memanggil-manggil namanya, tapi ia sedang tak ingin menjawabnya.
Sayup-sayup ia mendengar suara langkah seseorang menuju ke arahnya dan berhenti tepat di depan pintunya yang terbuka.
Lara begitu terkejut melihat Vino yang terduduk di lantai dalam keadaan lemah seperti itu. Ia langsung berlari mendekati Vino.
"Ada apa Vin? Kamu kenapa?" tanya Lara panik.
"Ah... Lara. Aku nggak apa-apa. Aku hanya mabuk sedikit," jawab Vino lemah.
Ternyata, perasaan bisa membuat seorang laki-laki tangguh sepertinya menjadi lemah tak berdaya.
"Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Lara.
"Tadinya aku mau ke toilet, tapi karena pengaruh alkohol aku malah nyasar ke sini," jawab Vino membuat alasan.
"Ya udah, ayo kita pulang!" ajak Lara.
"Kamu bisa bangun kan?"
"Bisa," jawab Vino sambil berusaha berdiri. Namun...
"Aakhh!" desisnya lirih dan terduduk kembali.
"Kamu kesakitan ya Vin, sakit nya di mana?" tanya Lara cemas.
"Di sini," jawab Vino sambil memegang dadanya dengan menutup mata.
Sementara Dinda di dalam mobil Rio masih memikirkan kejadian antara dia dan Vino tadi. Hatinya begitu terluka.
Tanpa sadar ia mengeluh lirih.
Rio yang mendengar lenguhan Dinda langsung khawatir.
"Kamu kesakitan Din? Sakitnya di mana?" tanya Rio.
"Di sini" jawab Dinda sambil menyentuh dadanya dengan menutup mata.
__ADS_1
#Terkadang cinta membuat suatu kenyataan menjadi seperti sebuah keajaiban. Mungkin yang sedang kamu rasakan juga sedang ia rasakan# Salam Author