Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Arka Rindu Papa


__ADS_3

Dinda pun mengepak baju-bajunya Vino. Sementara baju-baju yang baru saja dibelikan oleh Vino untuknya, sengaja ia tinggalkan di rumah Mama mertuanya itu. Agar saat sekali-kali ia mengunjungi nya nanti, ia tidak harus membawa baju lagi. Dan Vino juga ikut membantunya.


"Din, hari ini aku harus ke perusahaan karena ada hal yang penting" ujar Vino sambil mengangkat kopernya.


"Kamu mau berangkat sekarang?" tanya Dinda.


"Iya, setelah mengantar kamu pulang, aku langsung berangkat kerja. Aku usahakan sore nanti sudah bisa pulang ke rumah"


Dinda menganggukkan kepalanya.


"Baiklah" jawabnya.


Setelah selesai mengepak baju, mereka pun turun ke bawah.


Nyonya Aditya sudah menunggu mereka di sana. Wajahnya sekarang sudah tidak terlihat terlalu sedih lagi, karena ia sengaja menutupi kesedihannya agar anak dan menantunya tidak merasa terbebani.


Dinda memeluk Mama mertuanya itu dengan hangat. Nyonya Aditya menyambut pelukannya sambil tersenyum lembut.


"Dinda akan sering-sering mengunjungi Mama" ujar Dinda.


"Baiklah, Mama akan selalu menunggu kunjungan kamu"


"Nenek tinggal sama Arka aja yuk!" seru Arka sambil menarik-narik tangan Neneknya itu. Sehingga membuat Nyonya Aditya terenyuh hatinya. Ia memang sudah merasa dekat dengan Arka, walaupun anak kecil itu bukanlah cucunya sendiri.


"Nenek harus tinggal di sini sayang, kalau tidak nanti kakek kamu jadi gak ada yang menemani," jawab wanita paruh baya itu sambil tersenyum pada Arka.


Dan akhirnya mereka pun naik ke mobilnya dan meninggalkan rumah megah itu.


Selama perjalanan Dinda masih terbayang raut wajah mama mertuanya yang sedih. Begitu juga dengan Vino, ia juga merasa sedih karena tidak bisa memenuhi keinginan ibunya untuk tinggal bersama.


Namun hati seorang laki-laki lebih terdominasi dengan logika daripada perasaan. Ia lebih memilih logika bahwa ia harus menjaga keutuhan rumah tangganya, daripada perasaannya yang ingin tinggal bersama Mamanya.


Setelah sampai di rumah Dinda, Vino pun mengantarkan anak dan istrinya masuk ke dalam rumah sebelum akhirnya ia pergi untuk bekerja.


"Arka mau Papa beliin oleh-oleh apa nanti setelah Papa pulang kerja?" tanya Vino pada Arka. Arka tanpak berpikir untuk sesaat.


"Apa aja boleh Pa, Es krim juga boleh"


"Yang rasa coklat, jangan yang ada kacangnya, benarkan?" ujar Vino yang telah mengetahui bahwa anaknya itu tidak bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung kacang karena alerginya.


"Iya," jawab Arka sambil tersenyum.


"Ya udah, Papa berangkat dulu ya," kata Vino, lalu ia mengecup kening anak dan istrinya. Kemudian ia pun melaju kembali dengan mobilnya.


Setelah masuk ke dalam rumah, Dinda melihat raut wajah anaknya tampak sedih. Ia pun mendekati Arka dan bertanya.


"Arka kenapa sedih sayang?"


"Arka rindu sama Papa, bukan Papa Vino tapi Papa Ardi"

__ADS_1


Dinda tanpak tertegun mendengar perkataan anaknya, ia merasa bersalah karena perceraiannya telah membuat Arka menjadi korban dan harus berpisah dari Papanya.


"Memangnya Papa Ardi kemana sih Ma? Kenapa nggak pulang-pulang?" tanya Arka polos.


"Memangnya Arka mau ketemu sama Papa?"


Arka mengangguk.


"Baiklah, besok kita akan ketemu sama Papa ya"


"Tapi Arka mau ketemu sama Papa sekarang," rengek Arka, yang baru menyadari kerinduannya saat ia kembali pulang, dan merasakan ketidakhadiran Papanya di sana.


"Tapi kalau sekarang Papa lagi bekerja"


"Ya udah, kalau gitu nanti sore aja kalau Papa udah pulang kerja ya Ma"


Dinda terdiam sejenak


"Baiklah, nanti sore kita akan bertemu sama Papa," jawab Dinda akhirnya, ia tidak tega melihat wajah anaknya yang sedih.


"Oh iya, kenapa nggak Papa aja yang pulang ke rumah Ma? Kita tunggu Papa di rumah aja"


Dinda tertegun mendengar perkataan anaknya, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Benarkan Mah?" Arka mengulangi pertanyaannya.


"Papa kamu sekarang tempat kerjanya jauh, jadi nggak bisa pulang lagi ke rumah. Papa harus beli rumah yang dekat sama tempat kerjanya, nanti sekali-kali kita akan ketemu sama Papa," jawab Dinda memberi alasan.


Dinda benar-benar merasa bingung harus memikirkan jawaban yang bisa diterima oleh anaknya.


"Karena Mama juga nggak bisa ninggalin toko kue kita," jawab Dinda.


Akhirnya Arka pun manggut-manggut.


"Nanti sore benar-benar jadi ketemu sama Papa kan Ma?"


"Iya sayang"


Dinda lalu mengambil ponselnya. Ia hendak menelfon vino, untuk meminta izin membawa Arka.


" Halo sayang," jawab Vino di seberang.


"Halo Vin"


"Wah, baru saja berpisah sebentar,


kamu udah rindu ya?" goda Vino.


"Begini Vin, Arka minta ketemu sama Papa nya, aku maunya besok aja, tapi gak tega sama Arka yang mintanya hari ini" Jelas Dinda.

__ADS_1


"Ya udah, nggak apa-apa kok. Bagaimanapun Ardi itu adalah ayahnya. Tapi kamu nganterin nya sama siapa? Rasanya aku keberatan kalau kamu antar sendirian. Biar aku yang temenin ya, aku akan pulang sekarang"


"Gak usah Vin, aku bisa pergi sama Kak Yanti. Kamu kerja aja dulu" Tukas Dinda cepat, ia tak mau mengganggu pekerjaan Vino.


"Baiklah kalau begitu. Kamu hati-hati dijalan ya"


"Iya" jawab Dinda sambil mematikan teleponnya.


Kemudian ia menelepon Yanti untuk mengajaknya mengantar Arka. Kebetulan sekali Yanti sedang berada di toko kue Dinda untuk memantau pekerja nya. Selama beberapa hari ini Yanti membantu adiknya memantau toko kue itu.


Sembari menunggu Kakak nya datang, Dinda membereskan dan merapikan rumah, terutama kamarnya. Mengingat nanti malam rumahnya akan ada penghuni baru. Sementara Arka mulai asik dengan mainan nya di kamarnya sendiri.


Saat sedang membersihkan meja riasnya, matanya melihat foto Ibu dan Ayahnya. Sesaat ia tertegun, sudah lama ia tak berkunjung ke pusara orang tuanya. Ia pun belum meminta restu atas pernikahan barunya.


Ia pun berniat untuk mengajak Yanti ke sana sepulang dari menemui Ardi.


****


Begitu sampai di tempat yang sudah mereka sepakati, yaitu sebuah restoran mewah, Yanti dan Dinda pun turun dari mobilnya sambil menggendong Arka.


Saat masuk ke dalam, Dinda mengedarkan pandangannya mencari Ardi. Tampak di meja yang berada di sudut kanan seorang laki-laki yang pernah menjadi suaminya itu melambai-lambai kan tangannya.


Di samping nya duduk seorang wanita yang tentu saja mereka kenal, yaitu Bella. Ia tersenyum sinis saat melihat kedatangan mereka.


"Hai Arka sayang," sapa Bella dengan suara centilnya disertai dengan senyuman yang dibuat-buat.


"Eh, ada pelakor juga" cetus Yanti sinis, yang membuat wajah Bella merah padam mendengar nya.


Sementara Ardi hanya tersenyum canggung, sambil menatap Dinda dalam-dalam, seolah berharap Dinda akan membalas tatapan nya.


Bella yang menyadari tatapan Ardi langsung naik darah. Tapi ia tidak berani berbuat apa-apa, karena takut Ardi akan meninggalkan nya.


Kemudian Ardi bangkit berdiri untuk menghampiri Arka. Perlahan ia menggendong Arka dan mendudukkan di pangkuannya.


"Arka rindu sama Papa ya?"


"Iya Pa" jawab Arka.


Hati Ardi terasa terenyuh, ia baru menyadari kesalahan yang dilakukan nya, telah membuat ia kehilangan orang-orang yang mencintai dan dicintai nya. Ia mengecup puncak kepala anaknya lembut.


Begitu pula dengan Dinda, hatinya merasa sangat sakit, melihat Arka harus menjalani hidup dalam sebuah keluarga yang tidak sempurna lagi.


"Arka mau makan apa?" tanya Ardi.


"Arka mau spaghetti Pa"


Lalu Ardi memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan.


Pelayan itu seorang wanita paruh baya, namun wajahnya tampak masih cantik.

__ADS_1


Dia berjalan mendekat ke meja mereka dengan tersenyum ramah. Dinda tertegun sesaat melihat wanita itu. Karena ia seperti mengenalnya.


Bersambung...


__ADS_2