Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Penculiknya Ternyata Seorang CEO


__ADS_3

Dinda berusaha menyusul Ardi dan Bella dengan cepat. Walaupun dia belum tau kejelasannya, tapi melihat adegan romantis suaminya dengan wanita lain dengan matanya sendiri membuat hatinya sangat perih.


 


Dan dia harus meminta penjelasan dari Ardi.


Namun baru saja dia akan membuka pintu keluar nya, tiba-tiba saja tangan nya ditarik seseorang. Dinda langsung menoleh dan melihat Vino yang terus menariknya untuk menjauh dari sana.


Dinda berusaha menarik kembali tangannya, tapi Vino tidak mau melepaskan nya.


Vino melihat kearah luar, disaat dia sudah tidak melihat lagi pasangan itu ada di sana, barulah ia melepaskan tangan Dinda.


"Kamu mau apa?" tanya Vino


"Aku harus minta penjelasan dari Mas Ardi, siapa wanita yang bersamanya," kata Dinda dan mulai menangis.


"Itu sudah tidak penting sekarang, tanpa bertanya pun hatimu pasti sudah tau kalau perempuan itu selingkuhan dia," kata Vino sambil memegang kedua bahu Dinda.


"Kalau kamu merasa ini tidak adil untukmu, kamu harus bisa memperjuangkan keadilan itu. Masih banyak ketidakadilan yang telah dia lakukan padamu, kita harus bisa membuktikannya," kata Vino dan menatap Dinda dalam-dalam.


Dinda masih terisak, walaupun dia membenarkan yang dikatakan Vino, namun ingin rasanya dia melabrak suaminya dan wanita itu sekarang.


Vino tak tahan melihat air mata mengalir di pipi wanita yang dicintainya itu, dia langsung menarik tubuh Dinda ke dalam pelukannya. Tanpa sadar Dinda juga membalas pelukan hangat lelaki tampan yang memeluknya erat itu.


Ia menangis di dada bidangnya.


***** 


Yanti sedang membelai rambut keponakan nya disaat Dinda masuk dengan lunglai, dan matanya masih terlihat sembab.


Yanti kembali terlihat bingung.


"Ada apa Din? Kamu baru aja menangis?" tanya nya cemas.


"Aku baru aja lihat Mas Ardi sama wanita lain Kak," kata Dinda.


Ekspresi wajah Yanti langsung berubah saat mendengar perkataan adiknya.


"Jadi kamu udah melihatnya?"


Dinda langsung mengangkat kepala memandang kakaknya.


"Jadi Kakak udah tau?" tanya Dinda heran.


"Iya, disaat kamu menghilang, aku sering melihat mereka bersama. Awalnya aku pikir mereka cuma teman satu kantor, tapi begitu aku selidiki, ternyata orang-orang di kantor Ardi juga tau kalau mereka punya hubungan tersembunyi. Dan setelah seminggu kamu belum kembali, mereka mulai terang-terangan bersama".

__ADS_1


Dinda mencengkeram ujung bajunya kuat-kuat mendengar cerita kakaknya.


"Aku marah padanya, tapi dia malah mengatakan kalau kamu mungkin aja juga berselingkuh dan kabur dengan selingkuhan mu. Aku juga gak bisa melarangnya menemui Arka," kata Yanti dengan penuh emosi dan mata berkaca-kaca.


Dinda mulai menangis lagi sekarang.


Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa aku bisa sebodoh ini? Selama ini aku berusaha menjadi istri yang baik, dan mendampinginya dengan setia, tanpa tau kalau aku sedang dipermainkan," ratapnya.


Yanti mendekati Dinda dan memeluknya.


"Kak, aku ingin Kakak merahasiakan keberadaan ku sama Mas Ardi. Aku masih ingin mencari tau kebohongan lain yang dilakukan Mas Ardi".


"Kebohongan lain?" tanya Yanti heran sambil melepaskan pelukannya.


"Iya, aku juga belum tau pasti. Aku akan menginap di hotel dulu, dan menjaga Arka saat gak ada Mas Ardi. Aku juga harus bersembunyi dari polisi untuk sementara," jawab Dinda.


"Baiklah," kata Yanti sambil menatap adiknya sedih.


 Malamnya Dinda harus meninggalkan Arka dan menginap di Hotel, karena Ardi yang akan menggantikan Yanti menjaga Arka dimalam hari.


 


Dinda merebahkan badannya yang lelah akibat emosi yang terkuras tadi siang. Pikirannya masih terbayang kejadian menyakitkan yang dilihat dari suaminya.


Dengan lemah Dinda bangun dan melihat melalui layar CCTV ada Vino yang sedang berdiri di depan pintunya.


"Ada apa dia kemari? Apa pantas aku berduaan dengan nya di kamar hotel begini?" pikirnya.


Vino kembali menekan bel nya.


"Baiklah, aku akan membukanya sebentar," gumam Dinda.


Dia melihat Vino menyambut nya dengan senyuman lembut. Lelaki itu tampak santai dengan celana training nya. Vino memaksa ikut menginap di hotel itu dengan alasan tidak mau melepaskan mangsanya.


"Ada perlu apa?" tanya Dinda tanpa mempersilahkan Vino masuk.


"Ada yang perlu aku bicarakan sebentar," kata Vino.


"Tentang apa?"


"Hmm... apa kita harus bicara di depan pintu begini?" tanya Vino sedikit merasa tidak enak melihat Dinda yang tidak mempersilahkan masuk.


"Terus kita harus bicara di mana? Aku gak bisa terlalu leluasa buat keluar," jawab Dinda.

__ADS_1


"Kalo gitu kita bicara di dalam aja," sahut Vino sambil menerobos masuk.


Dinda terperangah melihat Vino masuk dengan tiba-tiba.


"Maaf Vin, tapi kita gak bisa berduaan di dalam kamar begini dong," seru Dinda sambil menyusul Vino masuk.


"Oya? Memangnya kenapa? Bukan kah kita udah pernah tinggal satu rumah berdua? Bahkan kita juga pernah berduaan dikamar ku," jawab Vino sambil tersenyum menggoda.


"Itu lain ceritanya, waktu itu kita cuma sebatas penculik dan yang di culik," sahut Dinda mulai salah tingkah.


"Terus? Sekarang cerita nya seperti apa? Apakah antara sepasang kekasih yang berada di kamar hotel?" tanya Vino makin menggoda dan berjalan mendekati Dinda.


Dinda makin gelagapan melihat Vino mendekat.


Tanpa sadar kakinya melangkah mundur. Namun Vino terus maju mendekat. Sampai kaki Dinda menabrak sofa dan terduduk di sana.


"Vino, kita gak boleh berada di sini seperti ini," kata Dinda sambil menengadah menatap Vino dengan pandangan memelas.


"Gak boleh di sofa? Terus kamu mau di tempat tidur? Aku takut nanti gak bisa menahan diri," jawab Vino sambil terkekeh geli melihat Dinda yang ketakutan, lalu ikut duduk di sofa.


Dinda merungut kesal merasa dipermainkan.


Vino mengeluarkan beberapa lembar kertas terlipat dari sakunya dan memberikan kepada Dinda.


"Ini adalah bukti yang telah aku temukan. Ini adalah sertifikat tanah yang diwariskan ayahmu untuk mu," kata Vino.


Dinda meneliti kertas di tangannya.


"Ini sertifikat tanah yang dijual Mas Ardi untuk melunasi hutang yang ayahku tinggalkan"


"Iya, tapi hutang itu sebenarnya hanya rekayasa Ardi, dia menjual tanah itu dan uang nya masuk ke rekening nya," jelas Vino.


"Bagaimana kamu tau?" tanya Dinda.


"Aku adalah CEO di kantor suamimu. Awalnya aku tidak ingin mengganggu kehidupan mu lagi. Tapi saat itu suamimu menggelapkan dana perusahaan, jadi aku menyuruh Rangga untuk menyelidikinya, termasuk uang dalam rekeningnya. Sampai aku menemukan kejanggalan ini," jelas Vino.


"Setelah itu, aku juga mendengar kalo suamimu memiliki hubungan gelap dengan Bella, salah satu staf kantor ku. aku tidak bisa membiarkan hidup mu hancur, jadi hanya dengan cara inilah aku bisa menolong mu" kata Vino.


Mata Dinda berkaca-kaca.


"Aku memang bodoh sampai bisa dipermainkan seperti ini," isak Dinda.


"Kamu gak bodoh, kamu hanya terlalu tulus," jawab Vino menenangkan.


Dinda menggigit bibirnya menahan tangis. Vino yang melihat wajah manis di samping nya itu sedang menggigit bibirnya malah menjadi gugup dan salah tingkah.

__ADS_1


Perlahan tangannya mulai mendekati wajah Dinda.


__ADS_2