
Setelah mengikat Dinda, Vino pun turun ke lantai bawah untuk membersihkan noda darah yang telah mengering dan menempel di dagu dan tangannya.
Begitu sampai di kamar mandi, Vino mematut dirinya di depan cermin, ia ingin melihat penampilannya yang berantakan yang telah di lihat Dinda, Lalu ia membersihkan noda darah yang ada di tangan dan mulutnya.
Raut wajahnya terlihar marah saat menatap darah yang mengalir di bawa oleh air ketika ia mencucinya.
Untuk sesaat ia menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya.
Setelah itu ia naik kembali ke lantai atas sambil membawa sapu dengan bibir yang kembali tersenyum.
Sesampainya di kamar, Vino membersihkan pecahan piring kaca yang dijatuhkan Dinda tadi sambil melirik Dinda yang tertelungkup di atas tempat tidur. Wanita itu memalingkan wajahnya darinya.
Sementara diam-diam Dinda menangisi nasibnya yang tidak beruntung. Kesempatannya untuk bebas telah hilang. "Bagaimana bisa Vino melepaskan diri ?"pikirnya.
Setelah membersihkan pecahan kaca, Vino juga mengambil pisau yang dijadikan Dinda sebagai senjata, dan juga ponselnya yang tergeletak di lantai. Ia melirik Dinda lagi dan tersenyum.
"Apa kamu berhasil menelepon seseorang tadi malam?" tanya Vino sambil memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Sudah, sebentar lagi Polisi akan datang. Kamu harus melepaskan aku sekarang, atau kamu akan ditangkap Polisi" Dinda mencoba membohongi Vino dengan nada mengancam.
Vino tersenyum geli mendengar ancaman Dinda.
"Memangnya kamu tau apa kode kunci nya?" tanya Vino.
"Tentu saja aku tau, aku bisa menebaknya" jawab Dinda masih berusaha menakuti Vino walaupun ia tau itu tidak akan berhasil.
"Ha ha ha! Apa kamu tau? Ancaman kamu itu seperti untuk menakuti anak-anak. Tapi tidak buruk juga, setidaknya bisa menambah bahan obrolan kita" kata Vino.
"Kamu tunggu dulu ya, aku turun sebentar untuk menyimpan kembali pisau dan kabelnya" sambungnya sambil beranjak keluar.
Tidak berapa lama kemudian, Vino kembali ke kamar, dia mendekati Dinda dan melepaskan ikatan tangan dan kakinya.
Dengan cepat Dinda bangun dan menjauh dari Vino. Dia menatap takut sekaligus heran, kenapa Vino melepaskan nya kembali.
" Aku melepaskanmu karena memang tidak ada untungnya bagiku mengikatmu, malah aku akan kerepotan menyuapimu makan. Toh kamu juga nggak bisa kabur dari rumah ini, ya kan?" kata Vino seolah tau yang dipertanyakan Dinda.
" Aku juga tidak akan mengunci pintu kamarmu lagi, kan kamu juga udah pernah turun ke bawah" lanjutnya.
"Selain itu aku ingin kamu memasak untukku, untuk kita maksudnya. soalnya masakan kamu enak".
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan mengurungku di sini?" tanya Dinda.
"Sampai kamu menjadi wanita yang baik dan rendah hati" jawabnya sambil tersenyum menggoda.
"Oya ngomong-ngomong kamu tidak usah mencoba mengikat aku lagi ya, soalnya aku ini ahlinya ikat mengikat, dan pastinya ahli membuka nya juga, he he he..." Vino terkekeh sambil menggulung kembali kabel.
"Jadi bener dugaan ku, ternyata kamu memang psikopat, kamu sering mengikat korban mu, kan?" kata Dinda sinis.
"Apa?" tanya Vino sambil mengernyitkan keningnya.
"Kamu itu psikopat" ulang Dinda.
"Tadi malam kamu baru minum darah seorang wanita kan? Siapa yang udah kamu bunuh?"
"Apa kamu bilang?"
Dinda melihat Vino tampak terkejut mendengar perkataannya, tapi kemudian laki-laki itu tertawa sekeras-kerasnya.
"Ha ha ha... Ternyata kamu suka nonton film thriller ya?" kata Vino sambil berlalu, suara tawanya masih terdengar sampai ia keluar.
Dinda memandang kepergian Vino sambil berfikir, sepertinya tadi dia terkejut mendengar tuduhanku dan menutupinya dengan tertawa, sepertinya dugaanku memang benar.
Seorang wanita cantik datang menghampirinya, dia adalah teman kerjanya Ardi yang bernama Bella.
" Ada apa Mas? Kamu nampaknya lelah banget..."
"Iya nih, semenjak Dinda tidak ada, aku harus mengurus Arka sendirian, sementara Polisi selalu menghubungiku untuk meminta keterangan ini dan itu tentang kehilangan Dinda" jawabnya sambil mengusap wajahnya sendiri.
"Memangnya belum ada kejelasan apa-apa tentang hilangnya Dinda mas?"
"Belum, bahkan semua keluarga dan temannya juga tidak ada yang tau".
"Jadi malam ini aku lembur sendirian lagi dong," kata Bella sambil merungut.
"Iya Bell, maaf aku tidak bisa nemenin, aku akan mengerjakan sisa pekerjaanku di rumah sambil menjaga Arka".
"Okelah kalau begitu, kapan-kapan aku akan menjenguk Arka", jawab Bella sambil tersenyum.
"Oke, kamu boleh datang kapan saja" jawabnya sambil membalas senyuman gadis itu.
Dinda masih duduk termenung di pinggir tempat tidur. Otaknya rasanya sudah buntu, dan tak bisa memikirkan lagi caranya untuk kabur dari sana.
__ADS_1
Ia juga selalu was-was saat mengingat penculiknya yang seorang Psikopat.
Kemudian Dinda teringat bahwa Vino mengatakan tidak akan mengunci lagi pintu kamarnya. Muncullah keinginan nya untuk memeriksa keluar.
Perlahan Dinda membuka pintu kamarnya, dan ia sangat terkejut karena tiba-tiba muncul Vino yang juga baru keluar dari kamar yang berada disebelah kamarnya. Laki-laki itu sudah berpenampilan rapi, dan ternyata kamarnya Vino ada disebelah kamar ini.
Vino tersenyum tipis saat melihat Dinda keluar.
Dinda memperhatikan penampilan Vino dari ujung rambut sampai ujung kaki nya.
Kalau dengan penampilan seperti ini, ia sungguh terlihat sempurna. Tidak akan ada yang menyangka bahwa ia adalah seorang Psikopat.
"Kenapa menatap ku terus? Apa aku terlalu tampan?" tanya Vino dengan nada menggoda.
"Ais..." desis Dinda sinis, dan memalingkan wajahnya.
"Aku akan keluar seharian penuh hari ini, kamu tidak apa-apa kan ditinggal sendiri?" tanya Vino sambil berjalan mendekat.
Dinda melangkah mundur saat melihat Vino mendekat.
"I..iya, aku berani sendiri" jawabnya terbata-bata.
Vino tersenyum geli melihat Dinda yang ketakutan.
"Oke kalau begitu. Oh ya, kamu bebas mau masuk ke ruang yang mana aja yang kamu mau, ke kamarku juga boleh. Mungkin kamu mau main detektif-detektifan ya kan?" goda Vino.
"Ya udah aku berangkat dulu ya, mungkin waktu makan malam nanti aku sudah pulang, kamu masakin yang enak ya... Jangan lupa, semakin kamu terus bersikap baik sama aku, semakin cepat kamu bisa bebas," kata nya sambil tersenyum lebar.
" Huh,,, udah kayak peraturan di penjara aja" gumam Dinda.
Vino pergi sambil tersenyum mendengar gumaman Dinda.
Dinda mengawasi kepergian Vino dengan mengintip lewat jendela kamarnya. Setelah benar- benar melihat mobil hitam itu pergi, Dinda baru bisa bernafas lega.
Sepertinya Vino tau, bahwa aku akan memeriksa seluruh ruangan di rumahnya.
"Baiklah, aku akan mulai dari kamar nya, mungkin aku tidak akan menemukan bukti apa-apa, tapi setidaknya aku harus tau bagaimana kehidupan penculikku ini.
Bersambung...
__ADS_1