Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Pertemuan yang Tidak Terduga


__ADS_3

Setelah kedatangan ibunya ke rumah mereka tempo hari untuk menagih janji, akhirnya tiba juga waktunya untuk membayar janji mereka menginap di rumah keluarga Aditya.


Sabtu pagi, mereka langsung berangkat tanpa harus berkemas, karena baju Dinda dan Arka juga ada di sana.


Setibanya mereka di sana, Nyonya Aditya telah menunggu didepan rumah nya.


Wajah wanita separuh baya itu langsung sumringah menyambut kedatangan mereka.


"Wah, cucu Nenek udah datang," sambutnya sambil merentangkan tangan untuk memeluk Arka, dan anak kecil itu pun langsung berlari ke pelukan neneknya.


"Mari masuk sayang," ajak Nyonya Aditya.


Namun Arka menggelengkan kepalanya.


"Lho, kenapa?"


"Arka mau main di taman dulu, boleh nggak Nek?" tanya Arka.


Nyonya Aditya meresponnya dengan tersenyum sambil membelai pipi Arka.


"Boleh dong sayang. Ayo, Nenek temenin main!" ajak Nyonya Aditya sambil memberikan jari telunjuk nya untuk digenggam Arka.


"Tidak!!!" sebuah suara mengagetkan mereka. Lalu dari dalam rumah keluar Pak Aditya sambil berkacak pinggang.


Suasana berubah hening untuk sesaat.


"Hey anak kecil! Kau tidak boleh kemana-mana, raksasa akan menangkap mu!" serunya dengan menirukan suara raksasa sambil menatap Arka.


Semua orang yang awalnya kaget mendengar seruannya langsung tersenyum. Lalu Nyonya Aditya menarik tangan Arka mengajak nya berlari.


"Ayo Arka! Cepat lari dari sini, raksasa datang!" serunya sambil berlari kecil ke arah taman. Sementara Arka yang diajak main seperti itu langsung berteriak kegirangan.


"Kalian masuk dulu ya, Papa mau main sama cucu dulu" kata Pak Aditya sambil tersenyum, lalu mengikuti istrinya ke taman.


Dinda menatap takjub kedua mertuanya yang sedang berlarian di taman bersama anaknya. Seperti mimpi, ia akhirnya memiliki mertua yang sangat baik. Tidak seperti ibunya Ardi yang selalu saja marah-marah kepadanya dan Arka.


Vino tersenyum melihat raut wajah Dinda yang terlihat bahagia.


"Ayo kita masuk, Din!" ajaknya sambil merangkul pundak Dinda.


Dinda mengangguk dan berjalan masuk bersama Vino.


Namun mereka langsung terkejut melihat Rio sedang duduk di sofa ruang keluarga.


Langkah mereka pun terhenti.


Sementara Rio yang melihat kedatangan mereka tampak cuek dan bermain dengan ponsel nya kembali.


"Mas Rio ngapain kemari?" tanya Vino dengan nada tak senang.


Rio menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Vino.


"Ngapain? Tentu saja aku mau pulang ke rumah orang tua ku," jawab Rio.

__ADS_1


"Kenapa harus hari ini?"


"Karena ini weekend, bukankah dari dulu juga setiap weekend kita selalu pulang?" tanya Rio balik sambil tersenyum sinis.


"Ck, kau mengganggu suasana hati orang aja" sambungnya sambil bangkit berdiri dan berlalu ke kamarnya.


Vino mengerutkan keningnya, dan menyesali diri yang terlanjur berjanji kepada ibunya untuk menginap saat akhir pekan, dan ia melupakan bahwa Rio juga akan pulang di akhir pekan.


Dinda meraih tangan Vino dan menggenggamnya.


"Kamu nggak usah khawatir Vin, Mas Rio nggak mungkin bisa macam-macam di rumahnya Mama. Kita bersikap biasa aja ya," ujar Dinda.


"Iya, baiklah. Ayo kita ke kamar!" ajak Vino.


"Ih ngapain di kamar pagi-pagi?" bantah Dinda.


"Mengenang malam pertama kita dong, malam pertama kita kan, di sini?!" jawab Vino dengan ekspresi nakal.


"Kamu genit ih" sahut Dinda sambil mencubit pelan pinggang Vino. Laki-laki tampan itu berkelit kegelian sambil tertawa.


"Aku mau ke dapur dulu, mau buat camilan," kata Dinda dan beranjak ke dapur.


"Aku ikut," kata Vino manja sambil mengikuti Dinda.


"Hadeeeh... kamu ini kenapa sih?" ujar Dinda kesal bercampur malu, karena beberapa orang asisten rumah tangga ibunya itu melirik mereka sambil tersenyum.


"Nggak kenapa-napa kok. Aku cuma mau nempel sama kamu, biar Mas Rio nggak bisa nyari kesempatan kayak tempo hari," jawab Vino dengan memasang wajah tak berdosa.


"Aish..." desis Dinda sambil memutar bola matanya.


Dan akhirnya mereka pun membuat kue bersama.


Tak lama kemudian camilan nya pun siap, dan Nyonya Aditya masuk bersama suami dan cucunya.


"Wah, Mama bikin cemilan rupanya sayang," kata Nyonya Aditya pada Arka.


"Iya Ma, Pa. Silahkan dicicipi," kata Dinda


"Mama telat nih, nggak sempat melihat proses pembuatannya. Besok kita buat bersama lagi ya, sambil kamu ajari Mama," kata Nyonya Aditya.


Dinda mengangguk sambil tersenyum malu sekaligus tersanjung.


"Bagaimana kalau siang ini kita makan bersama di luar?!" ajak Pak Aditya sambil memasukkan sepotong kue ke dalam mulutnya.


"Rencana bagus tuh Pa," jawab Vino cepat, ia memang tidak ingin berlama-lama di rumah karena ada Mas Rio.


****


Setelah bersiap-siap, mereka pun berangkat untuk makan siang bersama di luar.


"Kita makannya di restoran langganan Papa, mau tidak? Tapi restorannya biasa saja, cuma makanannya enak-enak," ujar Pak Aditya.


Kali ini Vino yang menyetir mobil dan Dinda disampingnya, sementara Mama papanya duduk di kursi belakang sambil memangku Arka.

__ADS_1


"Oke Pa, kemana aja boleh, Papa kasih tahu aja tempatnya di mana," jawab Vino.


Pak Aditya pun memberitahu di mana tempatnya nya. Dan Dinda pun langsung menanggapi,


"Dinda juga pernah beberapa kali datang ke restoran itu Pa, makanannya memang enak," Dinda sama sekali tidak menyangka, milyarder seperti Pak Aditya suka makan di tempat sederhana.


Jangan-jangan kedua mertuaku ini jelmaan malaikat lagi, keduanya sangat bersahaja dan baik hati, batin Dinda.


Setelah sampai di tempat yang di tuju, mereka pun masuk ke dalam restoran itu. Dinda kembali terbayang saat membawa Arka bertemu dengan Ardi di restoran itu. Hanya bayangan sesaat, karena ia memang tidak menyimpan perasaan apa-apa lagi terhadap mantan suaminya itu.


Mereka memilih tempat duduk dengan meja yang panjang, agar mereka bisa berkumpul semua dengan leluasa.


Namun tiba-tiba ponsel Nyonya Aditya berbunyi. Wanita separuh baya itu mengambil ponselnya.


"Rio yang telepon," ujar Nyonya Aditya memberitahu, karena semua anggota keluarga menatapnya dengan tatapan bertanya.


"Iya Yo, ada apa?"


"Mama sama Papa gimana sih? Masa makan siang di luar bersama nggak ngajak Rio? Kok Rio jadi kayak dianaktirikan begini sih?" terdengar suara Rio memprotes.


"Ngapain ngajak kamu, nanti jadi obat nyamuk lagi. Kami semua ada pasangannya, sedangkan kamu masih sendiri. Cari pasangan dulu, baru Mama ajak," jawab Nyonya Aditya sambil mematikan teleponnya.


Mereka semua tersenyum mendengar jawaban Nyonya Aditya.


"Apa sebaiknya kita mencarikan jodoh untuk Rio?" tanya Pak Aditya.


"Ide bagus tuh Pa," jawab Vino cepat.


Nyonya Aditya mendelik menatap Vino.


"Kamu ini masih aja takut Mas mu menikung," ujar Nyonya Aditya.


Vino cengar-cengir mendengar perkataan ibunya.


Sesaat kemudian ponselnya Vino yang berbunyi. Vino mengambil ponselnya dan berkata,


"Sekretaris ku mengirim email file yang ketinggalan di perusahaan kemarin,"


"Baiklah kalau begitu, kita panggilkan pramusaji nya dulu untuk memesan makanannya," ujar Nyonya Aditya sambil melambaikan tangannya kepada pramusaji.


Seorang pramusaji wanita yang sudah tidak muda lagi datang menghampiri.


Dinda menatap wanita pramusaji itu, ia kembali teringat saat datang untuk menemui Ardi tempo hari, wanita itu juga yang menjadi pramusaji nya. Dan sejak pertama melihat nya Dinda memang merasa mengenal wanita itu.


Ia mencoba mengingat kembali sambil terus menatap wanita itu.


Dan seperti tersengat listrik, Dinda tersentak saat ingatannya kembali kepada foto yang ditunjukkan oleh kakaknya Yanti ketika ia berumur tujuh tahun.


Wajah wanita itu ada didalam foto itu bersama dengan ayahnya.


Inilah wanita yang telah merebut ayah kita.


Kata-kata kakaknya seolah terngiang kembali di telinganya. Wajah wanita itu pun tercetak di dalam memorinya, karena rasa benci yang luar biasa.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2