Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Diary Ibu part 2


__ADS_3

Di rumah sakit tempatnya dirawat, Dinda kini ditemani oleh kakaknya Yanti. Setelah dihubungi oleh Nyonya Aditya, Yanti langsung meluncur ke rumah sakit. Setelah Yanti sampai di sana, Nyonya Aditya dan suaminya pun pulang untuk membawa pulang dan menjaga Arka di rumah, karena tidak baik untuk Arka terus berada di rumah sakit.


Yanti menggenggam tangan adiknya dan menatapnya sedih.


"Kamu harus sabar Din, diujung musibah ini pasti ada hikmahnya," ujar Yanti.


Dinda tersenyum sambil membalas genggaman tangan kakaknya.


"Aku harus banyak belajar dari mu Kak. Kamu bisa terus menjalani hidup dengan ketegaran. Sedangkan aku selalu menjalaninya dengan tangis," ujar Dinda.


Kakaknya itu memang wanita yang kuat. Mungkin karena dari kecil ia sudah menjalani hidup yang sulit, karena setelah Ibu mereka meninggal, Ayah mereka pun ikut meninggalkan mereka demi wanita idamannya. Sehingga jiwa tegar nya telah tercetak, saat ia merasa bertanggungjawab atas adiknya.


Sementara Dinda yang selalu memiliki tempat bergantung, membuat jiwanya menjadi lemah dan penurut.


"Tidak, aku tidak sekuat yang terlihat. Saat aku divonis tidak bisa memiliki anak, aku juga merasakan putus asa. Sampai aku merasa enggan untuk meneruskan hidup yang tak lagi memiliki masa depan yang sempurna bagi seseorang yang sudah menikah. Namun Mas mu selalu memberikan support nya, hingga aku bisa bangkit kembali," ujar Yanti.


Drrrrrttt...


Ponsel Dinda yang terletak di nakas bergetar. Serentak mereka menoleh ke nakas.


"Biar aku yang ambilkan," tukas Yanti sambil bangkit untuk mengambil ponsel Dinda dan menyerahkan kepada adiknya.


"Vino yang menelepon, Kak," ujar Dinda sambil menatap layar ponselnya.


"Ya, udah. Kamu angkat aja, Kakak mau keluar sebentar," ujar Yanti, lalu iapun beranjak keluar.


"Halo Vin, ada apa?" tanya Dinda.


"Maafkan aku yang terpaksa menelepon kamu Din, aku tidak tau harus berbagi dengan siapa. Hatiku benar-benar hancur saat ini," suara Vino terdengar serak dan lemah.


"Kamu kenapa Vin?" tanya Dinda cemas, ia terkejut mendengar kata-kata yang begitu mengiba dari Vino.


"Ternyata ibuku mencintaiku Din, ternyata hidupnya begitu pedih," ujar Vino.


"Apa maksudmu Vin? Sudah pasti Mama sangat mencintaimu," ujar Dinda. Walaupun dia sebenarnya tidak mengerti arah pembicaraan Vino.

__ADS_1


"Maksudku bukan Mama, Din. Tapi Ibu kandungku," jelas Vino.


Untuk sesaat Dinda terdiam, karena ia tidak tau harus menjawab apa.


Kenapa Vino tiba-tiba membahas Ibu kandungnya? Pikir Dinda


"Aku sekarang sedang berada di rumah ibuku. Aku sangat menyesal karena baru kali ini aku menyebutnya sebagai ibuku. Disaat dia sudah tidak ada lagi di sini. Disaat ia sudah tidak bisa mendengarnya lagi," ujar Vino lirih dan kembali terisak.


Dinda yang mendengarkan kata-kata Vino semakin bingung.


"Apa maksud kamu Vin? Kenapa Ibumu sudah tidak ada lagi?"


"Dia telah meninggalkan dunia ini. Dialah yang telah menolong kamu saat kecelakaan itu. Dia nekad mendorongmu sampai dirinya sendiri yang tertabrak."


Dinda tersentak mendengar perkataan Vino.


Jadi benar sebenarnya yang dia rasakan, bahwa ada orang yang mendorongnya saat kecelakaan itu. Ia tidak sempat melihat siapa yang tertabrak, karena ia sedang sangat kesakitan saat itu. Namun ia tidak menyangka sama sekali kalau itu adalah ibu kandungnya Vino.


"Aku baru saja membaca buku catatan ibuku, karena itulah aku tahu ternyata dia kembali malam itu untuk membawaku bersamanya, tapi ia mengalami kecelakaan," cerita Vino.


"Aku nggak bisa melanjutkan membacanya karena hatiku sudah tidak kuat, tapi aku ingin tau semua yang telah ditulis oleh ibuku. Maukah kamu menemaniku membacanya? Kamu tidak perlu ada disini, kamu hanya perlu mendengarnya melalui telepon ini. Aku akan merasa dirimu ada di sini, menjadi penyokong ku agar aku menjadi lebih kuat," ujar Vino.


Dinda merasakan kini air matanya telah menggenang. Ingin rasanya ia berada di samping Vino, dan mendekapnya erat.


"Ya tentu saja Sayang, aku akan selalu menemani mu," ujar Dinda.


Setelah beberapa saat, Dinda menunggu suara Vino, namun hanya ada keheningan. Dinda mulai merasa cemas. Lalu kemudian, terdengar suara Vino membaca perlahan.


**Setelah Mama bebas dari penjara Mama kembali pergi mencarimu. Dan Mama sangat bahagia ketika menemukanmu telah berada dalam sebuah keluarga yang luar biasa dan dan Mama semakin bersyukur ketika mengetahui mereka begitu mencintaimu.


Vino berhenti sejenak, dan membalikkan halaman bukunya.


11 Januari


Sejak pagi Mama merindukan mu. Hari ini Mama memberanikan diri untuk melihat mu dari dekat. Mama mendatangi perusahaan mu Nak. Dan Mama sangat bangga, kamu telah menjadi seorang CEO yang disegani semua orang. Namun hari itu Mama juga merasa sangat sedih, karena Mama mendengar dari karyawanmu kalau kamu itu membenci wanita. Mama tahu semua itu akibat dari kebencianmu pada Mama. Maafkan Mama Vin.

__ADS_1


14 Maret


Hari ini Mama sangat bahagia karena mendengar kamu akan segera menikah dan lebih bahagianya lagi Mama, saat mengetahui kalau kamu menikah dengan anaknya Darwanto. Mungkin kamu membenci Darwanto, karena kamu mengira Mama pergi meninggalkanmu demi dirinya. Tapi ketahuilah Nak, dia adalah laki-laki yang sangat baik. Mama tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan dirinya. Mama bertemu dengannya di rumah sakit, setiap kali Mama berobat karena luka yang diberikan ayahmu. Sementara Darwanto sedang berobat karena sakit jantungnya. Dialah yang menyadarkan Mama untuk menjemput mu kembali. Karena saat itu Mama benar-benar tidak menyadari apapun, yang ada hanya kebencian yang memenuhi hati. Dia selalu menolong Mama. Bahkan karena ikut andil saat membawa Mama kabur, dia juga ikut dipenjara selama dua tahun. Mama hanya bisa berdoa semoga kamu tidak membencinya Nak**.


Vino berhenti membaca sejenak, karena ia mendengar suara tangisan Dinda dari ponselnya.


Ia menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


"Maafkan aku Sayang, karena aku telah membuatmu berpikiran buruk tentang ayahmu," ujar Vino penuh penyesalan. Karena selama ini telah terpeta didalam ingatannya, bahwa laki-laki yang membuangnya bersama ibunya malam itu adalah orang jahat.


"Tidak Vin, aku sendiri dari awal telah berpikir buruk tentang ayahku. Karena aku berpikir bahwa ayahku saat itu meninggalkan kami demi Ibumu," ujar Dinda.


Vino menghela nafasnya, dan mulai kembali membaca.


**27 Maret


Hari ini adalah hari paling membahagiakan tapi juga paling menyakitkan buat Mama ,Nak.


Kita kembali bertatap muka setelah sekian lama. Tatapan mu yang selama ini Mama rindukan, kini sedang menatap Mama. Namun tatapan mu penuh kebencian dan ketakutan Nak. Hati Mama sangat sedih dan terluka. Maafkan Mama yang hanya bisa memberikan masa kecil yang suram untukmu. Maafkan Mama...


30 Maret


Mama sangat bahagia, ketika mengetahui bahwa istri mu sedang mengandung Vin. Tak sabar rasanya Mama ingin membelikan sesuatu untuk cucu Mama. Di pasar mainan itu Mama sampai seperti orang linglung saat memilihkan mainannya.


Mama berharap kalian menyukai hadiah Mama.


1 April


Entah kenapa, pagi ini Mama ingin mengisi buku catatan ini lebih awal. Sepertinya Mama akan mengalami hal baik hari ini. Apa mungkin kita akan bertemu?


Ya Allah... Aku hanya ingin anakku tidak membenci ku lagi. Bolehkah?


Vino kembali terisak pilu, tubuhnya sampai berguncang sesenggukan. Ia menutup buku itu perlahan, dan mendekapnya di dada.


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2