Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Mimpi


__ADS_3

Sore itu langit begitu cerah berwarna jingga kemerahan, Vino masih duduk di samping gundukan tanah yang masih berwarna merah dan bertabur bunga di atasnya.


Ia mendekap sebuah buku berwarna coklat. Sedangkan matanya tak berkedip menatap batu nisan di hadapan nya. Kini matanya tidak mengeluarkan air mata lagi, ia hanya diam dengan tatapan kosong.


Ia bersimpuh di sana sendirian, di samping pusara ibunya yang telah pergi dan menyisakan penyesalan dalam hatinya.


Kenapa takdir ini begitu kejam kepada kita Mama? Batin Vino lirih.


Langit senja semakin berwarna jingga. Angin bertiup dingin, namun begitu kering.


"Seandainya ketakutanku tidak menutupi memory masa laluku, mungkin aku akan ingat bagaimana kasih sayangmu dulu kepadaku, bagaimana tersiksa nya dirimu hidup dalam dera dan siksa Ayah, hanya demi bertahan karena aku.


Seandainya aku tidak se pengecut itu..." gumam Vino lirih.


Suasana pemakaman itu begitu hening, seolah mewakili perasaan Vino yang hampa dalam luka dan penyesalan.


Bermacam kata 'seandainya', terus keluar dari dalam hatinya.


Drrrrrttt...


Ponsel Vino bergetar di dalam sakunya, namun ia hanya diam, tak menggubris getaran ponselnya itu, sampai getaran nya berhenti.


Setelah beberapa saat ponselnya kembali bergetar, perlahan Vino merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.


"Halo Ma," ucap Vino pelan setelah melihat siapa yang menelepon.


"Halo Vin, kamu masih di makam, Nak?"


"Iya Ma, Vino masih ingin di sini sebentar," jawab Vino.


"Baiklah, sebentar lagi malam akan tiba, kamu pulanglah dulu untuk shalat magrib. Dinda pun masih di rumah sakit, kamu temani dia di sana, karena mungkin Yanti harus pulang dulu. Sementara Mama jagain Arka di rumah," ujar Nyonya Aditya.


"Iya Ma, Vino akan segera pulang," Vino kemudian menutup teleponnya setelah mengucapkan salam.


Laki-laki tampan itu bangkit dari duduknya dengan tubuh lemah.


Ia menatap lama pusara ibunya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pulang.


Baru beberapa langkah Vino berjalan, ponselnya kembali bergetar. Vino melihat layar ponsel yang berada dalam genggaman tangannya, dan ternyata Rangga yang menelepon.


"Halo Ga, ada kabar apa?" tanya Vino.


"Halo Vin, barusan setelah pulang dari pemakaman ibumu, aku di telepon oleh pihak kepolisian. Mereka ternyata telah menemukan mobil yang menabrak Ibumu," ujar Rangga.


Raut wajah Vino langsung berubah bengis. Tangannya mengepal kuat sehingga ototnya terlihat jelas di bawah lengan kemeja putih yang ia tarik sampai ke siku.


"Siapa pelakunya?" tanya Vino.


"Polisi sedang melacaknya. Karena mobil itu ternyata mobil rental," jelas Rangga.


"Baiklah, kalau ada informasi lagi, segera hubungi aku."


"Oke Vin, tentu saja," jawab Rangga.


*****


Setelah shalat magrib, Vino langsung meluncur kembali ke rumah sakit. Tak lupa pula ia membeli makanan untuk Yanti dan istrinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Vino ketika membuka pintu ruang perawatan Dinda.


"Waalaikumussalam," jawab Dinda dan Yanti serentak.


Vino mengembangkan senyumnya saat menatap Dinda. Ia ingin terlihat baik-baik saja di depan istrinya.


Dinda membalas senyuman suaminya, ia tau perasaan Vino sedang sedih.


"Gimana pemakaman nya Vin? Apa udah selesai?"


"Udah Sayang," jawab Vino.


"Maaf, Kakak nggak bisa hadir tadi Vin," ujar Yanti.


"Nggak apa-apa Kak, kan Kak Yanti lagi jagain Dinda. Malah aku harus berterimakasih pada Kakak," sahut Vino.


"Ya udah kalau gitu Kakak pamit pulang ya. Besok pagi Kakak datang lagi," pamit Yanti.


"Lho, dimakan dulu makanan nya Kak," tukas Vino.


"Wah jadi merepotkan kamu. Tapi Kakak nggak bisa makan di sini, kasian suami Kakak di rumah udah di tinggal dari pagi." ujar Yanti.


"Oh ya udah, Kakak bawa pulang aja makanan nya," timpal Dinda.


"Oke, makasih ya Vin, Kakak pamit dulu."


Sepulangnya Yanti, Vino membuka kotak bubur yang baru saja dibelinya untuk Dinda.


"Aku pikir kamu mungkin kurang suka dengan makanan rumah sakit, makanya aku belikan bubur ini," ujar Vino sambil membuka bungkusan sendok plastik nya.


"Makasih Sayang," ujar Dinda sambil bangkit dari duduknya dengan perlahan. Tubuhnya masih terasa sakit akibat benturan yang keras itu, begitu juga dengan bekas jahitan operasi membuatnya meringis karena perih.


"Sedikit, mungkin karena masih baru. Besok juga udah sembuh," ujar Dinda sambil memaksakan senyumnya untuk menenangkan Vino.


Perlahan Vino menyuapi istrinya. Dinda menatap wajah Vino, masih tersirat kesedihan di sana walaupun bibirnya tersenyum.


"Kamu sendiri udah makan?" tanya Dinda.


"Udah tadi di rumah Mama," jawab Vino berbohong, karena sebenarnya ia tidak berkeinginan untuk makan apapun saat ini.


Setelah menghabiskan buburnya, Dinda menggapai tangan Vino dan menggenggamnya. Ia menatap mata Vino lama.


"Vin, apa yang telah terjadi, itu bukanlah kesalahan mu. Karena kamu sama sekali tidak tau kenyataan yang sebenarnya," ujar Dinda lembut.


"Aku tau, karena itulah aku menyesal, karena aku tidak mengingat semua kenangan masa kecil ku bersamanya. Aku melupakan nya hanya karena sebuah trauma, karena aku pengecut," ujar Vino. Kini matanya kembali berkaca_kaca.


"Tidak ada orang yang bisa melawan trauma dengan mudah Vin," sahut Dinda.


"Seandainya aku mengerti apa yang telah dialami ibuku, seandainya aku mengerti tentang penderitaan nya, padahal aku sering melihatnya di pukuli Ayah. Tapi tak pernah satu kali pun aku membelanya. Aku hanya meringkuk ketakutan. Kenangan buruk yang telah kembali dalam ingatanku, kini terus terbayang dibenak ku. Membuat ku semakin menyesali kelemahan ku," ujar Vino. Ia menutup wajahnya dan berusaha untuk tidak menangis, namun tak urung juga tubuhnya berguncang karena menahan tangis.


Dinda langsung menarik Vino dalam dekapannya. Matanya ikut berkaca-kaca.


"Vino, saat itu kamu baru berumur enam tahun. Kekejaman seperti itu tentu saja membuat mu takut dan tak tau caranya membela ibumu. Jangan menyalahkan diri mu. Ibumu pasti juga tak mau kamu terluka karena membelanya. Kebahagiaanmu adalah impian nya. Kehidupan mu yang seperti sekarang adalah harapannya. Yang dia inginkan hanyalah maaf darimu," ucap Dinda sambil mengeratkan dekapannya. Air mata kini mengalir di pipinya.


"Aku sudah memaafkan nya Din, tak ada lagi sedikitpun kebencian di dalam hatiku," ujar Vino di sela tangisnya.


"Ya, itulah keinginan terbesarnya Sayang," ucap Dinda sambil menepuk-nepuk pelan punggung suaminya.

__ADS_1


*****


Vino kecil kembali meringkuk di sudut meja. Wajahnya begitu pucat saat menatap ayahnya yang terhuyung berjalan ke arah ibunya dengan memegang tongkat yang biasanya dipakai untuk memukuli ibunya.


Untuk sesaat ayahnya berhenti, sebelah tangannya yang menggenggam botol minuman nya ia angkat, dan diminumnya minuman itu dengan sembarangan, sampai merembes ke bajunya.


Ibunya kini telah tersungkur di lantai, perlahan ibunya menoleh kearahnya.


"Tutup matamu Vino," kata ibunya seperti biasa. Suara nya terdengar lirih dan lemah.


Vino kecil begitu ketakutan, tangan kecilnya bergetar. Namun hatinya tidak bisa membiarkan lagi ibunya berteriak kesakitan. Ia tidak mau menutup matanya lagi. Dengan cepat ia berlari ke hadapan ayahnya yang masih meneguk minumannya. Ia merentangkan tangan kecilnya dan berteriak sambil menangis.


"Ayah! Jangan pukulin Mama lagi. Mama nggak pernah nakal. Vino yang selalu nakal. Ayah pukulin Vino aja."


Seperti mendapatkan kekuatan baru, ibunya yang tadinya tersungkur langsung bangkit dan menarik Vino dalam pelukannya. Ia langsung berdiri dan menggendong anaknya. Dengan tertatih ia berlari ke kamarnya dan mengunci pintunya. Ia tidak bisa keluar dari rumah itu, karena suaminya selalu mengunci pintu sebelum menghajarnya dan mengantongi kuncinya.


Sesaat kemudian terdengar teriakan-teriakan kasar disertai gedoran pintu dari ayahnya.


Vino merasakan tubuh ibunya bergetar. Ia menengadah menatap wajah Ibunya.


"Jangan pernah membela Ibu lagi seperti tadi. Ibu tidak ingin kamu terluka. Kalau sampai kamu terluka, Ibu akan sangat sedih. Kamu nggak mau Ibu sedih kan?"


Vino kecil langsung menggeleng.


"Kamu berjanji tidak akan melakukan nya lagi, Sayang?" tanya ibunya.


Vino kecil mengangguk lemah. Ia kembali memeluk Ibunya erat.


"Woy... lepaskan tanganmu!" Sebuah suara mengejutkan Vino dari mimpinya. Ia langsung membuka matanya, namun karena terbangun dengan tiba-tiba, kepalanya pun terasa pusing. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Dan ia baru menyadari bahwa ia sedang tidur di sofa rumah sakit, dan sekarang ia sedang memeluk kepala Rio. Refleks ia langsung melepaskan tangannya.


"Ngapain kamu nyosorin aku yang lagi tidur?" tanya Vino kesal.


"Heh, ngapain juga aku nyosor ke kamu. Kamu tuh, orang mau bangunin tiba-tiba main tarik aja. Dasar mesum, gara-gara istrinya lagi sakit, sampai terbawa mimpi gitu nafsunya," sungut Rio sambil merapikan rambutnya.


Mata Vino langsung terbelalak mendengar kata-kata Rio.


"Sorry ya, kamu tuh yang bujang lapuk, nggak tersalurkan nafsunya," balas Vino.


Sekarang giliran Rio yang mendelik ke arah Vino.


"Ya udah, aku nggak mau berdebat sama kamu. Tuh istri kamu lagi sakit dijagain. Orang nungguin pasien kok malah molor. Aku ke sini buat ngasih tau kamu, kalau pelaku tabrak lari nya udah ketemu. Tadi Rangga nelepon aku, katanya dia hubungi kamu tapi nggak terhubung," jelas Rio masih dengan raut wajah masam.


"Oh ya?" Vino langsung mengecek ponselnya.


"Ponsel ku lowbat, kamu udah datang dari tadi ya," ujar Vino sambil melirik istrinya yang masih tidur.


"Nggak, baru aja. Tenang aja, istrimu nggak aku apa-apain kok," ujar Rio yang mengerti kecemburuan Vino. Kemudian ia ngeloyor pergi tanpa pamit.


Vino menatap punggung Rio sambil tersenyum.


Ini adalah kali kedua aku memeluk nya, setelah kali pertama saat aku baru menjadi keluarga Aditya. Walaupun tidak sengaja, tapi rasanya menyenangkan, batin Vino.


Kemudian ia kembali teringat dengan mimpinya tadi malam. Mungkin Allah mengisi tidurnya dengan kenangan yang terlupakan itu agar ia tidak menyesali diri lagi.


Alhamdulillah ya Allah. Terimalah Mama di sisi-Mu, amin. Doa Vino dalam hatinya.


Bersambung...

__ADS_1


Yuk guys, diawal tahun baru Islam ini, kita mendoakan orang tua kita masing-masing. Semoga kebaikan selalu menyertai mereka, amiiiin...ya rabbal alamin...


__ADS_2