Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Trauma


__ADS_3

"Ibu kandungnya?!" Pak Aditya kelihatan sangat terkejut.


"Iya Pa, dia adalah pramusaji yang melayani kita tadi," jawab Dinda.


Mulut Pak Aditya seketika terbuka lebar. Perlahan ia menoleh ke arah pramusaji yang bersimpuh di lantai tadi, namun wanita itu sudah tidak ada di sana.


"Ada apa Pa?" tanya Nyonya Aditya dengan wajah heran melihat suaminya yang yang terkejut.


Pak Aditya pun menutup teleponnya.


"Dinda bilang, ternyata pramusaji tadi adalah ibu kandungnya Vino."


"Apa??" tanya Nyonya Aditya begitu terkejut.


Ia pun langsung menoleh kearah pramusaji yang sedang menangis tadi, namun wanita itu sudah tidak ada di sana lagi.


"Ya sudah, lebih baik kita pulang sekarang untuk melihat keadaan Vino," kata Nyonya Aditya.


"Oke, ayo kita pulang," jawab Pak Aditya sambil masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Dinda terus mendekap suaminya itu erat, ia meraih tangan Vino dan menggenggamnya.


"Tidak apa-apa Vin, semua itu sudah berlalu. Sekarang tidak akan ada orang yang menyakitimu lagi," ucap Dinda menenangkan suaminya.


Sementara Vino masih mematung dengan wajah yang pucat.


"Vin, kamu jangan diam saja, kamu tidak boleh mamandam rasa sesak di dada mu ini sendiri, kamu bisa membaginya denganku," ujar Dinda.


"Apa aku boleh menangis?" tanya Vino dengan suara yang lemah bahkan hampir tidak terdengar.


"Memangnya kenapa tidak boleh?" tanya Dinda.


"Karena aku laki-laki," jawab Vino.


"Tuhan menciptakan air mata itu bukan hanya untuk perempuan, laki-laki juga mempunyai perasaan. Dan Tuhan menciptakan ku untuk teman mu berbagi rasa. Jadi, aku ada disini untuk mendengar mu"


Sesaat kemudian, Dinda mendengar suara isakkan dalam pelukannya dan tubuh kekar itu tampak berguncang.


Dinda makin mempererat pelukannya, dan ia pun juga tidak dapat menahan lagi air matanya untuk mengalir.

__ADS_1


Hatinya begitu sakit melihat penderitaan yang dipendam oleh laki-laki yang dicintainya itu. Bagaimana tidak? Seorang ibu yang seharusnya memeluknya dalam kasih sayang tapi ia malah dibuang.


Seorang ibu akan selalu mendekap anaknya yang sedang ketakutan, tapi ibunya malah meninggalkannya di dalam kegelapan sendirian dalam ketakutan.


Sesaat kemudian suara isakan itu perlahan mereda, lalu ia mendengar suara serak Vino.


"Aku tidak menyangka akan kembali melihat nya, ia tampak sudah tua, tapi masih terlihat menakutkan untukku."


Suara serak Vino terdengar begitu lirih.


Dinda mengusap air matanya, lalu menepuk-nepuk pelan lengan Vino.


"Itu terjadi sudah sangat lama Vin, tinggalkan lah memori yang menyakitkan itu. Sekarang kamu sudah bisa hidup sendiri dengan tangguh dan berani. Kau bahkan menjadi pelindung untuk aku dan Arka. Itu hanya masa lalu, kamu sudah berjuang untuk meraih masa depan yang cerah. Jangan biarkan memori buruk itu menghancurkan jiwamu sekarang. Kamu harus bahagia Vin, kamu nggak boleh menderita karena kesalahan orang lain," ucap Dinda perlahan.


Sesaat kemudian, isakan Vino berhenti, tubuhnya terasa sangat lemas, dan iapun tertidur dalam pelukan Dinda.


Setelah mereka sampai di rumah keluarga Aditya, Dinda pun membangunkan Vino perlahan.


"Bangun Vin, kita udah sampai di rumah," kata Dinda sambil menggoyangkan lengan Vino perlahan.


Vino membuka matanya sedikit dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar di bahu Dinda.


Dinda hanya menatap heran sikap Vino yang tadinya lemas tapi sekarang bergerak cepat. Setelah itu Vino turun dari taksi dan berjalan ke sisi tempat duduk Dinda, lalu membukakan pintu untuk istrinya itu.


Dinda turun dengan heran sambil menatap Vino, namun yang ditatap seolah ingin membuang muka ke arah lain.


Begitu taksinya pergi, Vino berjalan masuk tanpa mengajak Dinda sama sekali. Dinda pun hanya bisa mengikuti langkah Vino dari belakang.


Apa dia marah kepada ku? Apa tanpa sengaja aku telah menyinggung perasaan nya tadi? Pikirnya.


Setelah sampai di dalam, tanpa berkata apa-apa Vino langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Namun Dinda tidak mengikuti Vino lagi, dia memilih duduk dan menunggu di ruang keluarga.


Mungkin Vino butuh waktu untuk sendiri saat ini, batin Dinda.


Ia kini baru mengerti akan keganasan trauma, yang bahkan bisa membuat seseorang tenggelam di dalam nya dalam waktu yang sangat lama. Seperti lumpur hisap, ia tak akan membiarkan orang yang telah tenggelam di dalam nya keluar dengan mudah.


Tak lama kemudian mertuanya pun pulang bersama Arka.


"Ada apa sebenarnya Din? Apa benar pramusaji tadi ibu kandungnya Vino?" tanya Nyonya Aditya tak sabar begitu melihat Dinda.

__ADS_1


"Iya Ma, Vino merasa syok dan sekarang dia sedang istirahat di kamarnya," jawab Dinda.


Nyonya Aditya menghela nafasnya. Ia kembali teringat cerita Vino tentang ibunya saat pertama kali mereka adopsi. Dia sangat takut pada ibunya. Sehingga ia selalu memimpikan saat-saat ia di buang oleh ibunya.


"Biar Mama liat Vino sebentar ya, Din?!" ujar Nyonya Aditya.


Dinda menganggukkan kepalanya dan mengambil Arka dari gendongan mertuanya itu.


Ketika sampai didepan kamarnya Vino, Nyonya Aditya membuka pintunya perlahan.


"Boleh Mama masuk Vin?"


"Boleh Ma," jawab Vino dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia sedang tidur di sofa kamarnya sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Perlahan ia bangun, ketika Mamanya masuk. Nyonya Aditya duduk di sampingnya. Ia mengulurkan tangan dan mengusap punggung Vino.


"Kamu sedih Nak? Apa ketakutan mu datang kembali?" tanya Nyonya Aditya lembut.


Vino mengangguk.


"Iya Ma, rasanya sesak dan sulit bernafas, seperti yang Vino rasakan malam itu. Kehilangan harapan dalam kegelapan, berteriak sejadi-jadinya berharap ada yang mendengarkan dan membawa Vino ke tempat yang terang. Bahkan Vino berharap Ibu yang jahat itu kembali, bahkan kalau saja dia kembali untuk memukul Vino pun tidak apa-apa, asalkan dia kembali, dan Vino tidak sendirian di dalam kegelapan itu. Tapi dia tidak kembali"


Nyonya Aditya tak dapat lagi menahan air matanya, ia meraih anaknya itu ke dalam pelukannya.


"Sudah Nak, jangan tenggelam lagi dalam kenangan buruk mu itu. Kamu sekarang tidak sendiri lagi, ada banyak orang yang mencintaimu, dan tak kan pernah meninggalkanmu sendiri," ujar Nyonya Aditya sambil menepuk-nepuk punggung anaknya lembut.


Sementara di dalam sebuah rumah kontrakan yang terletak di pemukiman kumuh, seorang wanita sedang menuangkan masakannya kedalam piring, lalu ia meletakkan nya di meja makan.


Di meja itu hanya ada dua kursi, ia pun duduk di kursi yang kosong. Sementara di kursi satunya lagi terletak sebuah boneka, dan ditengah meja ada sebuah bingkai foto.


Wanita itu menyodorkan piring ke depan boneka itu. Lalu ia tersenyum lirih.


"Vin, akhirnya kamu melihat Ibu kembali. Tapi kamu takut sama Ibu, Nak," ujarnya perlahan sambil menatap boneka di depannya. Air mata mulai mengalir di pipinya.


"Maafkan Ibu Nak, Ibu telah meninggalkan kamu dalam kegelapan itu sendirian. Tapi Ibu saat itu ingin kembali Nak, kalau saja hal itu tidak terjadi," ujarnya sambil menangis. Kini ia menatap bingkai foto di tengah-tengah meja itu. Foto anak laki-laki kecil yang sedang memegang bola terbingkai di sana, anak kecil itu memakai baju berwarna kuning dan celana coklat. Persis seperti baju yang di pakaikan pada boneka itu.


"Andaikan kamu percaya Nak, Ibu kembali saat itu," desahnya lirih.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2