Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Tragedi Pasar Malam


__ADS_3

Dinda semakin ketakutan saat Vino menempelkan kedua tangannya di pintu dan mengurung Dinda diantara kedua lengan kekarnya.


 


Vino yang kini hanya memakai kemeja putih tanpa jasnya lagi, tampak begitu seksi dengan kemeja yang terbuka dua kancing bagian atasnya, memperlihatkan dadanya yang bidang. Dan lengan baju nya yang dilipat sembarangan ke atas menampakkan lengannya yang berotot.


Penampilan yang akan membuat semua kaum hawa deg-degan.


Namun bagi Dinda yang sedang tidak ingin memikirkan tentang asmara malah merasa ketakutan.


Vino terus menatap dalam-dalam wajah wanita yang berada sangat dekat dengannya itu, tampak wajah manisnya sedang gelisah.


"Vin, hentikan... tolong jangan begini, kamu marah kenapa?" tanya Dinda bergetar.


"Kamu pura-pura nggak tau, atau memang nggak mau tau tentang perasaanku?" tanya Vino.


"Apa maksudmu Vin? Bukankah kamu tau kalau aku tidak mungkin membalas perasaan mu karena aku masih istri orang," kata Dinda.


"Kamu nggak mau menerima perasaan ku, tapi kamu mau didekati oleh Rio. Katakan alasanmu menolak aku yang sebenarnya, jangan memberiku harapan dengan mengatakan kalau kamu masih istri orang!" seru Vino marah.


"Aku benar-benar nggak membuat-buat alasan. Aku cuma nggak mau kalian mempunyai masalah karena aku. Dan aku juga nggak ingin menjadi pengganggu dalam hidup penolongku," kata Dinda.


Rasanya begitu sulit ia bernafas dengan wajah Vino yang begitu dekat dengan wajahnya.


Wajah tampan yang tadinya tegang karena kemarahan, kini tampak mengendur, perlahan-lahan malah tampak seperti merasa bersalah.


Vino melepaskan tangannya.


"Maafkan aku udah membuat kamu takut. Kalau kamu belum lelah, aku ingin mengajakmu keluar. Biar kamu bisa sedikit bersantai dan melupakan masalahmu sejenak," kata Vino lembut.


Dinda menghela nafasnya.


Dasar laki-laki, semua bertindak seenaknya, pikirnya.


"Aku ingin beristirahat sore ini," jawab Dinda malas.


"Baiklah," kata Vino kecewa.


"Kamu istirahat aja, nanti malam biar aku yang masak," sambungnya.


Matahari akhirnya pun menuju peraduannya. Dinda menghabiskan waktunya sambil menulis novel.


Tiba-tiba ia mendengar pintunya diketuk dari luar. Dinda beranjak dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu.


Pasti Vino mau ngajak makan malam, pikirnya.


Tampak didepan pintu Vino telah rapi dan wangi dengan baju casual nya. Senyum merekah menghiasi bibirnya.


"Hai Din, kita makan di luar yuk! Aku malas banget masak malam ini. Lagi pula di dekat daerah sini ada pasar malam, aku pengen main sama kamu di sana," katanya dengan suara ceria dan matanya yang berharap.


"Tapi ak..." belum sempat Dinda menolak, Vino sudah langsung memotongnya.


"Aku mohon, jangan menolak. Aku cuma pingin nyenengin kamu. Sebagai permintaan maaf atas sikap ku yang buruk tadi siang," katanya dengan nada memelas.

__ADS_1


Dinda menghela nafasnya, tak tega juga ia menolak.


"Baiklah, kamu tunggu sebentar, aku siap-siap dulu," kata Dinda akhirnya.


"Horee... oke kalau gitu, aku tunggu di bawah ya!" seru Vino sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar, persis seperti anak kecil.


Dinda menutup pintu sambil menahan senyumnya melihat tingkah Vino.


Setelah Dinda selesai bersiap-siap, mereka pun berangkat.


Tidak berapa lama mobil Vino memasuki area parkir di pasar malam.


Suasana begitu ramai dan penuh tawa bahagia pengunjungnya. Sungguh tempat yang bisa membuat manusia sejenak melupakan lukanya.


"Kita cari makanan dulu ya Din, aku takut nanti kamu kelaparan lagi, gara-gara nggak berani minta dibeliin" kata Vino sambil tersenyum menggoda. Dinda langsung mencibir.


"Ngapain harus takut? Toh yang menculik aku seorang CEO, masa seorang CEO kaya raya nggak mau ngasih makan buat tawanannya," cibirnya sambil memonyongkan bibirnya menggemaskan, membuat Vino harus menelan ludah saat melihatnya.


"Di sana ada bakso, kita makan di sana aja yuk!" ajak Vino sambil menarik tangan Dinda.


Dinda menatap ragu tangannya yang digenggam oleh Vino, namun kemudian dia mengikuti langkah laki-laki yang sedikit demi sedikit telah mengusik hatinya itu.


"Habis makan, kita enaknya main permainan apa ya?" tanya Vino sambil menyuap satu butir bakso ke dalam mulutnya.


"Kamu berani naik Roller coaster nggak?" sambungnya saat belum mendengar jawaban Dinda


"Berani dong, kalau kamu?" tanya Dinda.


"Wah, kalau aku sih bukannya nggak berani, cuma aku agak panik aja karena susah bernafas," jawab Vino.


"Aku nggak takut!" seru Vino cepat dengan wajah merungut seperti anak kecil yang kesal karena dibilang penakut.


"Oke kalau gitu, habis ini aku tantangin kamu naik Roller coaster," kata Dinda sambil tersenyum tipis.


"Oke, ayo!"


*****


Saat Roller coaster mulai berputar.


"Waaaaaaa... aku nggak mau matiiiiii...!" teriak Vino sambil menggenggam tangan Dinda kuat-kuat.


Dinda yang sedang menikmati adrenalin nya yang terpacu menjadi tertawa terbahak-bahak melihat Vino yang meracau sambil memejamkan matanya.


Katanya berani, pikirnya sambil tersenyum geli, lalu ia membalas genggaman tangan Vino untuk memberinya keberanian.


Begitu mesin Roller coaster nya berhenti, Vino langsung melepaskan pengaman kursi dengan sebelah tangannya dan berdiri dengan terhuyung sambil tetap menggenggam tangan Dinda.


Dinda tertawa geli melihat nya


"Pasti tadi kamu susah bernafas makanya kamu panik banget," goda Dinda.


Vino hanya cengengesan sambil mencubit ringan lengan Dinda.

__ADS_1


Dinda kembali tertawa.


Namun di satu sudut area pasar malam itu berdiri Rio yang memandang mereka dengan mata yang memerah dan tangan yang mengepal.


Sesaat kemudian ia mengambil ponsel nya dan menelfon seseorang.


"Halo Leon, aku punya tugas untuk kamu. Ini tentang seorang wanita, nanti aku kirimkan foto nya untuk mu," katanya dengan suara serak.


Sementara Vino tanpa sengaja melihat seorang laki-laki sedang mengamati Dinda dari jauh.


Sepertinya orang itu mencurigakan, pikirnya.


Ia langsung menarik tangan Dinda untuk menghindari pantauan orang itu.


Namun orang itu tampak mengikuti langkah mereka.


"Din, kayaknya ada orang yang ngikutin kita," bisik Vino sambil menarik tangan Dinda untuk melangkah lebih cepat. Dinda yang panik langsung mempercepat langkahnya mengikuti Vino.


Kemudian dengan cepat Vino menarik Dinda ke belakang sebuah tenda pedagang mainan anak-anak.


Tampak orang yang mengikuti mereka kebingungan saat kehilangan jejak mereka, kemudian terlihat ia sedang menelepon seseorang.


"Ya Pak, saya sepertinya melihat wanita yang dinyatakan menghilang itu, tapi sekarang saya kehilangan jejak dan sedang mencarinya"


"Oooh ternyata dia Polisi," bisik Vino sambil terus menggenggam tangan Dinda erat, dan menutupi Dinda dengan tubuh jangkungnya.


Kreeekk!!!


Tak sengaja Dinda menginjak sebuah botol minuman yang menimbulkan suara keras sehingga membuat polisi itu kembali berbalik ke arah mereka dan berjalan mendekat.


Tanpa sadar dikarenakan rasa tegang Dinda merapatkan tubuhnya ke Vino.


"Kamu tunggu disini ya Din. Jangan kemana-mana, aku akan mengecoh polisi itu," bisik Vino sambil melepaskan genggaman tangannya.


Dinda mengangguk setuju, kemudian Vino berlari ke arah Polisi itu dan dengan sengaja menabrak sang Polisi, lalu terus lari menjauh.


"Hey! kamu tunggu" panggil Polisi itu dan berlari mengejar Vino.


Vino terus berlari ke arah tempat parkir motor dan akhirnya berhenti di sana.


Polisi itu pun ikut berhenti.


"Kenapa kamu lari? Kamu copet ya?" gertak Pak Polisi.


Vino mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari.


"Begini Pak, tadi saya lupa ngambil kunci motor saya, saya takut nanti di bawa pencuri makanya saya lari kesini untuk mengambil kuncinya, nggak mungkin lah saya copet," kata Vino.


Polisi itu mengamati penampilan Vino yang jelas tampak gayanya orang kaya.


"Ya udah, lain kali hati-hati ya," katanya.


"Baik Pak, maaf udah membuat Bapak salah paham," kata Vino sambil membungkukkan badannya sedikit.

__ADS_1


Setelah Polisi itu pergi, Vino cepat-cepat kembali ke tempat ia meninggalkan Dinda tadi.


Namun betapa terkejutnya ia saat melihat di sana sudah tidak ada siapa-siapa.


__ADS_2