
Dinda berdiri di bawah pancuran air dari shower sambil menutup matanya. Perasaannya sedang tidak menentu.
Ia merasa minder sekaligus malu karena bersikap agresif tadi.
Jangan-jangan Vino illfeel ngeliat aku agresif gini? Pikir Dinda malu sambil menutup wajahnya sendiri.
Sementara di atas ranjang Vino duduk serba salah sendiri.
Seharusnya tadi aku inisiatif minta ikut mandi bersama, tapi kenapa aku jadi gugup sampai tidak bisa berpikir apa-apa ya? Rasanya lebih mudah tadi saat terbawa suasana, daripada sekarang harus mulai dari awal. Karena aku tidak tahu harus mulai dari mana. Batin Vino.
Tok...Tok.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Vino.
Ia bangkit untuk membukakan pintunya.
Ternyata itu adalah Bi Irah yang membawakan nampan berisi makanan.
"Ini makanannya buat Mas Vino dan Mbak Dinda" kata Bi Irah sambil menyerahkan nampannya.
"Oh, terima kasih Bi" kata Vino sambil mengambil nampannya.
"Oh iya Mas, ini titipan dari Ibu. Katanya disuruh kasih buat Mbak Dinda. Tapi pesannya Ibu, jangan Mas Vino bilangin dari Ibu, tapi dari Masnya sendiri ya" kata bi Irah sambil menyerahkan sebuah kotak kepada Vino.
Vino mengernyitkan keningnya.
"Emangnya ini isinya apa Bi?"
"Bibi juga nggak tahu Mas, Ibu juga mesen jangan dibuka dulu. Biar Mbak Dinda yang buka sendiri"
"Ya udah, Terimakasih ya Bi" kata Vino sambil menutup pintunya.
Setelah menaruh nampannya di meja, Vino duduk di sofa sambil menunggu Dinda.
Tak lama kemudian, Dinda pun keluar dengan mengenakan handuk, Ia tampak seksi sekali dengan rambut nya yang basah. Vino kembali merasa tubuhnya panas dingin.
Dinda yang baru keluar dari kamar mandi, melihat Vino sedang menunggunya dengan makanan yang terletak di meja.
__ADS_1
"Oh, mau makan malam ya?" tanya Dinda kaku.
"Iya, ayo" Vino mencoba tersenyum menyembunyikan hasratnya.
"Tapi aku nggak punya baju ganti" kata Dinda.
"Ada di lemari kok, semua sudah aku persiapkan" jawab Vino sambil menunjukkan lemari berwarna krem yang ada di belakang Dinda
Dinda membuka pintu lemarinya dan melihat isi lemari itu begitu banyak pakaian perempuan.
"Semua baju ini untukku Vin?" tanya Dinda takjub.
" Iya dong, semua ukuran kamu" Jawab Vino.
"Kok kamu tahu ukuran bajuku" Tanya dinda.
"Karena aku itu dari dulu stalker kamu"
kata Vino sambil tersenyum.
Dinda menoleh dan mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Vino.
Setelah Dinda mengganti bajunya, mereka pun makan malam bersama.
"Aku jadi nggak enak sama mama karena tadi nggak keluar makan malam bersama" kata Dinda sambil menyuap nasinya.
"Nggak apa-apa kok, Mama juga ngerti kita sedang beristirahat karena lelah. Oh iya, aku punya sesuatu buat kamu, ini" kata Vino begitu ingat bingkisan yang diberikan oleh mamanya melalui Bi Irah tadi.
Setelah makan Dinda pun membuka kotak pemberian Vino tadi.
Dan matanya terbelalak melihat isi kotak itu. Ternyata itu adalah sebuah lingerie seksi berwarna hitam.
Seketika wajah Dinda memerah karena malu, ia langsung menutup kotaknya dan menatap Vino.
"Kamu ngasih ini buat aku pakai sekarang?".
Vino yang tidak tahu apa isi dari kotak pemberian ibunya itu terlihat bingung.
__ADS_1
Emangnya apa yang diberikan Mama buat Dinda? Kenapa Dinda seperti terkejut begitu? Mungkin Mama memberikan perhiasan. Pikirnya.
Akhirnya Vino menganggukkan kepalanya.
Raut wajah Dinda kembali merona. Ia pun beranjak ke kamar mandi untuk mengganti bajunya, ia malu jika harus mengganti di depan Vino.
Lingerie itu terlihat seksi sekali. Ia harus mengganti bra nya dengan bra lingerie itu.
Setelah memakainya, Dinda merasa malu sekali melihat bayangan nya sendiri di cermin, ia tidak bisa membayangkan Vino akan melihat nya seperti itu, apalagi Dinda belum pernah berpakaian terbuka di depan Vino.
Perlahan Dinda mengambil jubah mandinya, dan memakai nya untuk menutupi penampilan seksinya. Lalu ia pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tertunduk. Ia takut Vino akan kecewa karena ia menutupinya dengan jubah mandi.
"A... Aku gak berani pakai Vino. Aku malu" kata Dinda sambil menundukkan wajahnya.
Vino heran melihat ekspresi Dinda.
"Emangnya kenapa? Kenapa kamu malu? "
" Karena bajunya terlalu seksi, " jawab Dinda. Entah kenapa, ia jadi begitu malu di depan Vino.
Vino yang telah bisa menebak apa isi kotak yang diberikan ibunya pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Perlahan ia bangkit mendekati Dinda dan menggenggam tangan Dinda.
"Kenapa harus malu dengan suami sendiri?" tanya Vino lembut.
Perlahan Dinda menundukkan kepalanya. Ia terdiam untuk sesaat.
"Maaf Vin, aku terlalu egois karena mementingkan gengsi ku sekarang. Kata Dinda akhirnya, sambil mengangkat kembali wajahnya.
Perlahan Vino melepaskan tangan Dinda yang tadi digenggam nya, dan kini ia memegang kedua bahu Dinda, lalu Ia menatap mata Dinda dalam-dalam.
"Apa maksudmu dengan gengsi? Kamu gengsi kenapa?
"Jadi kenapa kamu harus beli lingerie seksi ini?"
"Ini sebenarnya bukan dariku, tadi Bi Irah masuk, katanya ini dari Mama buat kamu, dia juga melarang aku buka kotak nya, terus disuruh bilang sama kamu kalau ini dari aku" jawab Vino.
__ADS_1
Perlahan sebuah senyuman merekah di bibir Dinda. Ternyata ia telah salah paham terhadap Vino.
"Jadi kamu dari tadi nunggu respon dariku?" tanya Vino.