
Pagi ini Dinda malas keluar dari kamarnya, karena tidak ingin bertemu dengan Ardi. Arka juga sedang libur sekolah. Ia menemani Arka bermain di dalam kamar.
"Arka lapar tidak?"
"Lapar ma, Arka pingin makan nasi goreng"
"Ya udah, ayo kita keluar"
Ibu dan anak itu pun keluar dari kamar bersama.
Tampak Ardi sedang duduk di sofa ruang keluarga mereka sambil minum kopi. Ia tersenyum begitu melihat mereka keluar.
"Wah, anak dan istri kesayangan udah bangun rupanya. Udah lapar belum? Mau Ayah buatin apa?" tanya Ardi mencari perhatian.
Dinda memasang wajah datar.
"Tidak usah. Tidak perlu repot-repot memberi perhatian mu sekarang mas. Karena semua akan sia-sia"
"Din..."
"Yuk Arka, temenin Mama ke dapur"
tukas Dinda cepat, ia tidak ingin berdebat di depan Arka.
Dinda membuatkan nasi goreng hanya untuk Arka dan dirinya sendiri. Dinda benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan Ardi. Ia sudah berbaik hati untuk membiarkan Ardi tetap tinggal di rumahnya sampai pengadilan memutuskan perceraian mereka. Karena sesungguhnya rumah itu milik Dinda, rumah yang dihadiahkan Ayah nya ketika ia menikah.
Ardi beranjak ke dapur, dan melihat istrinya sedang makan bersama anaknya.
Tiba-tiba kemarahan nya muncul karena merasa diabaikan.
"Dinda, Sekarang kamu benar-benar gak mau lagi mengurus ku? Kamu itu masih istriku, seharusnya kamu melayaniku dengan baik" teriaknya.
Dinda tersentak mendengar teriakkan Ardi, dia benar-benar marah sekarang, karena Ardi meneriakinya di depan Arka.
Dengan kesal ia menggendong Arka dan berjalan melewati Ardi sambil mendengus.
"Kamu bukan hanya suami yang zalim, tapi juga ayah yang buruk"
Ardi sangat marah mendengar perkataan Dinda. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Ingin rasanya ia menampar wajah istrinya itu sekarang.
Ting Tong
Suara bel rumah mereka berbunyi, Dinda langsung menuju pintu depan sambil menggendong Arka.
Ia membuka pintunya dan melihat Yanti berdiri di depan pintu.
"Kakak...?"
"Dinda" sahut Yanti dan langsung memeluk adiknya.
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Yanti kemudian.
__ADS_1
"Iya, aku baik-baik aja, dan harus baik-baik aja demi Arka" jawab Dinda getir dan mencium pipi anaknya.
"Kalau kamu merasa gak nyaman di sini, kamu menginap saja dulu di rumah kakak, lagian kakak juga lagi sendirian, karena mas mu sedang tugas di luar kota" ujar Yanti.
"Itu ide yang bagus kak, di sini pun dengan kondisi kami yang seperti ini tidak baik buat Arka" sambut Dinda menyetujui ide kakaknya.
"Ya udah kalo gitu, Arka tunggu di sini sama Bibi ya, Mama mau ambil berkemas dulu" kata Yanti sambil mengambil Arka dari gendongan ibunya.
"Emangnya kita mau kemana Bibi?"
"Kita ke rumah Bibi, karena Bibi sendirian di rumah. Arka mau nemenin Bibi kan?"
"Mau Bi" jawab Arka mengangguk.
Dinda mengemasi beberapa bajunya dan baju Arka ke dalam tas. Setelah hubungannya selesai dengan Ardi, ia akan kembali pulang ke rumah ini.
Namun begitu Dinda keluar dari kamar, langkahnya di halangi Ardi.
"Mau kemana kamu?" tanya Ardi kasar.
"Aku mau menginap di rumah kak Yanti, dari pada di sini, nanti kita selalu berdebat di depan Arka"
"Gak boleh! Kamu jangan coba-coba menjauh dari ku".
"Mas sudahlah, apa kamu gak bisa berbaik hati sekali saja padaku? Biarkan aku pergi, toh kita juga tidak akan pernah bisa kembali bersama. Aku sudah tidak mau menjadi boneka mu" ujarnya dengan raut wajah yang lelah.
"Aku tak akan menceraikan mu"
Ardi menarik tangan Dinda kasar dan...
Plaakkk!!!
Tamparan Ardi mendarat di pipi Dinda. Dinda terkejut dan memegang pipinya yang terasa panas dan perih, air mata tampak menggenang di matanya.
"Sudah cukup mas, kamu sudah menunjukkan semua keburukan mu kepada ku. Aku benar-benar harus pergi menjauh dari monster seperti mu"
Dinda langsung berlari keluar sambil menahan tangisnya agar tidak dilihat Arka.
Ia langsung mengajak Yanti dan Arka untuk pergi dari sana.
Ia sudah tidak tahan berada dekat dengan Ardi.
Ardi melempar vas bunga yang berada di dekatnya ke lantai dengan kuat.
"Aaakkh!!" teriak Ardi melampiaskan kemarahannya.
Drrrrrttt
Getar ponselnya. Ardi tidak mempedulikannya, ia meremas rambutnya sendiri dengan frustasi.
Drrrrrttt
__ADS_1
Ponselnya bergetar kembali.
Barulah ia mengangkat telfonnya acuh tak acuh, tanpa melihat layar Hp nya sama sekali.
"Ya halo" jawab Ardi ketus.
"Kok ketus gitu sih sayang? Kamu marah sama aku?", tanya suara manja dari seberang.
Ardi melihat kembali layar ponselnya, terpampang nama Bella di sana.
"Iya, ada apa Bell?" tanya Ardi dengan malas. Ia sedang tidak semangat untuk meladeni Bella saat ini.
"Gak ada apa-apa sih, aku cuma rindu sama kamu", Jawab Bella manja.
Ardi menghela nafas nya, ia memang butuh hiburan dari Bella saat ini.
"Baiklah sayang, aku akan segera ke sana untuk mengobati kerinduan mu" sambutnya.
Lalu ia mengambil kunci mobil nya dan segera menemui Bella.
******
Dinda mengemasi barang-barang nya dan Arka di kamar tamu milik Yanti. Sementara Arka sedang bermain dengan bibinya di luar. Tiba-tiba ia teringat akan surat kepemilikan rumah yang disimpan di rumah nya.
Pikiran buruk nya pun muncul, mengingat selama ini Ardi rela melakukan apa saja demi uang. Ia takut Ardi akan merebut surat itu lalu menjual rumahnya.
Dinda keluar dari kamar dengan wajah cemas.
"Ada apa Din? Kok kayak gelisah gitu?" tanya Yanti.
"Itu kak, aku teringat sama sertifikat rumah. Aku simpan di rumahku. Aku takut mas Ardi manfaatin aku lagi".
Yanti langsung terlihat serius.
"Kamu pulang sekarang Din, jangan sampai sertifikat itu jatuh ke tangan Ardi. Kamu gak mau kan ditipu Ardi lagi?"
"Iya kak, aku pulang sebentar ya, Arka tinggal di sini dulu ya sama Bibi. Mama mau ambil barang yang ketinggalan di rumah" ujarnya.
"Iya Ma" angguk Arka.
"Kamu pakai mobil kakak aja Din, ini kuncinya", kata Yanti sambil menyerahkan kunci nya.
Dinda pun langsung pulang ke rumahnya. Namun ia berharap Ardi sedang tidak ada di rumah, Dinda tidak mau berdebat lagi dengannya. Apa lagi sifat Ardi sekarang menjadi arogan.
Sesampainya di rumah, sekilas dia melihat ada orang yang sedang duduk di teras nya.
Begitu dia turun dari mobil barulah jelas terlihat sosok Vino yang sedang duduk di teras nya dengan kepala tertunduk sambil memegang ponselnya.
Penampilan nya terlihat kusut.
Dinda melangkah mendekati Vino. Vino yang menyadari kehadirannya langsung berdiri. Ia terlihat berantakan, tapi ketampanan nya masih tetap mendominasi.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Vino langsung memeluk Dinda, ia begitu merindukannya. Sementara Dinda terlihat kaget karena tiba-tiba dipeluk. Namun hatinya tidak bisa menyangkal, bahwa dia juga merindukan nya.