
Pukul Empat dini hari, Dinda terjaga dari tidurnya, ia baru saja bermimpi buruk. Dinda bermimpi Arka dibawa pergi oleh Ardi dan Bella. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar takut.
Direngkuhnya Arka yang masih tertidur di sampingnya.
Ingin rasanya ia melarikan diri sejauh-jauhnya dari Ardi.
"Ya, aku harus melarikan diri dari sini. Aku akan pergi jauh bersama Arka" batinnya.
Ia bangun dari tempat tidurnya, dan menuju kamar Yanti.
Tok..Tok.
Dinda mengetuk pintu kamar Yanti berulang ulang dengan tergesa-gesa.
Sesaat kemudian Yanti muncul di depan pintunya dengan mata menyipit karena terpaksa membuka matanya buru-buru, saat mendengar gedoran pintu.
"Ada apa Din?" tanyanya sambil membuka matanya lebar-lebar. Dia terkejut melihat wajah adiknya seperti orang yang ketakutan.
"Kak, aku harus pergi dari sini sekarang!"
"Ada apa? Kenapa?"
"Aku harus membawa Arka jauh dari sini, aku gak mau Arka dibawa mas Ardi".
"Apa kamu mimpi buruk barusan? Kamu mimpi Arka dibawa oleh Ardi?" tanya Yanti sambil memegang kedua bahu adiknya.
"Tadinya memang mimpi, tapi aku takut besok mas Ardi akan mendapatkan hak asuh Arka kak" jawab Dinda mulai menangis.
Yanti menarik adiknya ke dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk pelan punggung adiknya untuk memberikan ketenangan.
"Kamu harus tenang Din, gak ada yang bisa bawa pergi Arka dari kamu. Karena hak asuh anak akan jatuh ke tangan ibunya"
Dinda melepaskan pelukan kakaknya dan menggenggam tangan Yanti dengan tangannya yang terasa dingin dan bergetar.
"Bagaimana nanti kalo mas Ardi mencari alasan untuk menjatuhkan ku?"
"Dia tidak akan bisa, aku juga akan menjadi saksi mu nanti bahwa Ardi tidak pernah ikut andil dalam mengasuh Arka, dia hanya berperan sebagai pencari nafkah".
"Tapi aku tidak punya pekerjaan kak, mas Ardi bisa menjatuhkan ku dengan alasan finansial"
__ADS_1
Yanti mengusap air mata Dinda yang terus mengalir.
"Jangan lupa Din, kamu punya kakak mu ini. Kakak akan menyerahkan hak warisan kakak untuk mu. Dan kamu juga punya rumah sendiri kan? Sementara Ardi tidak, dia hanya memiliki pekerjaan"
Dinda mulai terlihat sedikit tenang mendengar perkataan kakaknya.
"Jangan berpikir lagi untuk pergi ya, kamu akan susah merawat Arka sekaligus mencari nafkah seorang diri di tempat asing. Tetaplah disini bersama kakak" Ujar Yanti, tak tertahankan lagi air matanya jatuh, melihat kondisi adiknya sekarang. Namun cepat-cepat ia mengusap air matanya agar tak terlihat oleh Dinda.
Esok paginya, ponsel Dinda berdering. Dinda tidak bisa memejamkan matanya kembali setelah terbangun tadi. Ia hanya duduk di samping Arka sambil terus membelai rambut anaknya.
Dengan enggan dia menjawab telfonnya.
"Halo, ada apa Vin?" tanya Dinda.
"Kamu udah siap?" tanya Vino.
"Ini mau siap-siap" jawab Dinda dengan suara lemah.
"Kamu baik-baik aja kan? Kok suaranya lemas gitu?"
"Aku takut mas Ardi akan ngambil Arka Vin" tangisnya pecah lagi.
"Ya, aku juga gak akan menyerahkan Arka!" seru Dinda dengan pancaran mata yang menyiratkan api yang membara.
"Baiklah, Oh iya tadi Mama nelfon, katanya dia pengen Arka dia yang jagain dulu sementara kita ke pengadilan, boleh ya?" tanya Vino
Sesaat Dinda terdiam, rasanya sejengkal pun ia tidak ingin meninggalkan Arka sekarang. Tapi dia tidak mungkin membawa Arka ke pengadilan. Lagipula Mamanya Vino sangat menyayangi Arka.
"Ya boleh"
"Ya udah, sebentar-sebentar lagi aku jemput Arka" ujar Vino.
*****
Dinda akhirnya bisa tersenyum lega, setelah hakim memutuskan mereka untuk bercerai. Ia merasa lega bisa terlepas dari jerat cinta palsunya Ardi.
Namun tidak dengan Ardi, ia menatap Dinda dengan sorot mata tajam. Seolah mengisyaratkan bahwa dia takkan membiarkan Dinda bernafas lega.
Disaat hakim akan memutuskan hak asuh anak, tiba-tiba pengacara Ardi berdiri dan meminta hak asuh nya jatuh ke tangan kliennya, karena Dinda tidak layak menerimanya. Dengan tuduhan, Dinda pernah menghilang dan meninggalkan anak dan suaminya untuk kabur bersama selingkuhannya.
__ADS_1
Mereka bahkan menyerahkan keterangan orang hilang dari kepolisian.
Dinda langsung pucat pasi mendengar perkataan pengacara itu. Ketakutannya pun terjadi. Ia menggenggam ujung blouse nya dengan tangan gemetar.
"Tidak! Bagaimana ini? Aku tidak akan menyerahkan Arka kepada sepasang manusia yang tidak mempunyai persaan ini" batin Dinda sambil melihat ke arah Ardi yang tersenyum penuh kemenangan, dan Bella yang tersenyum sinis kepadanya.
"Tapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa aku saat itu diculik, karena aku tidak mau membuat Vino dalam bahaya"
Dinda mengalihkan pandangannya ke arah Yanti dan Vino untuk mencari kekuatan. Ia melihat Yanti dan Vino juga terlihat begitu tegang.
Sementara Vino mengambil ponselnya untuk menelfon seseorang.
"Rangga, cepat lakukan sekarang yang aku perintahkan kemarin, bawa buktinya sekarang!" katanya dengan suara tegas.
Setelah pengacara Ardi memberikan tuntutannya, sekarang giliran pihak Dinda yang melakukan pembelaan.
Yanti pun menjadi saksinya bahwa Ardi tidak pernah ikut andil dalam mengasuh Arka. Dan bahwa sebenarnya Ardi lah yang berselingkuh dengan wanita yang bernama Bella. Yanti bahkan menunjuk ke arah Bella, sehingga membuat wajah wanita itu merah karena malu.
Namun pengacara Ardi tetap menyudutkan Dinda, bahwa dia lebih tidak layak, karena sampai meninggalkan keluarganya demi laki-laki lain.
Keadaan Dinda sekarang benar-benar terpojok, ia merasa seluruh tubuhnya lemah tak berdaya.
Tiba-tiba Rangga muncul di ruangan itu bersama dua orang polisi. Dia berjalan ke arah hakim dan memberikan sesuatu.
Dinda yang mengenal Rangga sebagai asisten Vino, langsung menoleh ke arah Vino yang ternyata sedang menatapnya. Pandangan mereka bertemu, Vino melayangkan senyuman lembutnya seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sesuatu yang di bawa oleh Rangga itu ternyata adalah sebuah amplop yang berisi sebuah disc.
Hakim mengambil disc itu dan memasang di laptopnya.
Setelah melihat Video yang ada di dalam disc itu, ia pun menutup laptopnya dan melihat ke seluruh audiens nya.
"Dengan adanya bukti yang ada di dalam Video ini, pengadilan memutuskan untuk memberikan hak asuh anak kepada ibunya"
Dinda langsung merasakan dadanya penuh dengan luapan kebahagiaan. Ia tidak pernah merasa se lega ini selama hidupnya. Air mata bahagia mengalir dari sudut matanya, sementara bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum.
Namun tidak dengan Ardi, ia begitu marah. Dia bangkit dari duduknya dan menendang kursi nya dengan kuat, sehingga semua orang melihat kepada nya dengan tatapan mencibir. Tapi ia tidak peduli dengan tatapan orang, dia langsung keluar dari ruangan itu dengan wajah merah padam.
Dinda langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Vino dan Yanti, saat ini ia membutuhkan pelukan untuk meluapkan rasa bahagia yang memenuhi dadanya, sehingga ia merasa sesak.
__ADS_1
Namun langkahnya langsung terhenti, begitu melihat polisi sedang memborgol kedua tangan Vino.