Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Episode Terakhir


__ADS_3

Setelah tragedi kecelakaan itu, Dinda mencoba mengalihkan kesedihan nya dengan menyibukkan diri dengan toko kuenya. Namun seiring berjalan nya waktu, pelanggan di tokonya semakin banyak, sehingga membuat Dinda tidak menyadari bahwa ia telah terlalu sibuk. Sampai di hari weekend pun ia masih sibuk di toko kuenya.


Hari itu Vino pulang lebih awal dari biasanya, karena esok nya weekend. Namun ia tidak menemukan istri dan anaknya di rumah.


Vino menghela nafasnya.


Sepertinya Dinda masih di toko kue.


Ini nggak bisa dibiarkan, kalau nggak rumah tangga ku akan renggang. Batin Vino.


Kemudian ia mengambil ponselnya dan menelepon Rangga.


"Halo Ga, tolong kamu pesankan 3 tiket pesawat untuk penerbangan esok pagi," perintah Vino.


"Oke, tujuan kemana?"


"Singapore," jawab Vino.


"Mau bulan madu lagi nih?" tanya Rangga dengan nada menggoda.


"Iya dong, emangnya kamu. Nasibmu masih jomblo aja sampai sekarang, " ledek Vino.


"Aku ini bukan bernasib jomblo, tapi emang sengaja aja mempertahankan status singel," ujar Rangga ngeles. "Udah ah males aku. Kalau udah ngebahas status, kamu itu biasanya nyinyir. Akan segera aku pesankan tiketnya," ujar Rangga sambil menutup telepon nya.


Vino tersenyum geli menanggapi respon sahabatnya itu.


Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di sofa dan mengusap wajahnya.


Ia akan mengatur surprise ini dengan sempurna. Malam ini ia harus bersandiwara di depan istrinya.


Tak lama kemudian Dinda pun pulang dari toko kuenya bersama Arka. Ia membuka pintu belakang mobil merah hadiah dari Vino itu, untuk mengambil baju kotor Arka yang ia letakkan di jok belakang nya.


Setiap hari ia membawa baju ganti buat Arka, karena sepulang sekolah Arka langsung ke toko kue.


Setelah itu ia dan Arka pun masuk ke dalam rumahnya. Namun ia kaget mendapati pintu yang sudah tak terkunci.


Sepertinya Vino udah pulang. Batin Dinda.


Ia meletakkan tas Arka di atas sofa.


"Arka shalat maghrib dulu ya Nak, setelah itu kita makan malam, " ujar Dinda pada anaknya.


"Iya Mah," jawab Arka sambil berjalan ke kamarnya.


Setelah meletakkan baju kotor Arka di dalam ruang cuci nya, Dinda pun masuk ke dalam kamarnya. Ia ingin melihat Vino yang pasti sedang berada di kamar, sekaligus membersihkan diri, karena ia tidak sempat mandi di toko kuenya.


Begitu membuka pintu, Dinda melihat Vino sedang selonjoran di tempat tidur sambil memegang ponselnya.


"Assalamualaikum Vin, maaf ya hari ini aku terlambat lagi," sapa Dinda.


Namun tak ada jawaban dari Vino, ia masih sibuk dengan ponselnya.


"Assalamualaikum Sayangku," Dinda mengulangi salamnya, karena ia berpikir bahwa Vino tidak mendengar salamnya tadi.


Namun Vino tetap tidak menjawabnya. Dinda mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap Vino.


Perlahan ia berjalan menghampiri suaminya itu.


"Kamu kenapa Vin? Apa kamu marah?" tanya Dinda sambil menatap wajah Vino yang tampak masam.


"Iya," jawab Vino ketus sembari membalikkan badannya membelakangi Dinda.


Dinda tampak kaget dengan respon Vino, namun ia tidak ingin menanggapi nya, ia memutuskan untuk mandi dulu, agar tubuh dan pikiran nya menjadi segar dan tidak terbawa emosi.


Setelah mandi Dinda pun memakai baju dengan perlahan sambil melirik Vino, berharap suaminya itu menoleh, dan mungkin ia bisa membujuknya dengan sedikit godaan. Namun harapan Dinda pun kandas, karena Vino masih terus membelakangi nya.


Setelah berpakaian dan shalat maghrib, Dinda kembali berjalan menghampiri Vino.


"Vin, kamu udah sholat ya Sayang? " tanya Dinda berusaha memancing pembicaraan, walaupun dia tau Vino sudah sholat.


" Udah, " jawab Vino singkat.


" Ya udah, kalo gitu kita makan malam dulu yuk," ajak Dinda.


"Nggak, aku nggak lapar," jawab Vino masih dengan membelakangi Dinda.

__ADS_1


Dinda menghela nafasnya lagi.


"Ya udah, kalo gitu aku juga jadi nggak selera makan. Aku mau nemenin Arka makan aja. Kasian Arka makan sendirian, " ujar Dinda memancing.


Begitu mendengar bahwa Arka harus makan sendirian, Vino langsung bangun. Ia juga tidak ingin Dinda ikutan tidak makan.


Duh, kalo begini bisa kacau sandiwaraku, pikirnya.


Sementara Dinda mengikutinya dari belakang sambil tersenyum. Iya senang Vino sangat peduli padanya dan Arka.


Setelah makan malam, mereka menemani Arka menonton Tv seperti biasanya, sampai kemudian menemani Arka tidur. Namun selama itu, Vino sama sekali tidak mengajak Dinda bicara, ia hanya meladeni celotehan Arka yang bercerita tentang teman di sekolahnya.


Begitu Arka telah tidur, Vino cepat-cepat beranjak ke kamarnya agar Dinda tidak mengajak nya bicara.


Sementara Dinda mengikutinya dari belakang sambil menghela nafasnya melihat sikap Vino.


Setelah sampai di kamar, Vino langsung tidur dan menarik selimut nya.


"Vino, apa tidak sebaiknya kita bicara dulu? " tanya Dinda dengan wajah kuyu.


"Aku ngantuk banget," jawab Vino sambil memejamkan matanya.


Dinda pun hanya bisa pasrah dan bersabar.


*****


Pagi menjelang, Dinda membuka matanya dan merasa heran, karena ia tidak menemukan Vino disamping nya.


Apa Vino udah keluar? Tanya Dinda di dalam hati.


Perlahan ia bangun dan menyisir rambut seperti biasanya. Dan matanya kemudian melihat selembar kertas yang bertuliskan beberapa buah kalimat, terletak di atas meja riasnya itu. Dinda mengambil kertas itu dan membaca dengan sedikit menyipitkan matanya.


#Aku udah nggak tahan dengan keadaan rumah tangga kita. Jika aku terus bertahan di sini, aku takut akan menyakiti mu, jadi biarkan aku yang pergi agar kamu bisa fokus dengan kesibukan mu#


Dinda terhenyak membaca isi kertas itu, tangannya tampak bergetar. Ia tak menyangka Vino akan bersikap seperti itu.


Kenapa jadi seperti ini? Kenapa Vino bersikap kekanak-kanakan seperti ini? Pikirnya mulai emosi.


Segera saja ia memeriksa lemari baju Vino, dan ternyata baju suaminya itu memang banyak yang berkurang, dan kopernya pun tak ada lagi.


Namun tiba-tiba suara ponsel mengejutkan nya. Dinda segera mengambil nya karena ia berpikir mungkin Vino yang menelepon.


"Halo, "ucap Dinda begitu menerima panggilan itu.


"Halo Mbak Dinda, ini aku Rangga. Kemarin Vino meminta untuk memesan tiket pesawat tujuan ke Singapura. Dan barusan Vino meneleponku, katanya dia pamit dan memerintahkan ku untuk menjaga Mbak dan Arka. Ini sebenarnya ada apa ya Mbak?"


Dinda merasakan dadanya sesak karena emosi yang meluap mendengar perkataan Rangga.


"Jam berapa penerbangan nya Ga? " tanya Dinda tanpa mempedulikan pertanyaan Rangga.


" Sekitar 2 jam lagi Mbak," sahut Rangga.


Dinda segera mematikan ponsel nya dan mengambil outer dan tas nya.


Aku harus menyusul Vino ke bandara. Aku tidak bisa membiarkan nya bersikap kekanak-kanakan seperti ini, batin Dinda.


Lalu ia pergi ke kamar Arka untuk membangunkan anaknya itu. Ia akan membawa Arka sekalian. Karena tak mungkin ia meninggalkan anaknya sendiri, dan tak mungkin juga ia menitipkannya kepada Yanti selagi ini.


Setelah Arka bangun, Dinda langsung memakaikan jaket untuk anaknya, ia juga membawa bantal agar Arka bisa melanjutkan tidurnya di mobil.


Setelah memanaskan mesin mobilnya, ia langsung membawa mobilnya melaju ke Bandara.


Tak lama kemudian Dinda dan Arka pun sampai di sana, Dinda langsung menggendong Arka setelah memarkir mobilnya. Emosinya benar-benar telah membara kini.


Namun ia begitu terkejut melihat Vino sedang berdiri di depan pintu masuk sambil tersenyum padanya. Di samping nya berdiri Rangga dengan perasaan yang tidak enak karena telah ikut andil dalam membohongi istri dari sahabatnya itu.


Kenapa Vino malah tersenyum? Bukannya dia sedang marah padaku? Dan kenapa ada Rangga di sini?


Dinda berjalan dengan cepat menghampiri suaminya.


"Surprise!!!" Seru mereka keduanya sambil tersenyum.


Dinda menghentikan langkahnya dengan raut wajah bingung.


"Surprise apa? Ada apa ini? "tanya Dinda.

__ADS_1


" Surprise karena kita akan refreshing ke Singapore," jawab Vino sambil tersenyum lebar.


Perlahan wajah bingung Dinda berganti dengan mata yang melotot.


"Jadi kamu bohongin aku?"


Vino tampak cengar-cengir menanggapi kemarahan Dinda, sementara Rangga hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu tau bagaimana perasaan ku saat membaca surat mu itu? " tanya Dinda dengan mata yang berkaca-kaca.


Rangga yang melihat gelagat peperangan antara pasutri itu langsung berinisiatif mengajak Arka untuk menepi.


"Arka, tadi Om liat ada burger enak lho di jual di sana, kita coba beli yuk!" ajak Rangga.


"Ayuk Om, "sahut Arka langsung bersemangat sambil turun dari gendongan Dinda yang masih memelototi Vino.


Setelah Arka dibawa Rangga, Vino mulai menghampiri istrinya dengan wajah merasa bersalah.


" Maafkan aku Sayang, aku tidak berpikir panjang," ujar Vino sambil menarik Dinda Perlahan ke dalam pelukan nya.


Tangis Dinda langsung pecah begitu berada dalam pelukan hangat suami nya.


"Aku kesel sama kamu tau! " ujar Dinda sambil memukul pelan dada bidang Vino.


Vino yang menerima pukulan manja itu langsung tersenyum.


" Ya udah, biar kamu nggak kesel lagi, kita berangkat jalan-jalan sekarang ya. "


" Tapi aku kan belum packing bajunya" ujar Dinda sambil mengusap air matanya.


Vino kembali tersenyum lembut sambil melepaskan pelukan nya.


"Tuh liat, koper kamu sama kopernya Arka udah aku siapin."


Dinda membulatkan matanya melihat kopernya yang tunjukkan Vino, ia tak percaya Vino telah mempersiapkan semuanya.


"Jadi kamu udah siapin semuanya tadi malam? "


Vino mengangguk sambil membusungkan dadanya.


Sehingga Dinda tersenyum geli melihat Vino yang membanggakan diri.


" Ya udah, ayo kita sarapan dulu sama Arka dan Rangga! " ajak Vino.


" Ya! " sambut Dinda sambil tersenyum bahagia.


******


5 BULAN KEMUDIAN


Siang itu Vino kembali menggunakan waktu istirahat kantor nya untuk mengunjungi sebuah lahan yang sedang dibangun.


Ia selalu menyempatkan waktunya untuk mampir ke sana.


Karena di sana sebenarnya sedang dibangun rumah impiannya dengan Dinda.


Namun nada sering ponsel nya berdering, saat ia sedang memarkir mobilnya.


Vino mengambil ponsel nya dan membuka pesan yang baru saja dia terima. Tertera tulisan 'MY HEART' pada nama pengirim pesan itu.


Dan ternyata isi pesan itu adalah sebuah foto alat tes kehamilan. Dan lebih membuat Vino terpana adalah dua garis merah di sana. Seketika ia terlonjak bahagia dan langsung bersujud syukur di atas jok mobilnya.


Akhirnya sang penculik cinta mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dalam hidup nya.


TAMAT


Assalamualaikum pembaca setiaku...


Novel PENCULIK CINTA ini masih ada kelanjutan nya lho.


Kelanjutan nya akan bercerita tentang kisah cinta si cowok cool Rio Aditya dengan seorang gadis muslimah dan ceria yang berasal dari yayasan panti asuhan milik keluarga Aditya.


Bagaimanakah kisah cinta yang terpaut perbedaan usia hingga dua belas tahun itu?


NANTIKAN KISAHNYA DI EPISODE SELANJUTNYA SEBAGAI SEASON KE 2...

__ADS_1


Sambil nunggu, kunjungi novel ini ya...



__ADS_2