Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Dipaksa Ardi


__ADS_3

Dinda melihat Ardi berdiri di depan pintu masuk sambil tersenyum lebar. Ia terkejut dan refleks kakinya melangkah mundur. Membuat Ardi mempunyai kesempatan untuk menyusup masuk.


"Ngapain kamu kemari Mas?" tanya Dinda.


"Tentu aja buat nemuin kamu dong," jawab Ardi.


"Aku udah nggak mau berurusan dengan kamu lagi Mas," kata Dinda mulai merasa takut.


"Tapi kamu itu masih istriku. Bagaimana bisa kamu nggak mau berurusan dengan suamimu?" tanya Ardi sambil tersenyum miring dan berjalan mendekati Dinda.


"Apa mau kamu Mas Ardi?" tanya Dinda sambil melangkah mundur.


"Aku mau kamu istriku," jawab Ardi. Wajahnya yang tampan menyeringai jahat.


"Keluar kamu dari sini Mas Ardi!" teriak Dinda.


"Sombong sekali kamu sekarang. Aku belum pernah melihatmu kasar kepadaku. Apa karena sekarang kamu udah punya laki-laki lain, heh?!" seru Ardi marah.


"Nggak ada urusannya sama kamu Mas. Apa kamu nggak sadar selama ini kamu udah jahat sama aku? Tolong jangan ganggu aku lagi!" seru Dinda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Wajah Ardi tampak berubah sedih.


"Maafkan aku Din. Tapi aku benar-benar nggak pernah berniat berpisah denganmu," kata Ardi dengan suara lembut.


"Itu bahkan lebih menyakitkan bagiku, kamu ingin menipu aku seumur hidupku Mas?"


"Nggak Din. Aku nggak berniat begitu. Perempuan lain hanya untuk main-main aja. Hanya kamu satu-satunya istriku. Kembali lah bersamaku, aku berjanji nggak akan pernah menduakanmu lagi" bujuknya sambil mendekat dan menjulurkan tangannya.


Dinda menepis tangan Ardi.


"Nggak! Aku nggak akan pernah kembali padamu Mas!" teriak Dinda.


Ardi kembali berang dengan penolakan Dinda.


"Kamu ternyata nggak bisa dirayu dengan cara lembut. Apa pun yang kamu katakan, aku akan tetap membawamu kembali ke rumah kita," jawab Ardi dengan mata yang memerah.


"Ayo! Ikut aku pulang!" Ardi menarik tangan Dinda dengan kuat.


" Nggak Mas, aku benar-benar ingin kita bercerai!" seru Dinda sambil menarik kembali tangannya.


Ardi berbalik dengan marah.


"Apa karena laki-laki itu? Kamu itu milikku Dinda, dan hanya akan menjadi milikku," kata Ardi sambil menarik Dinda kedalam pelukannya.


Namun Dinda memberontak dengan sekuat tenaga. Ardi mendengus kesal dengan perlawanan Dinda.


Lalu ia mengambil sapu tangan mengandung obat bius yang memang telah dipersiapkan di dalam sakunya.


Ia menutup hidung Dinda yang terus mendorong tubuhnya dengan sapu tangan itu.


Mata Dinda terbelalak menatap Ardi dengan marah.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja Ardi berteriak kesakitan sambil memegang tengkuknya. Lalu ia berbalik marah untuk melawan orang yang telah memukulnya.


Samar-samar Dinda melihat Rio berdiri di depan mereka dengan memegang sepotong kayu. Namun kesadarannya mulai hilang dan tubuhnya menjadi lemah tak bertenaga sehingga perlahan merosot kebawah dan tak sadarkan diri.


*****


Vino keluar dari kamar mandi dengan memakai sweater pemberian Lara sambil menenteng baju kotornya.


"Tadi kamu nanya apa?" Tanya Vino pada Lara yang sedang membawakan jus yang baru untuknya.


"Ah bukan apa-apa, kamu minum jus ini dulu Vin," kata Lara sambil meletakkan jusnya di meja.


"Oke, aku telepon Dinda dulu sebentar ya," kata Vino sambil mengambil ponselnya dan menelepon Dinda.


Terdengar nada sambungnya, namun tidak diangkat. Vino mencoba meneleponnya lagi, tapi tetap tidak tersambung.


Tampak wajah Vino berubah gelisah.


Kenapa nggak diangkat ya? Apa terjadi sesuatu sama Dinda? Pikirnya.


"Aku pulang sekarang sekarang ya Ra, besok aku bantuin lagi" katanya sambil memasukkan kembali ponsel dan dompetnya kedalam saku.


"Lho, kok buru-buru sih? Jusnya aja belum kamu minum," kata Lara sambil melirik jus yang sudah dicampurnya dengan obat tidur.


"Nggak usah Ra, aku harus pulang sekarang. Dinda nggak ngangkat teleponnya dari tadi" jawab Vino.


"Jangan kayak bucin gitu dong Vin"


"Hehe... maklumi aja, seumur hidup, kan aku baru pertama kali jatuh cinta," sahut Vino sambil tertawa dan berjalan keluar.


Lalu matanya melihat tumpahan jus di lantai, seketika ia mendapat ide. Dengan cepat ia berjalan ke tumpahan jus dan berpura-pura jatuh.


"Aaukh..." teriaknya.


Vino yang sedang berjalan keluar langsung berbalik mendengar teriakan Lara. Ia melihat Lara yang terduduk di lantai sambil memegang kakinya.


Dia pun langsung mendekat dan berjongkok di samping Lara.


"Kok bisa jatuh sih? Dimana sakitnya?"


"Aku nggak liat ternyata ada tumpahan jus di lantai bekas tertumpah di bajumu tadi," kata Lara sambil berpura-pura kesakitan.


"Ya udah, sini aku papah ke sofa biar bisa dipijat," kata Vino dan memapah Lara ke sofanya. Sementara Lara sengaja menggelayut manja sambil tersenyum senang.


Vino memijat kaki Lara perlahan.


"Udah ngerasa enakan nggak?" tanya Vino kemudian.


"Masih sakit Vin," kata Lara berbohong.


"Kalau gitu, aku coba kompres air hangat aja ya, siapa tau bisa lebih enakan," kata Vino.

__ADS_1


Lara mengangguk dan tersenyum senang.


"Tapi aku coba telepon Dinda dulu buat ngasih tau," kata Vino sambil mengambil ponselnya.


Raut wajah Lara langsung berubah kesal.


Setelah beberapa kali mencoba menelepon, tapi tetap tidak di angkat. Vino benar-benar cemas sekarang.


"Maaf Ra, aku benar-benar harus pulang sekarang. Dinda nggak ngangkat teleponnya dari tadi. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya," kata Vino.


"Aku akan mengambil air hangatnya dulu biar kamu bisa kompres sendiri," sambungnya dan langsung pergi ke dapur.


Lara memukul sandaran sofanya dengan kesal.


*K*enapa wanita itu yang selalu ada di pikirannya? Padahal aku jelas-jelas sedang sakit, tapi dia malah mengkhawatirkan wanita itu, pikirnya.


Sesaat kemudian Vino masuk dengan membawa air hangat dan handuk kecil.


"Ini air hangatnya. Kamu coba kompres sendiri ya. Aku pamit dulu, kalau ada apa-apa nanti kamu telepon aku," kata Vino dan langsung bergegas pergi keluar.


Lara melempar mangkuk kaca yang berisi air hangat itu ke lantai dengan marah, sehingga mangkuk itu pecah berkeping-keping.


Sesampainya diluar, Vino langsung menaiki mobilnya dan menancap gas, sehingga mobilnya melaju dengan kencang.


Tak lama kemudian Vino sampai di rumahnya. Ia menekan bel berulangkali, namun Dinda tidak membukanya.


Akhirnya Vino tak sabar lagi dan mendobrak pintunya.


Betapa terkejutnya Vino ketika tubuh nya terhempas saat pintunya langsung terbuka, karena ternyata pintunya tidak terkunci.


Vino langsung masuk dan memanggil-manggil Dinda, namun tak ada jawaban.


Vino mengambil ponselnya kembali dan menelepon lagi. Ia pun mendengar nada dering ponsel Dinda yang berasal dari ruang keluarga.


Vino langsung kesana dan melihat ponsel Dinda terletak di meja.


"Pasti telah terjadi sesuatu," katanya.


"Siapa lagi yang berani menculik Dinda dariku?"


Lalu Vino menelepon Sekuriti yang bertugas menjaga komplek perumahan milik keluarganya itu.


"Halo"


"Halo Pak, ada apa ya Pak?" tanya suara di seberang.


"Aku mau Bapak periksa CCTV yang ada di jalan masuk ke komplek ini. Siapa pun yang masuk malam ini laporkan pada saya" perintah Vino.


"Baik pak"


****

__ADS_1


Dinda membuka matanya perlahan. Ia melihat ke sekelilingnya. Dan ia sangat mengenal tempat itu.


Bersambung...


__ADS_2