
Adik Lara yang bernama Jeslyn, sedang menatap Vino dengan mata yang berbinar-binar.
"Dia tampan sekali," bisiknya seorang diri. Tanpa mempedulikan apa yang terjadi, gadis itu terus menatap wajah tampan Vino yang begitu menarik perhatiannya.
"Papa sudah ingatkan padamu Lara, yang harus kamu dapatkan itu Rio, bukan anak pungut itu!" seru Farhad sambil memelototi Lara yang sedang menatap Vino.
"Baiklah Pa, Lara kan udah setuju," jawab Lara dengan wajah kesal.
"Papa hanya mengingatkan kamu, jangan sampai terbawa oleh perasaan mu yang kekanak-kanakan itu. Saat ini yang lebih penting adalah keadaan perusahaan Papa yang sedang bangkrut, kita harus mendapatkan dukungan dari mereka, atau kalau tidak perusahaan kita akan gulung tikar," ujar Farhad dengan suara yang direndahkan.
Jeslyn melirik kearah Papa dan kakaknya yang sedang kasak-kusuk.
"Masalah anak pungut, serahkan saja padaku. Karena dia sangat menarik perhatian ku," ujar Jeslyn sambil terus menatap Vino.
Farhad langsung menatap anak bungsu nya itu tajam, begitu juga dengan Lara.
"Jangan buat masalah Jeslyn! Kamu di luar negeri selalu merepotkan Papa dengan sikapmu yang sudah kebarat-baratan itu. Jaga sikapmu, jangan pernah bersikap vulgar di sini. Atau kita akan kehilangan muka di depan mereka."
Jeslyn mendengus sambil memutar bola matanya mendengar perkataan papanya.
"Tapi sekarang datang masalah baru," sambung Farhad.
"Masalah apa Pa?" tanya Lara.
"Cucu yang diberikan oleh anak pungut itu akan menjadi penghambat kamu untuk menjadi pewaris keluarga Aditya," ujar laki-laki separuh baya itu sambil menatap keluarga Aditya dengan tatapan penuh ambisi yang menakutkan.
Sementara keluarga Aditya sedang berbahagia di ruangan sebelahnya. Tanpa menyadari tatapan jahat dari tamu mereka itu.
"Untuk beberapa hari kalian menginap di sini saja dulu ya. Keadaan Dinda masih lemah begini, Mama juga ingin membantu merawat Dinda," ujar Nyonya Aditya.
"Baik Ma," jawab Vino dan Dinda serentak.
"Vin, bawa istri kamu masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat," kata Pak Aditya pada Vino.
"Iya Pa," jawab Vino. Lalu ia mengangkat tubuh Dinda perlahan.
"Nggak usah di gendong Vin, aku sanggup berjalan sendiri," ujar Dinda dengan wajah yang memerah karena malu dilihat oleh mertuanya.
__ADS_1
"Nggak boleh! Kamu harus aku gendong, kalo kamu jatuh di tangga gimana?"
"Nggak apa-apa kok Din, kamu nggak usah malu sama Mama dan Papa. Biarkan Vino menunaikan kewajibannya sebagai calon seorang Ayah," kata Nyonya Aditya, ia memahami keinginan anaknya yang begitu antusias dan bahagia karena akan menjadi seorang Ayah.
Tanpa bisa dibantah lagi, Vino langsung menggendong Dinda dan membawanya ke lantai atas, dan tentu saja mereka melewati ruangan tempat Lara dan keluarganya duduk.
Lara menatap mereka dengan pandangan kesal dan cemburu. Sementara Jeslyn tampak terpesona melihat sikap Vino yang begitu jantan di matanya, dan ia ingin segera menggantikan posisi Dinda.
"Huh! Budak cinta seperti itu bagaimana bisa menjadi seorang CEO?!" ejek Farhad dengan senyum sinis nya. Namun mulutnya langsung tertutup, saat Pak Aditya dan istrinya datang.
"Maaf Pak Farhad, sepertinya Rio tidak akan pulang hari ini. Bapak bisa menitipkan pesan pada kami jika ada keperluan dengan Rio," ujar Pak Aditya.
"Oh tidak ada keperluan apa-apa kok Pak. Kami datang untuk bersilaturahmi. Bagaimana pun juga keluarga kita pernah sangat dekat sebelum kami pindah ke luar negeri. Hanya saja saya penasaran Rio sekarang sudah seperti apa," jawab Farhad mencoba bersikap akrab.
"Rio sekarang sudah dewasa dan bijaksana. Dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk" ujar Nyonya Aditya sengaja menyindir.
Farhad yang merasakan sindiran itu hanya bisa tersenyum masam. Ia tau Nyonya Aditya tidak menyukainya, setelah ia kepergok sedang menghasut Rio untuk membenci Vino ketika mereka kecil.
"Baiklah kalau begitu, kami pamit pulang dulu. Kapan-kapan ada waktu, mampirlah ke rumah kami," ujar Farhad sambil bangkit berdiri.
"Ya, tentu saja kami akan mampir," jawab Pak Aditya.
"Mama sepertinya masih tidak suka melihat Farhad ya?"
"Iya, Mama nggak suka sama sifatnya itu. Bahkan hari ini Mama punya firasat kalau dia datang dengan alasan lain," jawab Nyonya Aditya.
"Apa maksud Mama? Alasan lain?"
"Entahlah, Mama juga tidak tau alasannya apa. Mama hanya bisa menebak, bahwa dia ingin menjodohkan Lara dengan Rio."
*****
Pagi itu Vino harus kembali bekerja di perusahaan nya. Awalnya ia hendak mengambil cuti lagi untuk beberapa hari agar bisa menjaga Dinda, namun Dinda bersikeras menolaknya. Ia tidak mau terus dirawat oleh Vino seperti orang sakit, sampai mengganggu waktu bekerja suaminya itu.
Setelah pamit kepada istrinya, dengan berat hati Vino pun beranjak pergi untuk bekerja. Namun sebelumnya ia mengecup kening istrinya itu dengan lembut.
"Kamu hati-hati ya Sayang," ucap Dinda.
__ADS_1
Vino tersenyum dan mengangguk sambil membelai pipi Dinda sebelum membalikkan badannya.
Begitu sampai di luar, ia di kejutkan dengan kedatangan Jeslyn yang langsung tersenyum manis padanya.
Vino merasa seperti pernah melihat gadis itu, namun ia tidak dapat mengingat nya, karena kemarin dia memang tidak mempedulikan gadis itu.
"Hai Mas Vino! Mau berangkat kerja ya?" tanya Jeslyn dengan suara manja.
Vino menatap nya sekilas, ia merasa tidak nyaman dengan sikap gadis itu.
"Iya, Mbak siapa ya?"
"Lho, masa Mas Vino lupa sih, baru kemarin juga saya ke rumah ini," jawab Jeslyn sambil menyandarkan badannya di mobil Vino.
"Maaf tapi saya benar-benar tidak ingat. Mbak mau bertemu dengan siapa? Silahkan masuk saja," jawab Vino cepat. Ia benar-benar tidak menyukai sikap gadis itu, caranya bersandar di mobilnya seolah-olah ingin menggoda hasrat laki-laki.
"Aku Jeslyn Mas, adiknya Lara. Aku ke sini mau bertemu sama Mas Vino."
Vino menaikkan sebelah alisnya mendengar perkenalan diri dari Jeslyn. Ia baru ingat, kalau sudah melihat gadis itu kemarin. Dia memang tidak mengenal adiknya Lara, karena sejak kecil setelah orang tuanya bercerai, ia sudah ikut ibunya ke luar negeri.
"Ada perlu apa bertemu dengan ku?"
"Aku mau minta bantuan masalah pekerjaan Mas, kalau boleh aku ingin bekerja di perusahaan Mas Vino," jawab Jeslyn masih dengan nada manja.
"Kalau masalah pekerjaan, kamu bisa langsung mengirimkan surat lamaran mu ke perusahaan," ujar Vino.
"Kok harus pakai surat lamaran segala sih Mas? Kita kan bukan orang lain."
"Orang lain atau bukan, di perusahaan ku tetap harus mengikuti prosedur tanpa panda bulu," jawab Vino tegas.
Di pintu rumah tampak Dinda yang sedang berjalan menghampiri keluar dengan langkah lemah, ia ingin menanyakan kenapa suaminya belum berangkat, dan dengan siapa ia berbicara.
Jeslyn melihat Dinda yang berjalan mendekat. Dengan cepat ia melangkah maju dan memeluk Vino.
"Terimakasih Mas. Aku akan mengirimkan surat lamaran ku," ujar Jeslyn dengan suara manja dan melirik ke arah Dinda.
Langkah lemah Dinda langsung terhenti melihat suaminya dalam pelukan wanita lain.
__ADS_1
Bersambung....