
Pagi menjelang, Dinda terbangun dari lelapnya sambil memeluk Arka. Satu hari lagi menjelang keputusan pengadilan. Rasanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba saja menghampiri hidupnya, yang ia pikir akan berjalan lurus seperti biasanya sampai ia tua.
Untung ia memiliki dukungan dari kakaknya, dan dari sosok yang tiba-tiba hadir menawarkan tempatnya bersandar, Vino Aditya.
Drrrrrttt
Ponsel Dinda bergetar di meja riasnya. Dinda melepaskan pelukannya pada Arka dengan perlahan, agar malaikat kecilnya itu tidak terbangun.
Dinda melihat ponselnya dan seketika bibirnya tersenyum.
"Panjang umur nih orang, baru aja dipikirkan" batin Dinda.
"Halo Vin?"
"Halo Din, wah nama panggilan kita hampir sama ya"
Dinda tersenyum mendengar respon pertama si penelpon.
"Ada apa kamu nelfon?"
"Mau nanyain jam berapa kamu siap, biar aku jemput"
"Memangnya kita mau kemana?"
"Ada deh pokoknya, biar jadi surprise" jawab Vino semangat.
"Oke, jam sepuluh aja ya"
"Oke, see you sayang"
Dinda menutup telfonnya, bibirnya kembali tersenyum, pipinya sedikit merona mendengar kata-kata sayang dari Vino. Ia telah lama sekali tidak mendengar kata-kata itu. Terakhir kali Ardi mengucapkan nya saat ia baru melahirkan Arka.
"Aku harap bisa terus mendengar kata-kata ini sampai aku mati. Kata sayang yang diucapkan dengan ketulusan" batin Dinda.
Sebelum Arka bangun, Dinda keluar dari kamarnya untuk membuatkan sarapan, naluri ibu rumah tangga nya tetap masih terjaga, walaupun keadaan rumah tangga nya telah kacau.
"Kak, lagi apa?" tanya Dinda begitu melihat Yanti sedang di dapur.
"Ini kakak mau buat nasi goreng buat kalian, kamu duduk aja hari ini ya, gak usah ikut masak. Simpan tenaga mu buat besok" kata Yanti sambil memotong tomat.
Dinda tersenyum mendengar dukungan dari kakaknya.
"Kakak baik banget sama aku"
"Tentu saja, kan cuma kakak yang kamu miliki, jadi kakak gak akan pernah ninggalin kamu dalam keadaan apapun"
"Aku sangat bersyukur punya kak Yanti, Dan kak Yanti harus tau, bahwa ada seorang laki-laki yang sekarang hadir dalam kehidupan ku dan selalu membantu ku, agar kakak tidak terlalu mengkhawatirkan ku" batin Dinda.
Dinda menarik nafas dalam-dalam, ia tidak tau harus mulai dari mana untuk menceritakan tentang Vino
"Kak, kakak ingat laki-laki yang datang sama kita ke pengadilan tempo hari?"
"Ya, kenapa? Dia temanmu kan? Kakak gak sempet ngobrol banyak kemarin sama temanmu itu, karena keadaan mu sedang tidak baik, apa lagi habis ketemu Ardi"
"Iya, dia teman yang baik, walaupun pertemuan kami dalam keadaan yang tidak baik"
"Maksud kamu?"
"Dia laki-laki yang menculikku"
__ADS_1
"Apa?" tanya Yanti terkejut sambil membalikkan badannya.
"Iya, tapi aku juga pernah bilang kan sama kakak, dia nyulik aku dengan niat baik, biar bisa ngebongkar kejahatan mas Ardi"
Yanti mengerutkan keningnya, pertanda bingung.
Lalu Dinda menceritakan siapa Vino sebenarnya dan bagaimana pertemuan mereka hingga perasaannya terhadap Vino yang sedikit demi sedikit berubah menjadi cinta.
"Jadi dia teman sekolahmu dulu sekaligus CEO di perusahaan Ardi sekarang?"
"Iya kak, Oh ya sebentar lagi Vino mau ngajak aku jalan-jalan sama Arka, kakak ikut ya".
"Nggak ah, masak kakak mau gangguin orang yang lagi jatuh cinta? Ntar kakak jadi obat nyamuk lagi" kata Yanti sambil tersenyum menggoda.
Tak lama kemudian Vino datang menjemput. Dia tampak kikuk, saat baru sampai Yanti sudah memujinya tampan.
"Ah, kak Yanti bisa aja" sahutnya malu.
Lalu senyumnya langsung merekah saat melihat si imut Arka keluar bersama ibunya.
"Hai jagoan!" Panggil Vino sambil berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Arka.
"Eh, Om es krim!" respon Arka dengan senyum lebar, ia langsung mendekati Vino yang mengulurkan tangannya, lalu bergelayut manja di bahu kekar itu.
"Om es krim?" Tanya Yanti.
"Iya kak, ternyata mereka udah pernah ketemu. Makanya Dinda gak ragu buat ngajak Arka jalan-jalan sama Vino" Jelas Dinda.
Yanti tersenyum dengan raut wajah lega.
"Semoga laki-laki ini bisa memberikan kebahagiaan yang seutuhnya untuk mu dan Arka, Din." Doa Yanti di dalam hati.
Hari ini cuacanya sangat mendukung.
Sehingga mereka memutuskan membawa Arka jalan-jalan ke taman.
Ternyata Vino telah mempersiapkan semuanya. Perlengkapan piknik semua ia keluarkan dari mobilnya. Bahkan lengkap dengan makanan dan mainan untuk Arka.
Arka berteriak senang saat Vino memberikan nya bola.
"Arka senang main di taman?" Tanya Dinda sambil mengelus rambut anaknya.
"Senang Ma, kita piknik beneran ya ma?"
"Iya sayang, Arka suka?"
"Suka, kita kalo ke taman kan gak pernah piknik, jalan-jalan bentar terus pulang. Arka selalu pengen piknik kayak gini ma, ada tikar nya lagi"
"Ya udah, kalo gitu, Arka bilang terimakasih dong sama Om Vino" Ujar Dinda sambil tersenyum.
"Makasih ya Om" seru Arka sambil menatap Vino dengan mata yang berbinar-binar.
Vino langsung gemas melihat ekspresi imut Arka.
"Mana peluknya dong?" ujar Vino sambil merentangkan tangannya.
Arka langsung memeluk Vino, yang langsung didekap Vino dengan gemasnya.
"Yuk Om temenin main bola!" Ajak Vino dan disambut dengan teriakan semangat nya Arka.
__ADS_1
"Ayo!" Tubuh mungilnya pun langsung berlari menendang bola.
Dinda menyaksikan keharmonisan itu dengan senyum bahagia.
Tentang keraguan? Tentu saja masih ada dalam hatinya, bagaimana pun hatinya baru saja terluka, namun ia ingin menyerahkan nya kepada takdir.
Setelah bermain-main di taman, Vino mengajak Ibu dan Anak itu menonton film animasi keluarga di Bioskop.
Mereka memilih film kesukaan Arka.
Herannya, selama mereka jalan-jalan bersama, Arka malah selalu bergelayut manja dalam gendongan Vino.
Dinda pun menyadari, bahwa anaknya selama ini butuh perhatian dari seorang Ayah yang memang jarang didapatkan dari Ayahnya sendiri.
Selama ini Dinda sudah terbiasa membawa Arka jalan-jalan hanya seorang diri, atau bersama Yanti.
Karena Ardi sibuk bekerja. Dan di hari Minggu Ardi lebih senang beristirahat di rumah, karena lelah hampir sepekan selalu bekerja yang tentu saja dibumbui perselingkuhan.
Begitu filmnya selesai, mereka keluar bersama, dengan Arka menggenggam tangan Ibunya dan Vino di sebelah kanan dan kirinya.
Benar-benar seperti keluarga kecil bahagia.
Selama berjalan-jalan dari mulai berangkat tadi, Vino tidak pernah sekalipun menggandeng tangan Dinda atau bermesraan dengan nya, karena ia tidak mau Arka menjadi bingung.
Setelah lelah bermain seharian, akhirnya Arka pun tertidur di dalam mobil saat perjalanan pulang.
Namun Dinda sedikit heran saat melihat mobil Vino tidak menuju jalan ke arah rumah nya. Tapi ia berusaha tidak bertanya, karena dari awal Vino mengatakan jalan-jalan ini adalah surprise darinya.
Dan Dinda akhirnya benar-benar di buat terkejut saat mobil Vino berhenti di depan sebuah rumah besar nan megah. Ia dapat menduga bahwa ini adalah rumah keluarga terpandang Aditya.
"Vin, ini rumah keluarga kamu kan?" tanya Dinda panik.
"Iya, sayang." jawab Vino
"Terus kenapa kamu bawa aku ke sini?"
"Ya tentu aja buat ketemu sama keluargaku" jawab Vino sambil tersenyum lembut.
"Vin, aku gak bisa. Aku gak mau!" jawab Dinda panik.
"Sayang, Mamaku gak seperti bayangan kamu kok. Aku yakin, dia bakal nerima kamu dengan baik. Walaupun nantinya tidak seperti yang kita harapkan, aku tetap gak akan meninggalkan mu" ujar Vino sambil menatap mata Dinda dalam-dalam, untuk memberikannya keyakinan.
"Tapi kenapa kamu gak diskusi dulu sama aku?" tanya Dinda marah.
"Maafin aku sayang, aku tau karakter kamu yang selalu merasa rendah diri. Kalo aku nunggu persetujuan kamu, sampai kapan pun aku gak akan bisa membawa kamu kemari"
Namun Dinda terlihat masih ragu. Dan tiba-tiba saja Arka terbangun.
"Kita ada di mana ini Ma?" Tanya Arka sambil bangun dari pangkuan ibunya.
"Kita ada di rumah nenek sayang" jawab Vino.
"Nenek?"
"Iya, ayo kita turun. Mau kan Din?" tanya Vino sambil menatap Dinda.
"Tapi kalo kamu gak mau, kita bisa pulang sekarang" ujarnya lembut.
"Baiklah, ayo kita turun" jawab Dinda akhirnya, dengan hati yang deg-degan minta ampun.
__ADS_1