
Dinda langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Pikirannya masih dipenuhi oleh Vino.
Ada sedikit rasa bersalah di hatinya.
"Tapi nggak seharusnya aku terlalu cuek sama Vino tadi. Walaupun dia selalu bersikap seenaknya, tapi dialah yang pertama kali membantuku. Aku juga malu dengan sikapku, dari awal aku yang nggak ingin menerima cinta Vino, tapi aku marah melihatnya bersama wanita lain dan gak peduli lagi padaku" gumam Dinda.
Aku harus minta maaf sama Vino, aku harus menelfon nya sekarang, pikirnya.
Dinda mengambil ponsel pemberian Rio dari tasnya, tadi sore Rio memberikan ponsel itu padanya.
Dan nomer ponsel Vino sudah tercatat dalam otaknya, karena selama bersama Vino, hanya nomernya yang tersimpan di ponsel Dinda.
Terdengar nada sambungnya saat Dinda menghubungi Vino.
"Ya, halo... dengan siapa ini?" tanya Vino dengan suara serak.
Dinda terdiam sejenak.
"I...ini aku Vin, Dinda. Aku mau minta maaf atas sikapku tadi, Vin" kata Dinda perlahan.
Sementara Vino tertegun mendengar siapa yang meneleponnya, ia sama sekali tidak menyangka Dinda akan menghubunginya, setelah apa yang dilakukannya tadi.
"Nggakk Din, jangan minta maaf! Seharusnya aku lah yang harus memohon maaf padamu. Aku telah menyakiti hatimu," jawab Vino cepat.
Hatinya begitu gembira menerima telepon dari Dinda.
"Tapi aku benar-benar nggak pernah berniat untuk bersama Mas Rio. Awalnya aku diculik oleh Mas Rio. Sampai aku ingin pulang ke tempat tinggalku sendiri. Tapi rupanya Mas Ardi kabur saat penangkapan, jadi aku harus tetap tinggal di rumah Mas Rio untuk sementara," jelas Dinda.
Entah kenapa dia merasa harus menjelaskannya pada Vino dan tidak ingin laki-laki itu salah paham padanya.
"Iya Din, aku tau. Aku sudah tau semuanya dari awal. Aku tau bahwa kamu diculik Mas Rio. Aku bahkan datang ke sana untuk membawamu kembali, tapi aku ditahan sama penjaga" kata Vino.
Oh ternyata Vino memang datang untuk menemui ku di hari itu, bahkan dia ingin menjemput aku, pikir Dinda senang.
"Aku juga tau kamu nggak ada hubungan apa-apa sama Rio, aku bahkan nggak berhak marah walaupun kamu punya hubungan dengannya, tapi hatiku sangat cemburu melihatmu bersamanya," kata Vino.
"Sampai tanpa sadar aku meminum alkohol yang tak pernah aku cicipi seumur hidupku. Sehingga aku kehilangan akal sehat sampai menghinamu," sambungnya dengan rasa bersalah yang dalam.
"Ya udah, aku memang terluka dengan sikapmu, aku bahkan gak pernah mendapat hinaan seperti itu sebelumnya" kata Dinda sengaja ingin menggoda Vino.
"Maafkan aku Din, aku benar-benar minta maaf. Kamu tau, aku trauma dengan wanita yang jahat, jadi..."
"Oh jadi menurutmu aku wanita yang jahat, begitu?" potong Dinda kesal.
"Nggak Din, bukan begitu maksudku," jawab Vino cepat. Ia begitu panik dan takut terjadi kesalahpahaman lagi.
"Aku merasa kamu jahat padaku karena telah membuatku cemburu. Mungkin karena kamu satu-satunya wanita yang pertama kali membuatku berani untuk jatuh cinta, jadi aku merasa sangat kecewa kalo kamu bersama orang lain," jelas Vino.
__ADS_1
"Jadi menurutmu aku harus memaafkanmu?" goda Dinda lagi saat mendengar suara Vino yang terdengar panik.
"Ya, tolong maafkan aku," sahut Vino tulus.
"Oke, aku akan memaafkanmu dengan satu syarat," kata Dinda.
"Apa syaratnya?" tanya Vino cepat.
"Wah cepat banget jawabnya, seolah kamu sanggup ngelakuin apa aja," jawab Dinda.
"Aku akan berusaha untuk bisa ngelakuin apa aja buat kamu"
"Baiklah, aku akan membuktikan gombalan kamu," jawab Dinda sambil tersenyum.
"Aku ingin kamu jemput aku lagi," sambungnya.
Vino tersenyum senang mendengar syarat Dinda.
Tentu saja dia akan menjemput Dinda kembali walaupun tanpa diminta.
"Oke, aku akan menjemputmu malam ini juga," jawab Vino sumringah.
"Tapi bagaimana dengan Mas Rio? Aku tidak ingin menyakiti perasaannya," kata Dinda ragu.
"Tapi ini adalah hidupmu Din, kamu bebas untuk memilih ingin bersama siapa," kata Vino.
Di ruangan pribadinya, perlahan Rio melepaskan headset dari telinga nya.
Tangannya mengepal dan meremas alat penyadap di tangannya.
Dia sengaja memasang penyadap buat berjaga-jaga kalau Vino menelepon Dinda untuk merayunya.
Namun ia sama sekali tidak menyangka malah akan mendengar Dinda yang menyuruh Vino menjemputnya.
Wanita ini sama sekali tidak menghargai usahaku, geramnya marah.
Lalu Rio menelepon pemimpin penjaga yang bekerja padanya.
"Ketatkan penjagaan untuk malam ini" , perintahnya.
Ia tidak akan membiarkan Vino dan Dinda meremehkannya.
*B*agaimanapun caranya, Dinda akan menjadi milikku," pikirnya.
****
"Bambang, aku butuh bantuanmu.
Bawa beberapa orang anak buah kepercayaanmu, kita akan menggerebek sebuah rumah!" perintah Vino pada asistennya.
__ADS_1
Begitu sampai di sana, Vino dan anak buahnya langsung menggebrak pintu gerbang depan rumah Rio.
Namun penjaga di sana juga sudah bersiap menghadapi penerobosan itu.
Disaat anak buahnya sedang melawan para penjaga, Vino langsung masuk ke dalam rumah.
Dan ternyata Rio sudah menunggu kedatangannya.
"Akhirnya kau menunjukkan sampai dimana kualitasmu. Kau memang kacang yang lupa akan kulitnya.
Kau ingin melawan orang yang sudah memberimu kehidupan demi seorang wanita," kata Rio sinis.
"Kamu salah Yo, aku memang tidak akan merelakan Dinda untukmu. Tapi aku juga nggak akan pernah melawan kamu," jawab Vino.
"Lalu buat apa kamu ke sini?"
"Aku akan membawa Dinda kembali ke rumahku," jawab Vino
"Kau boleh menahanku bahkan memukulku juga. Tapi aku nggak akan berhenti untuk membawa Dinda kembali bersamaku"
"Baiklah kalau itu maumu. Aku juga tidak ingin memukulmu, aku cuma mau memberi pelajaran pada seorang adik angkat yang nggak tau berterimakasih," kata Rio sinis.
Lalu Rio mengambil tongkat Golf nya dan mengayunkan ke lengan Vino, Vino meringis sakit, namun ia tetap berusaha melangkah maju ke tangga dan menuju ke atas. Tapi Rio kembali menghadangnya, dan mengayunkan tongkatnya ke perut Vino sampai Vino terguling ke bawah.
Dinda yang mendengar suara riuh di tangga langsung membuka pintu kamarnya. Namun ternyata pintunya telah terkunci dari luar.
Dinda menggedor pintunya.
"Mas, tolong di buka pintunya, jangan kunci aku seperti ini!" teriaknya.
Tapi tidak ada jawaban. Dia kembali menggedor-gedor pintunya lebih kencang.
"Mas Rio! kamu bilang kamu tidak menyekapku, tapi kenapa kamu mengunci pintu kamarku?" teriaknya lagi.
Namun tiba-tiba ia mendengar suara orang yang berteriak dari arah tangga di dekat kamarnya.
Itu seperti suara Vino, dia kenapa? Apa dia berkelahi dengan Mas Rio? gumamnya.
Sementara Vino dengan tubuh yang penuh lebam dan disudut bibirnya tampak darah segar mengalir, tampak terus berusaha melangkah.
Rio semakin berang melihat kegigihan Vino. Ia mengayunkan kembali tongkatnya ke arah kaki Vino.
"Aaakkhhh..." Teriak Vino saat tongkat itu mengenai tulang rawannya dengan sangat keras, dan tubuhnya pun terjatuh.
Namun tiba-tiba sebuah suara terdengar berteriak keras.
"Hentikan Mas Rio!"
Rio terkejut dan menghentikan pukulannya.
__ADS_1