
Dinda keluar dengan membawa nampan berisi minuman dan buah, lalu ia meletakkan nya di meja taman.
Arka yang melihat ibunya datang, langsung berlari mendekat. Keringat mengalir di dahinya, saking asiknya ia main lari-larian.
"Wah, sampai keringetan gini anak Mama" ujar Dinda sambil mengambil tisu dan mengelap keringat Arka.
Vino berjalan mendekat dan duduk di samping Dinda, lalu merangkul bahunya. Dinda jadi merona sendiri melirik tangan putih namun berotot, dengan jari-jarinya yang panjang itu nangkring di bahunya.
"Papa juga mau dilap keringat nya Ma," ujar Vino sambil mendekatkan wajahnya.
"Ah kamu, nggak ada keringatnya juga" sanggah Dinda sambil mencubit paha Vino pelan.
Vino terkekeh senang. Lalu mengambil sepotong buah.
"Buka mulutnya sayang, aku suapin" kata Vino sambil menyodorkan buah kepada Dinda.
Dinda menoleh dan hendak membuka mulutnya, namun tiba-tiba saja Vino malah menyodorkan buah itu kepada Arka.
"wah Mama telat, jadinya pesawatnya meluncur ke Arka deh, Makan sayang" kata Vino sambil menyuapi buah itu ke dalam mulut Arka.
Arka langsung memakannya sambil tersenyum senang.
Dinda bersungut sambil memanyunkan bibirnya, karena merasa dipermainkan Vino.
Vino yang melihat reaksi Dinda langsung merasa gemas.
Setelah minum Arka pun kembali berlarian di taman, ia begitu menyukai taman itu.
Vino yang merasa jadi bisa leluasa menggoda Dinda menggigit sepotong buah dan menarik kepala Dinda sampai berada di hadapan wajahnya, perlahan ia mendekatkan mulutnya ke mulut Dinda, dan menyuapi buah itu dengan mulutnya. Bibir mereka bertemu, bahkan Dinda bisa merasakan basah dan hangat bibir Vino yang bersentuhan dengan bibirnya.
Sontak Dinda kaget, dan memelototi Vino dengan wajah yang merona.
Ia kembali mencubit pinggang Fino pelan.
Vino berkelit karena geli dan terkekeh.
"Ih Vino, kalo ada yang liat gimana? Malu tau!" Ujar Dinda.
"Biarin aja, orang juga tau kita pengantin baru. Yang gak boleh liat itu Arka, karena ini adegan khusus orang dewasa," ujar Vino sambil mengeratkan pelukannya di pundak Dinda.
Perlahan ia memberikan kecupan hangat di pipinya Dinda. Vino memang sengaja ingin membuat Dinda deg-degan, karena jantungnya sendiri selalu berdetak kencang saat bersentuhan dengan Dinda.
Dinda tersenyum senang mendapat kecupan hangat itu.
"Vin, ada yang mau aku omongin nih," ujar Dinda, sambil sesekali melihat Arka yang sedang asik menendang bola.
__ADS_1
"Mau nanya apa?"
"Ini masalah tempat tinggal. Tadi Mama ngomong ke aku, katanya Mama mau kita tinggal di sini" cerita Dinda.
"Oh, terus?"
"Kalo menurut kamu gimana?"
"Kalo aku sih terserah kamu. Kalo kamu maunya tinggal di mana?" jawab Vino lembut.
Dinda terdiam sejenak. Ia ragu harus membuat keputusan apa
"Kalo aku sih sebenarnya kepikiran juga sama toko kue dan rumah ku yang kosong. Tapi aku lebih kasian sama Mama" jawab Dinda.
Vino tersenyum, ia senang Dinda memperhatikan Mama nya.
"Kalo aku, yang penting kamu nyaman. Mau tinggal di mana aja boleh, yang penting aku bisa terus bersama kamu," ujar Vino, lalu mengecup lembut puncak kepala istrinya.
Sehingga membuat Dinda refleks menyandarkan kepalanya di bahu Vino.
"Sayang?" panggil Vino.
"Hmm?"
"Rasanya kamu belum pernah ngucapin cinta ke aku?" kata Vino.
"Iya, beneran. Aku mau dengar sekarang dong, ungkapan cinta kamu. Jangan-jangan kamu gak cinta sama aku," kata Vino, ia memegang kedua bahu Dinda dan menatap matanya.
"Ah, kamu dari tadi cuma mau buat aku malu," ujar Dinda sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Vino kembali tersenyum melihat ekspresi malu Dinda.
Namun tiba-tiba suara ponsel Vino berbunyi.
Vino merogoh sakunya.
"Aish... Siapa sih yang nelfon, gangguin banget," ujar Vino, lalu melihat layar ponselnya. Sementara Dinda perlahan membuka wajahnya dan melihat kembali ke arah Arka dengan menahan senyum, karena melihat kekesalan Vino saat menerima telpon.
Setelah selesai menerima telepon yang ternyata dari sekretaris nya, Vino menatap Dinda dengan pandangan meminta maaf.
"Maaf ya sayang. Ada sesuatu yang mendesak di kantor, jadi aku akan memeriksa nya sebentar. Tapi aku nggak ke kantor kok, aku udah nyuruh sekretaris ku untuk mengirim file nya ke email ku"
"Iya, nggak apa-apa" jawab Dinda sambil tersenyum.
"Ya udah, aku masuk sebentar ya," ujar Vino sambil bangkit berdiri.
__ADS_1
Dinda mengangguk dan tersenyum.
Dengan malas, Vino pun akhirnya masuk ke dalam rumahnya, setelah mengecup kening Dinda. Rasanya ia tak mau berjauhan dengan istrinya itu.
Setelah Vino masuk, Dinda kembali memantau Arka. Anak kecil itu sekarang mulai bermain di barisan tanaman bunga untuk menangkap kupu-kupu yang berterbangan di sekitar bunga.
Namun karena tanaman bunga itu letaknya bersebelahan dengan jalan yang biasanya di masuki mobil pemilik rumah, Dinda menjadi khawatir kalau-kalau ada mobil yang masuk.
Dan kekhawatiran Dinda pun terjadi, insting seorang ibu tak pernah salah.
Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah, dan Arka berlari ke arah sana untuk mengejar kupu-kupu.
Dinda langsung bangkit untuk mengejar anaknya. Sekuat tenaga ia berlari, namun karena merasa tak terkejar lagi, Dinda pun berteriak.
"Stop!"
Alhasil mobil itu pun berhenti, begitu juga dengan Arka, yang langsung berhenti saat mendengar teriakan Mamanya.
Dinda yang berlari kalang kabut, tidak memperhatikan jalanan di depannya. Sehingga ia pun tersandung batu yang cukup besar, dan ia terjatuh.
"Aukh!" teriaknya kesakitan saat lututnya menghantam batu.
Dinda merasa sangat kesakitan.
Dari dalam mobil itu keluar Rio dengan wajah panik. Ia mendekati Arka yang sedang bengong mendengar teriakkan Mamanya.
Beberapa orang asisten yang berada di sekitar mereka juga ikut berdatangan.
"Arka gak apa-apa kan?" tanya Rio, sambil memeriksa keadaan Arka.
"Tolong bawa masuk Arka ke dalam!" perintah Rio pada para asisten. Lalu ia langsung berlari ke arah Dinda yang masih meringkuk kesakitan.
Tanpa aba-aba Rio langsung mengangkat tubuh Dinda dengan kedua tangan kekarnya.
Dinda yang sedang kesakitan, tidak bisa berpikir apa-apa. Ia hanya bisa pasrah sambil menahan rasa sakitnya.
"Kamu tahan dulu ya Din, aku bawa kamu masuk ke dalam biar bisa diobati" ujar Rio dengan wajah khawatir.
Dinda tidak menjawab apa-apa, rasa sakitnya membuat lidahnya kelu.
Nyonya Aditya yang mengetahui keadaan Dinda dari asisten yang membawa Arka masuk, langsung menyongsong Dinda dengan wajah panik.
"Duh, cepat bawa Dinda ke dalam Rio" serunya panik.
Rio terus berjalan masuk menuju ruang keluarga sambil membopong tubuh Dinda. Ia bermaksud hendak meletakkan Dinda di sofa.
__ADS_1
Sementara di tangga terlihat Vino yang sedang sedang turun dari lantai atas sambil membawa laptop. Matanya langsung terbelalak menatap istrinya sedang digendong Rio.