Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Kecelakaan


__ADS_3

Setelah mendapatkan paket misterius itu, Dinda pun menelepon Nyonya Aditya untuk mengucapkan terimakasih, karena ia mengira paket itu adalah hadiah yang diberikan mertuanya itu untuk anaknya.


"Halo Ma. Kami mau ngucapin terima kasih Ma, atas mainan yang Mama kirimkan," ucap Dinda.


Untuk sesaat tidak terdengar jawaban apa-apa dari seberang, lalu...


"Mainan apa maksud kamu Nak?" tanya Nyonya Aditya kemudian.


"Mainan buat Arka dan calon adiknya yang Mama kirimkan barusan," ujar Dinda.


"Mama nggak ngirim apa-apa kok Din, Emangnya ada yang ngirim mainan buat Arka?" tanya Nyonya Aditya.


"Ya Ma, kami pikir itu dari Mama, soalnya di dalam paketnya itu tertulis mainan untuk cucuku," jelas Dinda.


Vino tampak bingung mendengar perkataan Dinda, namun ia tidak ingin menyela pembicaraan istrinya dengan Mama nya itu.


"Apakah mungkin paket itu dari...," sesaat ucapan Nyonya Aditya terputus, kemudian ia kembali bertanya dengan suara cemas, "apa Vino ada dekat mu?"


"Ada Ma? Apa Mama mau bicara dengannya?"


"Tidak, bahkan Mama tidak ingin Vino mendengar omongan kita,"


Dinda mengerutkan keningnya, namun dengan cepat ia memahami perkataan mertuanya. Ia menatap Vino sesaat, lalu bangkit dari duduknya.


"Vin, disini agak bising dengan suara TV nya, aku nelepon Mama di teras aja dulu ya," kata Dinda mencari alasan.


"Oke," ujar Vino mengangguk.


Dinda pun segera menuju ke teras rumah nya, lalu menempelkan kembali ponsel ke telinganya.


"Halo Ma, aku udah nggak di dekatnya Vino ini. Mama tadi mau bilang apa?"


"Mama nggak mengirimkan mainan itu Din. Dan tadi kamu bilang di dalam paketnya tertulis bahwa mainan itu untuk cucuku. Mama pikir mainan itu mungkin dari Ibu kandung nya Vino," ujar Nyonya Aditya.


Tampak Dinda tersentak kaget mendengar perkataan mertuanya itu, karena tadinya saat Nyonya Aditya mengatakan bahwa bukan dia mengirimkan paket itu, Dinda masih berpikir mungkin paket itu dikirimkan oleh Pak Aditya, Papa mertuanya.


"Jadi paket itu dikirimkan oleh Ibu kandungnya Vino, Ma?"


"Iya, mungkin saja. Itu hanya perkiraan Mama. Jadi Mama mau kamu merahasiakannya dulu dari Vino. Karena kalau dia tahu, dia pasti tidak akan menerimanya. Namun bagaimanapun, mainan itu diberikan oleh Nenek dari anak kalian. Jadi suka atau tidak suka, kalian harus menerimanya," ujar Nyonya Aditya.


Dinda menghela nafasnya perlahan, ia memang tidak menyukai Ibu kandungnya Vino itu, karena sejak kecil telah tertanam dalam hatinya, bahwa wanita itu adalah orang yang telah merebut papanya dulu.


Namun yang dikatakan oleh Nyonya Aditya benar juga, bagaimanapun wanita itu adalah Nenek dari anak yang sedang dikandungnya.


"Baiklah Ma, Dinda akan merahasiakannya dari Vino," jawab Dinda kemudian.


Sementara Vino sedang asyik menunjukkan mainan yang baru saja datang dari paket itu kepada Arka, sambil menunggu Dinda selesai menelepon.


Sesaat kemudian, Dinda pun masuk ke dalam dengan senyumannya.


"Gimana Sayang? Kok tadi aku dengar Mama bilang bukan dia yang ngirim paketnya? Pasti Papa yang ngirim kan?" tanya Vino begitu Dinda duduk disampingnya.


"Iya Sayang, Papa yang mengirimnya. Arka Sayang, kamu suka nggak sama mainannya? Kalau mainan yang kecil-kecil ini, kita simpan buat adiknya Arka ya," kata Dinda. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan nya, karena sesungguhnya ia merasa tidak nyaman karena harus berbohong kepada Vino.


"Kok buat adik Arka? Emangnya Arka punya adik Mah?" tanya Arka bingung.


"Kalau sekarang sih belum ada Sayang. Tapi rencananya Mama mau belikan Adik buat Arka. Arka mau nggak, punya Adik?"


Seketika raut wajah Arka langsung berubah senang sambil tersenyum lebar.


"Mau dong Mah. Arka pengen banget punya Adik kayak temen-temen Arka, jadinya nanti bisa main sama Adik sendiri," jawabnya.


"Arka pengennya punya Adik perempuan atau laki-laki?" tanya Vino sambil tersenyum melihat reaksi Arka.


"Arka pengen punya Adik perempuan, biar nanti Arka bisa jagain adek sebagai Abang."

__ADS_1


"Wah, anak Mama udah gede rupanya udah mau jadi pelindung buat adiknya," timpal Dinda sambil mengusap kepala anaknya.


"Iya dong Mah, kan Arka sekarang udah Sekolah SD," jawab Arka sambil membusungkan dadanya, membuat Mama dan papanya tertawa melihat tingkahnya.


"Besok kita akan daftarin kamu ke Sekolah SD ya, sambil beli peralatan Sekolah baru buat Arka," ujar Vino.


"Emangnya kamu nggak kerja Vin? Kan hari ini kamu juga nggak kerja, masa harus libur terus," kata Dinda.


"Aku libur lagi dong, masa harus membiarkan istri yang sedang hamil muda daftarin sekolah anaknya sendirian. Aku kan harus jagain kamu. Papa nggak akan marah kok, malah Papa akan marah kalau aku biarin kamu pergi sendiri," jawab Vino.


"Oke deh kalo gitu. Besok kita bersama akan pergi mendaftarkan jagoan Mama ini di sekolah baru," ucap Dinda sambil memeluk anaknya.


"Horeee," sorak Arka dalam pelukan Mamanya.


"Lho, kok Arka doang yang dipeluk? Papa juga mau dong," kata Vino dengan nada manja.


"Ih, Papa udah gede, jadi nggak muat lagi dalam pelukan Mama," ujar Dinda.


"Ya udah, kalo Papa nggak muat dalam pelukan Mama, biar Papa aja yang meluk Mama, sama Arka sekaligus. Soalnya dada Papa lebar nih," jawab Vino sambil membusungkan dada dan merentangkan tangannya.


"Wah, dada Papa emang lebar ya Arka, mirip sama raksasa. Mama jadi takut nih, kita lari yuk Arka," ajak Dinda sambil menarik tangan anaknya.


Dan akhirnya terciptalah drama kejar-kejaran dengan raksasa tampan yang begitu mencintai keluarga nya itu.


Setelah lelah main kejar-kejaran, mereka pun menemani Arka tidur seperti biasanya. Dan Vino tentu saja mendapatkan jatah untuk membacakan Arka dongeng, dan cowok tampan yang berpangkat CEO di perusahaan nya itu menjalankan tugas barunya dengan senang hati.


*****


Pagi hari menjelang, Dinda pun bangun dari tidurnya. Ia bingung karena tidak mendapati Vino di sampingnya.


Apa mungkin Vino sedang di kamar mandi? Pikirnya.


Perlahan Dinda bangkit dari tempat tidur, dan beranjak ke cermin untuk menyisir rambutnya. Namun setelah Dinda menyisir rambutnya, Vino tak kunjung juga keluar dari kamar mandi.


Dinda pun memutuskan untuk langsung keluar menuju ke dapurnya, karena hari ini ia harus bersiap-siap untuk mendaftarkan Arka di Sekolah SD.


Ada rasa deg-deg serr yang menyusup ke dalam hatinya, ketika mengingat laki-laki yang sejak dulu menjadi idaman wanita itu, kini berada di dapurnya untuk memasak dengan memakai celemek yang biasa ia pakai sehari-hari.


Rasanya begitu menyenangkan, karena laki-laki itu kini telah menjadi miliknya, dan ia pun menjadi milik laki-laki idamannya itu. Membuatnya tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum, mesem-mesem sendiri.


Dinda masih memperhatikan Vino. Tangan Vino yang putih dengan jari-jarinya yang panjang namun berotot itu dengan terampil memotong tomat di atas telenan.


Tanpa sadar Dinda berjalan mendekat, dan memeluk Vino dari belakang. Vino tampak terkejut mendapati tangan lembut Dinda melingkar di pinggang nya.


"Jangan bergerak dulu Sayang, aku ingin memeluk mu sebentar," kata Dinda sambil mengeratkan pelukannya. Wangi tubuh Vino begitu menenangkan, hangatnya tubuh Vino membuat Dinda merasa nyaman. Ia menempelkan hidungnya di punggung Vino yang saat itu memakai kaos berwarna biru dan menghirup aroma tubuh jangkung itu dalam-dalam.


"Hmmmph... aku sangat menyukai aroma tubuh mu Vin" bisik Dinda.


Entah kenapa, baru-baru ini ia sangat suka menempel pada Vino.


"Sayang, aku lihat selama kehamilan kamu, kamu itu selalu ingin nempel padaku. Apa ini efek kehamilan kamu?" tanya Vino sambil menahan rasa geli saat Dinda menempelkan hidung di punggungnya.


"Efek? Emangnya obat, ada efeknya. Kalo kehamilan, namanya bawaan Sayang. Aku juga nggak tau, apa ini bawaan atau memang aku udah jadi budak cinta nya kamu," jawab Dinda dengan suara manja.


Vino tersenyum mendengar jawaban Dinda. Namun ia kembali harus menahan geli saat Dinda menggesek-gesekan hidung di punggungnya.


"Sayang, kalo kamu gini terus aku jadi nggak bisa nahan lho."


"Nahan apa Sayang? Kamu geli ya?" tanya Dinda.


"Iya, geli. Lama-lama jadi ngilu, terus merambat ke nafsu," jawab Vino sambil membalikkan badannya dan tersenyum menatap istrinya yang sekarang berubah manja itu.


Lalu tanpa aba-aba ia mengangkat tubuh Dinda dan mendudukkannya di atas meja makan. Sementara Dinda sedikit kaget, namun ia tak berontak sama sekali.


"Apa kamu mau coba di sini?" tanya Vino dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Kamu nakal ih," kata Dinda sambil mencubit pinggang Vino pelan.


"Mama tuh yang nakal, masa duduk di atas meja?"


Tiba-tiba suara kecil dan imut mengejutkan mereka. Serentak mereka menatap ke arah pintu dapur. Dan ternyata Arka telah berdiri di sana sambil menatap mamanya dengan tatapan menegur.


"Lho Arka, kok tumben cepat bangun?" tanya Dinda dengan wajah yang memerah karena malu, walaupun ia tau bahwa Arka tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Perlahan ia turun dari meja dan menghampiri anaknya.


"Arka kan mau daftar Sekolah SD Ma, jadi harus cepat bangun. Soalnya Arka udah nggak sabar," jawab Arka.


"Oh iya. Ya udah, ayo kita bantu Papa masak, biar bisa cepat berangkat," ajak Dinda.


"Wah, memangnya Papa bisa masak Ma? Kan Papa Ardi bilang laki-laki nggak boleh masak, karena itu tugasnya Mama" ujar Arka polos.


Vino berjalan menghampiri dan berjongkok di depan Arka.


"Kita sebagai keluarga harus saling membantu. Orang lain saja kita bantu, masa keluarga sendiri kita abaikan.


Jadi selama kita ada di rumah, kita nggak boleh biarkan Mama kerja sendiri, benarkan Sayang?" tanya Vino sambil memegang tangan Arka.


"Iya ya Pa. Arka juga mikir begitu," jawab Arka dengan gaya imutnya, yang membuat Dinda dan Vino tersenyum melihat nya.


*****


Setelah bersiap-siap, mereka pun langsung berangkat. Mobil hitam Vino melaju mulus di jalanan.


"Seragam nya disediakan sama Sekolah nya nggak?" tanya Vino sambil mengemudi.


"Kayaknya iya, kita sekalian bayar sama uang pendaftaran nya," jawab Dinda.


"Oh gitu," ujar Vino. Ekor matanya menatap spion berkali-kali, karena ia merasa ada sebuah mobil yang terlihat seperti mengikuti mobil mereka sejak keluar dari gang rumah nya Dinda tadi.


Namun kemudian perhatian Vino teralihkan saat Arka bertanya dengan nada tak sabar.


"Kita udah mau sampai belum Pa?"


"Udah Sayang, itu gedung sekolahnya udah kelihatan di seberang kanan jalan, tapi kita harus mutar jalan dulu," ujar Vino.


"Yaah lama lagi dong, Arka mau cepat sampai Ma, kita jalan kaki aja yuk, biar bisa langsung nyebrang," rengek Arka tak sabar.


"Ya udah deh," jawab Dinda menyerah dengan rengekan anaknya.


"Kami turun di sini aja Vin, biar bisa langsung nyebrang. Nanti aku tunggu kamu di sana ya," ujar Dinda sambil menoleh kearah Vino.


"Baiklah, aku pinggirkan mobilnya dulu. Kalian nyebrang nya hati-hati ya," ujar Vino sambil memutar setir mobilnya.


"Oke," jawab Dinda. Lalu ia dan Arka pun turun dari mobil.


Dinda berdiri sejenak menunggu mobil Vino melaju kembali.


Kemudian ia menggenggam tangan anaknya dan mengajaknya menyebrang.


Tiba-tiba saja dari arah samping kanannya sebuah mobil berwarna putih melaju dengan cepat ke arahnya.


Dinda merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak. Begitu juga dengan kakinya, langsung terasa kaku dan berat. Refleks tangannya menarik Arka kedalam pelukannya sambil menutup mata.


Sedetik kemudian, Dinda merasakan sebuah dorongan yang begitu kuat dipunggung nya, saking kencangnya dorongan itu sehingga membuat punggungnya terasa sakit. Lalu tubuhnya pun terlempar dan jatuh dengan Arka dalam pelukan nya.


GBBRRAAAKKK!!!


Suara tabrakan berbunyi kencang di belakang Dinda.


Deciiiiiiitttt!!!! Vino tiba-tiba saja menekan rem tanpa sengaja. Entah kenapa dadanya terasa sakit dengan tiba-tiba.


Bersambung...

__ADS_1


Hai guys... Maaf ya sekarang hanya bisa up dua hari sekali. Tapi isi bab nya aku banyakin, biar kalian puas bacanya. Soalnya aku lagi gencar promo nih, biar banyak yang tahu karyaku.


Kalau boleh, aku mau minta bantuan kalian buat promosiin novel PENCULIK CINTA ini ya... Love you all...


__ADS_2