
Dinda memasukkan kotak paketnya ke dalam kamar, dan membuka paket yang tadi sore dipesannya itu. Dinda membeli bahan-bahan untuk mendekorasi kamarnya buat menghibur Vino.
Setelah melihat sikap Vino, kini ia mengerti bahwa sebagai laki-laki yang baru pertama kali menikah, Vino membutuhkan perhatian dan keromantisan darinya.
Namun berbeda dengan Dinda, ia sudah lama menjalani hidup dalam sebuah pernikahan, apalagi setelah memiliki anak, kehidupan pernikahannya telah jauh dari hal-hal yang romantis. Sehingga ia menjadi kurang peka dengan sikap Vino.
Dinda mengeluarkan beberapa buah lilin, dan huruf-huruf cetakan yang bertuliskan I LOVE YOU untuk menyatakan cintanya.
Kemudian ia membuka paket lainnya yang berisi bunga mawar segar.
Lalu ia menggantung huruf-huruf itu di dinding kamar tepat di atas sandaran ranjangnya dan ia menata letak lilinnya. Dia juga mengganti sprei nya dengan yang berwarna putih, sehingga terlihat begitu kontras dengan warna merah kelopak mawar segar yang kemudian ia taburkan diatasnya.
Setelah selesai mendekorasi kamar, Dinda pun segera keluar. Ia memang sengaja tidak menyalakan dulu lilinnya, untuk menghindari kebakaran.
Begitu sampai di luar, Dinda melihat Vino sedang bermain dengan Arka di ruang keluarga.
Aku harus menidurkan Arka sekarang. Sebelum Vino masuk ke dalam kamar, aku harus sudah di sana menunggunya.
Lalu Dinda berjalan mendekati anak dan suaminya itu.
"Arka masuk kamar yuk, biar Mama temenin tidur!" ajak Dinda.
"Ayuk Ma," jawab Arka.
Vino melirik kearah Dinda. Sementara Dinda yang melihat lirikan itu tak dapat menahan untuk tersenyum. Ia tau sebenarnya Vino menunggu untuk dibujuk dan diperhatikan.
Sungguh lucu melihat laki-laki tampan yang menjadi impian setiap wanita itu bersikap seperti itu. Rasa senang dan deg-degan menghiasi hati Dinda karena kini laki-laki tampan itu mengharap perhatian darinya seperti budak cinta.
"Sayang!" panggil Dinda.
__ADS_1
Namun Vino tidak menoleh, karena ia berpikir Dinda memanggil sayang untuk anaknya.
"Sayang!"
Kali ini Vino refleks menoleh, karena Dinda mengulangi panggilan nya. Ia melihat Dinda sedang menatap ke arah nya sambil tersenyum. Vino pun terperangah.
"Aku panggil kamu kok, Sayang. Kamu tunggu aku tidurkan Arka dulu ya. Jangan masuk ke kamar dulu. Nanti kita masuk bersama," kata Dinda sambil melayangkan senyuman nakal.
Vino semakin terperangah, dan tak bisa menjawab apa-apa. Sampai Dinda berbalik, Vino masih melongo menatap istrinya yang kini telah berjalan menaiki tangga sambil menggendong Arka.
Ini panggilan sayang dari Dinda yang pertama kali. Dan ia merasakan tubuhnya kini sedang terangkat ke udara dan melayang tinggi. Sungguh ia telah jatuh ke dalam lautan cinta nya terlalu dalam. Sehingga ia merasa tergila-gila pada wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Ia terus menatap sosok Dinda sampai pandangan nya tidak dapat menjangkau nya lagi.
Sesaat kemudian ponsel di saku celana santai nya itu bergetar, menyentak Vino yang masih terpaku bengong.
Ia mengambil ponselnya, dan melihat ternyata pesan dari Dinda.
Seketika Vino tersenyum-senyum sendiri, namun senyumnya ia tahan-tahan sambil menunduk malu. Seolah ada orang yang sedang menggodanya dengan kata-kata 'ciyeeee'.
Ia berjalan mondar-mandir sambil mengusap rambutnya. Berulangkali ia melihat ke atas, berharap Dinda telah datang untuk mengajaknya menuju ke kamar bersama. Padahal baru dua menit yang lalu Dinda menghilang dari pandangannya.
Lalu seperti orang bodoh Vino melihat ponselnya.
Mungkin saja Dinda memberitahuku melalui pesan, atau bahkan ia telah menunggu di kamar, batin Vino. Padahal ia tau Dinda tak mungkin keluar terlalu cepat dari kamar Arka.
Setelah melihat ponselnya yang tidak menerima pesan apapun, Vino kembali mondar-mandir.
Sementara di dalam kamar Arka, Dinda juga terus tersenyum mengingat ekspresi Vino saat mendengar ia memanggil nya sayang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Arka pun tertidur. Setelah memastikan anaknya telah benar-benar terlelap, Dinda pun keluar dari kamar Arka dan masuk kedalam kamar nya untuk menyalakan lilin terlebih dahulu sebelum memanggil Vino.
Kemudian ia segera turun ke bawah untuk memanggil Vino. Ia melihat Vino yang terus menatapnya menuruni tangga. Dinda pun merasa salah tingkah. Begitu juga dengan Vino, ia terlihat menunggu dengan tingkah serba salah pula.
Begitu sampai di depan Vino, Dinda tampak melihat ke samping kanan dan kiri nya untuk memastikan tidak ada orang yang melihat mereka. Memang saat itu mertuanya sudah masuk ke dalam kamar mereka. Begitu pula dengan asisten-asistennya, mereka juga sudah beristirahat di dalam kamar mereka.
Begitu sampai di dalam, Vino langsung terperangah menatap kamarnya yang telah terhias dengan lilin dan kelopak bunga, mengundang suasana romantis.
Ia benar-benar tidak menyangka Dinda telah mempersiapkan itu semua untuknya.
Apalagi setelah matanya menatap huruf-huruf yang terpasang di dinding, yang bertuliskan kata I Love You.
Dinda menggenggam kedua tangan suaminya sambil menatap mata Vino dalam-dalam.
"Aku mencintaimu Vino Aditya, aku berjanji akan selalu setia mencintaimu,"
kata Dinda sambil tersenyum lembut, senyum yang mengandung kebahagiaan.
Vino menatap istrinya takjub, ia menggenggam tangan Dinda lebih erat. Ia benar-benar bahagia, sampai tak bisa menahan luapan di dadanya.
"Aku juga mencintaimu Dinda Kirana. Dan aku juga berjanji akan selalu setia mencintaimu dan membahagiakanmu," jawab Vino sambil membalas senyum Dinda.
Namun tiba-tiba ada rasa eneg yang menghinggapi kerongkongan nya. Ia kembali membuka matanya sambil mengerutkan keningnya.
Vino yang melihat perubahan ekspresi Dinda pun langsung bertanya.
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Nggak tau nih Sayang, tiba-tiba merasa mual," jawab Dinda.
__ADS_1
Bersambung...