Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Aksi Jeslyn Part 2


__ADS_3

Jeslyn melihat Dinda yang berjalan mendekat sambil menatap nya dengan Vino. Dengan cepat Jeslyn melangkah maju dan memeluk Vino.


"Terimakasih Mas. Aku akan mengirimkan surat lamaran ku," ujar Jeslyn dengan suara manja dan melirik ke arah Dinda.


Langkah lemah Dinda langsung terhenti melihat suaminya dalam pelukan wanita lain.


Sedangkan Vino terkejut mendapati Jeslyn yang memeluknya tiba-tiba, reflek tangannya langsung mendorong tubuh gadis itu menjauh darinya.


Seketika Ia pun marah kepada gadis yang yang bergegalat nakal itu.


"Hei! Jangan sembarangan memeluk orang ya, berani sekali kamu!" seru Vino marah sambil menatap Jeslyn dengan tatapan kesal dan jijik.


"Auuch!" teriak Jeslyn saat tubuhnya membentur badan mobil Vino ketika Vino mendorongnya.


Dinda yang melihat kejadian di depan matanya itu langsung mendekati suaminya, ia menyentuh pundak Vino perlahan.


"Vin, ada apa ini?" tanya Dinda.


Vino menoleh dan mendapati istrinya berada di belakangnya. Wajahnya kembali berubah lembut dan menatap Dinda penuh kasih sayang.


"Sayang, kenapa kamu keluar? Kamu kan masih lemah," jawab Vino sambil memegang kedua pundak istrinya.


"Aku sudah tidak apa-apa Vin, tadinya aku cuma mau lihat kamu kenapa kamu belum berangkat, tapi aku melihat kamu bersama dengan adiknya Lara. Sebenarnya ada apa Vin? Kenapa dia memeluk kamu?" tanya Dinda heran. Namun tidak ada nada curiga sama sekali dalam pertanyaan Dinda, karena ia sudah melihat sendiri saat Vino mendorong Jeslyn ketika gadis itu memeluknya.


"Aku juga nggak tahu nih Sayang, tadi katanya dia mau melamar kerja di perusahaan ku, eh tiba-tiba langsung meluk sembarangan," jawab Vino.


Dinda menatap kearah Jaslyn dengan tatapan tajam, sementara yang ditatap langsung berdiri tegak dan berjalan menghampiri Vino sambil memasang wajah bersalah.


"Maaf Mas Vino, aku nggak sengaja. Soalnya sejak kecil aku sudah terbiasa memeluk untuk mengucapkan terimakasih. Aku lupa, kalau di sini tidak biasa seperti itu."


Vino menghela nafas, masih dengan hati yang kesal Vino pun mengangguk.


"Baiklah, aku maafkan," ujar Vino cuek.


Kemudian ia kembali menatap istrinya.


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Nggak usah terlalu banyak ngobrol sama orang asing yang aneh, nggak bagus buat perkembangan bayi kita," kata Vino lagi sekaligus menyindir Jeslyn.


Lalu ia mengecup kening istrinya lembut.

__ADS_1


Sementara yang di sindir tidak terlihat tersinggung, gadis itu malah terpesona melihat Vino yang sedang mencium istrinya, matanya tampak penuh ambisi untuk memiliki laki-laki yang telah menarik hatinya itu.


Tanpa menoleh sedikitpun lagi ke arah Jeslyn, Vino pun menaiki mobilnya dan berangkat menuju ke perusahaannya.


Dari dalam rumah, keluarlah Nyonya Aditya. Ia tampak sedang memegang sebuah gunting taman dan semprotan kecil, ia berencana untuk merawat tanaman di taman nya.


Namun ia kemudian melihat menantunya sedang berada di luar bersama dengan adiknya Lara.


Wanita separuh baya itu pun menghampiri mereka.


"Dinda, kenapa kamu di luar Nak? Udara pagi ini masih terasa dingin, kamu lebih baik di dalam saja dulu agar tidak masuk angin," kata Nyonya Aditya lembut.


Belum sempat Dinda menjawabnya, Jeslyn sudah memotongnya dengan bersikap manis.


"Halo Tante, Tante sepertinya mau merawat tanaman ya? Jeslyn juga suka sama tanaman Tante. Boleh nggak kalau jeslyn bantuin Tante?" tanya Jeslyn sambil mengembangkan senyumnya.


"Oh, boleh aja kalau kamu mau," jawab Nyonya Aditya, lalu ia kembali manatap menantunya.


"Kamu bisa sendiri dulu, Nak? kalau kamu butuh Mama, Mama bisa temenin kamu kok sekarang."


"Nggak usah Ma, Dinda bisa sendiri kok, Mama lanjutin kegiatan Mama aja," sahut Dinda.


"Ya sudah kalau begitu, Mama merawat tanaman sebentar saja ya. Nanti Mama langsung masuk buat nemenin kamu."


Lalu Dinda pun masuk ke dalam rumah.


Sementara Jeslyn langsung mengambil kesempatan itu untuk mendekati Nyonya Aditya.


"Tante sukanya sama tanaman apa Tante?" tanya Jeslyn sok akrab.


"Tante suka tanaman apa aja, soalnya Tante suka kehijauan dan suka pohon," ucap Nyonya Aditya sambil berjalan menuju tamannya. Dan tentu saja Jesslyn terus mengapit di samping nya.


"Wah! Sama dong kayak Jeslyn. Jeslyn juga suka banget sama tanaman. Tapi di luar negeri tanaman hijaunya sedikit, tidak sehijau di negeri kita," ujar Jeslyn.


"Iya, kamu benar. kita beruntung tinggal di Indonesia, negeri yang masih sangat hijau dan asri," timpal Nyonya Aditya. Lalu ia menatap Jeslyn sesaat.


Sepertinya sifat gadis ini sedikit berbeda dari Papa dan kakaknya, mungkin karena selama ini dia tidak tinggal bersama mereka, pikir Nyonya Aditya.


Kemudian Nyonya Aditya pun mulai merawat tanaman nya, ia mulai menggunting beberapa dahan bunganya yang sudah mulai tua, lalu menyemprotkannya dengan air.

__ADS_1


Sementara Jeslyn hanya memperhatikannya sambil duduk santai di kursi taman. Nyonya Aditya melirik sedikit ke arah Jeslyn. Ia berpikir kalau Jeslyn bosan karena tidak tahu harus melakukan apa. Dan mungkin gadis itu tidak berani bertanya padanya, apa yang harus dibantu.


"Jeslyn, kamu nggak usah merasa sungkan begitu sama Tante. Yuk, kamu ke sini, kita akan merawat tanamannya bersama. Kamu bisa ambilkan sekop kecil di sana, kita akan menggemburkan tanah di bawah tanaman ini," ujar Nyonya Aditya sambil menunjuk ke tempat penyimpanan peralatan tamannya.


Sementara Jesslyn yang memang tidak berniat sama sekali untuk membantu, hanya bisa tersenyum masam.


Ih, siapa juga yang sungkan. aku memang ogah membantu, batin Jesslyn kesal.


Namun otak liciknya tidak pernah kehabisan akal, ia langsung mencari alasan untuk menghindar dari pekerjaan yang sama sekali tidak ingin ia lakukan itu.


"Aduh Tante, kayaknya Jeslyn kebelet pipis nih. Jeslyn ke toilet dulu ya Tante," kata Jeslyn sambil memegang perutnya.


"Oh, baiklah," jawab Nyonya Aditya tanpa curiga sedikitpun.


Tanpa buang waktu lagi, Jeslyn langsung masuk ke dalam rumah keluarga Aditya itu.


Begitu sampai di dalam, ia pun berjalan menuju ke toilet. Setidaknya ia bisa memperbaiki riasannya di sana, karena tadi ia hanya mencari alasan di depan Nyonya Aditya.


Namun begitu ia melewati dapur, ia melihat Dinda yang sedang membuat teh. Gadis itu langsung mengurungkan niatnya untuk ke toilet, dan dengan bibir yang tersenyum sinis, ia menghampiri Dinda.


"Ck ck ck... Aku heran sama Mas Vino, apa yang dia sukai sama janda beranak satu seperti kamu? Penampilan kamu juga biasa banget," ejek Jeslyn sinis sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.


Dinda yang sedang fokus membuat teh pun kaget mendengar perkataan Jeslyn. Ia membalikkan badannya dengan raut wajah marah.


"Apa mau mu? Apa kamu menyukai suamiku?" tanya Dinda langsung.


Jeslyn tersenyum sinis lagi.


"Ternyata kamu cepat tanggap juga. Aku memang menyukai Mas Vino, dan akan segera menjadikannya milikku."


Mata Dinda terbelalak mendengar pengakuan Jeslyn yang blak-blakan.


"Karena janda murahan seperti kamu, nggak pantas untuk mendampingi Mas Vino."


Kini Dinda benar-benar merasa marah. Ingin rasanya ia menampar wajah yang terus tersenyum merendahkan nya itu.


Namun belum sempat ia melakukan nya, tiba-tiba tangan Jeslyn tampak di tarik kasar oleh seseorang dari belakangnya, sehingga membuat tubuhnya berbalik dengan cepat dan...


PLAKK!!!

__ADS_1


Suara tamparan yang keras terdengar di dalam dapur itu.


Bersambung....


__ADS_2