Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Rumah Sakit


__ADS_3

"Halo, ini dengan siapa?" tanya Pak Polisi seetelah mengangkat teleponnya. Untuk sesaat tidak ada jawaban di seberang, setelah itu terdengar suara wanita yang menjawab.


"Ini dengan siapa?" terdengar suara di seberang balik bertanya.


"Saya seorang Petugas Polisi, saat ini orang yang memiliki ponsel ini sedang mengalami kecelakaan"


"Apa?" terdengar suara teriakan di seberang.


"Vino kecelakaan?" suara di seberang bertanya kembali.


"Benar, orang yang memiliki ponsel ini sedang mengalami kecelakaan, dan saya ingin menghubungi keluarganya. Bagaimana dengan anda? Anda siapanya pemilik ponsel ini?" tanya pak polisi meminta kejelasan dari orang yang sedang meneleponnya.


Karena di layar ponsel yang dipegangnya hanya tertera nomor telepon rumah tanpa nama.


"Saya adalah ibunya"


"Oh baiklah Ibu, anak Ibu akan segera kami bawa ke rumah sakit, jadi ibu bisa segera datang ke sana," ujar Polisi itu menjelaskan.


"Baik Pak, terima kasih. Saya akan segera kesana," jawab Nyonya Aditya sambil menutup teleponnya.


Dengan tangan yang bergetar, ia kembali menekan tombol telepon untuk menghubungi suaminya.


"Halo Pa," katanya dengan suara bergetar.


"Vino kecelakaan Pa, sekarang dia di rumah sakit. Mama akan segera kesana, Papa juga langsung ke sana ya," kata Nyonya Aditya panik.


Kemudian ia langsung bergegas mencari sopirnya.


"Agus, cepat ambil kunci mobilnya. Kita ke rumah sakit, Vino mengalami kecelakaan!" serunya Nyonya Aditya dengan tergesa-gesa.


Sopirnya Agus dengan sigap langsung menuju ke mobil dan menghidupkan mesinnya. Tak lama kemudian, mobil itu pun melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Nyonya Aditya langsung menuju ke ruang ICU. Namun karena Vino masih dalam penanganan, Nyonya Aditya tidak dapat masuk untuk menemuinya.


Ia hanya bisa menunggu anaknya di luar dengan harap-harap cemas. Namun kemudian ia teringat kepada menantunya.


Apa Dinda sudah tahu tentang kejadian ini? Pikirnya.


Lalu ia pun menelepon Dinda.


"Halo Ma," terdengar jawaban di seberang sana.


"Kamu sekarang di mana?" tanya Nyonya Aditya.

__ADS_1


"Dinda lagi di rumah Ma," jawab Dinda dengan suara yang lemah.


"Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sudah mendengar tentang kabar Vino?" tanyanya Nyonya Aditya lagi


"Kabar apa Ma?"


Sesaat Nyonya Aditya terdiam, ia tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan tentang kecelakaan Vino pada Dinda.


"Vino baru saja mengalami kecelakaan Din, dan sekarang dia lagi ada di rumah sakit"


Seketika tubuh Dinda langsung lunglai mendengar perkataan Nyonya Aditya. Tangannya pun bergetar. Bagaikan disambar petir, Dinda benar-benar terkejut mendengarnya.


"Mama sudah ada di sini untuk menemaninya, kalau kamu bisa datang, kamu datang sekarang untuk menemani Vino juga. Tapi ingat, kamu jangan panik ya, dan Arka jangan ditinggal sendirian di rumah ya," ujar Nyonya Aditya memperingatkan. Ia takut menantunya itu menjadi panik dan bertindak gegabah.


Namun Dinda sudah tidak sanggup untuk menjawabnya lagi, dia masih terdiam terpaku untuk sesaat.


Tak lama kemudian ia tersadar, dan tiba-tiba saja merasakan panik.


"Vino kecelakaan, aku harus segera kesana" kata Dinda.


Lalu buru-buru ia mengganti pakaiannya dan mengambil tasnya dengan cepat. Namun sebelum keluar, ia kembali teringat bahwa Arka masih tidur di kamarnya. Ia harus membawa Arka bersamanya seperti yang diperingatkan oleh Nyonya Aditya tadi.


Tapi ia tidak bisa membawa Arka ke rumah sakit, apalagi sedang tidur begini. Akhirnya Dinda memutuskan untuk mengantarkan Arka ke rumah Yanti.


Bergegas ia berlari menuju kamar Arka. Lalu perlahan ia mengangkat tubuh anaknya yang sedang tertidur dan menggendongnya.


Kemudian ia mengambil ponselnya dan menelepon kakaknya Yanti. Namun ternyata ponselnya tidak aktif.


Apa dia udah tidur ya? Makanya dia mematikan ponselnya.


Lalu bagaimana ini? Bagaimana aku bisa pergi ke rumah sakit menjenguk Vino?


Akhirnya Dinda masuk kembali dan membawa anaknya ke dalam kamar. Setelah itu ia kembali mondar-mandir dengan panik. Ia tidak bisa berpikir jernih.


Kemudian ia baru teringat untuk menelepon taksi. Setelah 15 menit menunggu akhirnya taksi itu pun datang. Sambil menggendong Arka Dinda pun berangkat dengan taksi menuju ke rumah kakaknya Yanti.


Dan benar saja, ternyata Yanti memang sudah tidur, berhubung jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam.


"Kak, aku minta tolong jagain Arka ya, aku harus ke rumah sakit. Vino mengalami kecelakaan," kata Dinda panik setelah kakaknya membukakan pintu.


Yanti yang baru bangun tidur terkejut, dia langsung mengambil keponakannya dan menggendongnya.


"Ya udah, kamu hati-hati perginya ya. Besok kakak akan menyusul ke rumah sakit," kata Yanti.

__ADS_1


"Baiklah Kak, terima kasih. Aku langsung berangkat sekarang ya," kata Dinda, lalu ia bergegas masuk kembali ke dalam taksi dan melaju ke rumah sakit.


Setelah usahanya yang begitu keras, akhirnya Dinda pun tiba di rumah sakit.


Ia langsung menuju ruang ICU, namun setibanya di sana ia tidak melihat Mama atau Papa mertuanya.


Apa sebenarnya Vino tidak di ruang ICU? Pikirnya.


Lalu ia mencoba bertanya pada suster yang sedang berjalan melewatinya.


"Suster, apa ada pasien yang bernama Vino di ruang ICU? Pasien yang mengalami kecelakaan tadi jam 11 malam?"


"Oh kalau pasien itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan, karena sebenarnya tidak mengalami luka yang parah," jelas Suster itu.


Dinda akhirnya menghela nafas lega.


Dinda pun menanyakan dimana ruang perawatan tempat Vino berada.


Kemudian ia bergegas menuju ruang perawatan itu.


Namun sebelum membukakan pintu, pikirannya kembali teringat tentang kejadiannya bersama Vino sebelumnya. Ia menjadi ragu untuk masuk dan menemui suaminya. Ia takut Vino merasa tidak nyaman bertemu dengannya sekarang, atau malah Vino telah membencinya.


Namun ia tidak bisa menahan dirinya untuk melihat bagaimana keadaan Vino sekarang, perlahan ia membukakan pintu sedikit dan mengintip dari celah pintu itu.


Di dalam sana terbaring Vino dengan kepalanya yang diperban dan tali infus yang terpasang di tangannya. Di pinggir tempat tidur Vino ada Mama dan Papanya sedang duduk menungguinya.


Tanpa bisa ditahan air mata mengalir di pipi Dinda. Ia sungguh ingin berada di sana, menggenggam tangan Vino seperti Vino yang selalu menggenggam tangannya disaat ia kesusahan. Perlahan tubuhnya merosot jatuh terduduk di lantai, lutut nya benar-benar terasa lemah dan tak mampu menopang nya untuk berdiri.


Tuk..Tuk..Tuk.


Suara sepatu heels berjalan ke arahnya, dan berhenti tepat di depannya. Dinda menengadahkan kepalanya. Ia melihat Lara yang sedang menatapnya heran, namun setelah itu wanita berambut sebahu itu tersenyum sinis kepada Dinda, kemudian ia masuk ke dalam ruangan Vino.


Sayup-sayup Dinda mendengar Mama mertuanya berkata.


"Ternyata Lara, Tante pikir tadi Dinda yang datang, soalnya udah Tante telepon dari tadi, tapi belum datang juga. Tante jadi khawatir sama dia"


Dinda merasa senang Mama mertuanya rupanya menunggunya dan mengkhawatirkannya.


Mungkin Lara akan memberi tahu bahwa aku sudah datang. Apa aku masuk saja? Pikirnya bimbang.


Dan setelah beberapa saat, tidak terdengar jawaban apapun dari Lara.


Lara hanya tersenyum sinis dan menatap sekilas ke arah pintu.

__ADS_1


Author:


Nah, pembacaku sekalian. Menurut kalian, lebih baik Dinda masuk atau nggak ya? Tulis pendapat kalian di komentar ya....


__ADS_2