Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Episode Kedua Terakhir


__ADS_3

Vino membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor polisi. Ia sangat penasaran dengan pelaku tabrak lari yang telah merenggut nyawa ibunya itu.


Begitu sampai di kantor polisi, Vino langsung memarkirkan mobilnya dan dan melangkah lebar masuk ke dalam kantor aparat kepolisian itu.


"Permisi Pak, assalamualaikum," sapa Vino pada salah seorang petugas.


"Waalaikumussalam Pak, silahkan duduk," ujar petugas kepolisian itu mempersilahkan Vino duduk.


"Terimakasih Pak," sahut Vino sambil menarik kursi nya.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya sang Polisi.


"Saya adalah anak dari korban tabrak lari yang terjadi kemarin pagi Pak. Saya ingin melihat pelaku tabrak lari tersebut," ujar Vino.


"Oh baik, silahkan ikut saya Pak," ujar Petugas itu sambil bangkit dari duduknya.


Vino pun mengikuti langkah Petugas itu. hatinya kini mulai memanas, ingin rasanya ia langsung menemui si pelaku dan menghajarnya sampai babak belur.


"Bapak tunggu di sana dulu, saya akan memanggil tersangka nya," ujar sang Petugas sambil menunjuk ke tempat yang telah disediakan untuk pengunjung.


Vino melangkah menuju tempat yang telah ditunjukkan oleh petugas itu ia duduk di kursi pengunjung itu dengan hati yang geregetan.


Tak lama kemudian, Petugas itu kembali bersama si tersangka yang berjalan perlahan dari belakangnya.


Vino terus menatap tajam sosok yang berada di belakang Petugas itu. Sampai akhirnya sang petugas berhenti di depan Vino.


"Silahkan Pak, saya permisi dulu," kata Pak Petugas seraya berjalan menuju ke ruangan nya kembali.


Sehingga terlihat lah dengan jelas sosok tersangka yang sedari tadi seperti sengaja bersembunyi di belakang Petugas.


Vino menatap sosok itu dengan tatapan tak percaya. Raut wajah Vino yang awalnya penuh kemarahan kini terlihat bingung.


Sosok dihadapannya tampak menunduk begitu dalam, seolah menyembunyikan wajahnya dari Vino. Sementara kedua tangannya diborgol.


"Lara?" desis Vino dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Ya, ini aku. Maafkan aku Vin," jawab Lara dengan suara lirih.


"Kenapa harus kamu Lara?" tanya Vino tak percaya dengan kenyataan yang ada di hadapannya.


"Maafkan aku Vin," ucap Lara masih dengan menundukkan wajahnya.


"Kamu sengaja melakukannya?" tanya Vino, ketika ia teringat mobil yang dipakai oleh Lara adalah mobil rental. Pasti kejadian itu telah direncanakan.


"Iya, tapi aku sama sekali tidak menduga bahwa ibumu lah yang aku tabrak," ujar Lara.


"Jadi sebenarnya kamu ingin menabrak Dinda?"


Lara mengangguk lemah, namun ia sama sekali tidak berani menatap Vino.


"Apakah harus sampai begini Lara? Apakah kita tidak bisa hanya menjadi teman seperti dulu?" tanya Vino dengan perasaan bercampur aduk. Separuh hatinya merasa sangat marah, namun separuh hatinya lagi ia masih menghargai pertemanannya dengan Lara.


"Ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku padamu," jawab Lara dengan suara bergetar.


"Lalu apa alasan mu?" tanya Vino.


Lara hanya terdiam dan masih berdiri di tempatnya, apalagi Vino tidak mempersilahkan nya duduk sama sekali.


Perlahan tubuh Lara tampak berguncang, dengan kepala yang tertunduk dia menangis sesenggukan.


Vino mengerutkan keningnya menatap Lara yang sedang menangis, ia benar-benar bingung dengan sikap Lara, karena ia sama sekali tidak menyangka Lara bisa berbuat kriminal seperti itu. Sejak dulu ia mengenal karakter Lara, walaupun ia sedikit tomboy, tapi ia tak pernah melakukan kekerasan.


"Aku melakukannya demi keluarga ku. Papa menyuruh Jeslyn untuk mencelakai Dinda, karena Dinda sedang mengandung cucu dari keluarga Aditya. Papa tidak ingin anak kalian jadi pewaris. Tapi aku tidak bisa membiarkan Jeslyn yang melakukannya," Lara menghentikan ucapannya sesaat karena tangisnya kembali pecah. Sementara Vino masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari Lara dengan tatapan tajam.


"Jeslyn adalah satu-satunya adikku. Sejak kecil ia hidup bersama mamaku yang gila harta, sehingga dia selalu dimanfaatkan oleh ibuku untuk mencari uang dengan segala cara. Kini ia kembali ke Indonesia diusir oleh Mama karena ia tidak mau lagi membanting tulang mencari uang. Karena itulah, dia sekarang ingin mencari perhatian dari Papa, sehingga dia mau melakukan apa saja demi menyenangkan hati Papa. Aku tiba bisa membiarkannya hancur karena ulah orangtuaku. Biarlah aku yang berkorban kali ini," ujar Lara mengakhiri penjelasannya.


"Berkorban katamu? Apa kamu tidak berpikir bahwa pengorbanan mu ini menimbulkan korban lainnya? Kamu sangat egois Lara," ujar Vino marah.

__ADS_1


Lara hanya bisa tertunduk dan menangis.


"Maafkan aku Vin, hanya itu yang bisa aku ucapkan," ucap Lara di sela tangisnya.


Vino menatap Lara penuh kemarahan.


"Aku tidak akan memaafkan mu Lara. Selamanya aku tidak akan memaafkan mu," ujar Vino. Lalu ia bangkit dari duduknya dan berlalu pergi, meninggalkan Lara yang semakin menangis tersedu-sedu.


*****


Vino menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah orangtuanya. Ia tidak langsung memasuki pekarangan rumah keluarga Aditya itu. Langkah nya yang lebar berjalan menuju rumah keluarga Farhad. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa.


Begitu sampai di pintu rumah itu, Vino langsung mendobrak nya dengan tendangan kaki yang sangat kuat.


Pintu terbuka dan menimbulkan suara yang keras.


"Hei Farhad! Keluar kamu!" teriaknya.


Farhad yang mendengar teriakan sekaligus dobrakan pintu rumahnya, langsung muncul di ruang depan rumahnya itu.


Begitu melihat kemunculan Farhad, tanpa mengatakan apapun lagi, Vino langsung maju menghampirinya. Ia menarik kerah baju Farhad dengan kasar, sementara sebelah tangannya yang lain terkepal kuat dan ia hantam ke perut laki-laki yang bersifat licik itu.


"Jangan salahkan aku yang tidak bisa menghormati mu. Karena kau memang tidak pantas untuk di hormati," desis Vino dengan nafas yang menderu karena kemarahan nya.


"Papa...!!!!" suara teriakan dari seorang wanita terdengar di belakang mereka. Lalu muncul Jeslyn yang berlari cepat menghampiri ayahnya yang tersungkur sambil memegang perutnya.


Gadis itu menatap Vino marah dan mendorongnya agar menjauh dari ayahnya.


"Kenapa kamu mukulin Papa tiba-tiba?" tanya Jeslyn ketus.


"Kenapa? Ternyata penjahat yang sesungguhnya malah tidak tau apa yang telah terjadi," ujar Vino dengan nada sinis.


"Apa maksudmu? Dasar anak tak tau aturan! Main nyelonong sembarangan dan memukul orang. Kamu pikir aku tidak berani menuntutmu, heh?!" ujar Farhad sambil berdiri tegak dengan memegang perutnya yang baru saja jadi sasaran tonjokan Vino.


"Menuntut katamu? Tuntut saja kalau kamu mau, aku akan segera menuntut mu karena telah bersekongkol untuk mencelakai istriku," ujar Vino.


"Kamu mau menuduhku yang melakukannya? Apa kamu mempunyai bukti? Kamu salah besar anak pungut," ujar Farhad sinis.


"Kamu mau menyangkalnya? Apa kamu tau Lara anakmu sedang di mana? Lara sekarang sedang berada di penjara, karena dia telah terbukti menabrak ibuku sampai ibuku meninggal," ujar Vino.


Seketika wajah Farhad dan Jeslyn tampak terperanjat.


"Lara di penjara?" tanya Farhad dengan mata yang melotot.


"Iya, demi memenuhi keinginan jahatmu. Orang tua macam apa kau dan istrimu itu? Rela memanfaatkan anak demi ambisi kalian yang gila harta. Sekarang karena ambisimu itu, anakmu akan menghabiskan masa mudanya di penjara," ujar Vino. Lalu ia langsung berbalik dan keluar dari rumah itu.


Farhad tampak tercengang mendengar perkataan Vino. Ia benar-benar tidak menyangka Lara melakukan nya. Anak kesayangannya kini berada dalam penjara karena melakukan perintahnya.


Anak yang tak pernah membantah dan menuntut apapun darinya.


Tiba-tiba Farhad merasakan dadanya sakit bukan main. Tangannya langsung menekan dadanya dengan kuat. Tubuhnya tampak terhuyung ke belakang. Begitu melihat Papanya yang hampir terjatuh, Jeslyn langsung menghampiri dan memapahnya.


Namun tubuh Farhad semakin melorot, sehingga putrinya tidak sanggup memapah nya dan ia pun jatuh pingsan.


"Papa! Papa kenapa? Bangun Pa!" teriak Jeslyn sambil menggoyangkan badan Papanya sembari menangis.


"Pak Yono! Cepat ke sini Pak, Papa pingsan!" teriak Jeslyn memanggil sopirnya.


******


Seminggu kemudian, Dinda pun telah pulih kembali. Namun ia tidak diizinkan oleh Ibu mertuanya tinggal di rumahnya sendiri untuk sementara. Karena ia takut Dinda tidak terjaga dengan intens, berhubung Vino tidak mengerti cara merawat orang yang baru selesai operasi.


"Nanti kamu minta dikelonin lagi," ujar Mamanya menggoda Vino.


Sementara Farhad dan Jeslyn telah angkat kaki dari rumahnya, karena Vino telah membeli rumah mereka. Farhad terpaksa menjualnya karena Vino menjadikannya syarat, ketika ia memohon agar Vino tidak menuntutnya.


Vino sengaja membeli rumah itu karena ia tidak ingin bertetangga dengan orang yang pernah ingin mencelakai istrinya.

__ADS_1


Tapi ia juga tidak ingin tinggal di rumah bekas tempat tinggal musuhnya itu. Ia hanya akan menjadikannya sebagai investasi.


Sore itu, keluarga Aditya mengadakan acara doa bersama di rumah megah mereka. Beberapa tetangga dan sanak saudara berdatangan untuk mengirimkan doa buat Almarhumah ibu kandung Vino. Sekaligus untuk mendoakan Dinda agar cepat diberikan momongan.


Nyonya Aditya sampai mengundang anak-anak panti asuhan dari tiga yayasan sekaligus.


Dinda sangat senang melihat anak-anak yatim piatu itu berdoa bersama. Bahkan Arka langsung berbaur dan bermain dengan mereka.


"Oek...Oek...," suara tangisan bayi terdengar dari arah belakang Dinda. Ia langsung menoleh dan melihat seorang Ibu penjaga panti sedang kewalahan menenangkan seorang bayi mungil dalam gendongannya.


Dinda menghampiri Ibu panti untuk melihat bayi itu. Mata Dinda langsung membulat menatap bayi cantik yang sedang menangis itu. Begitu imut dan menggemaskan.


"Boleh saya gendong sebentar Bu?" tanya Dinda.


Ibu panti itu terlihat kaget, karena ia tidak menyadari kehadiran Dinda.


"Oh baiklah, kalau tidak merepotkan Bu Dinda," ujar Ibu panti. Lalu ia menyerahkan bayi mungil itu kepada Dinda.


Dinda menggendong bayi itu sambil menimang-nimang nya dengan lembut. Sesaat kemudian bayi itu pun diam dan tertidur.


"Wah, langsung anteng ya sama Bu Dinda," ujar Bu panti.


Dinda tersenyum senang mendengar nya.


"Apakah anak ini yatim piatu juga Bu?" tanya Dinda.


"Saya juga tidak tau apakah orangtuanya masih ada atau tidak sekarang ini. Kami menemukan nya di depan panti. Sepertinya ia telah dibuang oleh orangtuanya."


Dinda menatap bayi itu dengan iba.


Sebuah sentuhan tangan tiba-tiba ia rasakan di pundaknya. Dinda pun menoleh, dan dia melihat Nyonya Aditya sedang menatapnya nya lembut.


"Kamu tidak usah bersedih, Sayang. Jika saat nya sudah tiba, kamu akan memiliki bayi juga," ujar Nyonya Aditya.


"Dinda hanya merasa miris aja, Mah. Karena masih ada orang yang tega membuang buah hatinya, sementara banyak orang lain yang kesulitan memiliki anak," jawab Dinda dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan kamu pikirkan Nak, kami akan selalu mendukungmu."


"Apa Mama akan tetap menerima Dinda sebagai menantu kalau Dinda masih tetap tidak bisa hamil?" tanya Dinda dengan air mata yang telah menggenang.


"Tentu saja Nak. Kamu pikir Mama ini seperti Mama-mama dalam sinetron, yang akan mengusir menantunya jika tidak bisa memberikan cucu?" tanya Nyonya Aditya sambil tersenyum.


Dinda pun ikut tersenyum sambil mengusap air matanya.


*****


Di dapur rumah keluarga Aditya yang sedang mengadakan acara doa bersama itu, berdiri seorang gadis yang berusia 17 tahun dan memakai jilbab berwarna pink soft sedang membuat kan minuman.


Begini rupanya rumah pemilik panti tempat tinggal ku selama ini? Benar-benar megah. Kalo orang baik mah makin dikejar sama duit.


Batin gadis muslimah berwajah cantik itu.


Lalu ia mengangkat nampan minuman yang barusan dibuatnya dan dibawanya ke ruang depan.


Namun tiba-tiba ia menabrak seseorang sehingga membuat minuman yang dibawanya tumpah dan terciprat di baju orang yang ditabraknya. Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya menatap orang itu.


Rio menatap gadis di depannya dengan mata melotot.


"Woy! Punya mata nggak sih?" tanya Rio ketus sambil mengibaskan baju kokonya yang basah.


"Yee... Om yang nabrak aku juga," sahut gadis itu sambil memonyongkan bibirnya.


"Enak saja kamu menuduh, udah salah ngeyel lagi!" seru Rio sambil beranjak pergi dengan wajah kesal.


"Huuu.. dasar Om-om judes," ujar gadis itu dengan mencibirkan bibirnya ke arah Rio.


Bersambung...

__ADS_1


Hay guys... Dengan berat hati novel PENCULIK CINTA ini akan segera mencapai penghujung kisahnya. Satu episode lagi akan menjadi penutupnya. Nantikan episode terakhirnya ya.....


__ADS_2