
Pagi menjelang, matahari mulai menyinari kamar di lantai atas rumah Vino Aditya.
Vino membuka matanya perlahan.
Dia merasakan tubuhnya sangat pegal dan tak bisa digerakkan.
Ia pun sadar kalau kedua tangan dan kakinya terikat dengan tali.
Vino mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.
Dia melihat Dinda berada di dekat kakinya, wanita itu masih tidur sambil duduk di lantai dengan kepala bersandar pada pinggir tempat tidur. Sedangkan tangannya memegang sebuah pisau.
"Hah.." Vino tersenyum sendiri saat menyadari dirinya sekarang yang menjadi tawanan.
Ia kembali menatap Dinda yang masih tertidur. Wajah wanita itu terlihat lelah, namun tak mengurangi kecantikan nya.
Perlahan kepalanya terlihat bergerak dan sebelah tangannya memegangi lehernya. Wajahnya terlihat mengernyit kesakitan.
Sesaat kemudian Dinda baru menyadari bahwa ia sedang tidur di lantai, dengan cepat dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Vino dengan tegang. Ternyata laki-laki itu sudah bangun dan sedang menatapnya.
Pandangan mata mereka bertemu.
Dinda berusaha untuk tidak terlihat takut, dia membalas tatapan Vino dengan penuh kebencian.
Untuk beberapa saat mereka saling menatap dalam diam.
Akhirnya Vino mengalihkan pandangannya. Wajah pucat nya tampak sedikit memerah.
"Beginikah caramu memperlakukan orang yang sedang sakit?" tanya Vino dengan sedikit mengerang saat merasakan tubuhnya yang kesakitan karena tidur di lantai semalaman dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Sakit?" gumam Dinda.
"Aku beneran sakit" kata Vino saat melihat wajah Dinda yang terlihat tak percaya.
"Emang nya kamu nggak liat mulutku yang berdarah? Aku tadi malam muntah darah" lanjut Vino.
Huh... muntah darah katamu? Lalu apa kamu juga mau bilang kalau aku salah dengar saat tadi malam kamu mengatakan kalau kamu meminum darah wanita? Batin Dinda.
Melihat Dinda yang masih terdiam, Vino melanjutkan perkataannya.
"Ternyata kamu masih pintar dan dapat diandalkan seperti dulu".
" Memang nya kamu tau aku dulu seperti apa? Bukankah katamu kita tidak berteman?" jawab Dinda ketus.
"Ya memang. Aku dulu cuma pernah dengar kalau kamu itu pintar, ternyata memang benar". Vino tersenyum tipis.
Dinda menyeringai mendengar pujian dari penculiknya itu.
__ADS_1
"Dulu aku juga pernah dengar, kalau kamu itu orang yang dingin, sombong, dan kasar. Dan ternyata semua itu juga benar," sahut Dinda dengan senyuman sinis.
Vino terlihat tersenyum mendengar perkataan Dinda.
"Ternyata aku sepopuler itu dulu ya? Apa kamu juga tau, bahwa aku dari dulu adalah Idolanya setiap wanita?"
Dinda mendengus mendengar Vino memuji dirinya sendiri.
"Mereka belum tau aja sifat aslimu bagaimana, kalau saja mereka tau kalau kamu itu psikopat gila, pasti mereka akan lari darimu dengan ketakutan," ujar Dinda dengan nada mengejek.
Vino tersenyum lagi.
"Mereka tidak akan tau, karena aku jadi gila seperti ini cuma karena kamu," jawab Vino sambil tersenyum menggoda.
Dinda mengacuhkan kata-kata Vino sambil membuang pandangannya kearah lain.
"Tadi malam aku datang ke kamu buat minta bantuan karena aku sedang sakit, tapi kamu malah mengikatku," kata Vino setelah tidak mendapat jawaban apa-apa dari Dinda.
"Tolong lepaskan aku, aku nggak akan kabur kok, toh ini rumah aku sendiri," lanjut nya mencoba bercanda.
"Huh..." Dinda kembali mendengus menanggapi candaan Vino, lalu dia berdiri.
"Aku akan turun untuk membuatkan sarapan, sebaiknya kamu jangan macam-macam," ancam Dinda.
Vino tersenyum tipis mendengar ancaman Dinda.
Dia melihat isi kulkas nya Vino yang penuh dengan bahan makanan, dan tertata dengan rapi.
Kulkas nya sangat rapi, apa ada orang yang dia pekerjakan untuk membereskan rumah dan memasak? Tapi aku tidak pernah melihat ada orang yang datang, saat aku memantau melalui jendela. Apa mungkin ia memasak dan membereskan rumah nya sendiri? Pikirnya.
Dinda menghela nafasnya, ia benar-benar bingung.
Akhirnya ia cepat-cepat mengambil bahan makanan nya, dan segera memasak nasi goreng. Masakan yang praktis dan tidak butuh waktu lama.
Setelah membuat nasi goreng, Dinda memutuskan untuk makan di lantai atas saja, agar bisa sambil mengawasi Vino.
Dia juga membawa kan satu piring nasi goreng itu untuk Vino.
"Bagaimana pun dia harus makan, aku tidak mau dia mati kelaparan dan aku yang jadi pembunuh" pikirnya
Sesampainya di kamar, Dinda meletakkan piring nya di depan Vino yang masih tertelungkup di lantai.
"Apa ini untukku? Bagaimana mungkin aku makan dengan mulut berbekas darah?"
"Memangnya kenapa? Bukankah tadi malam kamu baru minum darah?" tanya Dinda dengan nada sinis.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
Dinda menghela nafasnya dan memelototi Vino.
"Terserah kamu mau makan atau tidak. Jangan banyak bicara!" gertak Dinda sengaja bersikap garang untuk memperlihatkan pada Vino bahwa ia tidak takut.
Vino tersenyum geli melihat sikap Dinda yang sama sekali tidak cocok dengan kepribadian nya.
Kemudian Dinda langsung memakan nasi gorengnya tanpa mempedulikan Vino lagi.
"Terus aku makan nya gimana dong, kan tangan aku terikat" tanya Vino sambil memasang wajah polos.
"Suapi dong" lanjutnya sambil tersenyum.
Dinda tidak mempedulikan rengekan Vino, ia terus memakan nasi gorengnya untuk menambah tenaga nya. Iya akan kabur dari sana sesaat lagi, jadi dia membutuhkan asupan energi yang besar.
"Ayolah Din, aku lapar banget nih, apa lagi kalau liat kamu makan lahap begitu"
Dinda kembali mendengus kesal.
Setelah menghabiskan nasi gorengnya, masih dengan wajah kesal, akhirnya Dinda mendekat dan menyuapi nasi goreng untuk Vino.
Vino makin tersenyum lebar sambil memakan nasi goreng yang disuapi Dinda.
"Ternyata masakan mu enak" pujinya sambil menatap Dinda dengan tersenyum.
Dinda mengacuhkan pujian Vino. Dia terus menyuapi nasi goreng buat Vino sampai habis.
Lalu ia beranjak untuk menyimpan piring nya.
Namun tiba-tiba saja dengan sangat cepat Vino bangun dan menangkap tangan Dinda sambil memelintirnya ke belakang sehingga membuat piring yang ada di tangan Dinda jatuh dan pecah berkeping-keping.
"Aaukh...!" teriak Dinda terkejut.
Dengan sigap, kemudian Vino mendorong tubuh Dinda dan menelungkupkan nya di tempat tidur. Lalu Vino mengambil tali yang dipakai Dinda untuk mengikat nya tadi, dan mengikat nya ke tangan Dinda.
Setelah mengikat kedua tangan dan kakinya Dinda, Vino menatap Dinda yang tertelungkup di tempat tidur sambil berteriak-teriak dan meronta.
Kemudian ia menindih tubuh Dinda yang tertelungkup dan mendekatkan wajahnya, lalu berbisik ke telinga Dinda.
"Aku harus mengikat mu sebentar untuk menyingkirkan benda-benda tajam yang mungkin bisa membahayakan nyawa ku, tunggu sebentar ya..."
Vino lalu bangun sambil terkekeh...
Sementara Dinda hanya bisa menyumpahi Vino di dalam hatinya.
Perlahan air mata merembes di pipinya.
Tadinya ia begitu senang mendapatkan kesempatan untuk kabur dari sana. Namun harapannya untuk melarikan diri kini pupus sudah.
__ADS_1
Bersambung...