Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Takut Dibenci


__ADS_3

Perlahan Dinda mengecup tangan Vino yang berada dalam genggamannya.


Namun tiba-tiba jari-jari Vino bergerak perlahan.


Dinda langsung bergegas memeriksa keadaan Vino. Hatinya begitu gembira melihat tubuh Vino yang mulai bereaksi. Namun sedikit kekhawatiran menyusup kedalam hatinya.


Apa Vino akan membenciku? Batin Dinda.


Jantung Dinda berdetak kencang dan perasaannya bercampur aduk.


Antara bahagia dan gelisah.


Ingin rasanya ia pergi jika membayangkan mata Vino yang akan menatapnya dengan tatapan benci. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan suaminya sendiri, apalagi saat ini Vino sedang membutuhkan seseorang untuk menungguinya ketika ia membuka mata.


Dinda memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hatinya, ia bertekad apapun yang terjadi ia akan menerima. Ia takkan berlari dari takdir, sebelum takdir itu sendiri yang yang akan membuatnya pergi.


Dinda membuka matanya dan menatap Vino dalam-dalam.


Sesaat kemudian, mata Vino mulai terbuka.


Pandangannya lurus tertuju ke atap ruangan itu, sepertinya ia sedang berpikir dimana tempat ia berada sekarang. Kemudian ia melirik ke samping nya. Manik matanya menangkap bayangan orang yang sedang menatapnya. Vino langsung menoleh ke sampingnya dan melihat Dinda yang sedang menatapnya cemas.


Untuk beberapa saat Vino hanya menatap istrinya itu tanpa ekspresi.


Lalu matanya berpindah pada tangannya yang sedang berada dalam genggaman Dinda.


Dinda yang menyadari arah tatapan Vino refleks melepaskan genggaman tangannya. Ia takut Vino akan marah, karena memegang tangannya.


"Kamu sudah sadar Vin?" Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Dinda sambil menatap Vino dengan cemas.


"Aku marah," jawab Vino dengan mengernyitkan keningnya.


Dinda terkejut mendengar perkataan Vino, walaupun ia sudah mempersiapkan mentalnya.


Namun kemudian ia langsung menundukkan kepalanya, karena ia merasa tidak akan sanggup melihat wajah Vino saat marah.


"A...aku..." Jawab Dinda terbata-bata. Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Air matanya mulai mengalir. Tangannya mulai meremas ujung bajunya.


"Aku benci..." belum selesai ucapan Vino, Dinda sudah memotongnya dengan suara yang bergetar karena sedang menangis, ia tidak ingin mendengar kata-kata benci dari Vino.


"Maafkan aku Vin, aku sama sekali tidak mengiginkan kamu hidup menderita. Aku benar-benar minta maaf. Namun kalau kamu ingin menceraikan aku, aku akan berusaha menerimanya," ujar Dinda sambil terus mengusap air matanya yang mengalir tanpa henti.


"Hey! Kamu ngomong apa sih? Kok ngawur gitu? Maksudku tadi, aku marah pada diriku sendiri karena telah membuat kamu cemas dan meninggalkan kamu sendiri tadi malam, bukan marah kepadamu," ucap Vino yang terkejut melihat Dinda menangis.


Dinda mengangkat kepalanya dan menatap Vino. Seolah mimpi ia mendapatkan respon seperti itu dari Vino.


Vino membalas tatapan mata Dinda. Perlahan tangannya bergerak menggapai tangan Dinda.


Lalu ia menggenggam tangan itu kembali. Bibirnya perlahan mengembangkan senyuman yang sangat lembut.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu tegang sekali dari tadi?" tanya Vino.


"Karena aku takut kamu akan membenciku," jawab Dinda.


"Aku tidak akan membencimu," jawabnya. Dinda terdiam sejenak sambil menatap mata Vino dalam-dalam.


"Apa kamu sama sekali tidak membenciku Vin?" tanya Dinda.


Vino mengernyitkan keningnya.


"Kenapa aku harus membencimu? Tadi aku mengatakan benci, maksudku aku benci melihat air matamu dan aku tidak mau kamu nangis"


Dinda menundukkan kepalanya.


"Tapi,aku adalah anak dari orang yang telah membuatmu menderita," kata Dinda.


"Itu tidak ada hubungannya denganmu," jawab Vino.


"Tapi kau akan selalu teringat dengan trauma mu jika melihatku,"


"Sepertinya tidak, tadi waktu pertama kali aku membuka mata dan melihat mu, yang ada hanya rasa bahagia, bukan trauma," jawab Vino sambil tersenyum menggoda.


Tiba-tiba tangis Dinda semakin pecah. Vino menjadi bingung dibuatnya.


"Lho, kenapa kamu nangisnya makin kencang? tanya Vino.


Dinda mengusap air matanya.


"Aku tadi bahkan tidak berani menemui


mu, karena aku merasa tidak pantas untuk tetap disisimu" kata Dinda.


Vino mendelik menatap Dinda.


"Aku tidak mau mendengar kata-kata seperti itu lagi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Kau adalah milikku dan akan selamanya disisi ku," kata Vino sambil menggenggam tangan Dinda lebih erat.


Dinda tersenyum mendengar perkataan Vino. Ia merasa bahagia, ternyata takdir cintanya tidak seburuk yang ia pikirkan.


"Oh iya Vin, tadi mama sama papa juga ada di sini," kata Dinda memberitahu.


"Oh ya? Terus kenapa mereka pulang?"


"Aku yang meminta mereka pulang, biar mereka beristirahat. Nggak apa-apa kan? Kan ada aku"


"Mereka beruntung punya menantu siaga seperti kamu," jawab Vino sambil tersenyum.


"Nggak kok, malah aku nggak bisa diandalkan. Tadi aku datang terlambat cuma gara-gara nggak ada mobil, setelah lama mondar mandir nggak jelas, baru teringat telepon taksi," jawab Dinda dengan bibir manyun.


"Bibirnya jangan manyun gitu, ntar aku caplok lho," goda Vino.

__ADS_1


"Ah,kamu!" seru Dinda dengan bibir yang semakin manyun.


"Apa ini kode mau mobil baru?" goda Vino lagi.


"Nggak kok, aku nggak bermaksud begitu," sanggah Dinda cepat.


Vino terkekeh melihat ekspresi Dinda.


Namun dadanya terasa sakit saat ia tertawa, ia mengerang sambil memegang dadanya.


"Kamu nggak apa-apa Vin? Dadanya sakit ya, aku panggil Dokter ya," kata Dinda cemas.


"Nggak usah, cuma sakit sedikit karena aku tertawa barusan," ujar Vino.


"Beneran nggak perlu panggil Dokter?"


"Iya, kan ada kamu yang bisa sembuhkan, sini tangannya," kata Vino sambil mengulurkan tangannya.


Dinda menyambut tangan Vino, lalu laki-laki tampan itu meletakkan tangan Dinda di dadanya.


"Kamu ada-ada aja ah..." kata Dinda tersenyum malu campur senang.


"Vin, tadi Lara juga datang jenguk kamu," ujar Dinda.


"Hmm..." respon Vino cuek sambil mempermainkan jari-jari tangan Dinda yang berada di dadanya.


"Dia tadi mau menjelekkan aku di depan Mama," cerita Dinda.


Ekspresi Vino langsung berubah mendengarnya.


"Apa yang dikatakannya sama Papa dan Mama?" tanya Vino.


Kemudian Dinda menceritakan semua yang terjadi.


"Lara itu temanmu sejak kamu kecil ya?" tanya Dinda "apa dia dari dulu udah menyukaimu?"


"Aku juga tidak tahu, tapi dari dulu dia selalu baik padaku, dia juga selalu bersikap seperti anak laki-laki, sehingga aku tidak merasa risih berteman dengannya. Setelah dia pulang dari luar negeri kemarin baru aku menyadari bahwa dia menyukaiku"


"Jadi dia satu-satunya teman wanita mu?" tanya Dinda.


"Iya, apa kamu cemburu?" Vino kembali menggoda.


"Nggak kok" jawab Dinda kembali manyun.


"Nah kan, manyun lagi. Aku caplok beneran nih bibirnya. Ngomong-ngomong ini masih malam ke empat bulan madu kita. Apa kamu mau coba di rumah sakit?" tanya Vino sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Viiiin!" seru Dinda sambil mendelik kan matanya.


Dan Vino pun terkekeh lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2