Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Kenyataan yang Menyakitkan


__ADS_3

Dinda merasa dadanya begitu sesak, ingin rasanya ia terbang agar bisa langsung berada di dekat Arka, dan mendekap anaknya untuk meringankan rasa sakitnya.


 


Dinda menatap Vino dengan penuh harap.


"Tolong bawa aku menemui Arka," katanya memelas.


"Ya tentu saja kamu harus segera berada di sana," jawab Vino. Sebuah jawaban yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang penculik.


Dinda sangat lega mendengar jawaban Vino.


"Tapi bukankah tempat tinggalku sangat jauh dari sini? Bagaimana kita bisa cepat sampai ke sana?" tanyanya.


"Ganti saja bajumu dulu, aku akan membawamu secepatnya ke sana," jawab Vino. Lalu ia menelfon seseorang.


Setelah mengganti bajunya, Dinda melihat Vino sudah menunggunya di depan pintu keluar.


Ini pertama kalinya ia keluar dari rumah ini setelah hampir dua pekan diculik, dan penculiknya sendiri yang membukakan pintu untuknya.


Mereka masuk ke mobil mewahnya Vino, dan langsung melaju dengan cepat.


Dinda memandang keluar jendela dengan cemas, dia melihat sepanjang pinggir jalan itu dibangun rumah mewah bergaya Eropa Scandinavian. Dan semua rumah itu terlihat baru saja selesai dibangun.


Rumah-rumah ini sebentar lagi pasti akan ada penghuninya, jadi tidak mungkin Vino akan tetap menyekapku disini dalam waktu yang lama. Apa mungkin yang dikatakan Vino memang benar, bahwa dia menculikku untuk membuktikan kejahatan Mas Ardi, dan semua ini demi kebaikanku?


"Hhh..." Dinda mendesah, dia tidak sanggup berpikir untuk saat ini, pikirannya sedang kalut membayangkan anaknya yang sedang sakit.


Mobil Vino berhenti di depan sebuah bangunan yang sepertinya sebuah pabrik dengan lapangan yang luas.


Tampak disana sebuah helikopter dengan seorang Pilot yang sudah siap terbang dengan baling-baling yang berputar cepat, angin disekitarnya berterbangan kencang.


Vino menarik tangan Dinda menuju helikopter itu, Dinda memicingkan matanya menahan angin kencang yang menerpanya.


Vino terus menggenggam tangan Dinda saat helikopter itu membawa mereka terbang, Dinda yang merasa takut dan tegang saat itu membiarkan tangan nya di dalam genggaman tangan kekar namun halus itu.


Setelah helikopter nya mendarat, sebuah mobil sudah menunggu mereka di sana dengan sopirnya. Mereka langsung naik mobil itu, sepanjang jalan


Dinda mencari papan petunjuk jalan dan dia membaca nama kota tempat tinggal nya tertulis di sana. Dia menghela nafas lega, karena hampir sampai pada anaknya.


Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sakit. Vino merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel.


"Simpan ponsel ini dan hubungi aku jika terjadi sesuatu," kata Vino sambil menyerahkan ponsel kepada Dinda.


Begitu mereka turun dari mobil, seorang laki-laki muda berpakaian rapi telah menunggu mereka.


Dia adalah Rangga, tangan kanan

__ADS_1


Vino yang ditugaskan untuk memantau Arka.


Vino menarik Dinda untuk mendekat, lalu dia memakai kan masker untuk Dinda.


Kemudian dia mengajak Dinda untuk mengikuti Rangga. Mereka sampai didepan sebuah kamar.


Vino memberi kode bahwa itu adalah kamar di mana Arka dirawat, dengan menganggukkan kepalanya kepada Dinda.


Dinda melihat sebentar melalui kaca di pintunya, terlihat Arka yang sedang terbaring dengan tali infus dan bantuan oksigen.


Di samping Arka ada Kakaknya yang mendampingi.


Dinda langsung masuk ke dalam, dan membuka masker nya.


Yanti tampak sangat terkejut melihat adiknya datang.


Dia langsung berdiri dengan mata melotot.


"Dinda... ini benar kamu?" tanya Yanti dan langsung berlari memeluk Adiknya.


"iya, ini aku kak"


"Kemana saja kamu selama in kami berpikir kalau kamu itu menghilang," seru Yanti sambil melepaskan pelukannya.


"Cerita nya panjang kak, nanti aku ceritakan. Bagaimana keadaan Arka?" tanya Dinda sambil bergegas menggenggam tangan anaknya.


Tak terasa air mata Dinda mengalir, dia menatap anaknya yang masih tertidur dengan sedih.


"Maafkan mama, sayang," bisik Dinda sambil mencium tangan anaknya.


"Kemana kamu selama ini Din?" tanya Yanti lagi.


"Sebenarnya aku diculik seseorang kak,"


kata Dinda perlahan.


"Apa? Siapa yang menculik kamu Din? Terus kamu gak kenapa-napa kan?" tanya Yanti panik.


"Aku gak kenapa-napa, tapi aku belum bisa ngasih tau siapa yang menculik, yang pasti dia gak berniat jahat sama aku," jawabnya.


"Jadi sekarang kamu berhasil melarikan diri?"


"Aku bukan berhasil melarikan diri, tapi penculiknya lah yang membebaskan ku dan mengantarkan ku ke sini," jelas Dinda.


Yanti mengerutkan keningnya, dia bingung dengan penjelasan Dinda. Tapi belum sempat dia bertanya lagi, dari luar terdengar suara Ardi yang sedang berbicara dengan dokter.


Dinda langsung panik, dia tidak bisa bertemu dulu dengan Ardi, dia harus membuktikan bahwa Ardi telah membohonginya selama ini.

__ADS_1


"Kak, aku gak bisa ketemu dulu dengan Mas Ardi, ada hal penting yang harus aku selesaikan dulu, aku harus bersembunyi. Tolong aku ya." kata Dinda sambil buru-buru bangun.


Yanti memandang adiknya dengan bingung, tapi dia segera menganggukkan kepalanya, adiknya pasti mempunyai alasan tertentu.


Dinda langsung menuju toilet di kamar itu.


Dan tak lama setelah Dinda masuk ke toilet, Ardi pun muncul bersama seorang Dokter.


Dinda sengaja tidak menutup rapat pintunya, agar bisa mengintip keluar.


Dia melihat Ardi tampak sangat kusut, wajahnya pun kelihatan sedikit pucat.


Dia mendengar penjelasan Dokter dengan seksama.


Mas Ardi tidak kelihatan baik-baik saja, apa dia benar-benar menderita setelah aku menghilang? Rasanya memang tidak mungkin mas Ardi sejahat yang dituduhkan Vino, pikirnya.


Dia begitu sedih mengingat dirinya telah berprasangka buruk terhadap suaminya sendiri.


"Mas Ardi pasti merasa frustasi dengan keadaan ini. Setelah aku menghilang, sekarang Arka yang masuk rumah sakit. Maafkan aku mas, aku telah mencurigai mu, dan malah percaya dengan kata-kata seorang penculik," bisik Dinda.


Aku harus keluar sekarang, aku tidak akan kembali kepada Vino, pikirnya.


Baru saja Dinda akan keluar, namun Ardi sudah mengikuti Dokter keluar ruangan.


"Din, kenapa kamu gak mau ketemu sama Ardi?" tanya Yanti.


"Justru aku keluar untuk bertemu dengannya, tapi mas Ardi udah keburu keluar," katanya.


"Aku titip Arka sebentar ya kak, aku mau nyusul mas Ardi dulu" kata Dinda sambil bergegas keluar. Yanti mengangguk dengan raut wajah yang kebingungan.


Begitu keluar Dinda merasakan ponsel di sakunya bergetar.


"Ini pasti Vino," gumam Dinda. Dia mengambil ponsel yang diberikan Vino dan mematikannya.


Dinda melihat Ardi sedang berjalan menuju pintu keluar. Dia segera berlari menyusul. Namun langkahnya langsung terhenti melihat Ardi menyambut seorang wanita dengan pelukan mesra.


Sekilas wanita itu mengecup pipi Ardi setelah melepaskan pelukannya.


Lalu mereka keluar bersama sambil bergandengan tangan.


Dinda menyaksikan nya dengan mata terbelalak dan dada yang terasa sesak.


"Ada apa ini? Siapa wanita itu? Kenapa Mas Ardi memeluk dan membiarkan wanita itu mencium pipi nya?" pikirnya.


"Aku harus bertanya langsung kepada Mas Ardi," gumamnya.


Dinda pun segera berlari ke arah Ardi dan Bella Dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2