
Senin pagi Vino sudah menunggu Dinda di ruang keluarga dengan setelan jasnya dan rambut yang disisir rapi ke belakang.
Dinda pun sudah rapi saat keluar dari kamarnya. Dia tampak anggun memakai kemeja putih bermotif bunga-bunga kecil berwarna abu-abu yang di padukan dengan rok kembang yang panjangnya selutut dan berwarna abu-abu pula.
Vino bisa melihat Dinda dari tempat duduknya sejak Dinda mulai menuruni tangga. Ia merasakan pandangan nya tak bisa beralih dari sosok wanita yang telah mengikat hatinya itu.
Dinda yang merasa sedang dipandangi terus menjadi salah tingkah.
"Kamu udah siap?" tanya Vino.
"Udah, yuk kita berangkat," ajak Dinda sambil tersenyum.
Dia tidak ingin menjadi wanita yang rapuh, demi bisa bersama anaknya lagi. Ia sadar, untuk bisa bersama Arka masih panjang jalan yang harus ia lalui.
Setelah menuntut kasus penipuan yang dilakukan oleh Ardi, ia akan menuntut perceraian mereka dan hak asuh Arka.
Namun bagaimanapun Ardi adalah suaminya, yang telah hidup bersamanya selama enam tahun. Yang tak pernah sekalipun ia duakan dan khianati. Hatinya begitu tulus, dan tak pernah sekalipun ia mencurigai Ardi.
Tapi ia tak menyangka, ia mengabdi kepada orang yang hanya ingin memanfaatkannya.
Sesampainya mereka di kantor polisi, mereka melihat Rio ternyata sudah menunggu di sana, begitu pula dengan pengacaranya.
Rio tersenyum kepada Dinda dan langsung mengajaknya masuk bersama pengacara itu, tanpa mempedulikan Vino.
Begitu sampai di meja petugas, Rio mempersilahkan Dinda dan pengacaranya untuk duduk. Setelah itu ia menarik kursi satunya lagi untuk tempat duduknya.
Namun, begitu ia hendak duduk, Vino langsung menarik kursi itu.
"Tempat duduk ini seharusnya untuk ku, karena aku yang lebih mengerti masalah kasus ini, dan aku pula yang menyewa jasa pengacaranya", kata Vino.
Rio menatap Vino marah, namun bagaimanapun ia harus kalah selangkah lagi dari Vino. Perlahan ia mundur dengan kesal.
Dinda menatap kedua kakak beradik itu heran.
"Sepertinya ada yang nggak beres dengan hubungan mereka," pikirnya.
Pengacaranya pun menyerahkan berkas bukti pemalsuan hutang ayahnya Dinda yang didalangi Ardi, dan bukti transferan uang penjualan tanah warisan Dinda yang masuk ke rekeningnya.
Setelah semuanya selesai, Rio langsung mengajukan diri untuk mengantarkan Dinda.
"Ayo Din, aku antar kamu," ajak Rio setelah mereka di luar.
__ADS_1
"Nggak bisa, Dinda akan pulang sama aku," potong Vino.
Rio tampak marah dan memelototi adik angkatnya itu.
"Kenapa sih kamu yang harus ngelarang? Memangnya kamu itu siapa nya Dinda?" seru Rio keras.
Dinda yang melihat suasana didekat nya itu sudah memanas langsung menengahi, berhubung yang diperdebatkan mereka berkaitan dengan nya.
"Ya udah Vin, aku biar pulang sama Mas Rio aja, nanti kita jumpa lagi di rumah," katanya.
Raut wajah Vino tampak terkejut dan kecewa mendengar kata-kata Dinda, sementara Rio tersenyum penuh kemenangan mendengar nya, apa lagi saat melihat wajah Vino yang kecewa.
Rio langsung membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Dinda masuk.
Dinda melirik sekilas ke arah Vino, tampak wajah tampan itu sedang kesal.
Lalu ia pun masuk ke dalam mobil nya Rio.
Selama perjalanan Dinda hanya diam, hatinya kini telah tenang untuk sementara, karena ia telah menyerahkan bukti penipuan Ardi.
Namun hatinya kembali sakit mengingat betapa kejamnya Ardi memfitnah ayahnya yang baru saja meninggal demi mendapatkan uang dari tanah warisan nya.
Teringat kembali ia pada hari di saat Ardi mengatakan padanya bahwa ayah nya meninggalkan hutang yang sangat besar dua bulan setelah pemakaman ayahnya.
"Apa ini Mas?" tanya Dinda.
"Itu adalah tagihan yang di ajukan rentenir untuk hutang ayah," sahut Ardi.
Dinda terkejut mendengarnya dan langsung membaca kertas yang ada di tangannya. Jumlahnya sangat besar, dan ayahnya belum membayar sedikit pun, Dinda juga melihat ada tanda tangan ayahnya tertera di sana.
"Ini jumlahnya sangat banyak Mas, bagaimana kita bisa membayarnya?" tanya Dinda cemas.
"Itulah yang aku khawatirkan, kalau seandainya aku punya uang aku nggak akan ngasih tau kamu dan membuat kamu khawatir. Tapi ini jumlahnya sangat banyak, uang simpananku bahkan nggak sampai seperempatnya," kata Ardi berlagak seolah-olah peduli.
"Bukankah bulan lalu pengacaramu baru aja ngasih tanah jatah warisan kamu? Bagaimana kalau kita jual tanah itu aja? Aku nggak mau kita nanti dikejar-kejar rentenir. Bagaimana pun tanah itu juga adalah hasil jerih payahnya ayah," sambung Ardi memulai strategi liciknya.
"Ya kamu benar Mas, kita harus menjualnya. Terimakasih Mas, kamu baik banget," kata Dinda terharu.
Din... Din...
Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya.
"Maaf Din, apa kamu terkejut? Tadi ada mobil yang menyalip tiba-tiba," kata Rio sambil melirik Dinda.
__ADS_1
"Iya mas, nggak apa-apa. Oya, aku boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Dinda.
"Boleh, kamu mau nanya apa?" sahut Rio sambil tersenyum.
"Memangnya Mas sama Vino ada masalah apa?"
"Sebenarnya nggak ada masalah besar, cuma aku nggak setuju kalau kamu berada di rumah Vino, walaupun sekarang dia nggak menyekap kamu lagi. Tapi aku nggak bisa membiarkan wanita yang aku sukai tinggal serumah dengan laki-laki lain," jelas Rio.
Dinda tampak sedikit mengernyitkan keningnya, ia merasa tidak nyaman dengan kata-kata Rio yang seolah ingin mengekang hidupnya, padahal ia bukanlah siapa-siapa nya Rio.
Rio seperti baru tersadar dengan yang dibicarakannya barusan, saat melihat ekspresi wajah Dinda yang kurang suka.
"Maaf Din, bukannya aku nggak sopan, dan ingin memaksamu menjadi milik ku. Aku hanya merasa cemburu," kata Rio sambil menyumpahi kebodohannya yang terlalu emosional dan terkesan posesif.
"Iya Mas. Tapi untuk sekarang aku ingin tetap di rumah Vino, bagaimanapun juga dia yang pertama kali menolong ku. Untuk hal perasaan, sekarang ini aku benar-benar nggak mau memikirkannya," kata Dinda.
"Ya baiklah, kalau memang itu keputusan mu", jawab Rio.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Vino.
"Aku langsung pulang ya Din," kata Rio setelah Dinda turun dari mobilnya.
"Oke Mas, makasih ya," jawab Dinda sambil tersenyum.
Setelah Rio pergi, Dinda pun masuk ke rumah. Ia melihat mobil Vino telah terparkir di garasinya. Tapi ia tidak menemukan Vino di dalam rumah itu.
"Mungkin aja Vino di kamarnya" pikirnya.
Dinda pun memutuskan untuk langsung ke kamarnya, ia merasa perlu mandi setelah setengah hari lebih beraktivitas.
Setelah masuk ke kamarnya, Dinda sangat terkejut melihat Vino ada di sana.
Laki-laki tampan itu sedang duduk di tempat tidur Dinda, dan sepertinya ia sengaja menunggu kedatangan wanita itu. Tampak raut wajahnya terlihat sedang marah.
Dinda mendekat perlahan. Tapi tiba-tiba Vino bangun dan malah berjalan dengan cepat ke arahnya.
Dinda kaget dan refleks melangkah mundur.
"A... ada apa ini Vin?" tanya Dinda gugup.
Vino terus maju kearah Dinda, sampai Dinda merapat ke pintu yang telah tertutup.
Wajah tampan di depannya itu benar-benar tampak menakutkan baginya sekarang.
__ADS_1