
Dinda menggenggam tangan anaknya dan mengajaknya menyebrang.
Tiba-tiba saja dari arah samping kanannya sebuah mobil berwarna putih melaju dengan cepat ke arahnya.
Namun sedetik kemudian, Dinda merasakan sebuah dorongan yang begitu kuat dipunggung nya, saking kencangnya dorongan itu sehingga membuat punggungnya terasa sakit. Lalu tubuhnya pun terlempar dan jatuh dengan Arka dalam pelukan nya.
GBBRRAAAKKK!!!
Suara tabrakan berbunyi kencang di belakang Dinda.
Deciiiiiiitttt!!!! Vino tiba-tiba saja menekan rem tanpa sengaja. Entah kenapa dadanya terasa sakit dengan tiba-tiba.
Dadanya terasa sesak dan hatinya tiba-tiba saja merasa resah.
Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba perasaan ku tidak enak? Pikirnya.
Vino pun mencoba membuka jendela mobilnya untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghidupkan mesin mobilnya kembali.
Beberapa pengemudi mobil di belakangnya sudah mulai menyalakan klakson, karena ia berhenti tiba-tiba di tengah jalan.
Namun sayup-sayup ia mendengar suara orang berteriak teriak dari arah belakang mobilnya.
Woi....!!!! Tabrak lari baji*ngan!!! Berhenti!!!
Sekilas Vino melihat sebuah mobil putih melaju kencang melewatinya.
Vino langsung teringat dengan anak dan istrinya yang baru saja menyebrang. hatinya semakin merasa gundah.
Tanpa pikir panjang lagi Vino pun langsung turun dari mobilnya, ia tak lagi mempedulikan suara klakson dari mobil dibelakangnya. Hatinya begitu panik saat itu, dipikiran nya berkelebat bayangan buruk istri dan anaknya yang ditabrak. Ia berlari sekuat tenaga ke tempat ia menurunkan Dinda dan Arka tadi.
Di sana sudah berkerumun massa yang sedang melihat kecelakaan itu.
Lutut Vino semakin lemah ketika ia melihat ceceran darah yang begitu banyak tertumpah di jalanan. ia langsung menyeruak ke dalam keramaian itu, mendorong sekuat tenaga semua orang yang berkerumun di sana, dan seketika matanya terbelalak ketika melihat tubuh korban kecelakaan itu yang telah berlumuran darah, begitu juga dengan wajahnya, penuh dengan darah, sehingga tak terlihat lagi raut wajahnya.
Vino langsung menutup mulutnya dengan tangan, ia tak sanggup melihat darah yang begitu kental menggenang di depannya. Vino langsung menoleh ke arah lain, karena perutnya terasa mual.
Syukurlah Ternyata bukan Dinda dan Arka, batin Vino sambil berbalik.
"Maaf saya pikir itu keluarga saya," ujar Vino perlahan kepada orang-orang yang tadi didorongnya.
Ia keluar kembali dari kerumunan itu. Namun entah kenapa, saat ia melangkah pergi ia merasakan hatinya begitu sedih, ia begitu kasihan terhadap korban kecelakaan itu. Tapi matanya tidak sanggup menatapnya lagi, karena dia tidak kuat melihat darah yang begitu banyak. Ia hanya bisa berdoa di dalam hati agar korban kecelakaan itu bisa diselamatkan.
Mata Vino kini kemari celingukan mencari anak dan istrinya.
Apa Dinda dan Arka sudah sampai di sekolah? pikir Vino.
Samar-samar ia mendengar suara anak kecil yang sedang menangis.
"Waduh, apa Mbak sedang mengandung? Ada darah yang mengalir dari kakinya Mbak" terdengar suara orang bertanya dengan nada kalut dari arah sampingnya.
DEG!
Jantung Vino terasa seperti berhenti berdetak. Ia langsung menoleh ke arah asal suara dengan panik. Diseberang jalan ia melihat Dinda dan Arka sedang dikerumuni beberapa orang. Dinda masih terduduk di tanah dengan tangan yang memegang perutnya.
Wajah Dinda terlihat sedang menahan rasa sakit, sedangkan Arka sedang menangis di sampingnya. Dengan wajah pucat ketakutan, Vino berlari menghampiri anak dan istrinya itu.
"Dinda!" teriaknya sambil berlari.
"Vin," jawab Dinda dengan suara lemah saat ia melihat Vino berlari menghampiri nya.
Vino langsung bersimpuh di samping istrinya dan menariknya ke dalam pelukan.
"Papa..." tangis Arka semakin pecah ketika ia melihat kedatangan papanya, ia menangis sambil merentangkan tangannya ke arah Vino. Vino langsung menarik anaknya itu ke dalam pelukannya juga dan mengusap-usap kepala Arka untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Sayang, kamu nggak usah takut, Papa udah ada di sini," ujar Vino.
"Tapi Mama sakit Pa, Mama berdarah," kata Arka sambil menunjuk ke arah kaki ibunya.
"Iya Sayang, kita akan segera membawa Mama ke rumah sakit," jawab Vino sambil melepaskan pelukannya.
Lalu Vino mengangkat tubuh Dinda yang masih meringis kesakitan. Ia juga berterimakasih kepada orang-orang yang berkerumun tadi karena telah mempedulikan istrinya.
"Ayo Arka, kita bawa Mama ke mobil. Arka ikutin Papa ya. Pegangan di jas nya Papa," kata Vino kepada Arka.
Masih dengan berlinangan air mata, Arka mengangguk dan berpegangan pada jas papanya.
Lalu mereka berjalan ke arah mobil yang ditinggalkan oleh Vino di tengah jalan tadi.
*****
Begitu sampai di rumah sakit, Dinda pun langsung ditangani oleh Dokter.
Sedangkan Vino terpaksa hanya bisa menunggu di luar bersama Arka dengan rasa panik yang luar biasa. Namun ia harus terlihat tenang di depan Arka, agar Arka tidak semakin mengkhawatirkan ibunya.
Beberapa saat kemudian, barulah ia teringat untuk menghubungi orang tuanya.
"Halo Ma," ujar Vino begitu teleponnya terhubung.
"Iya Vin, ada apa?" terdengar suara Nyonya Aditya di seberang.
"Kami sedang di rumah sakit ini Ma, terjadi sedikit kecelakaan pada Dinda. Tapi Mama nggak usah khawatir, karena Dinda sekarang sedang ditangani oleh Dokter," ujar Vino dengan suara yang sengaja ia buat setenang mungkin, agar orangtuanya tidak panik.
"Apa? Kalian ada di Rumah Sakit mana Vin?" tanya Nyonya Aditya yang ternyata tetap saja panik.
Vino pun memberitahu ibunya nama Rumah Sakit itu.
Setelah itu Vino kembali menelepon Rangga, teman sekaligus asisten pribadi nya. Sementara Arka duduk di pangkuan nya.
"Baik Vin, aku akan periksa sekarang," terdengar jawaban Rangga begitu sigap di ponselnya. Sahabatnya itu sangat mengerti dengan perasaan dan cintanya kepada Dinda.
Setelah menutup teleponnya, Vino melihat pintu ruangan tempat Dinda ditangani pun terbuka. Segera saja Vino menggendong Arka dan menyongsong Dokter yang baru saja keluar dari sana.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanya Vino dengan cemas.
"Istri Bapak baik-baik saja, tapi sangat disesalkan kandungannya tidak bisa diselamatkan. Karena kehamilan nya yang masih ditahap awal, sehingga sangat rentan dan tidak sanggup menahan benturan yang sangat keras," jawab sang Dokter dengan wajah menyesal karena harus membawa berita buruk tentang pasiennya.
Seketika saja lutut Vino terasa lemah, hatinya merasakan sedih dan kecewa, keinginannya untuk memiliki seorang anak yang begitu besar, kini telah gagal.
Anak itu telah meninggalkan nya sebelum predikat sebagai Ayah disandangnya.
"Bagaimana keadaan Dinda Vin?" suara Nyonya Aditya tiba-tiba terdengar di belakangnya, karena ia tidak menyadari kedatangan ibunya itu.
"Dinda nggak apa-apa Ma, tapi calon anak kami nggak bisa diselamatkan Ma," ujar Vino dengan wajah sedih.
Nyonya Aditya pun tampak terkejut mendengar perkataan Vino, raut wajah nya yang tadi terlihat panik kini berubah sedih.
"Kamu yang sabar ya Nak," ujar Nyonya Aditya kemudian sambil mengusap punggung anaknya.
"Masih ada yang ingin saya bicarakan dengan suaminya pasien. Mari Saudara ikut ke ruangan saya!"
"Biar Mama yang jagain Arka, kamu ikut Dokter dulu. Sini Sayang sama Nenek!" ujar Nyonya Aditya sambil merentangkan tangannya untuk menggendong Arka.
"Baik Ma," sahut Vino sambil menyerahkan Arka.
Begitu sampai di ruangan Dokter, perasaan Vino kembali tak karuan. Karena ia tau, pasti ada hal yang serius mengenai Dinda yang ingin disampaikan oleh Doker.
"Silahkan duduk Pak," kata Dokter mempersilahkannya duduk.
__ADS_1
"Terimakasih Dok," sahut Vino sambil menarik kursinya.
"Ada yang ingin saya sampaikan mengenai istri anda. Karena benturan yang sangat keras, rahim istri anda terluka. Sehingga kami harus mengangkat salah satu indung telurnya. Hal ini menyebabkan istri anda akan kesulitan untuk hamil kembali. Tapi bukan berarti mustahil, karena ada beberapa kasus indung telur yang tinggal satu namun berhasil hamil, walaupun itu jarang terjadi," jelas Dokter.
Tubuh Vino kini benar-benar terasa lunglai, ia menatap dokter dengan tatapan tak percaya. Lidahnya terasa kelu untuk berkata apa-apa. Hatinya benar-benar sedih dan kecewa.
Bagaimana tidak? Baru tiga hari yang lalu ia merasakan bahagia yang luar biasa karena akan segera menjadi Ayah, namun ia terpaksa merelakan calon anaknya itu, dan kini ia kembali mendapat kabar buruk yang lain, bahwa ia akan sangat sulit untuk menjadi seorang ayah.
Mata Vino kini terlihat berkaca-kaca, dengan tubuh yang lemah ia bangkit dari duduknya sambil mengucapkan terima kasih kepada Pak dokter.
Dokter itu menatap Vino dengan tatapan iba, laki-laki tampan yang bertubuh atletis itu terlihat begitu lesu dan lemah.
Ia membuka pintu perlahan, dan keluar dari ruangan itu dengan perasaan gamang.
Apa yang harus aku katakan pada Dinda? Bagaimana perasaan Dinda nanti saat ia tau bahwa rahim nya telah tidak sempurna? Batin Vino resah.
Tak lama kemudian Dinda pun di pindahkan ke ruang perawatan. Namun ia masih dalam keadaan terbius dan tak sadarkan diri.
Pak Aditya yang baru saja sampai pun terlihat panik, apalagi saat melihat raut wajah Vino yang terlihat begitu kuyu.
"Bagaimana keadaan Dinda, Vin?" tanya Pak Aditya.
Vino menghela nafasnya.
"Dinda keguguran Pa. Salah satu indung telurnya harus diangkat, sehingga Dinda akan kesulitan untuk hamil lagi."
"Apa? Separah itu kah? Bagaimana kejadian sebenarnya Vin?"
"Vino juga nggak tau Pa, karena saat itu Vino sedang memutar balik mobil. Tapi Vino sudah meminta Rangga untuk menyelidikinya," jawab Vino.
Drrrrrttt
Ponsel di saku celana Vino bergetar, ia langsung mengambil dan melihat layar ponselnya.
"Ini Rangga udah menghubungi, Vino keluar sebentar untuk mengangkat teleponnya," kata Vino sambil bergegas keluar dari ruang perawatan Dinda.
"Halo Ga, bagaimana? Siapa yang menabrak Dinda?" tanya Vino dengan kemarahan yang begitu besar tersirat di matanya.
"Polisi sedang mencari pelakunya Vin, karena ada beberapa saksi yang berhasil mencatat nomor plat mobil pelakunya. Dan orang yang tertabrak sesungguhnya adalah seorang wanita paruh baya. Salah satu orang yang berada di tempat kejadian melihat wanita separuh baya itu sengaja berlari ke tengah jalan untuk mendorong Dinda ke seberang jalan. Namun naasnya, wanita itu lah yang tertabrak. Aku sudah memeriksa identitas wanita itu, dia bernama Tah," jelas Rangga panjang lebar.
Vino tersentak mendengar nama yang disebutkan Rangga.
"Tah? Hanya Tah?" tanya Vino dengan suara bergetar.
"Ya, di KTP nya tertulis hanya Tah," jawab Rangga meyakinkan.
Tangan Vino kini terlihat bergetar.
Memorinya kembali terputar mundur sampai ke ingatan masa kecilnya yang sengaja ia kubur dalam-dalam.
"Mah, nama Mama kok aneh sih? Cuma Tah aja?" tanya Vino kecil saat ia sedang menatap bintang bersama ibunya.
"Karena Nenek dan Kakek kamu itu orang tempo dulu, mereka tidak suka nama yang susah di ingat," jawab ibunya lembut sambil tersenyum menatap bintang.
"Terus nama Vino siapa yang kasih Ma? Ayah ya?" tanya Vino kecil, ia memang senang sekali jika sikap mamanya sedang lembut begitu. Karena terkadang sikap mamanya kasar dan selalu marah-marah.
"Kamu ini banyak nanya ya? Sana pergi sama Ayah kamu" teriak ibunya marah dengan mata yang melotot.
Vino kecil terkejut, ia lupa kalau ibunya akan marah setiap kali ia menyebut Ayah.
Potongan memori itu kembali membawa kesuraman dalam hatinya. Ia menghela nafasnya yang terasa berat.
"Apakah ia masih hidup?" tanya Vino kemudian.
__ADS_1
Bersambung...