Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu
Lara Mati Kutu


__ADS_3

Nyonya Aditya bangkit berdiri dan berjalan menjauh sedikit dari tempat tidur Vino.


"Lara, Tante harus menanyakan sesuatu padamu," kata Nyonya Aditya sambil menatap tajam ke arah Lara yang hendak melanjutkan aksinya untuk menjatuhkan Dinda.


Lara terpaksa menoleh kepada Nyonya Aditya.


"Iya Tante, Tante mau nanya apa?" tanyanya sambil memasang wajah manis.


"Tadi kamu bilang Dinda tidak mengangkat teleponnya ya?"


"Iya Tan, tadi Lara udah menelepon Dinda berkali-kali, tapi dia tidak mengangkatnya," kata Lara sambil menatap ke arah Dinda dengan tatapan mengintimidasi.


Nyonya Aditya segera menoleh kepada Dinda.


"Dinda," panggilnya.


"Iya Ma," jawab Dinda.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu bisa jujur sama Mama," kata Nyonya Aditya yang bermaksud memberi kesempatan pada Dinda untuk menceritakan pertemuannya dengan Lara tadi.


"Maaf Ma tapi..."


"Kamu tidak usah mencari alasan Dinda! Kamu sengaja tidak mengangkat telepon dari kami kan? Istri macam apa kamu? Suaminya sedang tabrakan, kamu malah enggan datang," potong Lara sebelum Dinda mengatakan yang sebenarnya.


Dinda yang mendengar perkataan Lara mengangkat kepalanya dan menatap Lara dengan marah.


"Apa maksudnya Mbak Lara? Aku tidak pernah merasa enggan sama sekali untuk menjenguk suamiku sendiri. Mbak jaga ucapan Mbak ya!" kata Dinda dengan suara yang mulai keras.


"Mbak Lara yang berbohong dengan mengatakan bahwa Mbak sudah menelpon saya," sambung Dinda dengan emosi.


Nyonya Aditya yang yang merasa suasana sudah semakin panas pun ikut bicara.


"Sudahlah Dinda,kamu jangan emosi dulu, kita masih berada dekat dengan Vino yang sedang terbaring sakit," tegur Nyonya Aditya.


Lara langsung menyambut perkataan Nyonya Aditya dengan ejekannya.


"Lihat Tante, wanita ini tidak punya tata krama sama sekali, dia bahkan berteriak-teriak di samping suaminya yang sedang sakit," ejek Lara sambil tersenyum sinis.


Nyonya Aditya menatap Lara kesal karena terus menyudutkan Dinda. Ia baru menyadari bahwa perempuan yang sejak dulu berteman dengan anaknya itu ternyata memiliki hati yang sangat picik. Ia tidak heran karena ayahnya

__ADS_1


Lara dulu juga bersifat seperti itu.


"Sudah Lara, kamu jangan menuduh Dinda seperti itu lagi!" Seru Nyonya Aditya memarahi Lara.


Lara merasa semakin kesal karena Nyonya Aditya masih saja membela Dinda.


"Tante kenapa masih membelanya? Wanita seperti ini tidak layak menjadi menantu Tante. Lara tidak menuduhnya Tan. Bukankah Tante liat sendiri dia tidak menjawab telepon kita karena dia enggan untuk datang menjenguk Vino"


Papanya Vino yang sedari tadi hanya diam dan menyimak, bangkit menghampiri istrinya.


"Ma, Dinda memang menantu kita, tapi kita tetap tak boleh membela jika Dinda salah," kata Aditya.


"Justru karena Dinda benar makanya Mama bela. Mama malah tidak menyangka Lara sekarang mempunyai sifat licik seperti ini"


"Apa maksud Tante?" tanya Lara dengan wajah tidak senang.


"Tante tahu kamu tadi berada di luar, dan sudah bertemu dengan Dinda, tapi setelah itu kamu malah masuk dan mengatakan bahwa Dinda tidak mengangkat teleponnya"


Lara sangat terkejut mendengar perkataan Nyonya Aditya. Wajahnya terlihat panik karena kebohongannya telah terbongkar.


"Ba... bagaimana Tante bisa berkata seperti itu?" tanya Lara gelagapan.


"Karena kenyataannya memang seperti itu. Kamu pasti bingung bagaimana bisa Tante tahu yang sebenarnya, bukan? Agus yang melihat kamu tadi sedang berdua dengan Dinda"


Dinda yang sedari tadi diam sudah tidak dapat menahan emosinya lagi, melihat wanita di depannya itu terus ingin menjelekkan dia di depan mertuanya.


"Aku tidak pernah enggan untuk masuk. Kamu kalau mau mengada-ngada berpikir dulu. Mana mungkin aku tidak mau masuk untuk melihat suamiku sendiri," jawab Dinda sambil membalas senyum sinis Lara yang sejak tadi diterimanya.


Mata Lara terbelalak menatap Dinda, ia sama sekali tidak menyangka Dinda akan tegas seperti itu untuk melawannya, padahal sejak di luar tadi Dinda terlihat lemah dan menuruti kata-katanya untuk pergi dari sana.


Dinda terus membalas tatapan Lara yang kini terlihat ciut nyalinya.


Kamu pikir bisa mengambil kesempatan untuk menyingkirkan aku, dan merebut suamiku? Aku memang merasa tidak berhak untuk mendampingi Vino sekarang. Tapi aku tidak akan menyerah sampai Vino sendiri yang ingin aku menjauh, batin Dinda.


Aditya menatap Lara dengan tatapan tajam.


"Kalau begitu sudah jelas, perbuatan kamu itu salah Lara. Apapun alasanmu tidak menyukai Dinda, tapi caramu berbohong dan memfitnah itu salah. Lebih baik kamu pergi sekarang!"


seru Papanya Vino marah.

__ADS_1


Wajah Lara tampak merah padam. Ia benar-benar merasa malu karena telah ketahuan berbohong. Matanya mulai berkaca-kaca dan lidahnya tidak tahu harus berucap apa.


Nyonya Aditya merasa iba melihat Lara. Separuh hatinya memaklumi tindakan Lara yang sebenarnya ia lakukan karena rasa cemburu dan iri hati. Ia tau sejak dulu Lara menyukai Vino.


"Kamu pulang sekarang Lara. Jika kamu benar-benar temannya Vino, bersikaplah layaknya seorang teman," katanya menasehati.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Lara berlari keluar sambil mengusap kasar air matanya.


Setelah Lara pergi, Nyonya Aditya mendekati Dinda dan memegang tangannya.


"Apa tadi terjadi sesuatu sampai kamu terlambat?" tanya Nyonya Aditya.


"Nggak Ma, hanya saja Dinda tidak punya mobil, jadi Dinda tidak bisa membawa Arka yang sedang tidur dengan motor. Dinda telepon Kak Yanti tapi ponselnya tidak aktif"


"Kenapa kamu tidak telepon Mama sayang?"


"Dinda nggak ingat karena lagi panik Ma"


"Sudahlah, kamu tidak usah memikirkannya lagi. Arka sekarang ada di mana?" tanya Nyonya Aditya.


"Arka sudah Dinda titipkan di rumah Kak Yanti Ma, karena kasihan kalau dibawa ke sini"


"Kalau begitu sekarang kamu duduk disamping suamimu, temani dia"


"Iya Ma. Mama sama Papa pulang aja dulu, istirahat di rumah. Biar Dinda yang jaga Vino," kata Dinda.


"Papa juga mau minta maaf ya Nak, tadi Papa pikir kamu yang salah"


"Iya Pa. Tidak apa-apa," jawab Dinda.


"Baiklah kalau begitu Papa sama Mama pulang dulu ya, besok pagi kami akan kembali lagi" kata Aditya.


Setelah kedua mertuanya pergi, Dinda berjalan menghampiri Vino yang masih belum sadar. Ia duduk di samping suaminya dengan perlahan, dan menggenggam tangan Vino dengan hangat seperti yang sangat ingin ia lakukan sejak tadi. Setetes air mata turun di pipinya, mengingat takdir yang terus menguji cinta dan kehidupannya.


Kenapa harus aku yang menjadi bagian dari masa lalu kelam mu Vin? Kenapa harus aku yang mengungkit kembali luka lama mu? Apa masih pantas aku bersamamu? Aku hanyalah seorang janda yang memiliki kehidupan yang rumit. Kau datang sebagai malaikat yang terus menolong dan melindungi aku. Kau mencintaiku dengan ketulusan. Tapi sekarang aku menjadi racun dalam darahmu, batin Dinda dengan air mata yang terus mengalir.


Perlahan ia mengecup tangan Vino yang berada dalam genggamannya.


Namun tiba-tiba jari-jari Vino bergerak perlahan.

__ADS_1


Dinda langsung bergegas memeriksa keadaan Vino. Hatinya begitu gembira melihat tubuh Vino yang mulai bereaksi. Namun sedikit kekhawatiran menyusup kedalam hatinya.


Apa Vino akan membenciku? Batin Dinda.


__ADS_2