
Setelah bermain-main di pantai selesai, Vino kembali membawa istri dan anaknya ke suatu tempat. Namun sebelumnya ia meminta Dinda untuk menutup matanya dulu dengan sehelai kain kecil.
Begitu sampai di tempat yang ditujunya, Vino pun memarkirkan mobilnya.
"Nah, sayang. Kita sudah sampai," kata Vino setelah menghentikan mobilnya.
Kemudian ia turun dari mobilnya dan membukakan pintu di sebelah Dinda.
Lalu ia mengangkat Arka dan menggendongnya, sementara sebelah tangannya lagi meraih tangan Dinda lembut.
"Ayo turun dulu, hati-hati ya," kata Vino. Lalu Dinda turun perlahan-lahan dengan mata yang masih tertutup.
Setelah Dinda menginjakkan kakinya di tanah, Vino pun merangkul pundak istrinya dan membimbingnya berjalan beberapa langkah ke depan.
"Kamu udah siap sayang?"
"Siap buat apa? Kita mau ngapain nih?" tanya Dinda bingung.
"Siap buat lihat surprisenya dong," kata Vino
"Udah," jawab Dinda sambil mengangguk, "aku udah bisa buka penutup matanya?"
"Iya, sini biar aku bukakan," kata Vino. Lalu ia membuka ikatan kain yang menutup mata istrinya.
Dinda mengerjapkan matanya untuk menormalkan pandangannya yang terlihat buram karena efek matanya tertutup dari tadi.
Dinda terlihat bingung ketika menyadari kalau mereka sedang berdiri di depan sebuah showroom mobil.
"Kita ngapain ke sini Vin? Maksud surprise nya apa?"
"Surprise-nya ya ada di depan mata kamu. Yuk, kita masuk!" ajak Vino sambil menarik lembut tangan istrinya.
Begitu sampai di dalam, beberapa orang pegawai langsung menyambut kedatangan mereka dengan hormat.
"Silahkan Pak, Bu. Mau dilihat-lihat dulu mobilnya," kata mereka ramah.
"Vin, kita ngapain ke sini? Kamu mau beli mobil?" tanya Dinda.
"Iya dong, mau ngapain lagi ke sini kalau bukan buat beli mobil, dan mobilnya aku mau belikan buat kamu," kata Vino.
Dinda terlihat kaget mendengar perkataan Vino.
"Mobil untuk aku?" tanya Dinda lagi.
"Iya, sayang," kata Vino sambil mengeratkan pelukannya di pundak istrinya.
"Buat kamu dan juga buat jagoan kita Arka," sambungnya lagi dan mencium pipi gembul nya Arka.
Arka yang sejak tadi diam, setelah disebutnya namanya langsung ikut senang.
"Buat Arka juga Pa?" tanya Arka surprise.
__ADS_1
"Iya sayang, buat kamu sama Mama. Nanti kalau kamu pergi sekolah, Mama bisa nganterin Arka pakai mobil, oke?" kata Vino sambil mengangkat sebelah tangannya untuk mengajak Arka tos.
Arka langsung menyambut tangan Vino dengan menepukkan sebelah tangannya.
"Oke, Tos" kata Arka sumringah.
"Baiklah kalau begitu, sekarang Arka pilihin sama Mama ya, Arka sukanya warna apa?"
"Arka suka mobil yang warna merah, boleh nggak Pa?"
"Lho, kok tanya sama Papa? Tanya sama Mama dong, kan mobilnya punya Arka sama Mama"
Arka mengalihkan pandangannya pada Mamanya yang juga sedang tersenyum senang.
"Mama maunya warna apa?" tanya Arka pada mamanya.
"Mama terserah Arka aja deh, emangnya Arka suka warna merah?" tanya Dinda.
"Iya Ma, kayak warnanya Cars," jawab Arka sambil menyebutkan nama film kartun mobil balap kesukaannya.
"Oh, oke deh kalau gitu, kita cari yang warnanya merah," kata Dinda
Akhirnya setelah memilih-milih mereka pun memutuskan untuk mengambil sebuah mobil yang berwarna merah dengan empat kursi penumpang, agar mereka bisa memakainya untuk pergi jalan-jalan bersama.
Dan tentu saja dengan harga yang fantastis.
Dinda sempat protes saat mendengar harga mobil yang akan mereka pilih. Namun Vino langsung menyanggahnya.
Kata-kata Vino memang sedikit lebay, namun begitu indah terdengar ditelinga Dinda, yang langsung membuat Dinda terdiam dan terharu.
*****
Setelah acara jalan-jalan dan proses pembelian mobilnya selesai, mereka pun pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, tampak raut wajah Vino sedikit muram. Dinda yang menyadarinya pun bertanya,
"Kamu kenapa Vin? Apa kamu tidak suka dengan pilihan mobil tadi?" tanya Dinda.
Vino yang sedang termenung, tampak kaget mendengar pertanyaan Dinda.
Ia langsung tersenyum dan menjawab,
"Aku suka kok, dan aku bahagia banget udah bisa membelikannya untuk kalian, lagipula itu kan mobil untuk kamu dan Arka. Jadi harus sesuai pilihan Arka dan kamu dong"
"Terus kenapa kamu terlihat muram?" tanya Dinda.
"Maaf aku mengganggu suasana, tapi pikiranku terus memikirkan tentang foto orang tuamu"
"Apa kamu kembali merasa trauma?" tanya Dinda dengan wajah cemas.
"Bukan begitu, asalkan aku selalu bersamamu, mimpi burukku tidak pernah datang lagi. Hanya saja, aku merasa bersalah padamu"
"Merasa bersalah kenapa?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Gara-gara aku, kamu harus memindahkan foto orang tuamu dan menyimpannya"
"Ooh, karena itu. Aku nggak papa kok, kan hubungan antara anak dan orang tua tidak hanya sebatas memajang foto. Walaupun mereka sudah tidak ada lagi, aku masih mengingat dengan jelas wajah mereka. Tapi yang terpenting adalah aku harus selalu mengirimkan doa untuk mereka," jawab Dinda sambil tersenyum.
Setelah mereka sampai di rumah, merekapun melihat mobil Nyonya Aditya terparkir di depan rumah Dinda. Vino memarkirkan mobilnya di samping mobil ibunya. Vino dan Dinda turun dari mobilnya, dan mereka melihat Nyonya Aditya sudah menunggu mereka di teras rumah.
"Lho, Mama udah lama datang?" tanya Dinda.
"Belum juga kok, baru 10 menitan Mama nunggu," katanya sambil tersenyum menyambut anak dan menantunya.
"Kenapa Mama nggak telepon dulu, biar kami tahu Mama lagi nunggu di rumah"
"Mama nggak mau ganggu, Mama tahu ini lagi saatnya bulan madu kalian. Jadi Mama memilih nunggu di rumah aja. Lagian halaman rumah kamu asri banget, banyak bunganya. Mama jadi betah duduk-duduk di sini," jawab Nyonya Aditya sambil berjalan mendekati cucunya.
"Assalamualaikum cucu Nenek," sapanya sambil membelai pipinya Arka.
"Waalaikumsalam Nek," jawab Arka sambil tersenyum.
"Arka dari mana aja tadi?" tanya Nyoya Aditya.
"Arka baru pulang dari pantai Nek, baru beli mobil baru juga," jawab Arka polos.
"Wah senangnya," jawab Nyonya Aditya,
"Nenek juga baru mau nyuruh Papa kamu buat beli kan, rupanya Papa kamu udah duluan mengerti"
jawab Nyonya Aditya sambil melirik ke arah Vino.
Vino yang merasa tersindir oleh ibunya langsung menjawab,
"Vino kemarin kan baru kecelakaan Ma, jadi nggak sempat beliin," kata Vino membela diri.
Dinda tersenyum mendengar jawaban Vino. Lalu ia mengajak Mama mertuanya itu masuk ke dalam.
"Ayo Mama, masuk kedalam dulu," ajak Dinda.
"Mama datang sama siapa?" tanya Vino.
"Sama Agus, dia sekarang lagi beli rokok keluar," kata Nyonya Aditya sambil mengikuti langkah Dinda yang mengajaknya masuk.
"Mama ke sini mau menagih janji kalian," kata Nyonya Aditya.
"Janji apa Ma?" tanya Vino.
"Nah kan, kalian lupa" jawabnya,
"kan kalian udah janji untuk nginap di rumah Mama di akhir pekan"
Vino dan Dinda tampak saling bertukar pandang, mereka benar-benar melupakan nya.
Bersambung...
__ADS_1