
Vino menjadi panik karena tidak menemukan Dinda. Ia mencari di seluruh area pasar malam itu, namun Dinda tak kunjung terlihat batang hidungnya. Lalu Vino mengambil ponselnya untuk menelepon Dinda, terdengar nada sambungnya, namun tidak diangkat.
"Duh... kemana sih, Dinda? Apa dia bersembunyi di tempat lain? Atau dia udah pulang sendiri?" pikirnya sambil celingukan mencari.
Vino terus berkeliling mencari tanpa henti, ia juga kembali mencoba menelepon Dinda, namun tidak di angkat juga.
Sampai tengah malam, dan lapak-lapak pedagang mulai tutup satu persatu. Begitu juga dengan wahana permainan, mulai dimatikan satu persatu mesinnya.
Pengunjungnya pun tinggal beberapa orang saja, namun Dinda tak kelihatan dimana-mana.
Vino mencoba mencari kembali dibelakang tenda-tenda pedagang, sampai ia yakin benar Dinda sudah tidak ada lagi di pasar malam itu.
Setelah berjalan ke sana kemari, dia pun berhenti dan menepuk jidatnya sendiri.
"Akh... kenapa aku bodoh banget, mungkin aja Dinda malah lagi nungguin aku diparkiran" pikirnya.
Vino pun berlari dengan cepat ke arah tempat parkir mobilnya. Ia terus memanggil nama Dinda disekitar mobilnya. Namun tak ada jawaban pula.
Di sana memang sudah sedikit mobil yang masih terparkir. Orang-orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Hanya tinggal beberapa remaja sedang bermain Hp di sana. Sehingga mudah bagi Vino untuk mencarinya.
Vino mengambil ponsel nya untuk menelepon lagi. Samar-samar ia seperti mendengar nada dering ponsel Dinda. Vinoberjalan mendekat ke arah asal suara. Dan suara nya berarah pada sekelompok remaja itu.
Tampak salah satu dari mereka memperlihatkan ponsel Dinda yang sedang berdering pada teman-temannya.
Vino langsung mendekat.
"Ponsel yang lagi kamu pegang itu milik saya, saya yang baru aja menelfon" kata Vino.
Semua remaja itu berbalik mendengar suara Vino di belakang mereka.
"Oh iya Om, tadi saya nemu di lantai parkiran. Baru aja mau kami serahin ke Petugas," sahut remaja yang memegang ponsel Dinda.
Remaja itu memberikan ponselnya pada Vino.
"Makasih ya," kata Vino sambil mengambil ponselnya.
"Oh ya, kalian ngeliat seorang wanita cantik pakai dress biru muda sekitar sini nggak?" tanya Vino.
"Nggak Om," jawab mereka setelah saling bertanya kembali pada temannya.
__ADS_1
"Ya udah, terimakasih ya," ujar Vino.
"Ya Om, nggak apa-apa".
Vino masuk ke mobilnya, lalu ia mengambil ponselnya untuk menelepon Rangga, orang kepercayaannya yang ia tugaskan untuk memantau Arka, anaknya Dinda.
"Ga, Dinda menghilang. Apa Ardi selama ini menyelidiki keberadaan Dinda?" tanya Vino.
"Kayaknya nggak Vin, dia sibuk sama selingkuhannya, untuk anaknya aja dia nggak punya waktu," jawab Rangga.
"Tadi pagi aku baru aja ngelapor kasus penipuannya ke kantor Polisi. Mungkin besok akan langsung di proses," ujar Vino.
"Oh ya? Baguslah. Aku aja eneg ngeliat tingkahnya yang benar-benar munafik. Masa lebih perhatian sama selingkuhannya dari pada anaknya sendiri," kata Rangga kesal.
Rangga memang selalu berbicara bebas dengan Vino jika tidak sedang bekerja, karena ia adalah sahabatnya Vino.
"Ya udah, aku akan mencari Dinda di sini. Tolong kamu jaga Arka terus ya", kata Vino sambil memutuskan teleponnya.
Lalu ia menekan tombol ponselnya untuk menelepon asistennya.
"Tolong cari tau keberadaan seseorang secepatnya, aku akan mengirimkan fotonya," kata Vino setelah teleponnya tersambung.
Setelah itu Vino mematikan teleponnya, lalu mengirimkan foto Dinda kepada asistennya.
Dimana kamu Din? Apa kamu baik-baik saja?, batinnya.
*****
Sementara Dinda baru saja membuka matanya dan menyadari bahwa dia sedang berada dalam sebuah kamar mewah. Ia memegang kepalanya yang terasa agak pusing.
Dinda melihat sekeliling nya, hanya ada dia sendiri di dalam kamar itu. Ia seperti merasa Dejavu. Seperti saat pertama kali ia diculik Vino.
Ia pingsan karena dibius seseorang di pasar malam itu, dan sekarang dia bangun di dalam sebuah kamar yang mewah.
"Aku ada di mana ini? Apa yang terjadi padaku kali ini? Siapa yang menculikku lagi?" pikirnya.
"Vino... apa dia akan mencariku?" pikirnya lagi begitu teringat kepada Vino.
CEKREKK...
__ADS_1
Tiba-tiba pintunya di buka dan masuklah seseorang.
Dia adalah Rio.
Rio menyunggingkan senyumnya selembut mungkin.
"Apa kabar kamu Din? Apa kamu merasa pusing?" tanya Rio sambil berjalan ke arah tempat tidur.
"Mas Rio? Apa kamu yang menculikku?" tanya Dinda tak percaya.
"Aku nggak berniat begitu, Din. Dan aku mohon kamu juga nggak menganggap seperti itu. Aku hanya ingin menolong mu," kata nya lembut.
"Tapi kenapa harus dengan cara begini Mas?" tanya Dinda masih terlihat tak percaya, karena sebenarnya penilaiannya terhadap Vino sangat sempurna. Dia orang yang baik dan hangat.
"Awalnya aku ingin mendekati dan menolongmu dengan caraku sendiri. Tapi kulihat kamu malah menyukai caranya Vino. Jadi aku juga mencobanya. Aku ingin kamu terikat padaku, meminta bantuan hanya kepada ku, bukan pada Vino," kata Rio dengan ekspresi wajah yang kini terlihat marah.
"Nggak Mas, aku nggak mau begini. Aku bisa berusaha dengan kemampuanku sendiri. Aku harus pergi. Kalau memang Mas nggak suka aku tinggal di rumah Vino, aku akan pulang ke tempat tinggal ku sendiri. Aku juga nggak ingin menjadi penghancur hubungan kakak beradik kalian," kata Dinda.
"Nggak Din, kamu jangan merasa begitu. Hubunganku dengan Vino walau dari luarnya terlihat baik, tapi tetap ada jarak dan ketidakcocokan dari dulu," sahut Rio cepat, dia tidak ingin membiarkan Dinda pergi.
"Tapi aku nggak ingin menjadi tawanan lagi, aku ingin pulang ke tempat tinggal ku," kata Dinda sambil bangkit dari tempat tidur.
"Din, tolong berfikir jernih dulu. Ini semua demi anakmu juga. Ardi besok akan di tangkap polisi, aku takut kalo saja dia lolos lalu ia menyakitimu. Lalu bagaimana dengan Arka? Tolong bersabarlah sedikit lagi," pinta Rio.
"Baiklah, berarti sampai besok aja ya?" tanya Dinda.
"Ya", jawab Rio dengan sedikit kecewa, namun lain dengan kata hatinya, bagaimanapun caranya ia akan membuat Dinda tetap bersamanya.
"Aku minta tolong Mas kasih tau Vino bahwa aku ada di rumah Mas, biar dia tau bahwa aku baik-baik aja, dan biar dia nggak khawatir," pinta Dinda.
Tampak ekspresi tidak suka di wajah tampan nya Rio saat Dinda mengkhawatirkan Vino.
Bahkan saat kamu bersama ku, pikiran mu masih untuk nya, pikirnya sambil keluar dengan kesal tanpa menjawab permintaan Dinda. Tentu saja dia tidak mungkin memberi tahu Vino.
****
Esoknya, dua orang polisi menuju ke rumah Ardi dengan membawa surat panggilan untuk penyelidikan.
"Assalamualaikum... Pak Ardi..." Polisi itu memanggil Ardi sambil mengetuk pintu rumahnya.
__ADS_1
Ardi membukakan pintunya, namun betapa terkejutnya ia melihat dua orang Polisi sedang menunggunya sambil memberikan sebuah amplop coklat.
Ardi mengambil amplop itu dan membukanya. Tampak ia sangat terkejut ketika membacanya.